Terbit: 22 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Hepatitis autoimun adalah peradangan hati yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati. Apabila kondisi ini tidak mendapatkan penanganan dengan baik, hal tersebut bisa menyebabkan jaringan parut pada hati (sirosis) dan akhirnya bisa menjadi gagal hati. Simak gejala, penyebab, dan cara mengatasinya di bawah ini.

Hepatitis Autoimun: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Hepatitis Autoimun?

Hepatitis autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel hati. Dalam dunia medis kondisi ini sering juga disebut autoimmune chronic hepatitis. Kondisi ini membutuhkan perawatan seumur hidup untuk mencegah kerusakan pada organ hati Anda.

Gejala Hepatitis Autoimun

Tanda dan gejala setiap orang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa gejala umum yang bisa terjadi, antara lain:

  • Kelelahan
  • Perut terasa tidak nyaman
  • Menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice)
  • Pembesaran hati
  • Pembuluh darah abnormal pada kulit (spider angiomas)
  • Ruam kulit
  • Nyeri sendi
  • Hilangnya periode menstruasi

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Konsultasi dengan dokter diperlukan jika mengalami tanda dan gejala yang membuat Anda khawatir.

Penyebab Hepatitis Autoimun

Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyerang virus, bakteri, dan patogen lain, justru menyerang hati. Serangan pada hati dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan serius pada sel-sel hati.

Lantas, apa penyebab sistem kekebalan tubuh menyerang organ hati? Hingga kini belum diketahui kenapa hal tersebut bisa terjadi. Akan tetapi para peneliti menduga kondisi ini bisa disebabkan oleh interaksi gen yang mengendalikan fungsi sistem kekebalan dan paparan virus atau obat tertentu.

Faktor Risiko Hepatitis Autoimun

Meski penyebab yang mendasari kondisi ini tidak diketahui dengan pasti, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini, antara lain:

  • Jenis kelamin. Meskipun pria dan wanita dapat mengembangkan kondisi ini, ternyata penyakit kronis ini lebih sering terjadi pada wanita.
  • Riwayat infeksi. Kondisi ini dapat berkembang setelah Anda terinfeksi virus campak, herpes simpleks, atau Epstein-Barr. Penyakit ini juga terkait dengan infeksi hepatitis A, B atau C.
  • Keturunan. Bukti menunjukkan bahwa kecenderungan terhadap kondisi ini dapat diturunkan dalam keluarga.
  • Memiliki penyakit autoimun. Orang yang sudah memiliki penyakit autoimun seperti penyakit celiac, rheumatoid arthritis, atau hipertiroidisme (penyakit Graves atau penyakit Hashimoto), lebih mungkin mengembangkan kondisi ini.

Diagnosis Hepatitis Autoimun

Berikut adalah beberapa tes dan prosedur yang digunakan untuk mendiagnosis kondisi ini, antara lain:

  • Tes darah. Menguji sampel darah untuk antibodi dapat membedakan kondisi ini dari hepatitis virus dan kondisi lain dengan gejala serupa. Tes antibodi juga membantu menentukan jenis yang Anda miliki.
  • Biopsi hati. Dokter melakukan biopsi hati untuk memastikan diagnosis dan untuk menentukan derajat serta jenis kerusakan hati. Selama prosedur, sejumlah kecil jaringan hati diambil menggunakan jarum tipis yang dimasukkan ke dalam hati melalui sayatan kecil di kulit. Sampel tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

Jenis Hepatitis Autoimun

Kondisi ini diidentifikasi menjadi dua bentuk utama, yaitu:

  • Tipe 1. Ini adalah jenis penyakit yang paling umum dan bisa terjadi pada usia berapapun. Sebagian besar orang dengan hepatitis autoimun tipe 1 memiliki gangguan autoimun lainnya, seperti penyakit celiac, rheumatoid arthritis, atau kolitis ulseratif.
  • Tipe 2. Meskipun orang dewasa dapat mengembangkan kondisi ini, penyakit ini paling umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Penyakit autoimun lain mungkin menyertai kondisi ini.

Baca Juga: Apa Saja Gejala Sirosis Hati? Simak Selengkapnya di Sini

Pengobatan Hepatitis Autoimun

Terlepas dari jenis yang dimiliki, tujuan pengobatan adalah untuk memperlambat atau menghentikan serangan sistem kekebalan pada sel-sel hati. Selain itu, perawatan juga dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit.

Beberapa obat-obatan yang bisa digunakan untuk menurunkan aktivitas sistem kekebalan tubuh adalah prednisone atau azathioprine.

Penting untuk diketahui, prednisone jika dikonsumsi jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping yang serius, termasuk diabetes, berkurangnya kepadatan tulang (osteoporosis), kematian jaringan tulang (osteonecrosis), tekanan darah tinggi, katarak, glaukoma, dan penambahan berat badan.

Setelah beberapa tahun menjalani pengobatan, mungkin Anda akan mengurangi jumlah obat yang dikonsumsi, namun penyakit ini sering kali kembali jika obat dihentikan. Tergantung pada situasi, Anda mungkin memerlukan perawatan seumur hidup.

Transplantasi Hati

Ketika obat-obatan tidak menghentikan perkembangan penyakit atau Anda mengembangkan jaringan parut yang tidak dapat diperbaiki (sirosis) atau gagal hati, pilihan yang tersisa adalah transplantasi hati.

Selama prosedur ini, hati akan diganti dengan hati yang sehat. Transplantasi hati paling sering menggunakan hati dari donor organ yang telah meninggal. Dalam beberapa kasus, transplantasi hati donor hidup juga dapat digunakan. Selama transplantasi hati donor hidup, Anda hanya menerima sebagian dari hati yang sehat.

Komplikasi Hepatitis Autoimun

Jika kondisi ini tidak mendapatkan penanganan dengan baik, terbentuknya jaringan parut pada organ hati bisa terjadi. Selain itu, beberapa komplikasi lain yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Vena yang membesar di kerongkongan (varises esofagus). Ketika sirkulasi melalui vena portal tersumbat, darah dapat kembali ke pembuluh darah lain, terutama di perut dan kerongkongan. Pendarahan masif di kerongkongan atau perut dari pembuluh darah ini adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa.
  • Cairan di perut (asites). Kondisi ini dapat menyebabkan sejumlah besar cairan menumpuk di perut. Asites dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan dapat mengganggu pernapasan. Kondisi ini biasanya merupakan tanda sirosis lanjut.
  • Gagal hati. Ini terjadi ketika kerusakan ekstensif pada sel-sel hati membuatnya tidak dapat berfungsi secara memadai. Pada titik ini, diperlukan transplantasi hati.
  • Kanker hati. Orang dengan sirosis memiliki peningkatan risiko kanker hati.

Pencegahan Hepatitis Autoimun

Dikarenakan penyebab yang mendasari kondisi ini tidak diketahui dengan pasti, maka tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini.

 

  1. Anonim. Autoimmune hepatitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/autoimmune-hepatitis/symptoms-causes/syc-20352153. (Diakses pada 22 September 2020).
  2. Anonim. Autoimmune Hepatitis (AIH). https://www.webmd.com/hepatitis/autoimmune-hepatitis. (Diakses pada 22 September 2020).
  3. Anonim. Autoimmune Hepatitis. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17867-autoimmune-hepatitis. (Diakses pada 22 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi