Terbit: 15 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Hoaks di bidang apapun sangatlah berbahaya, apalagi jika berita hoaks ini berisi tentang tips-tips kesehatan. Sayangnya, hal inilah yang terjadi pada seorang wanita dengan inisial CJ. Gara-gara mempercayai sebuah berita hoaks, kini ia tidak bisa lagi berbicara dan menelan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Gara-Gara Kecap Asin, Otak Wanita Ini Rusak. Kok Bisa?

Hoaks tentang kecap asin mampu membersihkan usus.

Seorang pengguna kanal Youtube dengan akun Chubbyemu yang bernama asli dr. Bernard dari Illinois University, Amerika Serikat menceritakan kasus mengenaskan yang dialami CJ. Kasus ini terjadi pada 2012 lalu. Saat itu, sang wanita dilarikan ke UGD rumah sakit tempat dr. Bernard bekerja dalam kondisi sudah tidak sadar. Sempat terkena henti jantung, CJ berhasil diselamatkan oleh dokter. Hanya saja, kerusakan saraf otaknya sudah sangat parah.

Setelah dilakukan pemeriksaan yang lebih mendalam, dokter sangat terkejut dengan apa yang menyebabkan hal ini, yakni karena kecap asin! Usut punya usut, ternyata CJ ingin membersihkan ususnya dengan cara menenggak kecap asin dalam jumlah yang banyak. Sayangnya, hal ini justru memberikan dampak berupa kerusakan saraf otak.

Cara kecap asin merusak saraf otak

Dr. Bernard menyebut CJ mengalami hipernatremia, atau kondisi garam yang sudah melebihi batas wajar di dalam tubuh. Sebagai informasi, garam memiliki sifat mampu menarik cairan. Kondisi inilah yang membuat CJ mengalami dehidrasi parah. Sayangnya, CJ meminum sekitar 1 liter kecap asin yang berisi 200 gram garam, sekitar lima kali dosis yang dianggap sudah mampu memicu kematian bagi manusia.

Dokter berusaha untuk memasukkan cairan demi membuat darah CJ kembali encer. Sayangnya, setelah 72 jam, terlihat jelas bahwa kondisi kerusakan saraf pada otaknya akibat tidak mendapatkan darah yang cukup sudah sangat parah. Selain itu, karena proses pemberian cairan ini, otak CJ sepertinya sempat mengalami pembengkakan parah sehingga sel-sel pun saling menekan dan akhirnya mengalami kerusakan saraf.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Dampak lain mengonsumsi kecap asin dengan berlebihan

Selain bisa menyebabkan kasus seperti yang dialami CJ. Pakar kesehatan menyebut kecap asin sebagai salah satu bahan makanan yang memang sebaiknya tidak dikonsumsi dengan berlebihan karena bisa memberikan efek buruk bagi kesehatan.

Berikut adalah beberapa efek buruk dari kecap asin.

  1. Merusak ginjal

Di dalam kecap asin terdapat kandungan oskalat serta fitoestrogen, kandungan yang memang biasa ditemukan pada produk kedelai yang difermentasi. Masalahnya adalah jika kandungan ini dikonsumsi dengan berlebihan, maka akan memberikan efek buruk bagi kesehatan ginjal. Jika hal ini dilakukan dalam jangka panjang, bisa meningkatkan risiko batu ginjal dan gagal ginjal dengan signifikan.

  1. Tinggi kandungan MSG

Kecap asin cenderung memiliki kadar garam dan MSG yang sangat tinggi. Pakar kesehatan menyebut MSG bisa berbahaya jika dikonsumsi dengan berlebihan dalam jangka waktu yang lama. Bahkan, dampaknya bisa merembet hingga ke fungsi otak atau ke jaringan saraf.

  1. Meningkatnya risiko terkena penyakit kardiovaskular

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kecap asin memiliki kandungan garam yang sangat tinggi. Padahal, garam adalah salah satu bahan yang bisa membahayakan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Sebagai contoh, risiko untuk terkena penyakit tekanan darah tinggi yang mematikan akan meningkat.

  1. Meningkatkan risiko kanker payudara

Meskipun masih menjadi perdebatan para ahli, sebagian dari mereka menyebut konsumsi produk kedelai yang memiliki kandungan isoflavon bisa memicu peningkatan risiko kanker payudara. Jika kita mengonsumsi kecap asin dengan berlebihan, bisa jadi risiko terkena penyakit ini meningkat.

  1. Tidak baik bagi kesuburan pria

Pakar kesehatan juga menyebut kebiasaan mengonsumsi produk kedelai yang difermentasi seperti kecap asin bisa membuat kesuburan pria menurun karena akan menurunkan kualitas sekaligus kuantitas sperma.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi