Hari Saka Bakti Husada: Berkomitmen Sebagai Penggerak GERMAS

Hari-Saka-Bakti-Husada

DokterSehat.Com– Hari Saka Bakti Husada (SBH) yang diperingati setiap tanggal 17 Juli mencetuskan sebuah komitmen bahwa Saka Bakti Husada siap berperan sebagai penggerak dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang dicetuskan oleh Kementerian Kesehatan.

Komitmen ini tentu patut diapresiasi. Selama ini SBH memang menunjukkan komintmen tinggi dalam menangani kesehatan di Indonesia. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek bahkan mengakui kontribuasi besar SBH dalam mengawal dan mengimplementasikan program kesehatan di tengah masyarakat.

Sejak lahir pada 17 Juli 1985, SBH segera memberikan kontribusi maksimal dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota Pramuka di bidang kesehatan. SBH telah meningkatkan citra Gerakan Pramuka dalam kiprahnya sebagai pelopor hidup bersih dan sehat.

SBH juga menjadi kader penggerak pembangunan kesehatan yang membantu mempercepat capaian cakupan upaya kesehatan. Beberapa kegiatan yang dilakukan SBH di lapangan di antaranya adalah promosi perilaku hidup bersih sehat (PHBS), waspada HIV/AIDS, TB Paru, imunisasi, dan pengendalian vektor penyakit.

Pada kesempatan tersebut, SBH berkomitmen penuh dalam mendukung sumber daya yang cukup sehingga dapat menghasilkan pramuka yang terampil bidang kesehatan dan memiliki karakter yang kuat untuk memimpin bangsa di masa yang akan datang.

GERMAS

GERMAS merupakan sebuah gerakan nasional yang memfokuskan pada bentuk kegiatan yang dapat dilakukan masyarakat yaitu melakukan aktivitas fisik, imbauan mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan mempraktikkan sanitasi yang baik, serta buang air besar di tempat yang seharusnya.

“GERMAS diharapkan menjadi tindakan sistematis yang terencana secara bersama-sama,” ungkap Menkes Nila, ”Diharapkan seluruh komponen bangsa dapat berperilaku sehat sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup.”
Untuk memastikan gerakan ini berjalan dengan baik, GERMAS dimulai dari pendekatan keluarga dengan menerapkan indikator keluarga sehat seperti memastikan tidak ada anak-anak dan balita yang kekurangan gizi, menjaga kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, serta kesehatan jiwa.

Kemudian sebagai upaya preventif terhadap hal tesebut, Kemenkes menguatkan fungsi puskesmas dan posbindu sebagai layanan kesehatan tingkat pertama. Puskemas dapat memantau indeks kesehatan keluarga sekaligus masyarakat dapat memeriksakan kesehatan secara rutin di sana sebagai bagian dari upaya preventif promotif penyakit.

Program Germas juga punya arti strategis terhadap efisiensi dan efektivitas penganggaran di bidang kesehatan. Saat ini beban biaya kesehatan yang harus ditanggung program JKN sangat besar, khususnya untuk penyakit katastropik tersebut.

Nah, dari sini Kemenkes yakin GERMAS juga dapat menjadi upaya promotif preventif agar kesehatan masyarakat terjaga.