Gangguan Kepribadian Dependen – Pengertian, Gejala dan Penyebab

Gangguan-Kepribadian-Dependen-doktersehat

Gangguan kepribadian dependen adalah salah satu gangguan kepribadian yang paling sering didiagnosis di mana orang menjadi tergantung, cemas berlebihan dan keinginan untuk mendapatkan perhatikan lebih dari orang lain.

Seseorang dengan gangguan kepribadian dependen sering terlihat pasif dan tidak percaya akan kemampuan dirinya. Hal tersebut berdampak terhadap kemampuan mereka dalam menjalani hidup, terutama dalam bersosialisasi dan bekerja.

Mereka tidak memiliki kesanggupan untuk hidup mandiri serta selalu diliputi rasa takut karena ditinggalkan oleh orang lain. Saat mereka sedang sendiri, hal ini membuat diri mereka tidak merasa nyaman maupun tidak berdaya. Pada akhirnya, hal ini akan menimbukan mereka ketergantungan pada orang lain.

Gejala Gangguan Kepribadian Dependen

Tanda dari gangguan kepribadian dependen akan cenderung sulit dikenali jika penderitanya masih dalam usia anak-anak atau remaja. Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan kepribadian dependen saat ia memiliki ketergantungan berlebih terhadap orang lain ketika memasuki usia dewasa awal.

Pada fase usia tersebut, kepribadian dan pola pikir seseorang cenderung menetap dengan lebih sedikit perubahan. Selain itu, orang dengan gangguan kepribadian dependen cenderung memiliki rasa takut terpisah.

Karakteristik umum lainnya dari gangguan kepribadian ini meliputi:

  • Ketidakmampuan untuk membuat keputusan, bahkan untuk keputusan sehari-hari seperti apa yang akan dikenakan dan selalu meminta saran serta jaminan dari orang lain.
  • Menghindari tanggung jawab orang dewasa dengan bertindak pasif dan tak berdaya; ketergantungan pada pasangan atau teman untuk membuat keputusan untuk bekerja dan hidup.
  • Ketakutan yang intens ditinggalkan dan rasa kehancuran atau tidak berdaya ketika hubungan berakhir. Seseorang dengan gangguan kepribadian dependen sering cepat berganti pasangan ketika hubungan sebelumnya berakhir.
  • Terlalu peka terhadap kritik.
  • Pesimisme dan kurangnya rasa percaya diri yang tinggi. Penderita memiliki keyakinan bahwa mereka tidak mampu merawat diri mereka sendiri.
  • Menghindari untuk mengungkapkan ketidaksetujuan dengan orang lain karena takut kehilangan dukungan atau persetujuan.
  • Sulit melakukan semuanya sendiri.
  • Mudah mentolerir perlakuan dan pelecehan dari orang lain.
  • Menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri.
  • Kecenderungan untuk menjadi naif dan berfantasi.

Penyebab Gangguan Kepribadian Dependen

Hingga kini penyebab pasti dari gangguan kepribadian dependen belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, kemungkinan besar hal ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis, kadar emosional, dan psikologis.

Bahkan, beberapa peneliti percaya gaya orang tua yang otoriter atau overprotektif dalam mendidik anak dapat mengarahkan pada pengembangan dari ciri-ciri gangguan kepribadian dependen.

Namun demikian, genetik juga sedikit banyak memengaruhi kecenderungan seseorang memiliki kepribadian dependen, karena genetik juga memiliki andil dalam membentuk kepribadian seseorang.

Selain itu beberapa jenis pengalaman juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kepribadian dependen, di antaranya:

  • Trauma akibat ditinggalkan seseorang.
  • Mengalami tindakan kekerasan.
  • Berada di dalam hubungan yang abusif dalam waktu lama.
  • Trauma masa kecil.

Diagnosis Gangguan Kepribadian Dependen

Penderita gangguan kepribadian dependen akan dirujuk ke psikiater atau profesional kesehatan mental. Dokter akan bertanya tentang gejala dan memeriksa kesehatan mental serta riwayat medis. Diagnosis akan disampaikan setelah pemeriksaan jiwa secara keseluruhan, hal ini dilakukan untuk menyingkirkan faktor penyakit lain.

Psikiater dan psikolog menggunakan wawancara yang dirancang khusus dan alat penilaian untuk mengevaluasi seseorang dengan gangguan kepribadian. Meskipun tidak ada tes laboratorium yang secara khusus bisa mendiagnosa gangguan kepribadian, dokter mungkin menggunakan berbagai tes diagnostik untuk menyingkirkan penyakit fisik sebagai penyebab gejala.

Penanganan Gangguan Kepribadian Dependen

Gangguan kepribadian dependen cenderung bertahan dalam waktu yang lama namun dapat mengalami penurunan intensitas seiring dengan pertambahan usia. Terapi dalam mengatasi gangguan kepribadian dependen cenderung tidak menggunakan obat namun melalui psikoterapi dengan metode terapi bicara.

Tujuan utama dari terapi ini adalah menumbuhkan kepercayaan diri untuk bersosialisasi dan membantu penderita memahami kondisinya. Biasanya terapi bicara dilakukan dalam jangka pendek, karena jika dilakukan dalam jangka panjang penderita juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap si terapis.

Ada 3 jenis terapi psikologis yang dilakukan pada pengobatan gangguan kepribadian ini, diantaranya:

  • Terapi interpersonal. Terapi yang didasarkan pada teori jika kesehatan mental individu akan dipengaruhi interaksi seseorang dengan orang lainnya. Sehingga jika terdapat masalah dalam interaksi tersebut maka secara tidak langsung membuat gangguan kepribadian dapat muncul. Sehingga terapi ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah dalam interaksi tersebut.
  • Terapi perilaku kognitif. Terapi ini bertujuan untuk dapat mengubah pola pikir ataupun perilaku menuju arah yang lebih positif. Terapi ini didasarkan pada sebuah teori jika perilaku individu adalah wujud dari pikirannya sendiri. Sehingga jika seseorang memiliki pikiran yang negatif maka tentu saja perilaku yang diperlihatkan juga negatif begitupun sebaliknya.
  • Terapi psikodinamik. Terapi ini bertujuan untuk mengeksplorasi serta membenahi bentuk penyimpangan yang terjadi pada pasien yang telah terlihat pada masa anak anak.

Hingga kini belum ada cara ampuh yang bisa mencegah gangguan kepribadian dependen. Akan tetapi, berolahraga secara teratur, menjauhi obat-obatan terlarang, rutin melakukan relaksasi dan menghindari pola asuh otoriter adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk meringankan gejala.