Terbit: 22 Juli 2020 | Diperbarui: 23 Agustus 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Salah satu penyakit yang mengancam nyawa adalah gagal jantung. Ketahui lebih lanjut mengenai penyakit gagal jantung mulai dari jenis, ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya berikut ini!

Gagal Jantung: Jenis, Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Gagal Jantung?

Gagal jantung (heart failure) adalah kondisi ketika jantung tidak dapat memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh secara optimal akibat adanya masalah pada otot dari organ tersebut. Gagal jantung bukan berarti penderitanya akan mengalami henti jantung saat itu juga. Kondisi ini bisa terjadi dalam kurun waktu yang lama sebelum sampai pada komplikasi utamanya yakni kematian.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi? Pada jantung, terdapat 4 (empat) buah bilik. Dua bilik terdapat di bagian atas (atrium) dan dua biliknya lagi terletak di bawah (ventrikel). Manakala jantung tidak mampu memompa darah secara optimal, bilik-bilik tersebut mengalami penebalan dan jadi lebih kaku. Inilah yang kemudian menjadi awal dari terjadinya gagal jantung.

Penyakit ini bisa terjadi secara mendadak (akut) maupun menahun (kronis). Pada kasus akut, gejala mungkin akan muncul lalu hilang dalam waktu singkat. Sementara pada kasus kronis, gejala akan terus terjadi dalam kurun waktu lama dan bahkan semakin berkembang. Sebagian besar kasus heart failure tergolong kronis.

Prevalensi Gagal Jantung

Data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa sebanyak 6,5 juta orang—di Amerika Serikat—terkonfirmasi mengidap penyakit gagal jantung di mana sebagian besar berjenis kelamin pria. Namun demikian, wanita lebih berisiko untuk sampai pada komplikasi utama dari penyakit ini yaitu kematian ketimbang pria.

Jenis Gagal Jantung

Masalah jantung yang satu ini diklasifikasikan menjadi empat jenis. Berikut adalah jenis-jenis gagal jantung yang perlu Anda ketahui.

1. Gagal Jantung Sebelah Kanan

Sesuai dengan namanya, kondisi ini dialami oleh jantung yang ada di sisi kanan. Area jantung yang satu ini berfungsi untuk memompa darah berisi oksigen yang akan dialirkan menuju organ paru-paru.

Masalah terjadi ketika bagian jantung tersebut tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Kondisi ini biasanya merupakan imbas dari masalah yang terjadi di sisi satunya lagi dari jantung yakni sisi kiri. Alhasil, jantung sebelah kanan jadi harus bekerja lebih keras yang mana lama-kelamaan akan berujung pada kerusakan.

2. Gagal Jantung Sebelah Kiri

Kegagalan pada jantung sebelah kiri menjadi jenis yang paling umum terjadi. Kondisi ini dipicu oleh ketidakmampuan ventrikel untuk memompa darah secara optimal. Padahal, jantung sebelah kiri inilah yang bertugas untuk memompa darah ke seluruh jaringan dan organ tubuh selain paru-paru.

Darah yang tidak teraliri tersebut lantas akan mengendap di paru-paru hingga mengakibatkan organ pernapasan tersebut terganggu fungsinya (ditandai dengan gejala sesak napas), pun terjadi penumpukan cairan.

3. Gagal Jantung Sistolik

Gagal jantung sistolik terjadi ketika otot jantung kehilangan kemampuannya untuk berkontraksi. Padahal, kontraksi jantung diperlukan untuk memompa darah yang kaya oksigen untuk dialiri ke seluruh tubuh.

Masalah ini juga dikenal dengan istilah disfungsi sistolik dan biasanya berkembang ketika jantung Anda melemah dan membesar. Gagal jantung sistolik lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

4. Gagal Jantung Diastolik

Gagal jantung diastolik terjadi ketika otot jantung menjadi lebih kaku dari biasanya. Kekakuan—yang biasanya juga dipicu oleh penyakit jantung lainnya—membuat jantung tidak mudah terisi darah. Kondisi ini lantas menyebabkan kurangnya aliran darah ke seluruh organ dalam tubuh. Disfungsi diastolik lebih sering terjadi pada wanita daripada pria.

Ciri dan Gejala Gagal Jantung

Penyakit ini ditandai oleh sejumlah gejala. Ciri atau gejala gagal jantung yang umum muncul adalah:

  • Tubuh mudah lelah
  • Nyeri dada
  • Berat badan naik secara tiba-tiba
  • Nafsu makan menurun
  • Batuk kronis
  • Detak jantung cepat dan tidak beraturan
  • Perut membesar
  • Perut terasa kembung dan mual
  • Napas pendek
  • Pembengkakan pada kaki
  • Pembuluh darah leher menonjol
  • Sulit fokus
  • Sering buang air kecil (terutama di malam hari)

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas. Pemeriksaan medis perlu dilakukan untuk memastikan penyebab dari gejala yang dialami tersebut karena bisa saja ini menjadi pertanda dari masalah kesehatan lainnya.

Apabila gejala memang mengindikasikan adanya masalah pada jantung, maka penanganan bisa segera dilakukan sehingga dapat mencegah kondisi bertambah buruk.

Penyebab Gagal Jantung

Gagal jantung sejatinya merupakan dampak dari masalah kesehatan lainnya, utamanya yang memang berkaitan dengan organ tersebut. Penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab gagal jantung yang paling umum.

Kondisi medis lainnya yang diklaim memicu terjadinya heart failure ini adalah sebagai berikut:

  • Kardiomiopati
  • Kerusakan jantung kongenital
  • Serangan jantung
  • Gangguan katup jantung
  • Aritmia
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Emfisema
  • Diabetes
  • Hipertiroidisme
  • Hipotiroidisme
  • HIV/AIDS

Faktor Risiko Gagal Jantung

Penyakit ini juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor risiko, yaitu:

  • Terapi pengobatan kanker (kemoterapi, dsb.)
  • Konsumsi makanan mengandung kolesterol tinggi
  • Konsumsi alkohol
  • Konsumsi obat-obatan terlarang
  • Kebiasaan merokok
  • Kelebihan berat badan (obesitas)

Diagnosis Gagal Jantung

Guna memastikan apakah pasien mengalami gagal jantung, dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan. Prosedur pemeriksaan untuk mendiagnosis penyakit mematikan ini terdiri dari 3 (tiga) tahapan yaitu wawancara (anamnesis), pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien terkait keluhan yang ia rasakan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan umumnya adalah sebagai berikut:

  • Gejala apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit jantung atau penyakit lainnya?
  • Apakah sedang mengonsumsi obat-obatan atau menjalani terapi tertentu?
  • Apakah merokok dan minum alkohol?
  • Apa saja makanan yang dikonsumsi sehari-hari?

2. Pemeriksaan Fisik

Tahap selanjutnya yang akan ditempuh untuk mendiagnosis sakit jantung adalah pemeriksaan fisik.

Pada tahap ini, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap fisik pasien mulai dari tinggi badan, berat badan, tekanan darah, detak jantung, denyut nadi, dan sebagainya.

3. Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan penunjang yang terdiri dari:

  • X-ray, adalah pemeriksaan penunjang yang bertujuan untuk memantau kondisi jantung.
  • Ekokardiografi, adalah pemeriksaan penunjang menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambar jantung. Metode pemeriksaan ini membantu dokter untuk melihat apakah ada abnormalitas pada jantung baik dari ukuran maupun pembuluh darah.
  • Elektrokardiogram (EKG), adalah pemeriksaan penunjang yang tujuannya untuk merekam kelistrikan jantung dan mengidentifikasi abnormalitas dari irama jantung. Elektrokardiogram juga bisa mendeteksi pembesaran pada jantung.
  • CT Scan, sama seperti X-ray dan ekokardiografi, CT scan adalah metode pemeriksaan penunjang untuk mendapatkan citra bagian dalam tubuh. Bedanya, CT scan mampu menghasilkan gambar yang lebih jelas.
  • Multi-resonance imaging (MRI), adalah metode pemeriksaan penunjang yang mengandalkan medan magnet untuk menangkap citra bagian dalam tubuh. MRI sanggup menghasilkan gambar yang lebih detail daripada CT scan.

Selain teknik pencitraan (imaging) pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis sakit jantung juga meliputi:

  • Stress testadalah tes yang dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung ketika sedang berdenyut kencang. Biasanya, dokter akan meminta pasien untuk melakukan aktivitas yang memicu peningkatan detak jantung seperti berlari di treadmill yang sudah disediakan.
  • Tilt table test, adalah tes yang dilakukan untuk memonitor detak jantung, tekanan darah, dan kadar oksigen. Tes ini diterapkan pada pasien yang kerap pingsan atau pusing ketika duduk maupun berdiri.  
  • Holter Monitor, adalah sebuah alat yang akan dipasangkan di area dada pasien selama 24-48 jam. Melalui alat ini, dokter dapat memonitor aktivitas jantung dalam kurun waktu yang telah ditentukan tersebut.

Apabila dokter masih belum yakin dengan kondisi pasien setelah melakukan tes-tes di atas, masih ada lagi jenis tes yang harus dilakukan yaitu:

  • Kateterisasi jantung, adalah metode pemeriksaan jantung yang dilakukan dengan cara memasukkan alat kateter melalui pembuluh darah arteri untuk mengidentifikasi apakah ada penyumbatan pada pembuluh darah tersebut.
  • Elektrofisiologi, adalah metode pemeriksaan jantung di mana dokter akan memasukkan elektroda ke dalam jantung melalui pembuluh darah kapiler. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menganalisis respons jantung.

Pengobatan Gagal Jantung

Cara mengobati gagal jantung ada berbagai macam dan lagi-lagi, disesuaikan dengan jenis penyakit yang diderita dan seberapa parah penyakit tersebut.

Berikut ini adalah contoh metode pengobatan penyakit jantung.

1. Obat-obatan

Pemberian obat-obatan mutlak dilakukan guna menunjang proses pengobatan sakit jantung. Umumnya, obat-obatan yang diberikan meliputi:

  • Antagonis kalsium, berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah.
  • Antiplatelet, berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah.
  • Antikoagulan, sama seperti antiplatelet yakni berfungsi mencegah penggumpalan darah.
  • Angiotensin II blockerberfungsi sebagai penghambat (blocker) produksi angiotensin sehingga tekanan darah akan menurun.
  • ACE Inhibitor, sama seperti angiotensin II yakni berfungsi menurunkan tekanan darah dengan cara menghambat produksi angiotensin.
  • Beta-blockerberfungsi untuk menormalisasi detak jantung yang terlalu cepat akibat efek adrenal.
  • Obat kolesterol, berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol ‘jahat’ (LDL) dan sebaliknya, meningkatkan kadar kolesterol ‘baik’ (HDL).

2. Operasi

Pada kasus yang lebih parah, tindakan operasi mungkin akan ditempuh guna mengobati penyakit ini.

Contoh operasi jantung yakni bypass jantung. Operasi bypass jantung dilakukan dengan cara mencangkok pembuluh darah lain di sekitar jantung. Dengan begitu, nantinya aliran darah akan dialihkan menuju pembuluh darah tersebut.

Selain bypass jantung, ada juga operasi bedah dengan memasang alat bernama stent yang tujuannya untuk kembali melancarkan aliran darah. Operasi ini lazimnya dilakukan apabila pembuluh arteri sudah hampir tertutup seutuhnya.

3. Perubahan Gaya Hidup

Dokter juga akan meminta pasien untuk mengubah gaya hidupnya sebagai cara mengobati gangguan jantung yang diderita.

Pasien disarankan untuk menerapkan sejumlah hal berikut ini:

  • Olahraga rutin.
  • Menghindari makanan berlemak, mengandung banyak garam atau gula, dan makanan ‘jahat’ lainnya.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayuran.
  • Menghentikan kebiasaan merokok maupun minuman beralkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.

Perlu diketahui, pada kasus yang sudah parah dan terjadi bertahun-tahun, penyakit ini mungkin tidak bisa benar-benar disembuhkan. Pengobatan yang dilakukan hanya sebatas meringankan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Komplikasi Gagal Jantung

Jika tidak ditangani dengan baik, gagal jantung dapat berujung pada komplikasi serius yakni kematian. Data dari CDC menunjukkan jika pada tahun 2017 lalu 1 dari 8 kasus kematian yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh heart failure ini.

Pencegahan Gagal Jantung

Sebagai salah satu jenis penyakit yang paling berbahaya, gagal jantung tentu saja tidak bisa disepelekan begitu saja.

Berikut ini adalah cara mencegah heart failure yang perlu Anda pahami dan terapkan:

  • Rajin berolahraga.
  • Banyak mengonsumsi makanan bergizi.
  • Menghindari (atau setidaknya membatasi) konsumsi makanan berlemak dan kolesterol.
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Rutin melakukan medical check-up, khususnya untuk memantau tekanan darah (tekanan darah normal 120/80 mmHg), kadar kolesterol (kadar kolesterol normal di bawah 130 mg/dL), dan kadar gula darah (kadar gula darah normal di bawah 140 mg/dL beberapa jam setelah makan).
  • Kelola stres dengan baik.

 

  1. Anonim. Heart Failure. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/heart-failure/symptoms-causes/syc-20373142#:~:text=Heart%20failure%2C%20sometimes%20known%20as,to%20fill%20and%20pump%20efficiently. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  2. Anonim. Heart Failure. https://www.nhs.uk/conditions/heart-failure/ (Diakses pada 22 Juli 2020)
  3. CDC. Heart Failure. https://www.cdc.gov/heartdisease/heart_failure.htm (Diakses pada 22 Juli 2020)
  4. Moore, K dan Erica, R. 2020. Heart Failure. https://www.healthline.com/health/heart-failure#risk-factors (Diakses pada 22 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi