Terbit: 26 Januari 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Gorengan termasuk dalam makanan yang digemari oleh sebagian masyarakat Indonesia. Rasanya yang renyah sangat cocok untuk dijadikan camilan atau lauk. Bahkan, banyak orang yang sengaja mengonsumsinya setiap hari meskipun tahu bahwa gorengan tidak baik bagi kesehatan. Padahal, menurut para ahli, sering makan gorengan bisa membuat umur menjadi lebih pendek!

Waduh, Hobi Makan Gorengan Bikin Umur Lebih Pendek!

Dampak sering makan gorengan

Berdasarkan sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Drwei Bao dari Iowa University, Amerika Serikat, disebutkan bahwa gorengan sebenarnya memberikan dampak yang lebih buruk dari yang kita duga.

“Sebenarnya semua orang tahu kalau gorengan bisa merugikan kesehatan, sayangnya, bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengonsumsi gorengan dalam jangka panjang bisa berbahaya masih sangat minim. Hal inilah yang membuat kita dengan santai terus mengonsumsinya,” ucap Bao.

Bao dan rekan-rekannya pun melakukan penelitian dengan menggunakan data yang dikumpulkan selama 20 tahun dari 107 ribu lansia berusia 50 hingga 79 tahun berjenis kelamin wanita dari Amerika Serikat. Para wanita ini sudah mengisi daftar kuesioner yang berisi pola makan secara rinci pada tahun 1990-an. Setelahnya, kondisi kesehatan para wanita ini dicek kembali pada tahun 2017 lalu. Hasilnya adalah, sekitar 31.500 partisipan telah meninggal dunia.

Bao pun menyimpulkan bahwa orang-orang yang rutin mengonsumsi seporsi gorengan setiap hari cenderung memiliki risiko kematian dini 8 persen lebih besar jika dibandingkan dengan wanita yang tidak makan gorengan. Peningkatan risiko kematian ini disebabkan oleh munculnya penyakit kardiovaskular. Menariknya, Bao justru tidak menemukan kasus kanker dengan signifikan. Padahal, gorengan seringkali dituding bisa menyebabkan kanker.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

“Kami tahu pola makan bisa mempengaruhi risiko kanker, tapi sepertinya tidak semua makanan bisa memberikan dampak ini,” lanjut Bao.

Jenis gorengan yang bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan

Bao menyebut jenis gorengan yang paling memungkinkan untuk memicu datangnya kematian dini adalah ayam goreng dan ikan goreng karena memang cenderung lebih sering dikonsumsi. Hanya saja, kentang goreng, kerupuk, keripik, dan gorengan lainnya juga bisa memberikan dampak yang sama.

Bagaimana bisa ayam goreng dan ikan goreng bisa memicu peningkatan risiko penyakit kardiovaskular? Hal ini sepertinya terkait dengan kebiasaan makan masyarakat Amerika Serikat di restoran cepat saji dan kecenderungan makanan yang digoreng ini yang memakai minyak yang digunakan hingga berkali-kali.

Hanya saja, Bao juga menyebut hasil penelitian ini belum tentu berlaku di semua negara karena kultur dan pola makan masyarakat yang bisa saja berbeda. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan di Spanyol pada 2012 lalu justru membuktikan bahwa sering mengonsumsi makanan yang digoreng tidak terkait dengan kematian dini. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan masyarakat Spanyol yang mengolah gorengan sendiri di rumah dengan memakai minyak zaitun.

Beberapa dampak buruk dari makan gorengan

Pakar kesehatan menyebut ada banyak sekali dampak buruk dari kebiasaan makan gorengan bagi kesehatan tubuh. Dampak ini berupa datangnya masalah kesehatan yang cukup serius.

Berikut adalah dampak-dampak tersebut.

  1. Peningkatan berat badan

Gorengan kaya akan kalori dan lemak sehingga mengonsumsinya dalam jumlah banyak akan membuat asupan kalori menjadi berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan obesitas yang sayangnya terkait dengan berbagai penyakit serius seperti penyakit jantung atau diabetes.

  1. Tersumbatnya pembuluh darah

Keberadaan lemak jahat yang tinggi di dalam gorengan juga bisa menjadi pemicu tersumbatnya pembuluh darah. Selain penyakit jantung, hal ini juga bisa memicu stroke yang mematikan.

  1. Sakit tenggorokan

Terlalu sering makan gorengan, baik itu yang dibuat sendiri di rumah atau yang dibeli di pinggir jalan akan membuat kita lebih rentan terkena infeksi tenggorokan dengan gejala batuk-batuk atau gatal pada tenggorokan.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi