Terbit: 31 Agustus 2020 | Diperbarui: 5 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Gejala muntaber biasanya baru terjadi satu atau dua hari setelah infeksi, hal itu tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Gejala umum kondisi ini adalah diare, kondisi di mana tinja menjadi encer dan membuat Anda harus bolak-balik ke toilet. Ketahui gejala lain dan cara mengatasinya di bawah ini.

10 Gejala Muntaber dan Cara Mengatasinya

Gejala Muntaber yang Mudah Dikenali

Bergantung pada penyebabnya, gejala dapat muncul dalam beberapa hari setelah infeksi dan dapat berkisar dari yang ringan hingga parah. Gejala biasanya berlangsung selama satu atau dua hari, tetapi terkadang dapat bertahan hingga sepuluh hari.

Meskipun diare adalah gejala utama muntaber, terdapat banyak tanda-tanda lainnya. Berikut adalah berbagai gejala dan tanda yang bisa Anda kenali, di antaranya:

1. Diare

Seperti penjelasan sebelumnya, diare adalah ciri-ciri muntaber yang paling umum. Kondisi ini membuat seseorang buang air besar dengan tekstur tinja yang encer. Diare umumnya terjadi akibat makanan dan minuman yang terpapar bakteri, virus, atau parasit.

Penyakit ini umumnya tidak berbahaya jika tidak terjadi dehidrasi. Namun jika disertai dehidrasi, kondisi kesehatan bisa memburuk yang membuat penderita harus mendapatkan pertolongan medis dengan segera.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

2. Mual dan Muntah

Gejala muntaber berikutnya yang umum terjadi adalah mual atau muntah. Meski rasa mual biasanya diikuti dengan muntah, namun pada beberapa kasus ada mual yang tidak diakhiri dengan muntah.

Mual yang diikuti dengan muntah bisa disebabkan oleh gangguan yang bersifat fisik atau psikis. Jika penyebabnya adalah masalah fisik, mual bisa menandakan gangguan pada saluran pencernaan atas atau masalah pada otak.

3. Demam Ringan dan Menggigil

Saat suhu tubuh belum mencapai 38 derajat Celcius, hal itu menandakan Anda mengalami demam ringan. Demam sendiri adalah tanda bahwa sistem imun sedang berusaha melawan bakteri, virus, atau zat asing lainnya yang masuk ke dalam tubuh.

Demam biasanya terjadi bersamaan dengan gejala lain seperti batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, nyeri sendi, hingga mual.

4. Hilangnya Selera Makan

Muntaber bisa membuat seseorang kehilangan selera makan. Kondisi ini membuat seseorang jarang merasa lapar, makan dengan porsi yang lebih sedikit dari biasanya, atau merasa sudah kenyang padahal baru makan sedikit. Sejumlah kondisi dapat menjadi penyebabnya, mulai dari faktor psikologis, penyakit tertentu, hingga efek samping obat-obatan.

5. Sakit Kepala

Sakit kepala adalah kondisi yang pasti pernah dialami oleh semua orang. Rasa sakit atau nyeri bisa terjadi di salah satu sisi atau seluruh bagian kepala. Kondisi ini bisa terasa ringan hingga berat, dan dapat berlangsung singkat hingga lama.

Biasanya sakit kepala dapat diobati dengan obat-obatan yang dijual bebas. Akan tetapi jika sakit kepala terjadi akibat penyakit serius, penanganan lebih lanjut diperlukan.

6. Nyeri Otot

Pada dasarnya, nyeri otot bukanlah penyakit melainkan gejala dari suatu penyakit. Penyebabnya beragam, mulai dari gerakan yang tidak tepat, cedera, hingga efek samping obat. Meski nyeri cenderung muncul selama atau setelah menjalani aktivitas tertentu, kondisi ini juga bisa menjadi gejala muntah berak.

Nyeri otot juga bisa disertai gejala lain, seperti bengkak pada area yang nyeri, demam, hingga tubuh terasa lemas.

7. Inkontinensia Urine

Saat seseorang mengalami muntah berak, hal itu bisa menyebabkannya mengalami inkontinensia urine. Ini adalah kondisi saat seseorang sulit menahan buang air kecil sehingga membuatnya mengompol. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari gaya hidup hingga masalah medis tertentu.

8. Haus yang Berlebihan

Meski haus adalah kondisi normal yang menandakan bahwa tubuh membutuhkan cairan, ternyata hal itu juga bisa menjadi tanda bahwa terdapat gangguan di tubuh, terutama jika Anda terus merasa haus.

Perlu diketahui, kondisi tertentu seperti banyak berkeringat, muntah, dan diare dapat membuat cairan di dalam tubuh menghilang dengan cepat, di mana hal itu bisa menyebabkan seseorang mengalami dehidrasi. Oleh karena itu, mengetahui penyebab rasa haus normal dan yang tidak diperlukan untuk mengetahui kapan Anda membutuhkan pertolongan medis.

9. Bibir dan Mulut Kering

Saat kelenjar saliva tidak memproduksi air liur dalam jumlah yang cukup, hal tersebut bisa menyebabkan mulut kering. Ketika mengalami kondisi ini, seseorang bisa kesulitan menelan, bau mulut, dan gangguan dengan indra pengecap.

Meski hal ini adalah sesuatu yang umum terjadi saat seseorang sedang stres atau cemas, namun jika kondisi ini terjadi terus-menerus, ini bisa menjadi tanda dari kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

10. Tangan dan Kaki Dingin

Tangan dan kaki terasa dingin adalah sesuatu yang normal jika Anda sedang berada di lingkungan yang dingin. Namun, kondisi ini juga bisa menjadi pertanda gejala muntaber.

Sementara penyebab paling umum tangan atau kaki dingin adalah sirkulasi darah yang tidak normal. Kondisi ini, membuat darah yang membawa panas tubuh sulit mengalir ke tangan atau kaki sehingga menyebabkan rasa dingin.

Cara Mengatasi Muntaber

Fokus utama pengobatan adalah mencegah dehidrasi dan hal itu dilakukan dengan mengonsumsi banyak cairan. Sementara pada kasus yang parah, rawat inap dan pemberian cairan intravena diperlukan.

Larutan rehidrasi oral yang dijual bebas seperti Pedialyte dapat membantu dalam kasus-kasus ringan. Obat muntaber ini nyaman bagi perut anak karena mengandung campuran air dan garam yang berguna mengisi kembali cairan dan elektrolit penting yang hilang dari tubuh.

Perawatan Rumahan

Secara bertahap mulailah makan makanan yang hambar dan mudah dicerna, seperti biskuit, roti panggang, agar-agar, pisang, nasi, dan ayam. Berhenti makan jika rasa mual muncul kembali. Berikut ini cara mengatasi muntaber yang dapat Anda lakukan untuk mencegah dehidrasi selama masa pemulihan, di antaranya:

  • Jangan makan makanan padat selama beberapa jam.
  • Hindari makanan dan zat tertentu sampai Anda merasa lebih baik, antara lain produk susu, kafein, alkohol, nikotin, makanan berlemak, atau makanan yang kaya akan bumbu.
  • Perbanyaklah istirahat, penyakit dan dehidrasi bisa membuat tubuh lemah.
  • Sebelum menggunakan obat pereda nyeri atau demam pada anak, konsultasi dengan dokter diperlukan.

Perawatan untuk Bayi dan Anak-Anak

Saat anak mengalami infeksi usus, tujuan terpenting adalah mengganti cairan dan garam yang hilang. Berikut beberapa cara mengatasi muntaber yang bisa dilakukan orang tua, di antaranya:

  • Beri anak larutan rehidrasi oral yang dijual bebas di apotek. Hindari memberikan air putih pada anak karena air tidak terserap dengan baik dan tidak akan cukup menggantikan elektrolit yang hilang. Selain itu, hindari memberikan jus apel pada anak karena bisa memperburuk diare.
  • Secara bertahap perkenalkan makanan yang hambar dan mudah dicerna, seperti roti panggang, nasi, pisang, dan kentang.
  • Jangan berikan anak produk susu atau makanan manis seperti es krim, soda, dan permen karena bisa memperburuk diare.
  • Hindari memberikan obat antidiare yang dijual bebas pada anak, kecuali disarankan oleh dokter.

Jika Anda memiliki bayi dengan kondisi ini, biarkan perut bayi beristirahat selama 15 hingga 20 menit setelah muntah atau diare, kemudian berikan sedikit cairan. Jika Anda sedang menyusui, biarkan bayi menyusu. Jika bayi Anda diberi susu botol, tawarkan sedikit larutan rehidrasi oral (oralit) atau susu formula.

 

  1. Anonim. Viral gastroenteritis (stomach flu). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/symptoms-causes/syc-20378847. (Diakses pada 31 Agustus 2020).
  2. Anonim. Gastroenteritis (“Stomach Flu”). https://www.webmd.com/digestive-disorders/gastroenteritis#1. (Diakses pada 31 Agustus 2020).
  3. Pietrangelo, Ann dan Rachel Nall. 2019. Viral Gastroenteritis (Stomach Flu). https://www.healthline.com/health/viral-gastroenteritis#diagnosis. (Diakses pada 31 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi