Terbit: 8 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Gastroparesis adalah suatu kondisi yang memengaruhi pergerakan spontan otot-otot (motilitas) normal di perut. Kondisi ini membuat sistem pencernaan melambat atau tidak berfungsi sama sekali. Simak penjelasan selengkapnya mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya di bawah ini.

Gastroparesis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Gastroparesis?

Gastroparesis adalah kondisi di mana perut tidak dapat mengosongkan makanan dengan cara normal. Gangguan pada pencernaan ini menyebabkan seseorang bisa mengalami mual, muntah, masalah dengan kadar gula darah, dan mengalami masalah nutrisi.

Pada beberapa kasus, kondisi ini adalah komplikasi dari diabetes, obat-obatan tertentu, atau dampak dari usai menjalani prosedur operasi.

Gejala Gastroparesis

Gejala utama gastroparesis adalah mual dan muntah. Biasanya, muntah terjadi setelah makan, namun dengan kondisi gangguan yang parah, muntah juga dapat terjadi tanpa makanan akan tetapi hanya karena akumulasi sekresi di lambung.

Tanda dan gejala lainnya yang bisa dikenali antara lain:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement
  • Perasaan kenyang setelah makan meski hanya beberapa gigitan
  • Muncul asam lambung
  • Perut kembung
  • Sakit perut
  • Perubahan kadar gula darah
  • Menurunnya nafsu makan
  • Penurunan berat badan dan mengalami gizi buruk

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Meski pada beberapa kasus banyak orang dengan gastroparesis tidak memiliki tanda yang nyata, namun jika Anda memiliki gejala seperti di atas dan membuat khawatir, konsultasi dengan dokter diperlukan.

Penyebab Gastroparesis

Gastroparesis adalah kondisi yang belum bisa dipastikan penyebab pastinya. Akan tetapi, dalam banyak kasus, kondisi ini disebabkan akibat kerusakan pada saraf yang mengontrol otot-otot perut (saraf vagus).

Saraf vagus membantu memproses pencernaan makanan dengan memberi sinyal pada pada otot-otot di perut untuk berkontraksi dan mendorong makanan ke dalam usus kecil.

Saraf vagus yang rusak tidak dapat mengirim sinyal secara normal ke otot perut. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan makanan tetap berada di perut lebih lama, daripada bergerak secara normal ke usus kecil untuk dicerna.

Faktor Risiko

Perlu diketahui juga, saraf vagus dapat rusak oleh penyakit seperti diabetes atau dengan operasi ke perut/usus kecil. Berikut ini adalah berbagai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko gastroparesis adalah:

  • Infeksi, biasanya disebabkan oleh virus.
  • Obat-obatan tertentu yang memperlambat laju pengosongan lambung seperti obat golongan narkotika.
  • Scleroderma (penyakit jaringan ikat).
  • Penyakit sistem saraf seperti penyakit Parkinson atau multiple sclerosis.
  • Hipotiroidisme.
  • Seorang wanita lebih mungkin mengembangkan gastroparesis daripada pria.

Diagnosis Gastroparesis

Diagnosis yang dilakukan dokter bisa dilakukan dengan menanyakan tentang gejala dan riwayat medis. Selain itu, dokter juga bisa menyarankan Anda untuk melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Gastric Emptying Study

Ini adalah tes paling penting yang digunakan dalam membuat diagnosis gastroparesis. Tes ini mengharuskan Anda mengonsumsi makanan ringan. Setelah itu, pemindai yang mendeteksi pergerakan bahan radioaktif ditempatkan di atas perut untuk memantau kecepatan makanan meninggalkan perut

  • Upper Gastrointestinal (GI) Endoscopy

Prosedur ini digunakan untuk memeriksa secara visual sistem pencernaan bagian atas seperti kerongkongan, lambung, dan permulaan usus kecil (duodenum). Tes ini juga dapat mendiagnosis kondisi lain seperti penyakit stenosis pilorus, kondisi yang dapat memiliki gejala yang mirip dengan gastroparesis.

  • Ultrasonografi

Tes yang biasa dikenal dengan sebagai USG ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar struktur dalam tubuh. Ultrasonografi dapat membantu mendiagnosis apakah masalah dengan kantong empedu atau ginjal dapat menyebabkan gejala.

  • Upper Gastrointestinal Series

Seseorang yang ingin melakukan tes ini diharuskan untuk mengonsumsi chalky liquid (barium) untuk melapisi sistem pencernaan. Tes ini dapat membantu dokter menemukan kelainan.

Pengobatan Gastroparesis

Pada dasarnya, pengobatan dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kondisi ini, di antaranya:

1. Perubahan Pola Diet

Mengubah kebiasaan makan adalah salah satu cara terbaik untuk mengendalikan gejala gastroparesis. Anda bisa mencoba makan enam porsi kecil setiap hari daripada tiga porsi besar. Dengan cara ini, Anda memiliki lebih sedikit makanan di perut dan tidak merasa kenyang.

Selain itu, hindari makanan berlemak tinggi karena bisa memperlambat pencernaan dan jangan langsung berbaring setelah makanan, beri waktu setidaknya 2 jam.

2. Obat-obatan

Berikut ini adalah berbagai obat-obatan yang mungkin disarankan oleh dokter, di antaranya:

  • Metoclopramide. Obat ini menyebabkan otot perut berkontraksi dan menggerakkan makanan. Selain itu, obat ini juga membantu meredakan sakit perut dan muntah. Efek samping termasuk diare, kantuk, dan kecemasan. Obat ini sebaiknya dikonsumsi sebelum makan.
  • Erythromycin. Obat ini menyebabkan kontraksi perut dan membantu mengeluarkan makanan. Efek samping termasuk diare dan pertumbuhan bakteri resisten jika Anda meminumnya untuk waktu yang lama.
  • Antiemetik. Obat ini digunakan untuk membantu mengendalikan mual.

3. Operasi

Beberapa orang dengan gastroparesis mungkin tidak dapat mentolerir makanan atau cairan apa pun yang dikonsumsinya. Dalam situasi ini, dokter dapat merekomendasikan feeding tube (jejunostomy tube) yang ditempatkan di usus kecil.

Feeding tubes dapat melewati hidung, mulut, atau langsung ke usus kecil melalui kulit. Alat bantu ini biasanya bersifat sementara dan hanya digunakan ketika gastroparesis parah atau ketika kadar gula darah tidak dapat dikontrol dengan metode lain

Selain feeding tubes, dokter mungkin juga merekomendasikan gastric venting tube untuk membantu meringankan tekanan dari isi lambung.

Komplikasi Gastroparesis

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang bisa terjadi apabila gastroparesis tidak ditangani dengan baik, antara lain:

  • Terjadi dehidrasi akibat muntah yang terus-menerus.
  • Menyebabkan malnutrisi akibat ketidakmampuan menyerap nutrisi yang cukup.
  • Makanan yang tidak tercerna mengeras dan tertinggal di perut.
  • Perubahan gula darah tidak terduga, kondisi yang memperburuk penyakit diabetes.
  • Penurunan kualitas hidup.

Pencegahan Gastroparesis

Berikut adalah berbagai langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejala gastroparesis agar tidak semakin parah, antara lain:

  • Konsumsi makanan dalam jumlah lebih sedikit.
  • Menjaga tubuh tetap terhidrasi.
  • Jika Anda menderita diabetes, pertahankan kadar gula yang baik. Pengosongan lambung yang tidak teratur dapat memengaruhi kadar gula darah secara negatif.
  • Informasikan tentang semua obat atau suplemen apa pun yang digunakan pada dokter.
  • Hindari konsumsi alkohol dan merokok. Kedua hal ini dapat memperlambat pengosongan lambung.
  • Rutin berolahraga sesuai dengan kemampuan.
  • Konsultasi dengan ahli gizi untuk merancang rencana diet sehat.

 

  1. Anonim. Gastroparesis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gastroparesis/diagnosis-treatment/drc-20355792. (Diakses pada 8 Juni 2020).
  2. Anonim. Gastroparesis. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-disorders-gastroparesis#1-1. (Diakses pada 8 Juni 2020).
  3. Anonim. Gastroparesis. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15522-gastroparesis. (Diakses pada 8 Juni 2020).
  4. Anonim. Prevention & Management Tips. https://aboutgastroparesis.org/prevention-management-tips.html. (Diakses pada 8 Juni 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi