Terbit: 9 Oktober 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Gigi sensitif adalah kondisi ketika gigi terasa ngilu dan nyeri setelah makan makanan dingin atau hangat. Ketahui informasi selengkapnya mulai dari gejala, penyebab, cara mengobati, dan lainnya di bawah ini!

Gigi Sensitif: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, Pencegahan, dll

Apa Itu Gigi Sensitif?

Gigi sensitif adalah kondisi yang ditandai dengan nyeri, ngilu, dan ketidaknyamanan saat makan makanan dingin atau panas. Nyeri dan ngilu ngilu biasanya tajam, muncul secara tiba-tiba, dan bahkan dapat menjalar ke ujung saraf gigi.

Terkadang faktor lain juga bisa memperburuk kondisi, termasuk makanan manis dan asam, atau bahkan udara dingin yang menyentuh gigi.

Gigi nyeri dan ngilu mungkin kondisi yang bersifat sementara atau kronis, dan bisa terjadi pada satu gigi, beberapa gigi, atau semua gigi pada seseorang.

Tanda dan Gejala Gigi Sensitif

Penderita gigi sensitif mungkin mengalami nyeri atau ketidaknyamanan sebagai respons terhadap pemicu tertentu. Nyeri mungkin terasa di akar gigi yang terkena.

Gejala tersebut sebagai respons terhadap sejumlah faktor berikut:

  • Mengonsumsi makanan dan minuman dingin.
  • Mengonsumsi makanan dan minuman panas.
  • mengonsumsi makanan dan minuman manis.
  • Mengonsumsi makanan dan minuman asam.
  • Paparan udara dingin.
  • Air dingin, terutama saat pembersihan gigi secara rutin.
  • Menyikat gigi atau membersihkan gigi dengan benang.
  • Obat kumur berbahan alkohol.

Gejala gigi sensitif mungkin muncul dan hilang seiring waktu tanpa adanya alasan yang jelas. Gejalanya mungkin terasa ringan hingga intens.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter gigi untuk mengetahui penyebab dan pengobatannya jika mengalami gejala gigi sensitif berikut:

  • Nyeri berlangsung lebih dari satu atau dua hari.
  • Nyeri yang parah atau mulai menjadi tidak tertahankan.
  • Memiliki gigi yang retak, patah, longgar, atau aus.
  • Mengkhawatirkan sensitivitas gigi.

Penyebab Gigi Sensitif

Gigi memiliki lapisan enamel atau email yang melindungi dentin yang lebih lunak di bawahnya. Jika dentin terbuka, gigi bisa menjadi sensitif. Kondisi ini biasanya terjadi ketika gigi dan gusi bertemu, sementara lapisan enamel lebih tipis.

Berikut ini sejumlah penyebab gigi sensitif:

1. Plak

Adanya lapisan plak di permukaan akar gigi dapat menyebabkan sensitivitas. Kondisi ini dapat terjadi karena racun dan asam diproduksi oleh bakteri plak memasuki tubulus di dentin yang terbuka dan merangsang ujung saraf lebih dalam pada gigi.

2. Kerusakan gigi

Gigi yang menjadi sensitif kemungkinan telah mengembangkan gigi berlubang. Hal ini memungkinkan partikel makanan, minuman, dan udara dingin masuk ke lapisan sensitif gigi. Inilah yang menjadi penyebab gigi sensitif.

3. Penyakit Gusi

Jaringan gusi yang mengalami peradangan dan nyeri dapat menyebabkan kepekaan karena hilangnya ligamen pendukung, yang mengekspos permukaan akar gigi yang mengarah langsung ke saraf gigi.

4. Gusi Surut

Gusi surut dapat disebabkan penyakit gusi, terlalu semangat menyikat gigi, atau penggunaan sikat gigi yang keras. Gusi surut berarti akar gigi tidak dilindungi oleh enamel.

Gusi menyusut membuat akar gigi yang sensitif ini terlihat. Kondisi ini membuat akar gigi rentan terkena makanan dan minuman, terutama yang dingin atau panas.

5. Makanan Asam, Minuman, atau Obat Kumur

Mengonsumsi makanan, minuman, dan obat kumur yang mengandung asam seiring waktu atau jangka panjang dapat mengikis enamel gigi hingga dentin, ini termasuk:

  • Obat kumur
  • Makanan seperti jeruk dan tomat.
  • Minuman seperti jus buah, minuman ringan, dan minuman olahraga.

6. Gigi Retak

Enamel gigi yang retak memungkinkan partikel makanan dan cairan masuk ke lapisan gigi yang lebih dalam. Retakan ini juga dapat dimasuki oleh bakteri dan menyebabkan peradangan pada gigi.

7. Keausan pada Enamel

Mengunyah, menggeretakkan gigi (bruxism), dan menyikat terlalu keras seiring waktu dapat mengikis enamel. Ini dapat membuat gigi bagian bawahnya dapat terbuka dan terlihat, sehingga dapat menimbulkan sensitivitas.

8. Produk Pemutih Gigi

Beberapa produk yang mengandung baking soda atau peroksida untuk memutihkan gigi dapat menyebabkan kerusakan mikroskopis pada enamel gigi. Seiring waktu penggunaanya dapat menjadi penyebab gigi sensitif.

9. Perawatan Gigi Rutin

Sensitivitas gigi dapat terjadi setelah pembersihan gigi, root planing, penempatan mahkota, dan restorasi gigi. Sensitivitas yang disebabkan oleh prosedur perawatan gigi bersifat sementara dan biasanya akan menghilang dalam 4-6 minggu.

Risiko Gigi Sensitif

Sebagian besar orang dapat mengalaminya dan bisa terjadi kapan saja, tetapi ada faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami gigi sensitif, di antaranya:

  • Usia antara 20 dan 40, meskipun dapat terjadi pada orang-orang di awal masa remaja dan usia di atas 70 tahun.
  • Wanita lebih mungkin berisiko daripada pria.
  • Kurang menjaga kebersihan mulut dan gigi.
  • Penyakit gusi yang meningkatkan risiko gusi turun (resesi gingiva).

Baca Juga: 13 Penyebab Gigi Berlubang yang Sering Kali Tidak Disadari

Diagnosis Gigi Sensitif

Jika mengalami kondisi ini untuk pertama kalinya, segera ke dokter gigi. Dokter dapat memeriksa kesehatan gigi dan memeriksa potensi masalah seperti gigi berlubang, tambalan gigi longgar, atau gusi tersembunyi yang dapat menyebabkan sensitivitas.

Dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan tersebut selama pembersihan gigi rutin, termasuk membersihkan gigi dan melakukan pemeriksaan visual.

Dokter mungkin menyentuh gigi menggunakan alat atau instrumen gigi untuk memeriksa sensitivitas, dan dokter mungkin juga menyarankan rontgen pada gigi untuk mengesampingkan penyebab seperti gigi berlubang.

Cara Mengatasi Gigi Sensitif

Jika kondisi ini terasa mengganggu, sebaiknya segera ke dokter gigi, yang dapat mengidentifikasi atau mengesampingkan penyebab yang mendasari sakit gigi.

Bergantung pada kondisinya, dokter gigi mungkin akan menyarankan cara mengatasi gigi sensitif berikut ini:

  • Pasta gigi yang tidak sensitif. Setelah beberapa kali pemakaian, pasta gigi yang tidak sensitif terkadang dapat membantu menahan nyeri yang terkait dengan sensitivitas gigi. Ada berbagai macam produk yang tersedia tanpa resep. Sebaiknya berkonsultasi ke dokter gigi tentang produk mana yang paling cocok untuk Anda.
  • Fluor. Dokter gigi mungkin akan mengoleskan fluorida pada gigi yang sensitif untuk memperkuat enamel gigi dan mengurangi rasa sakit. Dokter mungkin juga menyarankan penggunaan resep fluoride di rumah.
  • Desensitisasi atau ikatan. Terkadang, permukaan akar gigi yang terbuka dapat dirawat dengan mengaplikasikan resin pengikat ke permukaan akar yang sensitif. Mungkin diperlukan anestesi lokal.
  • Operasi cangkok gusi. Jika akar gigi kehilangan jaringan gusi, sedikit jaringan gusi dapat diambil dari bagian lain di mulut dan ditempelkan ke bagian yang terkena. Ini dapat melindungi akar yang terbuka dan mengurangi kepekaan dari makanan atau minuman.
  • Saluran akar gigi (root canal). Jika sensitivitas menyebabkan rasa sakit yang parah dan cara mengatasi gigi sensitif  lain tidak efektif, dokter gigi mungkin menyarankan perawatan saluran akar, prosedur yang digunakan untuk mengatasi masalah pada inti lunak gigi (pulpa gigi). Perawatan ini dianggap sebagai teknik paling berhasil untuk menghilangkan sensitivitas gigi.

Baca Juga: 15 Obat Sakit Gigi Paling Ampuh – Alami & Medis

Komplikasi Gigi Sensitif

Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit yang serius, jika dibiarkan dan tidak mendapatkan pengobatan  yang tepat dapat mengakibatkan komplikasi serius dan kerusakan permanen.

Setelah penyebab yang mendasari didiagnosis, penting untuk mengikuti rencana perawatan, khususkan untuk mengurangi risiko potensi komplikasi berikut:

  • Gigi berlubang.
  • Ketidakseimbangan elektrolit.
  • Maloklusi (kesejajaran gigi dan rahang yang tidak tepat)
  • Nyeri pada sendi temporomandibular (TMJ) dan otot-otot di sekitarnya.
  • Penyebaran infeksi.
  • Abses gigi.
  •  Gigi tanggal.

Pencegahan Gigi Sensitif

Menyikat gigi 2-3 kali sehari, termasuk pagi, siang hari setelah makan, dan sebelum tidur dengan pasta gigi berfluoride yang mengandung setidaknya 1350 ppm fluoride.

Pertimbangkan untuk menggunakan pasta gigi yang dirancang khusus untuk sensitivitas gigi. Menggunakan gerakan melingkar kecil dengan sikat berbulu lembut hingga sedang. Cobalah untuk menghindari menyikat gigi dari sisi ke sisi.

Selain itu, berikut ini beberapa tips untuk mencegah gigi sensitif:

  • Mengganti sikat gigi setiap dua hingga tiga bulan, atau lebih cepat jika sudah aus atau rusak.
  • Jangan langsung menyikat gigi setelah makan, beberapa makanan dan minuman dapat melembutkan enamel gigi, jadi biarkan setidaknya selama satu jam sebelum menyikat.
  • Jangan terlalu sering makan makanan manis dan minuman bersoda dan asam.
  • Jika menggemeretakkan gigi, berkonsultasi dengan dokter gigi tentang apakah harus membuat pelindung mulut, untuk dipakai di malam hari.
  • Jika berencana memutihkan gigi, berkonsultasi tentang kepekaan gigi dengan dokter gigi sebelum memulai perawatan.
  • Kunjungi dokter gigi secara teratur, sesering yang disarankan.

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. Sensitive teeth. https://www.dentalhealth.org/sensitive-teeth. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  2. Anonim. Tanpa Tahun. Sensitive Teeth. https://mavendental.com.au/help-me-with/sensitive-teeth/. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  3. Anonim. 2016. Sensitive teeth. https://www.healthnavigator.org.nz/health-a-z/t/teeth-sensitive/. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  4. Gotter, Ana. 2018. Why Are My Teeth So Sensitive?. https://www.healthline.com/health/sensitive-teeth. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  5. Healthgrades Editorial Staff. 2018. Sensitive Teeth. https://www.healthgrades.com/right-care/oral-health/sensitive-teeth. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  6. MacGill, Markus. 2018. Everything you need to know about receding gums. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312992. (Diakses pada 9 Oktober 2020)
  7. Sensitivity, Teeth. 2019. Teeth Sensitivity. https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/10954-teeth-sensitivity. (Diakses pada 9 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi