Terbit: 20 Maret 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Diabetes ditandai oleh sejumlah ciri atau gejala. Berikut adalah informasi mengenai gejala diabetes umum yang perlu Anda ketahui agar lebih waspada dengan penyakit berbahaya yang satu ini!

12 Gejala Diabetes yang Harus Diwaspadai!

Apa Itu Diabetes?

Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah di dalam tubuh akibat ketidakmampuan insulin dalam menekan laju peningkatan gula darah tersebut. Diabetes terdiri dari 2 (dua) jenis utama yakni diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 2 menjadi jenis diabetes yang paling banyak penderitanya, yakni dengan persentase 90 persen dari total kasus secara keseluruhan.

Menurut perkiraan International Diabetes Federation (IDF), akan ada sekitar 592 juta jiwa penderita diabetes di seluruh dunia pada tahun 2035 mendatang. Di Indonesia sendiri, data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan ada sekitar 12 juta jiwa (6,9 persen) penderita diabetes mellitus. Sedangkan di tahun 2030, jumlah penderita di dalam negeri diperkirakan mencapai 21,3 juta jiwa.

Ciri dan Gejala Diabetes

Dilansir dari Tempo, sebuah survey yang dilakukan pada tahun 2014 mengungkapkan bahwasanya diabetes menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia setelah stroke dan jantung koroner dengan persentase 6,7 persen. Fakta ini tentu saja tidak bisa dianggap sepele. Sejumlah langkah harus dilakukan guna meminimalisir risiko penyakit tersebut.

Salah satu upaya awal untuk mencegah diabetes adalah dengan mengetahui apa saja yang menjadi ciri atau gejala penyakit ini. Dengan demikian, Anda dapat segera melakukan langkah-langkah guna menghindari komplikasi serius yang ditimbulkannya. Lantas, apa saja gejala diabetes?

1. Sering Merasa Haus

Gejala diabetes umum yang pertama adalah sering atau mudah merasa haus. Dalam dunia medis, kondisi ini lebih dikenal dengan istilah polidipsia.

Rasa haus memang merupakan reaksi alami tubuh yang biasanya muncul ketika seseorang habis melakukan sejumlah aktivitas seperti berolahraga atau berada di tempat yang panas.

Akan tetapi pada kasus polidipsia akibat diabetes, rasa haus tersebut tidak kunjung hilang sekalipun Anda sudah minum banyak air. Hal ini dimungkinkan karena gula darah yang menumpuk di dalam darah menyebabkan ginjal harus bekerja ekstra dalam memfiltrasi gula yang berlebih tersebut.

Alhasil, lama-kelamaan ginjal tidak mampu lagi melakukan ‘tugasnya’ tersebut secara maksimal yang mana hal ini ditandai oleh produksi urine yang berlebih.

Urine yang keluar lantas membuat tubuh kehilangan cairan. Kondisi ini kemudian direspons oleh tubuh dengan cara mengirimkan sinyal ke otak guna menghasilkan rasa haus tersebut.

2. Frekuensi Buang Air Kecil Meningkat

Seperti yang sudah dijelaskan, kadar gula darah (glukosa) yang berlebih akibat ketidakmampuan insulin untuk mengontrolnya berdampak pada terganggunya kinerja ginjal.

Ginjal yang sejatinya bertugas memfiltrasi gula darah sebelum diserap kembali oleh tubuh jadi harus bekerja lebih keras dalam menyaring kelebihan glukosa untuk kemudian diubah menjadi urine.

Masalah muncul ketika glukosa yang berlebih tersebut membuat urine menjadi lebih kental dari yang seharsunya. Guna mengencerkan urine tersebut, ginjal lantas akan memanfaatkan lebih banyak cairan tubuh.

Nah, aktivitas ini lantas membuat tubuh kehilangan banyak cairan sehingga tubuh jadi lebih sering merasa haus.

Rasa haus tentunya akan membuat Anda jadi lebih sering minum. Alhasil, kandung kemih menjadi lebih cepat terisi penuh dan berujung pada keinginan untuk buang air kecil yang meningkat frekuensinya.

Peningkatan frekuensi buang air kecil—dalam dunia medis disebut sebagai poliuria—sebagai salah satu gejala diabetes utamanya terjadi di malam hari dan membuat penderitanya harus bolak-balik ke kamar kecil di sela-sela waktu tidur.

Apabila Anda mengalami frekuensi buang air kecil yang banyak (lebih dari 7 kali sehari) segera kunjungi dokter guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

3. Mudah Merasa Lelah

Ciri-ciri diabetes selanjutnya yang perlu Anda ketahui adalah tubuh mudah merasa lelah dan tidak berenergi.

Pada kondisi normal, insulin bekerja dengan cara menyalurkan gula darah menuju sel-sel tubuh yang mana gula darah tersebut lantas dipergunakan oleh tubuh sebagai sumber energi.

Ketika insulin yang diproduksi jumlahnya tidak memadai (diabetes  tipe 1)  atau insulin tidak dapat berfungsi secara optimal (diabetes tipe 2), hal ini secara otomatis menghambat proses distribusi glukosa tersebut ke sel-sel tubuh.

Alhasil, tubuh tidak mendapatkan asupan ‘bahan bakar’ yang mencukupi untuk dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Tak ayal, penderita penyakit ini akan merasakan tubuhnya lemas dan tidak berenergi kendati sudah makan teratur dan sesuai porsinya.

4. Mudah Merasa Lapar

Mudah merasa lapar juga menjadi ciri atau gejala yang umum dialami oleh para penderita diabetes, baik itu diabetes tipe 1 maupun tipe 2.

Gejala diabetes berupa rasa lapar yang datang terus-menerus ini muncul dikarenakan sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa dengan baik akibat kadar insulin yang tidak memadai atau tidak mampunya insulin untuk menjalankan tugasnya secara optimal. Padahal, glukosa yang diserap tersebut akan diubah menjadi energi.

Berkaitan dengan gejala sebelumnya yakni tubuh menjadi kekurangan energi, hal ini lantas membuat penderita diabetes juga menjadi mudah merasa lapar yang mana dalam dunia medis dikenal dengan istilah polifagia.

5. Penurunan Berat Badan secara Drastis

Mereka yang menderita diabetes memang akan menjadi lebih sering makan. Akan tetapi, kondisi ini tidak akan berdampak pada meningkatnya berat badan.

Alih-alih berat badan bertambah, yang terjadi justru berat badan menurun secara drastis. Mengapa demikian? Jawabannya tak lain juga karena ketidakmampuan tubuh untuk menyerap glukosa yang seharusnya menjadi sumber energi.

Akibat tidak ada ‘bahan’bakar’ utama yang bisa digunakan, tubuh lantas menggunakan otot dan lemak yang ada sebagai alternatif sumber energi. Alhasil, massa lemak akan berkurang. Inilah yang menyebabkan berat badan mengalami penurunan secara drastis.

6. Penglihatan Kabur

Diabetes juga ditandai oleh gejala berupa terganggunya fungsi penglihatan. Dalam hal ini, penglihatan menjadi tampak kabur.

Dilansir dari WebMD, penglihatan yang kabur pada penderita diabetes tipe 1 maupun tipe 2 dikarenakan tingginya kadar gula di dalam tubuh. Kondisi tersebut lantas menyebabkan lensa mata mengalami pembengkakan, perdarahan, hingga kerusakan saraf.

Pada kasus yang lebih parah, dampak diabetes terhadap mata bisa lebih serius lagi yakni:

  • Katarak
  • Glaukoma
  • Kebutaan

Gangguan pada mata memang bisa saja terjadi karena sejumlah faktor lainnya, seperti usia. Akan tetapi, Anda perlu waspada apabila gangguan-gangguan tersebut muncul di usia produktif.

7. Masalah Kulit

Masalah pada kulit—khususnya kulit kering—menjadi gejala diabetes lainnya yang umum dirasakan oleh para penderitanya.

Hal ini masih terkait dengan ciri diabetes yang tadi sudah dibahas yakni peningkatan frekuensi buang air kecil. Ketika Anda buang air kecil, maka itu artinya volume cairan di dalam tubuh akan mengalami pengurangan. Apabila terjadi secara sering, otomatis tubuh akan kehilangan banyak cairan.

Nah, kondisi tersebut yang kemudian berdampak pada kondisi kulit kering. Pasalnya, kulit jadi mengalami dehidrasi sehingga tingkat kelembapannya pun berkurang.

Tak hanya itu, tingginya kadar glukosa mengakibatkan terganggunya saraf. Ketika hal ini terjadi, maka tubuh akan memproduksi zat yang disebut sitokin guna menangani masalah ini.

Masalahnya, produksi sitokin yang melebihi batas berdampak pada terjadinya peradangan (inflamasi). Inflamasi tersebut lantas mengakibatkan kulit menjadi kering, gatal, pecah-pecah, serta muncul flek hitam (acanthosis nigricans).

8. Infeksi

Diabetes juga membuat penderitanya lebih rentan untuk mengalami berbagai jenis infeksi, khususnya infeksi yang disebabkan oleh jamur dan juga bakteri.

Rentannya penderita diabetes untuk terkena infeksi jamur dan bakteri tak lepas dari tingginya kadar gula darah di dalam tubuh. Kadar gula darah yang tinggi membuat sistem imun tubuh menjadi kurang responsif dalam menangkal serangan jamur dan bakteri. Alhasil, infeksi pun tidak dapat dihindari.

Selain itu, kadar glukosa yang berlebihan juga membantu mikroorganisme ‘jahat’ tersebut  untuk tumbuh dan berkembang secara cepat.

Beberapa area tubuh penderita diabetes yang rentan mengalami infeksi jamur dan bakteri antara lain sebagai berikut:

  • Mulut
  • Alat kelamin
  • Ketiak

Sementara itu, gejala diabetes berupa infeksi biasanya meliputi:

  • Gatal
  • Ruam
  • Perubahan warna menjadi kemerahan
  • Nyeri
  • Sensasi seperti terbakar

9. Pembengkakan pada Gusi

Masih  berkaitan dengan infeksi, gejala diabetes selanjutnya adalah pembengkakan pada gusi dan juga gusi berdarah.

Masalah yang satu ini dikarenakan lemahnya sistem imun tubuh sehingga menyebabkan bakteri maupun kuman dengan mudahnya dapat menginfeksi area dalam mulut.

Jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila Anda mendapati gusi sering bengkak, mudah mengalami perdarahan, hingga sariawan.

10. Kaki dan Tangan Mati Rasa atau Kesemutan

Tingginya kadar gula darah di dalam tubuh pada kasus diabetes berdampak pada tidak lancarnya sirkulasi darah, pun rusaknya sistem saraf.

Akibat kondisi ini, penderita diabetes—khususnya diabetes tipe 2—akan mengalami gejala berupa sensasi mati rasa dan/atau kesemutan baik itu di area kaki maupun tangan.

Anda patut curiga apabila kesemutan di tangan dan kaki sering terjadi dan sudah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Bisa jadi, ini merupakan gejala diabetes.

Kerusakan sistem saraf akibat diabetes disebut sebagai neuropati perifer. Komplikasi diabetes yang satu ini jika tidak segera ditangani dapat berujung pada penurunan mobilitas tubuh, bahkan tak jarang menyebabkan kecacatan.

Oleh sebab itu, segera periksakan diri ke dokter jika dirasa sering mengalami mati rasa atau kesemutan pada kaki maupun tangan Anda.

11. Luka Lebih Sulit Sembuh

Apakah saat ini di tubuh Anda ada luka entah itu karena terjatuh, tersayat benda tajam, atau yang lainnya, dan hingga sekarang tidak kunjung sembuh? Jika ya, sebaiknya waspada karena hal ini bisa jadi merupakan gejala diabetes!

Proses penyembuhan luka yang berlangsung lebih lama dari biasanya memang menjadi salah satu dampak yang ditimbulkan akibat penyakit diabetes. Hal tersebut dikarenakan adanya penyempitan dan pengerasan pada pembuluh darah arteri akibat tingginya kadar glukosa.

Kondisi ini lantas menghambat distribusi oksigen dari jantung menuju area di mana terdapat luka. Alhasil, luka menjadi sulit sembuh dikarenakan pasokan oksigen yang sejatinya dibutuhkan untuk proses penyembuhan tidak memadai.

Oksigen sendiri berperan dalam membantu memperbaiki saraf dan jaringan yang rusak akibat luka. Selain itu, diabetes juga dapat menyebabkan luka jadi lebih mudah terinfeksi seiring dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh.

12. Disfungsi Seksual

Diabetes juga berdampak pada kehidupan seksual penderitanya. Pada pria, disfungsi ereksi (impotensi) menjadi salah satu gejala diabetes yang umum dialami.

Tingginya kadar gula darah menghambat aliran darah di dalam tubuh, termasuk aliran darah yang menuju ke penis. Hal inilah yang lantas menyebabkan penis menjadi tidak bisa atau sulit mempertahankan ereksi.

Selain impotensi, masalah seksual lainnya yang juga rentan dialami oleh penderita diabetes adalah menurunnya gairah seksual (libido).

 

Baca Juga: Diabetes Tipe 1: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan

 

Diabetes Bisa Tanpa Gejala

Dilansir dari Healthline, diabetes juga bisa saja tidak menimbulkan gejala sehingga penyakit ini baru dapat terdeteksi setelah yang bersangkutan menjalani tes gula darah secara rutin.

Hal tersebut tetapi berlaku untuk diabetes gestasional, salah satu jenis diabetes yang biasanya dialami oleh para wanita hamil.

Akan tetapi, pada kasus yang jarang, wanita hamil yang mengalami diabetes gestasional akan mengalami gejala diabetes berupa rasa haus dan frekuensi buang air kecil yang meningkat.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Setelah mengetahui apa saja yang menjadi ciri-ciri diabetes, Anda kini bisa mulai memerhatikan diri sendiri maupun orang-orang terdekat, apakah mengalami salah satu atau beberapa dari gejala tersebut.

Jika dirasa mengalami gejala-gejala di atas, segera kunjungi dokter agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dalam mendiagnosis diabetes, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang terdiri dari:

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait dengan keluhan yang dialami oleh pasien. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya meliputi:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah ada anggota keluarga dengan riwayat penyakit yang sama?

2. Pemeriksaan Fisik

Tahap selanjutnya adalah memeriksa kondisi fisik pasien untuk mencari tahu apakah ada abnormalitas pada fisik yang mengarah ke gejala diabetes juvenil ini.

Pemeriksaan fisik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Memeriksa apakah ada luka di tangan dan kaki
  • Memeriksa kondisi mata
  • Memeriksa kondisi kulit

Selain itu, prosedur pemeriksaan fisik standar seperti mengukur tekanan darah, berat dan tinggi badan juga akan dilakukan di tahap ini.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna memastikan hasil diagnosis, dokter juga akan melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang yang umumnya terdiri dari:

  • Tes A1c, adalah tes yang bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa rata-rata dalam kurun waktu 2 sampai 3 bulan terakhir. Tes ini akan mengukur persentase gula darah yang ada pada hemoglobin. Persentase 6,5 ke atas mengindikasikan jika pasien memang terkena diabetes
  • Tes gula darah acak, adalah tes untuk mengetahui kadar gula darah di dalam tubuh yang mana sampe darah akan diambil secara acak. Artinya, sampel darah dapat diambil kapanpun (tanpa harus berpuasa terlebih dahulu). Kadar glukosa yang mencapai angka 200 mg/dL mengindikasikan diabetes
  • Tes gula darah puasa, adalah tes untuk mengetahui kadar gula darah setelah tidak makan semalaman. Kadar gula darah puasa yang kurang dari 100 mg/dL tergolong aman, kadar gula darah antara 100-125 mg/dL tergolong pra-diabetes, sedangkan kadar gula darah di atas 126 mg/dL

Setelah hasil diagnosis menunjukkan hasil positif, dokter juga biasanya akan melakukan pemeriksaan terhadap sistem kekebalan tubuh pasien. Seperti yang sudah dijelaskan, penyakit diabetes juga berdampak pada terganggunya kinerja sistem imun tubuh.

Tips Hidup Sehat Jika Memiliki Gejala Diabetes

Jika hasil diagnosis menunjukkan Anda menderita diabetes, maka ada sejumlah tips hidup sehat yang dapat dilakukan guna menunjang pengobatan sekaligus menjaga kualitas hidup.

Apa saja tips hidup sehat bagi Anda yang memiliki gejala diabetes?

1. Mengatur Pola Makan

Pemilihan makanan yang tepat menjadi kunci utama bagi penderita diabetes (diabetesi) jika ingin peluang kesembuhan penyakitnya tinggi.

Guna menunjang hal ini, Anda yang menderita diabetes sangat disarankan untuk banyak mengonsumsi buah dan sayuran dan sebaliknya, menghindari jenis makanan yang mengandung gula, lemak, dan garam dalam jumlah tinggi.

2. Olahraga

Penderita diabetes juga disarankan untuk memperbanyak aktivitas fisik seperti berolahraga. Tidak perlu olahraga berat, berjalan kaki santai atau jogging juga sudah cukup untuk membantu mengontrol kadar glukosa di dalam tubuh. Dengan catatan, lakukan kegiatan olahraga ini secara rutin dan teratur.

Efektivitas olahraga dalam membantu mengendalikan kadar glukosa sudah banyak dibuktikan oleh penelitian sehingga tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk melewatkan aktivitas yang satu ini jika ingin penyakit yang diderita bertambah parah.

3. Medical Check Up Rutin

Melakukan pemeriksaan medis (medical check up) secara rutin juga menjadi cara untuk mengoptimalkan penyembuhan penyakit diabetes yang Anda derita.

Selain memeriksakan diri ke dokter secara langsung, Anda juga bisa menggunakan alat tes kadar gula darah yang bisa didapatkan di apotek atau toko obat. Baca petunjuk penggunaan alat dengan seksama sebelum menggunakannya.

4. Mematuhi Petunjuk Dokter

Dokter yang menangani pasti akan memberikan sejumlah aturan atau petunjuk selama proses pengobatan penyakit diabetes yang tengah Anda derita, mulai dari petunjuk penggunaan obat, suntik insulin mandiri, pola diet, hingga aktivitas sehat lainnya yang harus dilakukan setiap hari.

Demi mengoptimalkan pengobatan tersebut, maka sudah sewajibnya bagi Anda untuk senantiasa mematuhi setiap aturan yang dokter berikan. Jika diberikan obat, maka konsumsilah obat secara teratur dan sesuai dosis.

Jika dokter memberitahu pantangan apa saja yang harus dihindari, maka hindari pantangan-pantangan tersebut. Kendati mungkin menimbulkan ketidaknyamanan, ingatlah bahwa ini semua demi kebaikan diri Anda sendiri.

5. Kelola Stres dengan Baik

Tips sehat lainnya yang juga tidak boleh Anda lewatkan adalah dengan mengelola stres yang dialami secara baik.

Memang, stres adalah kondisi yang tak bisa dihindari. Akan ada saja situasi dan kondisi yang memicu timbulnya rasa stres entah itu karena masalah pekerjaan, rumah tangga, maupun yang lainnya.

Tugas Anda adalah bagaimana menemukan cara yang efektif untuk mengelola stres tersebut, entah itu dengan berolahraga, berkumpul bersama keluarga tercinta, dan sebagainya.

Hal ini menjadi penting mengingat stres menjadi salah satu pemicu naiknya kadar glukosa di dalam tubuh. Jika dibiarkan, maka bukan tidak mungkin penyakit ini akan bertambah buruk.

6. Istirahat yang Cukup

Terakhir, pastikan Anda memiliki waktu istirahat yang cukup. Istirahat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Dengan menerapkan tips yang satu ini, diharapkan Anda yang menderita diabetes tidak mudah terserang infeksi yang dapat memperburuk kondisi.

 

 

  1. Anonim. Diabetes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes/symptoms-causes/syc-20371444 (Diakses pada 20 Maret 2020)
  2. Anonim. What is Diabetes? https://www.idf.org/aboutdiabetes/what-is-diabetes.html (Diakses pada 20 Maret 2020)
  3. Anonim. Why Diabetes Cause Hunger and Fatigue? https://www.webmd.com/diabetes/qa/why-does-diabetes-cause-hunger-and-fatigue (Diakses pada 20 Maret 2020)
  4. Anonim. Diabetes and Blurred VIsion. https://www.webmd.com/diabetes/diabetes-blurred-vision (Diakses pada 20 Maret 2020)
  5. Anonim. 2016. Diabetes, Penyakit Pembunuh Nomer 3 di Indonesia. https://cantik.tempo.co/read/821111/diabetes-penyakit-pembunuh-nomor-3-di-indonesia (Diakses pada 20 Maret 2020)
  6. Anonim. Early Signs and Symptoms of Diabetes. https://www.webmd.com/diabetes/guide/understanding-diabetes-symptoms (Diakses pada 20 Maret 2020)
  7. Cunha, JP. Diabetes early Signs and Symptoms. https://www.medicinenet.com/diabetes_symptoms_in_men/article.htm (Diakses pada 20 Maret 2020)
  8. Galan, N. 2020. What are the early signs of type 2 diabetes? https://www.medicalnewstoday.com/articles/323185#early-signs-and-symptoms (Diakses pada 20 Maret 2020)
  9. Kemenkes RI. Tanda dan Gejala Diabetes. http://p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/tanda-dan-gejala-diabetes (Diakses pada 20 Maret 2020)
  10. Kemenkes RI. 2013. Waspada Diabetes. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-diabetes.pdf (Diakses pada 20 Maret 2020)
  11. Kemenkes RI. 2018. Hari Diabetes Sedunia Tahun 2018
  12. Kivi, R dan Elizabeth, B. 2019. What is Type 1 Diabetes? https://www.healthline.com/health/type-1-diabetes-causes-symtoms-treatments (Diakses pada 20 Maret 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi