Terbit: 8 Mei 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Henti jantung mendadak adalah kondisi kronis di mana jantung berhenti mendadak akibat tubuh kehilangan fungsi jantung, pernapasan, dan kesadaran tanpa diduga. Ketahui apa itu henti jantung mendadak, gejala, penyebab, perawatan, pencegahan, dll.

Henti Jantung Mendadak: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Apa Itu Henti Jantung?

Henti jantung mendadak adalah kondisi medis darurat dimana penderitanya kehilangan fungsi jantung, pernapasan, dan kesadaran secara mendadak. Berdasarkan data, ada sekitar 7 juta kasus kematian akibat kondisi medis darurat ini di seluruh dunia.

Henti jantung atau disebut juga dengan sudden cardiac death (SCD) terjadi akibat gangguan listrik di jantung. Kondisi ini menyebabkan jantung tidak dapat memompa darah sehingga aliran darah dan oksigen berhenti di organ-organ vital dan seluruh tubuh.

Kondisi ini dapat terjadi pada seseorang dengan atau tanpa riwayat penyakit jantung sebelumnya. Henti jantung berbeda dengan serangan jantung, namun serangan jantung juga dapat memicu gangguan listrik pada jantung hingga menyebabkan kondisi darurat sudden cardiac death (SCD) ini.

Bila tidak ditangani dalam 10 menit setelah henti jantung mendadak, dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan kematian. Salah satu pertolongan utama yang bisa dilakukan adalah dengan napas buatan atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Oleh karena itu, di banyak negara maju dilakukan pelatihan CPR atau bantuan hidup dasar (basic life support) kepada pelajar, masyarakat awam, atau tenaga keamanan. Sehingga bila ada kejadian orang mengalami henti jantung tiba tiba dan hilang kesadaran bisa dilakukan pertolongan awal secepat mungkin dan memanggil tenaga medis/paramedis

Gejala Henti Jantung

Gejala henti jantung mendadak yang sering terjadi adalah seseorang tiba tiba terjatuh dan tidak sadar, bisa terjadi saat berdiri/berjalan, atau ditengah berolahraga atau pidato atau aktivitas lainnya. Tanda-tanda henti jantung mendadak lainnya, meliputi:

  • Denyut nadi melemah atau mendadak hilang
  • Tidak bernapas
  • Kehilangan kesadaran
  • Lemas tiba-tiba
  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Palpitasi atau jantung berdegup kencang

Pada sebagian besar kasus, kondisi ini tidak memiliki gejala khusus sehingga keterlambatan melakukan CPR atau bantuan hidup dasar bisa menyebabkan kerusakan otak permanen dan kematian.

Kapan Harus ke Dokter?

Henti jantung mendadak adalah kondisi darurat yang harus segera ditangani dalam hitungan menit atau setidaknya harus segera mendapat pertolongan medis kurang dari satu jam setelah gejala dirasakan. Pasalnya, jantung yang berhenti mendadak akan berhenti memompa darah dan berisiko tinggi kematian mendadak.

Segera pergi ke IGD apabila Anda memiliki tanda-tanda serangan jantung, seperti:

  • Nyeri dada
  • Perubahan detak jantung
  • Sesak napas
  • Sakit kepala/pusing
  • Pingsan tiba-tiba
  • Gangguan pernapasan yang tidak dapat dijelaskan

Apabila kondisi tidak memungkinkan, sebaiknya hubungi pelayanan medis terdekat untuk menjemput pasien dengan cepat. Selain itu, orang-orang di sekitar pasien harus cepat dan sigap untuk selalu mengecek pernapasan pasien sambil menunggu petugas medis. Bila pasien terasa tidak bernapas normal, berikan napas buatan dengan cepat dan tepat.

Baca Juga: 13 Gejala Penyakit Jantung yang Harus Diwaspadai (Mudah Dikenali)

Penyebab Henti Jantung

Penyebab henti jantung sudden cardiac death yang paling utama adalah ketika pasien mengalami irama jantung abnormal (aritmia). Sementara aritmia disebabkan oleh faktor seperti ketidakseimbangan elektrolit, gangguan tiroid, hipertensi, dll. Kondisi ini menyebabkan gangguan listrik di jantung yang mengacaukan ritme jantung.

Berikut ini adalah beberapa kondisi kesehatan yang dapat memicu terjadinya sudden cardiac death (SCD):

1. Penyakit Arteri Koroner

Penyakit arteri koroner (aterosklerosis) adalah kondisi di mana aliran darah jantung tersumbat hingga mengganggu aliran darah dan aliran listrik ke jantung. Sebagian besar kasus henti jantung sudden cardiac death disebabkan kondisi ini.

2. Serangan Jantung

Serangan jantung adalah kondisi dimana salah satu atau beberapa arteri koroner tersumbat. Penyumbatan ini umumnya dipicu oleh penumpukan lemak, kolesterol, atau zat berbahaya lainnya. Gejala serangan jantung juga dapat menyebabkan henti jantung.

3. Kardiomiopati

Kardiomiopati adalah penyakit dimana otot jantung tidak dapat memompa atau tidak memompa darah dengan normal. Kardiomiopati dapat memicu gagal jantung dan jantung berhenti.

4. Penyakit Jantung Valvular

Penyakit jantung valvular adalah penyakit kardiovaskuler yang melibatkan satu atau lebih katup jantung sehingga mengganggu fungsi kerja jantung. Kondisi ini menyebabkan penyempitan atau kebocoran katup jantung.

5. Penyakit Jantung Bawaan

Apabila pasien memiliki riwayat penyakit jantung bawaan, pasien tersebut memiliki faktor risiko henti jantung lebih besar. Walaupun pasien tersebut telah melakuan perawatan jantung atau operasi jantung, faktor risiko tersebut tetap ada.

6. Gangguan Listrik di Jantung

Gangguan listrik di jantung akan memengaruhi kerja otot atau katup jantung. Kondisi ini akan memicu aritmia atau long QT syndrome yang kemudian menyumbat aliran darah di jantung.

7. Stres Fisik

Stres fisik atau kelelahan juga dapat memicu gangguan pacu listrik di jantung. Salah satu penyebab stres fisik adalah aktivitas fisik berlebihan, penurunan kadar kalium dan magnesium, pendarahan, atau kekurangan oksigen.

Baca Juga: Serangan Jantung: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan

Faktor Risiko Henti Jantung

Penyebab henti jantung sudden cardiac death tidak selalu terkait riwayat penyakit jantung. Orang tanpa riwayat penyakit jantung juga dapat mengalaminya apabila memiliki faktor risiko, sebagai berikut:

  • Merokok
  • Diabetes
  • Obesitas
  • Tekanan darah tinggi
  • Tidak olahraga
  • Faktor usia
  • Riwayat penyakit obstructive sleep apnea
  • Riwayat penyakit ginjal kronis
  • Menggunakan obat-obatan terlarang seperti amfetamin dan kokain
  • Ketidakseimbangan nutrisi

Faktor risiko sudden cardiac death lainnya, meliputi:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner.
  • Memiliki riwayat episode serangan jantung atau riwayat keluarga dengan serangan jantung.
  • Memiliki riwayat pribadi atau keluarga dengan irama jantung, kelainan jantung bawaan, gagal jantung, dan kardiomiopati

Memiliki satu atau lebih dari faktor tersebut tidak berarti Anda akan mengalami gejala henti jantung suatu hari nanti, namun faktor tersebut dapat dijadikan peringatan untuk menjalani hidup sehat setiap saat.

Diagnosis Henti Jantung

Apabila pasien berhasil bertahan hidup dari gejala henti jantung, dokter akan melakukan diagnosis untuk membantu pasien meningkatkan kesehatan dan mencegah gejala serupa kambuh kembali.

Berikut ini diagnosis henti jantung:

  • Elektrokardiogram (EKG): Menggunakan sensor elektroda untuk mendeteksi aktivitas listrik jantung, termasuk irama jantung dan interval long QT. Lebih lanjut tentang elektrokardiogram (EKG).
  • Tes Darah: Memeriksa kadar kalium, magnesium, hormon, dan kandungan lain terkait kesehatan jantung.
  • Rontgen Dada: Memeriksa kondisi jantung, termasuk ukuran, bentuk, fungsi katup, otot jantung, serta kemampuan memompa darah dan oksigen.
  • Ekokardiogram: Pemeriksaan dengan gelombang suara untuk memproyeksikan gambar jantung pasien. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi apakah ada kerusakan di jantung.
  • Nuclear Perfusion Scan: Memeriksa aliran darah ke jantung dengan bagan radioaktif seperti talium yang disuntikan ke aliran darah. Pemeriksaan ini juga akan dipantau dengan kamera kecil.

Dokter mungkin membutuhkan pemeriksaan tambahan lainnya untuk mendeteksi kerusakan jantung atau risiko gangguan jantung lainnya.

Perawatan Henti Jantung

Jantung berhenti mendadak adalah kondisi medis darurat. Berikut ini beberapa perawatan henti jantung mendadak yang sebaiknya dilakukan sesaat setelah seseorang mengalami gejala gangguan pada jantung dan pernapasan yang tidak dapat dijelaskan:

1. Resusitasi Jantung Paru

Resusitasi jantung paru adalah pertolongan pertama untuk seseorang yang detak jantungnya berhenti atau terkait gangguan pernapasan darurat.

Resusitasi jantung paru atau disebut juga Cardiopulmonary resuscitation (CPR) berfungsi untuk menjaga aliran darah penuh oksigen pada tubuh seseorang. Berikan CPR apabila pasien pingsan, denyut nadi lemah, atau pernapasannya tidak normal.

2. Defibrilasi

Defibrilasi adalah terapi kejut listrik untuk menghentikan kejang atau kram pada otot jantung. Defibrilasi atau kejut listrik ini hanya dilakukan pada kondisi VT (ventricular tachycardia) atau VF (ventricular fibrilasi). Bila tidak ada irama jantung sama sekali (asistole) maka defibrilasi tidak diperlukan atau tidak bermanfaat.

3. Perawatan di Ruang Gawat Darurat

Penanganan medis dapat bervariasi berdasarkan penyebab henti jantung atau gangguan irama jantung yang terjadi. Perlu pemeriksaan untuk mengetahui adakah sumbatan pembuluh darh jantung atau gangguan elektrolit, atau penyakit lain yang mendasari misalnya hipertiroid atau gagal ginjal kronis.

Baca Juga: 15 Gerakan Senam Jantung Sehat di Rumah (Mudah dan Efektif)

Pengobatan Henti Jantung Jangka Panjang

Pasien yang telah melewati masa kritis akan dirawat di rumah sakit. Dokter akan melakukan diagnosis kemudian membuat rencana perawatan paling tepat untuk menjaga kondisi Anda.

Berikut ini beberapa opsi pengobatan jangka panjang:

  • Obat-obatan: Dokter akan memberikan obat-obatan antiaritmia untuk mengontrol ritme jantung. Obat ini mungkin memiliki efek samping dimana aritmia akan terjadi lebih sering di awal perawatan.
  • Angioplasti Koroner: Prosedur untuk mengatasi penyumbatan arteri koroner. Angioplasti koroner akan melancarkan aliran darah jantung sehingga mengurangi risiko gangguan jantung.
  • Operasi Bypass Koroner: Pembedahan arteri yang tersumbat dan mengembalikan fungsinya agar aliran darah kaya oksigen lancar kembali.

Dokter mungkin menyarankan cara mengatasi henti jantung dengan opsi lainnya yang lebih baik. Pasien akan ada dalam pantauan dokter jangka panjang hingga kondisi benar-benar bisa dikendalikan.

Komplikasi Henti Jantung

Kondisi ini mungkin sulit dicegah, namun Anda dapat mengantisipasinya dengan mengurangi faktor risiko henti jantung pada tubuh Anda. Bila Anda memiliki riwayat penyakit jantung, sebaiknya rajin kontrol kesehatan dan selalu minum obat-obatan yang diresepkan dokter.

Selain itu, penting untuk selalu konsumsi makanan sehat, menjalani gaya hidup sehat, serta rajin olahraga untuk mengurangi berbagai risiko penyakit kronis. Bila perlu, Anda dapat melakukan pemerikasaan kesehatan rutin untuk mengetahui sejak dini risiko penyakit apa yang mungkin Anda miliki.

  1. Cleveland Clinic. 2019. Sudden Cardiac Death (Sudden Cardiac Arrest). https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17522-sudden-cardiac-death-sudden-cardiac-arrest. (Diakses pada 8 Mei 2020).
  2. MayoClinic. 2018. Sudden cardiac arrest. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sudden-cardiac-arrest/symptoms-causes/syc-20350634. (Diakses pada 8 Mei 2020).
  3. Medscape. 2014. Sudden Cardiac Death. https://emedicine.medscape.com/article/151907-overview. (Diakses pada 8 Mei 2020).
  4. NHI. 2016. Sudden Cardiac Arrest. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/sudden-cardiac-arrest. (Diakses pada 8 Mei 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi