Terbit: 1 Februari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Saat suhu udara cukup panas, mengonsumsi minuman bersoda tentu akan memberikan kesegaran tersendiri. Hanya saja, jika dicermati, setelah minum soda, terkadang kita merasakan nyeri pada dada. Sebenarnya, apakah hal ini menandakan adanya masalah pada kesehatan?

Habis Minum Soda Dada Terasa Nyeri, Apa Penyebabnya?

Penyebab Dada Terasa Nyeri Usai Minum Soda

Terkadang, kita menyebut minuman bersoda dengan minuman berkarbonasi. Hanya saja, minuman bersoda biasanya memiliki warna atau sensasi rasa yang jauh lebih menarik. Banyak anak muda yang sering mengonsumsinya.

Jika kita minum soda cukup banyak, bisa saja menyebabkan gejala layaknya sering bersendawa. Terkadang kita juga akan merasakan nyeri pada dada. Banyak orang yang kemudian khawatir dengan hal dan mengait-ngaitkannya dengan masalah pada jantung atau paru-paru.

Pakar kesehatan menyebut sensasi nyeri pada dada yang dirasakan setelah minum soda seringkali disebabkan oleh menumpuknya gas karbondioksida, gas yang ada di dalam minuman ini dan membuatnya memiliki gelembung kecil dalam jumlah banyak. Gas ini semakin menumpuk di dalam saluran pencernaan dan kemudian mengalir kembali ke bagian kerongkongan atau dada. Kita pun akan merasakan tekanan berlebih pada dada dan memberikan sensasi tidak nyaman.

Sensasi nyeri ini biasanya bisa dirasakan seperti terbakar atau tusukan. Jika kita tak kunjung bersendawa, sensasi ini akan berlanjut hingga ke perut. Kita juga akan mersakan sensasi perut kembung, mual, penurunan nafsu makan, hingga gangguan pencernana lainnya?

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Asalkan kita tidak sering minum soda, gejala nyeri pada dada setelah meminumnya cenderung jarang terjadi. Gejala ini juga seringkali tidak terkait dengan masalah kesehatan yang lebih serius. Hanya saja, jika kita sering atau terlalu banyak meminumnya, risiko terkena berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang akan semakin meningkat.

Berbagai Dampak Kesehatan Sering Minum Soda

American Heart Association menyarankan kita untuk membatasi minuman bersoda maksimal 450 kalori saja dalam seminggu. Jika kita sering mengonsumsinya, maka dalam jangka panjang bisa menyebabkan dampak bagi kesehatan tubuh.

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

  1. Bisa Membuat Berat Badan Naik

Sudah menjadi rahasia umum jika salah satu penyebab utama dari kenaikan berat badan adalah kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda. Sebagai informasi, minuman ini memiliki kadar kalori yang cukup tinggi. Jika kita meminumnya sebanyak 350 ml saja, sudah mengonsumsi 140 kalori. Padahal, jumlah ini hampir setara dengan asupan kalori satu piring kecil nasi.

Penelitian membuktikan bahwa mereka yang hobi minum soda mengonsumsi kalori 17 persen lebih banyak dibandingkan dengan yang tidak pernah meminumnya. Hal inilah yang kemudian bisa berimbas pada kenaikan berat badan.

  1. Meningkatkan Risiko Diabetes

Rutin mengonsumsi minuman bersoda sebanyak satu kaleng saja setiap hari sudah cukup untuk meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 1,1 persen. Tak hanya karena memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, soda juga bisa membuat pankreas bekerja dengan jauh lebih keras demi mengendalikan kadar gula darah. Jika sampai hal ini sering terjadi, pankreas bisa rusak dan tak mampu memenuhi kebutuhan insulin. Dampak dari hal ini adalah resistensi insulin, faktor utama dari penyebab diabetes.

  1. Meningkatkan Risiko Kanker

Mereka yang rutin mengonsumsi minuman bersoda cenderung mengalami peningkatan risiko terkena kanker pankreas hingga 87 persen lebih tinggi.

  1. Membuat Gigi Rusak

Makanan atau minuman manis terbukti bisa meningkatkan risiko terkena kerusakan gigi dengan signifikan. Khusus untuk minuman bersoda, minuman ini tinggi kandungan asam fosfat dan asam karbonat yang bisa mengikis lapisan terluar gigi.

 

Sumber

  1. Stevens, Cara. 2018 Is Carbonated Water Bad for You?. https://www.healthline.com/health/food-nutrition/is-carbonated-water-bad-for-you. (Diakses pada 1 Februari 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi