Terbit: 5 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Hernia diafragmatika adalah kondisi ketika satu atau lebih organ di perut bergerak ke atas menuju dada melalui diafragma. Pada umumnya, kondisi ini bisa didapat saat lahir atau terjadi setelahnya. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Hernia Diafragmatika: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Hernia Diafragmatika?

Hernia diafragmatika adalah kondisi di mana terdapat lubang pada diafragma (otot besar yang memisahkan dada dari perut) yang membuat organ di perut (seperti usus, lambung, dan hati) dapat bergerak melalui lubang tersebut sehingga naik ke dada. Kondisi ini dapat membuat paru-paru bayi tidak berkembang sepenuhnya, sehingga menyebabkannya kesulitan bernapas saat lahir.

Gejala Hernia Diafragmatika

Gejala setiap individu bisa berbeda-beda tergantung pada ukuran, penyebab, dan organ di perut yang terlibat. Berikut adalah beberapa gejala yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Sulit bernapas. Kondisi ini terjadi akibat dari perkembangan abnormal paru-paru dan bisa menyebabkan masalah yang serius.
  • Takipnea (pernapasan cepat). Paru-paru mungkin mencoba mengimbangi rendahnya kadar oksigen dalam tubuh dengan bekerja lebih cepat.
  • Kulit membiru. Ketika tubuh tidak menerima cukup oksigen dari paru-paru, hal itu dapat membuat kulit menjadi biru (sianosis).
  • Takikardia (detak jantung cepat). Guna memasok tubuh dengan darah yang mengandung oksigen, jantung bisa memompa lebih cepat dari biasanya.
  • Suara napas berkurang atau tidak ada. Gejala ini umum terjadi pada kasus bawaan karena salah satu paru-paru tidak terbentuk dengan baik. Bunyi napas di sisi paru yang terkena akan sangat sulit untuk didengar.
  • Bunyi usus di area dada. Ini terjadi ketika usus Anda naik ke rongga dada Anda.
  • Perut tidak mengembang penuh. Kondisi ini biasanya terjadi saat palpasi (pemeriksaan tubuh dengan menekan area tertentu). Ini bisa terjadi karena organ yang ada di perut terdorong ke rongga dada.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Kondisi yang terjadi secara bawaan biasanya ditemukan selama pemeriksaan kehamilan. Jenis pemeriksaan yang dapat melihat kondisi ini adalah dengan USG. Tes ini dapat memberi gambaran dokter mengenai posisi perut, usus, hati, paru-paru, atau jantung di mana seharusnya berada.

Penyebab Hernia Diafragmatika

Penyebab kondisi ini bisa dibagi menjadi dua: karena bawaan dan nonbawaan. Kondisi bawaan terjadi karena perkembangan abnormal diafragma saat janin sedang terbentuk. Cacat pada diafragma janin memungkinkan satu atau lebih organ perutnya bergerak ke dada dan menempati ruang di mana paru-paru seharusnya berada. Pada sebagian besar kasus, ini hanya memengaruhi satu paru-paru.

Sementara kondisi nonbawaan biasanya didapat akibat dari cedera seperti terjatuh atau kecelakaan kendaraan. Operasi pada perut atau dada juga dapat menyebabkan kerusakan yang tidak disengaja pada diafragma.

Faktor Risiko Hernia Diafragmatika

Pada umumnya, kondisi yang terjadi secara bawaan bersifat idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Akan tetapi, gangguan ini diduga merupakan kombinasi dari beberapa faktor seperti kelainan genetik, paparan lingkungan, dan masalah nutrisi.

Bahkan, kondisi ini juga bisa terkait dengan masalah organ lain seperti perkembangan abnormal pada jantung, gastrointestinal, atau sistem genitourinari. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko, antara lain:

  • Trauma tumpul karena kecelakaan lalu lintas
  • Prosedur pembedahan di dada atau perut
  • Terjatuh, terutama bagian yang berdampak berada di wilayah diafragma
  • Luka tusuk
  • Luka tembak

Diagnosis Hernia Diafragmatika

Dokter biasanya dapat melihat kondisi ini saat melakukan pemeriksaan rutin kehamilan dengan teknik USG. Dalam beberapa kasus, USG selama kehamilan tidak menunjukkan kondisi ini.

Namun, begitu bayi lahir, dokter mungkin mendiagnosis kondisi tersebut setelah menyadari bahwa bayi mengalami kesulitan bernapas. Rontgen dada dapat menunjukkan masalah apapun yang ada di paru-paru, diafragma, dan usus. Tes lain yang mungkin disarankan adalah MRI janin.

Beberapa tes lain yang mungkin disarankan adalah:

  • Arterial blood gas test. Ini adalah tes darah untuk memeriksa kemampuan pernapasan bayi.
  • Blood test for chromosomes. Tes ini menunjukkan jika bayi memiliki masalah genetik.
  • Ekokardiogram. Tes ini menunjukkan jika bayi memiliki masalah dengan jantung dan katupnya.

Baca Juga: Hamil 34 Minggu, Paru-Paru Janin Sudah Sempurna

Pengobatan Hernia Diafragmatika

Pada dasarnya, perawatan tergantung pada gejala, usia, dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Berikut adalah beberapa pengobatan yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Neonatal Intensive Care Unit (NICU)

Jika bayi terlahir dengan kondisi ini, perawatan NICU dibutuhkan. Hal itu dikarenakan bayi belum dapat bernapas sendiri dengan baik karena karena paru-parunya belum berkembang sepenuhnya. Sebagian besar bayi perlu menggunakan mesin pernapasan (mechanical ventilator) untuk membantunya bernapas.

  • Extracorporeal Membrane Oxygenation (ECMO)

Beberapa bayi dengan kondisi yang parah perlu menggunakan heart/lung bypass machine (ECMO). ECMO melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh jantung dan paru-paru bayi. Alat ini memasukkan oksigen dalam darah dan membantu memompa ke seluruh tubuh. Alat ini dibutuhkan sampai kondisinya membaik.

  • Operasi

Tujuan dari pembedahan adalah untuk memperbaiki kondisi dengan menggeser organ di perut yang naik ke rongga dada kembali ke tempatnya. Selain itu, operasi juga berguna untuk memperbaiki lubang di diafragma.

Komplikasi Hernia Diafragmatika

Kondisi ini membuat paru-paru tidak berkembang sebagaimana mestinya (hipoplasia paru). Gangguan ini bisa membuat bayi sulit bernapas setelah lahir. Beberapa hal lain yang bisa terjadi terkait keadaan ini adalah:

  • Kantung udara pada paru-paru lebih sedikit dari biasanya.
  • Kantung udara pada paru-paru hanya bisa terisi sebagian dengan udara.
  • Kantung udara pada paru-paru mudah mengempis karena kekurangan cairan pelumas.

Jika beberapa hal di atas terjadi, bayi tidak mendapatkan cukup oksigen untuk tetap sehat. Selain itu, usus bayi mungkin juga tidak terbentuk sebagaimana mestinya.

Pencegahan Hernia Diafragmatika

Tidak ada cara yang bisa mencegah jika kondisi ini terjadi secara bawaan. Pemeriksaan rutin kehamilan penting untuk membantu mendeteksi masalah sebelum kelahiran. Hal ini memungkinkan perencanaan dan perawatan yang tepat sebelum, selama, dan setelah melahirkan.

Sedangkan jika kondisi terjadi nonbawaan, beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Berkendara dengan aman dan selalu memakai sabuk pengaman.
  • Menghindari aktivitas yang membuat Anda rentan terhadap trauma tumpul yang signifikan pada dada atau perut.
  • Berhati-hatilah saat menggunakan atau berada di sekitar benda tajam.
  • Jangan menggunakan narkoba karena dapat membuat Anda lebih rentan mengalami kecelakaan.

 

  1. Anonim. Facts about Diaphragmatic Hernia. https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/diaphragmatichernia.html. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  2. Anonim. Diaphragmatic Hernia in Children. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=diaphragmatic-hernia-90-P02357. (Diakses pada 5 Oktober 2020).
  3. Khalid, Raihan. 2017. Diaphragmatic Hernia. https://www.healthline.com/health/diaphragmatic-hernia#prevention. (Diakses pada 5 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi