Terbit: 15 Februari 2021
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Gula rafinasi adalah gula yang berasal dari tebu yang biasa dikonsumsi untuk perasa berbagai jenis makanan dan minuman. Ketahui apa itu gula rafinasi, jenis, dan bahayanya bagi kesehatan.

Gula Rafinasi: Jenis, Perbedaan, Contoh, dan Bahayanya bagi Kesehatan

Apa Itu Gula Rafinasi?

Gula rafinasi adalah gula yang diekstraksi dari tebu atau buah bit (bit gula) yang banyak dikonsumsi oleh banyak orang setiap hari. Gula rafinasi adalah jenis sukrosa, yaitu kombinasi dari glukosa dan fruktosa. Anda menggunakan gula rafinasi sebagai perisa manis untuk berbagai jenis makanan dan minuman seperti teh, kopi, kue, sereal, biskuit, permen, dll.

Sementara gula alami adalah gula yang ditemukan secara natural pada jenis makanan seperti buah, sayur, biji-bijian, kacang-kacangan, produk susu, dan madu. Sebagai contoh, rasa manis pada pisang adalah bentuk dari gula alami. Bahkan pada buah yang cenderung asam, tetap ada kandungan gula alami di sana.

Baik gula rafinasi atau gula alami, gula adalah karbohidrat sederhana yang akan diolah oleh tubuh menjadi energi. Tanpa asupan gula, tubuh bisa jadi kekurangan energi. Walaupun demikian, mengonsumsi terlalu banyak gula rafinasi akan memicu efek kesehatan seperti obesitas, diabetes tipe dua, masalah kardiovaskular, dan penyakit jantung.

Jenis Rafinasi Sugar

Walaupun terbuat dari bahan alami seperti tebu, aren, atau gula bit, gula rafinasi tetap melewati proses produksi secara kimiawi. Berikut ini jenis gula rafinasi yang sebenarnya sering Anda gunakan dalam makanan dan minuman sehari-hari:

1. Gula Merah

Gula merah mengandung sekitar 85-95% sukrosa, molase impurities (kotoran), dan jumlah karamel yang bervariasi. Kemudian, gula merah terbuat dari tebu yang tidak melalui proses rafinasi sepenuhnya.

2. Gula Caster

Gula caster adalah gula pasir dengan kualitas yang lebih tinggi dan juga mengandung lemak yang cukup tinggi. Biasanya, gula caster premium digunakan untuk makanan ringan dan pastries (kue kering).

3. Gula Pasir

Gula pasir biasa yang mudah ditemukan di pasaran dan Anda gunakan untuk berbagai makanan dan minuman. Nama lain gula pasir adalah gula meja atau gula A1.

4. Icing Sugar 

Gula dengan tekstur bubuk dan sensasi dingin seperti es. Icing sugar biasa digunakan untuk pembuat manisan dan berbagai jenis kue.

5. Demerara Sugar

Gula demerara adalah 90% sukrosa dari tebu. Sebenarnya hampir serupa dengan gula merah, namun gula demerara memiliki tekstur butiran besar, renyah, dan berwarna coklat pucat.

Baca Juga: 5 Makanan Ini Bisa Menurunkan Gula Darah

6. Gula Invert (Invert Sugar)

Invert sugar adalah pemanis cair yang terbuat dari campuran sukrosa dan air. Jadi, gula invert terdiri dari 50% fruktosa dan 50% glukosa dengan tekstur seperti sirup gula kental.

7. Sirup Jagung

Sirup jagung terbuat dari jagung melaui proses ekstraksi dan pemurnian hingga terbentuk glukosa murni. Sementara sirup jagung fruktosa tinggi terbuat dari kombinasi glukosa dan fruktosa. Sirup jagung memiliki rasa manis dengan tekstur kental dan lengket.

8. Molase

Molase adalah ekstrak dari jus tebu yang mengandung sukrosa dan jenis gula pasir lainnya. Gula molase dengan warna yang lebih gelap memiliki rasa manis yang lebih kaya, biasanya digunakan untuk membuat kue dan manisan.

Jenis gula rafinasi yang paling banyak digunakan adalah gula pasir dan gula merah. Berbagai jenis gula rafinasi paling banyak digunakan untuk kebutuhan pembuatan makanan ringan.

Perbedaan Gula Rafinasi dan Gula Biasa

Anda sudah memahami perbedaan gula rafinasi dan gula biasa (alami) dari segi bahan dan proses pembuatannya, di mana gula rafinasi biasanya terbuat dari tebu sementara gula alami hadir dalam makanan secara natural. Contoh gula alami seperti gula dari nektar kelapa, kurma, dan madu.

Dari segi vitamin, gula rafinasi tidak memiliki kandungan vitamin, mineral, protein, serat, atau kandungan nutrisi lainnya. Sementara gula alami kaya akan nutrisi alami. Contohnya, fruktosa (gula) di dalam buah juga mengandung serat, vitamin, mineral, dan komponen yang bermanfaat untuk kesehatan. Tidak seperti gula rafinasi yang hanya sekadar untuk meningkatkan cita rasa manis.

Baca Juga: 11 Pengganti Gula yang Lebih Sehat, Pernah Coba?

Contoh Makanan dengan Gula Rafinasi

Anda mungkin mengonsumsi gula rafinasi dalam berbagai bentuk makanan dan minuman setiap hari. Berikut ini contoh gula rafinasi dalam makanan dan minuman:

  • Makanan Siap Saji: Pizza, burger, mac and cheese, frozen food (makanan beku), sosis, burger, dll.
  • Topping Makanan: Selai, meses, butter, buah kering, pure buah, selai kacang, dll.
  • Makanan Kaleng: Kacang-kacangan kaleng, buah kaleng, ikan kaleng, dll.
  • Minuman: Kopi, teh, jus buah kemasan, soda, minuman vitamin, energy drinks, boba bubble tea, dll.
  • Makanan yang Dipanggang: Kue, pastri, pie, kue kering, croissants, roti, dll.
  • Makanan Manis: Permen, coklat, es krim, manisan, biskuit, dll.
  • Jenis Bumbu: Kecap, saus pasta, saus barbeque, salad dressing, dll.
  • Makanan Diet: Low-fat yogurt, low-fat selai kacang, granola, dll.
  • Sarapan: Sereal, cereal bar, muesli kemasan, dll.

Sebagian besar jenis makanan dan minuman mengandung gula rafinasi. Mengonsumsi jumlah gula dalam jumlah yang dianjurkan (50 gram per hari atau 5-9 sendok teh) dapat mengurangi risiko masalah kesehatan terkait gula.

Bahaya Gula Rafinasi bagi Kesehatan

Peneliti mengungkapkan bahwa terlalu banyak asupan gula dapat meningkatkan risiko kesehatan. Berikut ini bahaya gula bagi kesehatan:

1. Meningkatkan Berat Badan

Terlalu banyak makanan manis atau makanan/minuman dengan kandungan gula tersembunyi dapat meningkatkan risiko obesitas. Pasalnya, fruktosa akan membuat Anda semakin lapar. Jumlah fruktosa yang tinggi akan menyebabkan resisten leptin, yaitu hormon yang meregulasi rasa lapar dan memberi tubuh sinyal untuk berhenti makan saat sudah kenyang.

2. Penyakit Jantung

Konsumsi terlalu banyak makanan dan minuman manis akan menyebabkan obesitas, inflamasi, kadar trigliserida tinggi, gula darah naik, dan juga tekanan darah tinggi. Semua masalah kesehatan tersebut akan meningkatkan risiko penyakit jantung.

3. Risiko Diabetes Tipe 2

Mengonsumsi gula buatan terlalu banyak dalam jangka panjang akan menyebabkan resistensi insulin. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas untuk mengolah gula darah jadi energi.

Saat insulin tidak dapat bekerja dengan baik, maka gula darah tidak dapat diproses menjadi apapun dan memicu masalah kesehatan. Pelajari lebih detail tentang cara mencegah diabetes di sini.

4. Meningkatkan Risiko Kanker

Resistensi insulin akibat konsumsi gula terlalu tinggi juga dapat meningkatkan risiko kanker. Sebuah studi pada lebih dari 430.000 yang mengonsumsi gula tambahkan mendapat hasil berupa peningkatkan risiko kanker usus kecil, kanker esofagus, dan kanker pleura.

5. Meningkatkan Risko Depresi

Mengonsumsi banyak produk tinggi gula seperti minuman manis, soda, atau kue dikaitkan dengan risiko depresi lebih tinggi. Produk tinggi gula menyebabkan perubahan gula darah, disregulasi neurotransmitter, dan inflamasi tubuh yang berpengaruh negatif pada kesehatan mental.

Itulah pembahasan tentang apa itu gula rafinasi dan dampaknya pada kesehatan. Anda tetap boleh mengonsumsi gula buatan namun dengan jumlah yang dibatasi. Semoga informasi ini bermanfaat!

 

  1. Ajar Hospitality. 2019. 9 Types of Refined Sugar. https://www.ajar.id/en/post/9-types-of-refined-sugar. (Diakses pada 15 Februari 2021).
  2. Bjarnadottir, Adda MS, RDN (Ice). 2019. What Is Refined Sugar?. https://www.healthline.com/nutrition/refined-sugar. (Diakses pada 15 Februari 2021).
  3. Kubala, Jillian MS, RD. 2018. 11 Reasons Why Too Much Sugar Is Bad for You. https://www.healthline.com/nutrition/too-much-sugar. (Diakses pada 15 Februari 2021).
  4. Maxine’s Heavenly. 2019. Natural Sugar vs Refined Sugar: What’s the Difference?. https://maxinesheavenly.com/blogs/maxines-heavenly/natural-sugar-vs-refined-sugar-whats-the-difference. (Diakses pada 15 Februari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi