Terbit: 7 April 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Apa itu BPH? BPH adalah kependekan dari Benign Prostatic Hyperplasia, merupakan pembesaran kelenjar prostat yang bersifat jinak, dan biasanya terjadi pada pria lanjut usia.

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH): Penyebab, Gejala, Diagnosis & Pengobatan

Kondisi ini harus dibedakan dari kanker prostat. Kanker prostat dapat menyebabkan gejala seperti BPH tetapi lebih sering dikaitkan dengan peningkatan Prostat spesifik antigen (PSA) dan ketidaknormalan prostat pada pemeriksaan dubur atau evaluasi ultrasonografi.

Kelenjar prostat yang membesar dapat menyebabkan gejala berkemih yang tidak nyaman, seperti ada yang menghalangi aliran urine keluar dari kandung kemih. Kondisi ini juga dapat menyebabkan masalah kandung kemih, saluran kemih atau ginjal.

Penyebab Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Saat artikel ini ditulis, belum diketahui pasti apa yang menjadi penyebab BPH, Menurut teori yang ada, peningkatan DHT (dihidrotestosteron), penurunan kadar testosteron, dan ketidakseimbangan estrogen dan testosteron, serta penurunan laju apoptosis sel dapat menyebabkan terjadinya BPH.

Berikut ini beberapa faktor yang mungkin berisiko timbulnya BPH, antara lain:

1. Usia

Menurut Prostate Cancer Foundation, sekitar satu dari lima pria mungkin mengalami  BPH pada usia 50-an. Risiko akan meningkat hingga 70 persen pada saat pria berusia 70 tahun.

2. Ras

Selain usia, latar belakang etnis mungkin berisiko. Pria kulit hitam lebih sering mengalami kondisi ini daripada pria kulit putih atau Asia, dan mereka juga mengalami gejala pada usia yang lebih muda.

3. Riwayat keluarga

Memiliki riwayat keluarga yang mengidap BPH juga meningkatkan risiko pria terkena penyakit ini. Jadi, penting untuk mengetahui riwayat keluarga sebagai tindakan preventif.

4. Obesitas

Tidak sedikit faktor risiko terhadap BPH dan tampaknya tidak dapat dikendalikan. Namun salah satu faktor risiko yang bisa dikendalikan adalah obesitas. Pria yang kelebihan berat badan tampaknya memiliki peningkatan risiko terkena BPH.

Gejala Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Awalnya, tanda dan gejala BPH biasanya sangat ringan, namun kondisi menjadi lebih serius jika tidak segera ditangani. Gejala yang dapat dikenali dari Benign Prostatic Hyperplasia adalah:

  1. Kesulitan untuk memulai buang air kecil
  2. Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, sehingga muncul rasa tidak lampias
  3. Nocturia, buang air kecil dua kali atau lebih per malam
  4. Inkontinensia atau kebocoran urine yang tidak dapat dikontrol (diluar kesadaran)
  5. Mengejan saat buang air kecil
  6. Aliran kemih yang lemah
  7. Keinginan untuk buang air kecil secara tiba-tiba
  8. Aliran kemih yang lambat atau tertunda
  9. Buang air kecil yang menyakitkan
  10. Darah dalam urine

Jika mengalami gejala tersebut, segera konsultasikan dengan dokter. Gejala BPH ini dapat diobati, dan biasanya dapat membantu mencegah komplikasi.

Diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Ketika memeriksa BPH pasien, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat medis pasien. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan dubur untuk memperkirakan ukuran dan bentuk prostat pasien. Selain itu, beberapa pemeriksaan penunjang berikut akan dilakukan:

1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan pada benign prostatic hyperplasia adalah:

  • Darah lengkap
  • Urinalisis: urine lengkap dan biakan urine
  • Pemeriksaan Serum kreatinin
  • Urea nitrogen darah atau blood urea nitrogen (BUN)
  • Antigen prostat spesifik atau prostate spesific antigen (PSA) untuk melihat adakah mengarah ke kanker prostat

2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi sangat membantu untuk menentukan ukuran ataupun volume prostat. Alat radiologi yang umunya dipakai antara lain adalah:

  • Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan USG merupakan metode pilihan karena sangat mudah dan murah. USG dapat dilakukan secara transabdominal atau transrektal. Pemerikaan ini dapat menentukan volume prostat, adanya batu buli-buli, serta urin residual.

  • CT Scan

CT scan pelvis adalah alat yang dapat membantu mengevaluasi ukuran prostat.

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemeriksaan ini sangat jarang dilakukan untuk kasus pembesaran prostat.

  • Pielogram Intravena atau Intravenous Pyelography (IVP)

Pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan pada benign prostatic hyperplasia dan hanya dilakukan bila ada indikasi tertentu. Akan terlihat adanya indentasi pada bagian dasar buli, elevasi trigonum buli, atau huruf “J” pada ureter distal (gambaran mata pancing) saat buli terisi. Pada saat buli kosong, akan terlihat sisa urine akibat obstruksi. 

3. Uroflowmetri

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis urologi untuk menilai progresifitas BPH dengan menilai laju urine saat miksi – pengosongan kandung kemih. 

4. Histologi

Pemeriksaan histologi dapat dilakukan terutama untuk membedakan apakah pembesaran prostat yang dialami mengarah ke sifatnya jinak atau ganas (kanker).

Dokter mungkin juga akan bertanya tentang obat yang diminum pasien yang mungkin memengaruhi sistem kemih, seperti antidepresan, diuretik, antihistamin, dan obat penenang.

Dokter dapat membuat penyesuaian obat yang diperlukan pasien. Ingat, jangan mencoba menyesuaikan obat atau dosis sendiri. Konsultasikan dengan dokter jika telah melakukan tindakan perawatan diri untuk gejala selama setidaknya dua bulan tanpa memerhatikan adanya pemulihan.

Pengobatan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) secara Alami

Perawatan alami Benign Prostatic Hyperplasia adalah untuk tindakan spesifik atau perubahan gaya hidup, yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan gejala BPH, di antaranya:

  1. Jangan menunda buang air kecil
  2. Segera buang air kecil, bahkan ketika tidak ingin kencing
  3. Menghindari dekongestan atau obat antihistamin yang dijual bebas, yang dapat membuat kandung kemih sulit dikosongkan
  4. Menghindari alkohol dan kafein, terutama setelah makan malam
  5. Mengurangi tingkat stres, karena gugup dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil
  6. Berolahraga secara teratur, karena kurang olahraga dapat memperburuk gejala
  7. Belajar dan berlatih senam kegel untuk menguatkan otot panggul
  8. Tetap hangat, karena kedinginan dapat memperburuk gejala

Pengobatan Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) secara Medis

Bila penderita BPH memiliki gejala yang lebih mengganggu mungkin bisa mempertimbangkan pilihan perawatan berikut:

1. Obat

Benign Prostatic Hyperplasia adalah penyakit yang biasanya diatasi dengan obat. Berbagai jenis obat tersedia seperti alpha-blocker, yang mengendurkan jaringan otot di uretra dan leher kandung kemih untuk melancarkan aliran urine. Efek samping dari obat ini termasuk penurunan tekanan darah (hipotensi) dan pusing.

Obat lain yang digunakan untuk mengobati BPH adalah 5 Alpha-reductase inhibitors. Obat ini mampu mengecilkan prostat, dan mengurangi gejala kemih.

Dalam beberapa kasus, obat yang digunakan untuk mengobati disfungsi ereksi, seperti tadalafil, juga dapat digunakan untuk mengobati BPH. Kombinasi berbagai obat mungkin lebih efektif, jika satu jenis obat tidak berfungsi.

2. Pembedahan

Jika pengobatan tidak mengurangi gejala, pembedahan mungkin bisa menjadi pilihan. Berbagai prosedur bedah termasuk operasi invasif minimal serta prosedur invasif.

Prosedur invasif mungkin dapat menghilangkan pertumbuhan berlebih dari jaringan prostat. Sementara pilihan non-invasif dapat transurethral needle ablation (TUNA), transurethral microwave therapy (TUMT), dan pemasangan sten.

 

  1. Lights, Verneda. 2017. What Do You Want to Know About Enlarged Prostate?. https://www.healthline.com/health/enlarged-prostate#symptoms (Diakses 23 Agustus 2019)
  2. Mayo Clinic Staff. 2019. Benign prostatic hyperplasia (BPH). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/benign-prostatic-hyperplasia/symptoms-causes/syc-20370087 (Diakses 23 Agustus 2019)
  3. Pietro, MaryAnn. 2019. What is benign prostatic hyperplasia?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/314998.php (Diakses 23 Agustus 2019)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi