Terbit: 9 Januari 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Adanya ginjal buatan (ginjal bionik) menandakan jika pesatnya perkembangan teknologi juga merambah ke dunia medis. Adanya inovasi ini secara otomatis berdampak pada terbantunya tenaga medis dalam menjalankan tugasnya, pun meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan pasien. Ketahui lebih lanjut mengenai ginjal buatan berikut ini!

Ginjal Buatan (Ginjal Bionik), Tidak Perlu Lagi Cuci Darah?

Apa Itu Ginjal Buatan?

Ginjal buatan adalah salah satu inovasi di dalam dunia kedokteran yang kini tengah dikembangkan oleh para ilmuwan medis, tepatnya dari University of California, San Francisco (UCSF), Amerika Serikat. Dengan kehadiran ginjal buatan (artificial kidney) ini, diharapkan para penderita penyakit ginjal nantinya tidak perlu lagi melakukan sejumlah terapi yang umumnya meliputi:

  • Cuci darah (hemodialisis)
  • Continuous ambulatory peritoneal dialysis
  • Transplantasi ginjal

Sebagaimana diketahui, ginjal adalah organ yang memiliki peran vital di dalam tubuh yakni sebagai pembuang racun tubuh, membantu produksi sel darah merah, mengendalikan tekanan darah, hingga merawat kesehatan tulang.

Manakala ginjal bermasalah dan berujung pada kasus gagal ginjal, semua fungsi tersebut tentu tidak lagi bisa dilakukan dan sangat membahayakan tubuh.

Oleh sebab itu, penderita gagal ginjal perlu melakukan sejumlah terapi di atas guna menggantikan peran organ tubuh yang satu ini.

Akan tetapi, terapi-terapi tersebut dianggap kurang efisien baik dari segi waktu hingga biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien. Atas dasar efisiensi inilah para ilmuwan akhirnya berpikir untuk mengembangkan ginjal buatan. Tujuannya, tentu saja agar pasien tidak sering bolak-balik ke rumah sakit guna melakukan cuci darah.

Cara Kerja Ginjal Buatan

Dilansir dari Healthline, Shuvo Roy, profesor di Department of Bioengineering and Therapeutic Sciences UCSF yang menjadi kepala tim peneliti dengan nama The Kidney Project ini, ginjal buatan didesain untuk dapat menjalankan fungsi layaknya organ ginjal sungguhan yakni memfiltrasi racun di dalam tubuh hingga fungsi-fungsi lainnya.

Ginjal buatan bionik yang ditransplantasikan ke dalam tubuh penderita penyakit ginjal—khususnya end-stage renal disease (ESRD) atau gagal ginjal stadium akhir—nantinya akan mengandalkan tekanan darah guna menjalankan ‘fungsinya’ tersebut. Hal ini menarik karena artinya, tidak ada alat tambahan yang perlu digunakan seperti selang atau kateter sehingga cukup efisien.

Perlu diketahui, alat serupa sejatinya pernah diperkenalkan pada tahun 2015 oleh Victor Gura dari Cedars-Sinai Medical Centers di Los Angeles, Amerika Serikat. Akan tetapi, alat tersebut masih membutuhkan peran selang dan kateter untuk dapat difungsikan.

Lebih lanjut, Roy menjelaskan lebih perihal cara kerja ginjal buatan yang ia dan timnya ciptakan. Alat tersebut memiliki semacam modul hemofilter yang, bersama-sama dengan darah, menghasilkan ultrafilter berisi racun, gula, dan garam.

Selanjutnya, bioreaktor sel ginjal akan memproses ultrafilter tersebut untuk kemudian diserap kembali oleh darah. Dalam proses ini, tubuh juga akan mengubah ultrafilter menjadi urine yang langsung dikirim ke kandung kemih melalui ureter.

Kendati demikian, selama penggunaan artificial kidney ini pasien tetap diharuskan mengonsumsi suplemen hormon. Ya, alat ini sayangnya belum bisa menggantikan peran ginjal dalam memproduksi hormon semisal hormon eritropoetin yang mana hormon tersebut bertugas membantu produksi sel darah merah.

Efektivitas Ginjal Buatan

Lantas, seberapa efektif ginjal buatan ciptaan Roy dan tim dari UCSF?

Belum dapat dipastikan sejauh mana efektivitas alat ini dalam membantu para penderita penyakit gagal ginjal stadium akhir atau (ESRD). Pasalnya, ginjal buatan masih dalam tahap pengembangan dan baru berhasil diterapkan pada hewan babi sebagai objek penelitian.

Kendati demikian, keberhasilan penerapan ginjal buatan pada hewan tersebut memberikan ‘angin segar’ bagi para peneliti untuk terus mengembangkan alat ini hingga nantinya benar-benar siap untuk diterapkan pada manusia.

Lagipula, ginjal ‘palsu’ seperti ini secara teknis sama dengan metode tranplantasi ginjal. Perlu diketahui, transplantasi menjadi metode penyembuhan penyakit ginjal yang paling efektif dibandingkan metode-metode lainnya.

Dikatakan bahwa 93 persen pasien penerima transplantasi ginjal masih merasakan manfaatnya setelah satu tahun. Sekitar 83 persen di antaranya bahkan masih bekerja dengan baik pasca 3 tahun.

Masa Depan Ginjal Bionik

Jika berhasil dikembangkan, penggunaan ginjal buatan di masa mendatang mungkin saja akan menjadi masif.

Bagaimana tidak? Selain lebih efisien secara waktu dan biaya, teknologi canggih ini mungkin saja dapat memperbesar angka harapan hidup dari penderita penyakit ginjal.

Masih dilansir dari healthline, seorang penderita gagal ginjal—sekalipun rutin melakukan cuci darah—hanya memiliki kemungkinan untuk hidup rata-rata 5-10 tahun. Kalaupun harus melakukan transplantasi ginjal, mereka setidaknya perlu mengantre hingga 10 tahun lamanya sebelum mendapatkan donor ginjal karena seperti di Amerika Serikat saja, ada sekitar 100 ribu pasien gagal ginjal yang mengantre setiap tahunnya, sementara persediaan ginjal hanya mencapai angka 21 ribu.

Gagal ginjal adalah penyakit yang telah merenggut banyak nyawa. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan bahwa setidaknya ada 50,476 kasus gagal ginjal yang berujung kematian di Amerika Serikat pada tahun 2010, menempatkan penyakit ini di peringkat 8 dari daftar penyebab kematian di Negeri Paman Sam Tersebut.

Menarik untuk disimak perkembangan selanjutnya dari ginjal buatan ini. Satu hal yang pasti, alat ini belum dapat diproduksi secara massal sehingga penderita ginjal masih harus bertumpu pada prosedur cuci darah maupun donor ginjal. Kelak jika sudah diproduksi, tentunya akan sangat membantu. Kira-kira kapan, ya?

  1. Curley, B. 2017. Implantable Artificial Kidney Moves Closer to Reality. https://www.healthline.com/health-news/implantable-artificial-kidney-moves-closer-to-reality#1 (Diakses pada 9 Januari 2020)
  2. Ellis, M. 2013. Artificial kidney could help those with renal failure. https://www.medicalnewstoday.com/articles/266471.php#1 (Diakses pada 9 Januari 2020)
  3. Malicdem, D. 2019. End Of Dialysis: Implantable Artificial Kidney Moves Closer To Production. https://www.medicaldaily.com/end-dialysis-implantable-artificial-kidney-moves-closer-production-445639 (Diakses pada 9 Januari 2020)
  4. UCSF. 2019. Implantable artificial kidney achieves preclinical milestone. https://medicalxpress.com/news/2019-11-implantable-artificial-kidney-preclinical-milestone.html (Diakses pada 9 Januari 2020)

 


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi