Terbit: 10 Desember 2020 | Diperbarui: 11 Desember 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Gangguan makan adalah istilah untuk semua jenis masalah makan terkait kondisi mental, termasuk keinginan makan berlebih, tidak napsu makan sama sekali, atau obsesi terhadap bentuk tubuh. Ketahui apa itu gangguan makan, gejala, penyebab, jenis, dan cara mengatasinya. 

Gangguan Makan: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Gangguan Makan? 

Gangguan makan adalah penyakit kompleks yang ditandai dengan perilaku makan berbahaya, pola makan tidak teratur, dan obsesi terhadap berat badan atau bentuk tubuh. Gangguan makan atau eating disorder termasuk gangguan kesehatan mental yang sudah dijelaskan dalam panduan Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental American Psychiatric Association, edisi kelima (DSM-5).

Jenis eating disorder yang paling umum adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan namun ada beberapa jenis eating disorder lainnya. Masalah perilaku tersebut dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi seimbang, serta gangguan mental yang mengkhawatirkan.

Siapa saja bisa mengalami eating disorder, baik wanita atau laki-laki, namun lebih rentang terjadi pada remaja, wanita muda, atau orang usia 20 tahunan. Penderitanya harus konsultasi ke dokter, ahli nutrisi, atau ahli psikologis untuk mengatasi gejala gangguan makan tersebut. 

Gejala Gangguan Makan

Secara umum, orang dengan eating disorder akan menunjukan tanda-tanda berikut ini: 

  • Mengalami fluktuasi makan yang konstan. 
  • Terobsesi pada berat badan ideal atau bentuk tubuh tertentu yang diinginkan. 
  • Menjalani diet ketat padahal badannya sudah sangat kurus. 
  • Perilaku makan yang tidak biasa seperti memotong makanan jadi lebih kecil, suka menyembunyikan makanan, atau memuntahkan kembali makanan. 
  • Terobsesi pada resep makanan atau cara masak tertentu. 
  • Menghindari makan atau acara apa pun yang melibatkan momen makan bersama. 
  • Mengalami obsesi, depresi, atau terlihat lesu. 
  • Bisa makan sangat banyak lalu makan sangat sedikit dan berlangsung keduanya. 

Gejala setiap penderita berbeda-beda tergantung pada jenis gangguan makan yang dialami. Pembahasan tentang gejala gangguan makan berdasarkan jenisnya akan dijelaskan pada poin berikutnya. 

Kapan Harus ke Dokter?

Seseorang yang mengalami gejala eating disorder mungkin tidak menyadarinya karena dirinya memiliki obsesi tertentu terhadap berat badan, bentuk tubuh, dan mungkin padangan sosial lainnya. Sehingga mereka cenderung tidak konsultasi ke dokter karena merasa baik-baik saja.

Bila Anda mengkhawatirkan diri sendiri atau orang lain yang Anda kenal mungkin mengalami masalah pada pola makan dan kesehatan mental, mohon segera konsultasi dan minta bantuan medis. Walaupun terdengar tidak serius, gangguan makan bisa sangat berbahaya dan berakibat fatal. 

Penyebab Gangguan Makan

Penyebab pasti eating disorder belum diketahui, namun para peneliti menemukan beberapa faktor yang memengaruhinya, termasuk: 

  • Faktor Genetik: Orang dengan riwayat keluarga yang memiliki masalah eating disorder juga memiliki gen yang sama. 
  • Biologis: Perubahan bahan kimia tertentu di otak dapat menyebabkan pola lain dalam kebiasaan atau keinginan untuk makan.
  • Psikologis: Masalah mental dapat memengaruhi pola makan seseorang. Mereka mungkin jadi sangat nafsu makan atau tidak nafu makan sama sekali. Orang tersebut mungkin juga memiliki obsesi, kepribadian impulsif, neurotisme, atau perfeksionisme. 
  • Faktor Sosial: Keinginan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan emosional seperti ingin tampil sempurna atau mendapat pujian karena memiliki bentuk tubuh indah sehingga melakukan pola dan perilaku makan yang berbahaya. 

Faktor Risiko Gangguan Makan

Berikut ini beberapa faktor lain yang menyebabkan seseorang rentan melakukan hal-hal terkait eating disorder (ED): 

  • Remaja perempuan lebih rentang mengalami anoreksia dan bulimia.
  • Anak remaja atau usia 20 tahunan (dewasa muda).
  • Seseorang dengan tingkat stres tinggi. 
  • Memiliki riwayat gangguan kesehatan mental lain, termasuk depresi, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan kecemasan. 
  • Seseorang yang melakukan diet ekstrim. 
  • Orang yang melakukan olahraga berorientasi estetika, seperti olahraga balet, senam, menyelam, gulat, dan lainnya.
  • Orang yang memiliki karir yang mengedepankan unsur estetika dan penampilan seperti model, artis, atau performer tertentu. 

Faktor lain seperti idealisme akan kecantikan atau kesempurnaan tubuh juga dapat membuat seseorang rela mengubah pola diet secara ekstrim dan kemudian berkembang menjadi kelainan makan. 

Baca Juga: 10 Menu Makan Siang untuk Diet yang Enak dan Praktis

Diagnosis Gangguan Makan

Dokter akan menganalisis tanda, gejala, dan kebiasaan makan Anda. Dokter juga akan melakukan beberapa tes dan pemeriksaan, termasuk: 

  • Pemeriksaan Fisik: Dokter akan memeriksa berat badan, tinggi badan, detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan. 
  • Tes Laboratorium: Mengkaji bagaimana dampak masalah pola makan terhadap tubuh, termasuk pemeriksaan fungsi liver, ginjal, dan hitung darah lengkap.  
  • Evaluasi Psikologis: Ahli kesehatan mental akan memeriksa gejala eating disorder berdasarkan kriteria diagnostik dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5). Psikolog akan menggali tentang kecenderungan masalah mental, pikiran, perasaan, obsesi, dan hubungannya dengan perilaku makan. 

Selanjutnya, Anda harus konsultasi baik dengan dokter dan psikolog. Dokter akan memperbaiki nutrisi dan jadwal makan Anda, sementara psikolog akan mengarahkan Anda untuk memiliki sudut pandang lebih terarah tentang pola makan, obsesi, atau masalah mental lain yang memengaruhinya.

Jenis Gangguan Makan

Berikut ini jenis eating disorder dan gejalanya yang harus Anda perhatikan: 

1. Anoreksia Nervosa

Anoreksia nervosa adalah gangguan makan paling umum yang ditandai dengan pola diet ekstrim karena keinginan untuk selalu kurus. Penderitanya akan tetap makan namun dengan porsi sangat sedikit, menghindari banyak jenis makanan, membatasi kalori, dan olahraga berlebihan. 

Dalam kasus yang lebih serius, penderita anoreksia nervosa akan menggunakan obat pencahar atau sengaja memuntahkan makanan setelah makan. Gejala anoreksia nervosa, termasuk: 

  • Takut gendut atau bahkan takun menambah berat badan walaupun hanya 1 kilogram atau kurang. 
  • Obsesi pada tubuh kurus dan ramping. 
  • Faktor berat badan sangat memengaruhi harga diri. 

2. Bulimia Nervosa 

Bulimia nervosa adalah kebiasaan pesta makan hingga merasa sangat kenyang. Selama makan, orang tersebut tidak dapat mengontrol makan dan mungkin tidak akan berhenti hingga makanan habis. Setelah selesai makan, mereka cenderung akan memaksakan agar makanan cepat keluar entah dengan minum obat pencahar, sengaja memuntahkannya, atau olahraga berlebihan.

Baca Juga: Bulimia Nervosa: Penyebab, Gejala, Komplikasi, Pengobatan

3. Binge-Eating Disorder

Binge-eating disorder atau gangguan makan berlebihan, subtipe dari anoreksia, namun penderita binge-eating disorder bisa memakan apa saja tanpa membatasi kalori atau jenis makanan. Mereka akan makan banyak dan cepat, lalu mengeluarkan makanan dengan cara memuntahkannya atau olahraga berlebihan agar tidak cepat gendut. 

4. Pica

Pica adalah jenis eating disorder yang ditandai dengan kesukaan makan sesuatu yang bukan makanan, misalnya senang makan sabun, detergen, tepung mentah, es batu berlebihan, kertas, rambut, dan lainnya. Masalah makan ini tentu berbahaya, menyebabkan keracunan, infeksi usus, dan dianggap sebagai penyimpangan sosial. 

5. Rumination Disorder 

Rumination disorder adalah kebiasaan seseorang untuk mengunyah makanan terlalu lama, menelan sebagian, mengunyahnya lagi, lalu melepehnya atau mungkin menelannya lagi. Kondisi ini biasanya dimiliki oleh anak-anak namun orang dewasa mungkin mengalaminya juga. Seseorang mungkin mengunyah makanannya sangat lama hingga 30 menit, seperti makan sambil melamun (ruminasi).

6. Gangguan Asupan Makanan Menghindar/Restriktif

Avoidant/restrictive food intake disorder atau gangguan asupan makanan menghindar/restriktif adalah gangguan makan pada bayi dan anak usia dini (di bawah usia 7 tahun) yang ditandai dengan kurangnya nafsu makan akibat tidak suka makanan dengan rasa, suhu, aroma, atau tekstur tertentu. Masalah pola makan ini mungkin bertahan hingga dewasa. 

Cara Mengatasi Gangguan Makan 

Cara mengatasi eating disorder tergantung pada jenis dan tingkat keparahan gejala. Rencana perawatan meliputi perawatan komprehensif dan profesional oleh dokter, ahli gizi, dan terapis atau psikolog. Berikut ini beberapa opsi perawatan pasien eating disorder

1. Perbaikan Nutrisi 

Program pola makan yang lebih sehat untuk memulihkan dan menyeimbangkan berat badan. Dokter akan memberikan panduan makan normal, jadwal makan, dan kebiasaan makan untuk tubuh yang lebih sehat. 

2. Psikoterapi 

Psikoterapi individu atau berbasis keluarga dibutuhkan untuk mengatasi penyebab yang mendasari gejala eating disorder seseorang. Psikolog akan membantu pasien untuk mengelola emosi, pola pikir, obsesi, dan komunikasi yang efektif untuk memperbaiki kebiasaan makan dan kondisi mental secara general. 

3. Obat-obatan

Dokter akan memberikan beberapa resep obat untuk mengelola suasana hati atau gejala kecemasan yang mendasari eating disorder. Bila kondisinya lebih parah, makan perawatan di rumah sakit juga dibutuhkan. 

Baca Juga: 20 Makanan untuk Diet yang Sehat, Enak, dan Bikin Cepat Langsing

Komplikasi Gangguan Makan

Seseorang dengan eating disorder akan kekurangan nutrisi dan mengancam kesehatan organ-organ penting dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan komplikasi, seperti: 

  • Masalah pertumbuhan dan perkembangan tubuh. 
  • Gangguan kesehatan yang serius. 
  • Masalah pada hubungan sosial. 
  • Masalah kepercayaan diri, gangguan kecemasan, depresi, dan kesehatan mental. 
  • Pikiran untuk bunuh diri. 

Cara Mencegah Gangguan Makan

Berikut ini cara mencegah eating disorder pada anak-anak: 

  • Jangan diet berlebihan. Bila ingin diet, ada baiknya konsultasi dengan ahli gizi atau pakarnya. 
  • Konsultasi pada psikolog bila memiliki obsesi tidak realistis tentang berat badan atau bentuk tubuh. 
  • Perhatikan orang-orang sekitar yang mungkin memiliki kecenderungan masalah makan, ajak bicara dan temani untuk konsultasi ke dokter. 

Itulah pembahasan tentang apa itu gangguan makan. Orang dengan masalah makan akan mengalami kekurangan nutrisi atau ketidakseimbangan fungsi organ tubuh. Konsultasi dengan ahli gizi dan psikolog bila Anda khawatir dengan gejala tersebut. Semoga informasi ini bermanfaat!

 

  1. Eating Disorder Hope. 2018. Eating Disorders: Causes, Symptoms, Signs & Medical Complications. https://www.eatingdisorderhope.com/information/eating-disorder. (Diakses pada 10 Desember). 
  2. Mayo Clinic. 2018. Eating disorders. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/symptoms-causes/syc-20353603. (Diakses pada 10 Desember). 
  3. National Institute of Mental Health. 2016. Eating Disorders. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/eating-disorders/index.shtml. (Diakses pada 10 Desember). 
  4. Petre, Alina, MS, RD (NL). 2019. 6 Common Types of Eating Disorders (and Their Symptoms). https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders. (Diakses pada 10 Desember). 


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi