Hemodialisis (Cuci Darah), Solusi bagi Pasien Gagal Ginjal

doktersehat-penyakit-darah

DokterSehat.Com – Hemodialisis atau cuci darah adalah sebuah terapi. Hemodialisis berasal dari kata haemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti dipisahkan. Hemodialisis adalah suatu cara untuk memisahkan darah dari sisa-sisa metabolisme dan racun-racun tubuh ketika ginjal sudah tidak berfungsi lagi.

Cara Kerja Cuci Darah

Darah dikeluarkan dari tubuh menuju hemodialisis. Setelah bersih dari sisa metabolisme dan racun tubuh, maka darah akan dialirkan kembali ke dalam tubuh.

Kapan Diperlukan Tindakan Cuci Darah?

Hemodialisis atau cuci darah sangat diperlukan oleh pasien dengan penyakit-penyakit berikut ini:

  • Gagal Ginjal Akut (GGA), yaitu terjadi penurunan fungsi ginjal secara mendadak, sehingga terjadi penimbunan sisa-sisa nitrogen dalam tubuh. Hal ini ditandai dengan penurunan jumlah pengeluaran air seni.
  • Gagal Ginjal Kronik (GGK), yaitu kerusakan ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih, berupa kelainan struktur atau fungsi ginjal dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi.

Baca juga: 4 Tanda Gagal Ginjal yang Sulit Dideteksi

Kelebihan dan Kekurangan Cuci Darah

Hemodialisis mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya sebagai berikut:

  • Tidak ada rasa nyeri atau sakit selama prosedur cuci darah.
  • Prosedur dilakukan secara santai, pasien bisa sambil makan atau nonton TV, baca buku, dan lainnya.
  • Hemodialisis sebagai terapi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan memperpanjang usia. Namun, tindakan itu tak bebas risiko. Selain kesiapan tenaga kesehatan di unit dialisis untuk mengatasi komplikasi, kesiapan pasien secara psikologis dan dukungan keluarga berperan penting dalam keberhasilan hemodialisis.
  • Hemodialisis dapat sedini mungkin menghambat progresivitas penyakit. Yaitu, jika pengeluaran kreatinin 9-14 ml/menit/1,73 m2, baik pada penderita diabetes maupun nondiabetes. Hemodialisis bisa dimulai lebih awal pada pasien malnutrisi, pasien mengalami kelebihan cairan tubuh, penurunan kesadaran, kejang, radang kandung jantung, hiperkalemia (meningginya kadar kalium darah), serta asidosis metabolik berulang. Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal.
  • Hemodialisis dapat dilakukan pada pasien gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronik.

Di samping memiliki beberapa kelebihan, cuci darah juga mempunyai beberapa kekurangan, di antaranya sebagai berikut.

  • Fungsi ginjal yang tersisa cepat menurun.
  • Pembatasan asupan cairan dan diet lebih ketat.
  • Kadar hemoglobin lebih rendah, sehingga kebutuhan akan eritropoietin lebih tinggi.

Baca juga: 5 Jenis Makanan yang Harus Dipilih Penderita Gagal Ginjal

Faktor Risiko Cuci Darah

Kebanyakan orang yang membutuhkan hemodialisis memiliki berbagai masalah kesehatan. Hemodialisis dapat memperpanjang hidup bagi banyak orang, tetapi harapan hidup bagi orang yang membutuhkannya masih kurang dari populasi umum.

Sementara pengobatan hemodialisis secara efisien menggantikan beberapa fungsi ginjal yang hilang, Anda mungkin mengalami beberapa kondisi terkait yang tercantum di bawah ini, meskipun tidak semua orang mengalami semua masalah ini. Tim dialisis Anda dapat membantu mengatasinya.

1. Tekanan darah rendah (hipotensi)

Penurunan tekanan darah adalah efek samping hemodialisis, terutama jika Anda menderita diabetes. Tekanan darah rendah dapat disertai dengan sesak napas, kram perut, kram otot, mual atau muntah.

2. Kram otot

Meskipun penyebabnya tidak jelas, kram otot selama cuci darah sering terjadi. Kadang kram dapat dikurangi dengan menyesuaikan resep hemodialisis. Mengatur asupan cairan dan natrium antara perawatan hemodialisis juga dapat membantu mencegah gejala selama perawatan.

3. Gatal

Banyak orang yang menjalani hemodialisis memiliki kulit gatal, yang sering lebih buruk selama atau setelah prosedur.

4. Masalah tidur

Orang yang menerima hemodialisis biasanya sulit tidur, kadang-kadang karena istirahat saat tidur (sleep apnea) atau karena sakit, kaki tidak nyaman atau gelisah.

5. Anemia

Tidak memiliki cukup sel darah merah dalam darah Anda (anemia) adalah komplikasi umum dari gagal ginjal dan hemodialisis. Gagal ginjal mengurangi produksi hormon yang disebut erythropoietin (uh-rith-roe-POI-uh-tin), yang merangsang pembentukan sel darah merah. Pembatasan diet, penyerapan zat besi yang buruk, tes darah yang sering, atau pengangkatan zat besi dan vitamin oleh hemodialisis juga dapat menyebabkan anemia.

6. Penyakit tulang

Jika ginjal Anda yang rusak tidak lagi dapat memproses vitamin D, yang membantu Anda menyerap kalsium, tulang Anda dapat melemah. Selain itu, kelebihan produksi hormon paratiroid – komplikasi umum kegagalan ginjal – dapat melepaskan kalsium dari tulang Anda.

7. Tekanan darah tinggi (hipertensi)

Jika Anda mengonsumsi terlalu banyak garam atau terlalu banyak minum cairan, tekanan darah tinggi cenderung memburuk dan menyebabkan masalah jantung atau stroke.

8. Kelebihan cairan

Karena cairan dikeluarkan dari tubuh Anda selama cuci darah, minum lebih banyak cairan daripada yang direkomendasikan antara perawatan hemodialisis dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa, seperti gagal jantung atau penumpukan cairan di paru-paru Anda (edema paru).

9. Radang selaput yang mengelilingi jantung (perikarditis)

Kurangnya hemodialisis dapat menyebabkan radang selaput yang mengelilingi jantung Anda, yang dapat mengganggu kemampuan jantung Anda untuk memompa darah ke seluruh tubuh Anda.

10. Kadar kalium tinggi (hiperkalemia)

Kalium adalah mineral yang biasanya dikeluarkan dari tubuh Anda oleh ginjal Anda. Jika Anda mengonsumsi lebih banyak potasium dari yang direkomendasikan, kadar potassium Anda mungkin menjadi terlalu tinggi. Dalam kasus yang parah, terlalu banyak potasium dapat menyebabkan jantung Anda berhenti.

11. Komplikasi

Potensi komplikasi berbahaya – seperti infeksi, penyempitan atau pembengkakan dinding pembuluh darah (aneurisma), atau penyumbatan – dapat berdampak pada kualitas hemodialisis Anda. Ikuti petunjuk tim dialisis Anda tentang cara memeriksa perubahan di situs akses Anda yang mungkin mengindikasikan masalah.

12. Amiloidosis

Amiloidosis yang berhubungan dengan dialisis berkembang ketika protein dalam darah diendapkan pada sendi dan tendon, menyebabkan rasa sakit, kekakuan dan cairan pada sendi. Kondisi ini lebih sering terjadi pada orang yang telah menjalani hemodialisis selama lebih dari lima tahun.

13. Depresi

Perubahan suasana hati umum terjadi pada orang dengan gagal ginjal. Jika Anda mengalami depresi atau kecemasan setelah memulai hemodialisis, bicaralah dengan tim perawatan kesehatan Anda tentang pilihan pengobatan yang efektif.

Baca juga: Awas, Sembelit Bisa Meningkatkan Resiko Terkena Gagal Ginjal

Biaya Cuci Darah

Waktu cuci darah berlangsung sekitar 5 jam, dilakukan sebanyak 2 – 3 kali per minggu. Akan tetapi, sesudah menjalani cuci darah ini bukan berarti pasien bisa sembuh sebab proses cuci darah hanya bertujuan untuk menggantikan fungsi ginjal sehingga penderita bisa hidup lebih lama. Inilah yang membuat seseorang penderita ginjal terus melakuakn cuci darah seumur hidup dan bisa terbayang berapa biaya cuci darah di rumah sakit yang harus disediakan, seperti dilansir dokterdarah.com.

1. Cuci darah dengan BPJS

Jika cuci darah yang dilakukan di rumah sakit menggunakan BPJS, maka BPJS hanya menanggung 2 kali cuci darah dalam seminggu, sedangkan biaya cuci darah di rumah sakit untuk sisa dalam 1 minggu akan ditanggung sendiri oleh pasien.

  • Biaya cuci darah di rumah sakit: Rp.1.500.000 x 4 Minggu = Rp.6.000.000 per bulan
  • Biaya cuci darah Rp.6.000.000 x 12 bukan = Rp.72.000.000 per tahun
  • Biaya obat tambahan: Rp.20.000 x 7 hari = Rp.140.000 per minggu
  • Biaya obat tambahan per tahun: Rp.140.000 x 12 = Rp.1.680.000

2. Cuci darah tanpa BPJS

Apabila cuci darah yang dilakukan tanpa menggunakan BPJS, maka dana yang harus dipersiapkan tentunya semakin banyak karena tidak mendapat bantuan.

  • Biaya cuci darah: Rp.1.500.000 x 3-4 minggung – Rp.24.000.000 per bulan
  • Biaya cuci darah per tahun: Rp.24.000.000 x 12 bulan = Rp.288.000.000 per tahun
  • Sedangkan jika di total dengan obat lainnya, maka bisa mencapai Rp.300.000.000 lebih dalam setiap tahunnya.

Nah, sekarang sudah tahu apa itu hemodialisis atau cuci darah kan, Teman Sehat!