Terbit: 26 Maret 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Aksi demo yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia belakangan hari ini menyisakan banyak hal yang menarik untuk dibahas, salah satunya gas air mata. Gas ini digunakan untuk mengurai massa yang tengah melakukan demonstrasi. Simak informasi lebih lanjut mengenai gas ini mulai dari kandungan hingga efek samping yang ditimbulkan olehnya!

Gas Air Mata: Kandungan, Bahaya, Cara Mengatasi

Apa Itu Gas Air Mata?

Gas air mata adalah zat yang menyebabkan mata perih hingga  mengeluarkan air mata. Hal ini karena gas—dalam istilah medis disebut lakrimator —mengandung bahan kimia yang bisa mengiritasi selaput (membran) mukosa dari indera penglihatan tersebut.

Lakrimator digunakan untuk pertama kalinya saat Perang Dunia I. Kini gas air mata dipergunakan saat terjadi demonstrasi, seperti yang terjadi kemarin di sejumlah wilayah Indonesia. Tujuannya adalah untuk memecah konsentrasi massa maupun orang dengan senjata apabila terindikasi bertindak anarkis. Gas ini dipilih karena efektif dalam meredam aksi namun tidak sampai berakibat fatal terhadap keselamatan jiwa.

Kandungan Gas Air Mata

Mengapa mata perih saat terkena lakrimator? Jawabannya tentu ada pada kandungan zat di dalam gas tersebut.

Sejatinya, lakrimator bukan merupakan gas. Alih-alih gas, elemennya berupa cairan yang dapat terurai halus ketika ditembakkan ke udara menggunakan generator, semprotan, hingga granat.

Nah, kandungan zat pada gas ini ada berbagai macam. Umumnya, gas mengandung zat halogen organik sintetik. Dari beberapa macam zat halogen organik sintetik, mayoritas gas air mata menggunakan:

  • chloroacetophenone(CN)
  • o-chlorobenzylidene malononitrile  (CS)

Chloroacetophenone (CN) adalah zat yang merupakan komponen utama Mace, di mana Mace ini termasuk dalam golongan aerosol. Zat inilah yang menyebabkan mata mengalami iritasi hingga terasa perih dan mengeluarkan air mata.

Sementara itu, o-chlorobenzylidene malononitrile  (CS) adalah komponen gas air mata yang lebih kuat daripada chloroacetophenone (CN). O-chlorobenzylidene malononitrile  (CS) ini menghasilkan sensasi terbakar pada mata.

Tak hanya itu, iritasi o-chlorobenzylidene malononitrile  (CS) juga sampai ke saluran pernapasan. Akan tetapi, efek zat ini lebih cepat reda ketimbang chloroacetophenone (CN). O-chlorobenzylidene malononitrile  (CS) bisa hilang setelah menghirup udara segar  selama 5-10 menit.

Selain chloroacetophenone (CN) dan o-chlorobenzylidene malononitrile  (CS), jenis zat lainnya yang terkandung  di dalam lakrimator adalah:

  • Benzyl bromide
  • Bromoacetone
  • Ethyl bromoacetate
  • Xylyl bromide
  • ?-bromobenzyl cyanide

Efek Gas Air Mata

Paparan gas umumnya tidak berdampak parah, apalagi sampai mengancam nyawa. Kendati demikian, gas ini memiliki efek yang cukup mengganggu akibat adanya peradangan pada selaput mata, hidung, hingga paru-paru.

Efek gas umumnya akan terasa sekitar 30 detik setelah terpapar. Mata perih, berair, dan terasa seperti terbakar adalah gejala utama akibat paparan lakrimator tersebut. Tak hanya itu, efek gas juga meliputi sejumlah kondisi berikut ini:

  • Kebutaan sementara
  • Bersin dan batuk
  • Mual dan muntah
  • Kesulitan bernapas
  • Nyeri dada
  • Iritasi kulit
  • Produksi air liur berlebih
  • Disorientasi

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, efek gas ini umumnya bersifat temporer. Efek lakrimator akan hilang setelah beberapa saat, baik secara otomatis maupun dengan cara-cara khusus seperti membasuh muka dengan air dan sebagainya.

Bahaya Gas Air Mata

Gas air mata memang cenderung tidak berbahaya. Namun bagaimana jika paparan gas ini terjadi secara berkepanjangan, terlebih jika gas sudah kedaluwarsa? Apakah akan ada bahaya yang mengintai?

Menurut seorang analis dari IHS Jane’s, Neil Gibson, sebagaimana dilansir dari BBC, pada dasarnya lakrimator memiliki efek racun namun tingkatannya berbeda-beda tergantung dari jenis zat yang dikandungnya. Bahaya akan terasa apabila seseorang terpapar “gas”  ini dalam jumlah yang tinggi.

Masih melansir sumber yang sama, profesor dari University of Leeds yakni Alastair Hay menyebut jika bahaya lakrimator mungkin bisa sampai menyebabkan kematian kendati kemungkinannya sangat kecil (bahkan hampir mustahil).

Sementara pada kasus yang sudah kedaluwarsa, Hay mengatakan bahwa kandungan bahan kimia di dalamnya mengalami kerusakan. Alih-alih menghasilkan bahaya, hal ini justru membuat efektivitas gas air mata berkurang.

Pendapat Hay tersebut seakan menampik anggapan bahwa lakrimator kedaluwarsa menjadi berbahaya bagi tubuh.

Cara Mengatasi Gas Air Mata

Gas ini memang tidak berbahaya. Akan tetapi, paparannya menyebabkan ketidaknyamanan. Lalu, bagaimana cara mengatasinya apabila terpapar?

1. Segera Cari Udara Segar

Cara meredakan yang pertama adalah dengan menjauhi titik ledakan gas dan cari area yang tidak terpapar gas air mata tersebut. Umumnya, efek gas akan hilang dengan sendirinya setelah 5-10 menit berada di tempat yang lebih ‘aman’.

2. Basuh dengan Air

Cara mengatasi paparan lakrimator yang  selanjutnya yaitu dengan membasuh area wajah dengan air bersih. Selain air bersih, Anda bisa menggunakan larutan saline guna meredakan efek perih pada mata akibat gas ini.

Hal yang sama juga berlaku apabila efek gas terasa di kulit. Cuci kulit dengan menggunakan air bersih dan sabun untuk menghilangkan  rasa perih maupun gatal.

3. Bernapas dengan Handuk yang Telah Direndam Air Cuka

Apabila lakrimator menyebabkan Anda mengalami kesulitan bernapas, cara mengatasinya adalah dengan merendam handuk kecil di dalam wadah berisi air hangat yang telah dicampur cuka selama beberapa saat.

Setelah itu, gunakan handuk tersebut untuk bernapas. Sifat  asam dari cuka efektif untuk meredakan efek gas yang satu ini.

4. Gunakan Masker

Apabila terpaksa untuk tetap berada di area yang terdampak gas air mata, gunakan masker khusus untuk menghindari paparan lebih lanjut. Jika efek gas masih terasa setelah melakukan cara-cara di atas, segera kunjungi dokter guna dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Tear Gas. https://www.britannica.com/technology/tear-gas (Diakses pada 26 September 2019)
  2. Helmenstine, A. 2018. What to Do If You Are Exposed to Tear Gas. https://www.thoughtco.com/what-to-do-if-exposed-to-tear-gas-604104 (Diakses pada 26 September 2019)
  3. Rahman, R. 2011. Who, What, Why: How dangerous is tear gas? https://www.bbc.com/news/magazine-15887186 (Diakses pada 26 September 2019)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi