Terbit: 19 Januari 2020 | Diperbarui: 19 Mei 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Gagal ginjal kronik adalah sebuah kondisi di mana ginjal mengalami kerusakan, sehingga tidak bisa menyaring darah seperti seharusnya. Penyakit ini disebut ‘kronis’ karena kerusakan pada ginjal terjadi secara perlahan dalam jangka waktu yang lama. Kerusakan ini dapat menyebabkan limbah menumpuk di tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab, gejala dan cara mengatasi gagal ginjal kronik selengkapnya di bawah ini.

Gagal Ginjal Kronik: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Penyebab Gagal Ginjal Kronik

Gagal ginjal kronik terjadi ketika suatu penyakit atau kondisi merusak fungsi ginjal, menyebabkan kerusakan ginjal selama beberapa bulan atau tahun.

Penyakit dan kondisi yang menyebabkan gagal ginjal kronik meliputi:

  • Kadar gula darah tinggi menyebabkan pembuluh darah pada ginjal mengalami kerusakan. Jika tingkat gula darah tetap tinggi selama bertahun-tahun, kerusakan ini secara bertahap akan mengurangi fungsi ginjal.
  • Tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi juga akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang tidak terkontrol, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah ginjal juga.

Tekanan darah juga sering meningkat akibat penyakit ginjal kronis, dan tekanan darah yang sangat tinggi dapat merusak fungsi ginjal, sehingga tekanan darah tinggi dan kerusakan ginjal saling membuat hubungan sebab-akibat.

Kondisi lain yang dapat menjadi penyebab gagal ginjal kronik, meliputi:

  • Penyakit ginjal dan infeksi, seperti penyakit ginjal polikistik, pielonefritis, glomerulonefritis, atau masalah ginjal kongenital (bawaan lahir).
  • Arteri renalis (pembuluh darah yang menyuplai ginjal) menyempit atau tersumbat.
  • Penggunaan jangka panjang obat-obatan yang dapat merusak ginjal. Contohnya meliputi nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), seperti celecoxib dan ibuprofen, dan antibiotik tertentu.
  • Obstruksi saluran kemih yang berkepanjangan, dari kondisi seperti pembesaran prostat, batu ginjal dan beberapa jenis kanker.
  • Vesicoureteral reflux, suatu kondisi yang menyebabkan urine kembali ke ginjal
  • Interstitial nephritis, radang tubulus ginjal dan struktur di sekitarnya.

Sementara itu, diabetes dan tekanan darah tinggi adalah penyebab paling umum dari penyakit gagal ginjal kronik. Diabetes atau tekanan darah tinggi juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ginjal pada seseorang yang sudah memiliki penyakit ini.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Gagal Ginjal Kronik

Beberapa hal yang menyebabkan penyakit gagal ginjal kronik terkait dengan usia dan genetik tidak bisa diubah. Namun Anda mungkin dapat mengontrol hal-hal lain yang meningkatkan risiko, seperti kebiasaan makan dan olahraga.

Sementara itu ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol yang menjadi faktor risiko utama untuk penyakit gagal ginjal kronik adalah:

  • Ginjal semakin lemah pada orang yang lebih tua.
  • Ras Afrika-Amerika dan penduduk asli Amerika lebih mungkin untuk mendapatkan penyakit ginjal kronis.
  • Laki-laki. Pria memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit ginjal kronis daripada wanita.
  • Riwayat keluarga merupakan faktor penting terjadinya diabetes dan tekanan darah tinggi. Kedua penyakit itu adalah penyebab utama penyakit ginjal kronis. Selain itu, penyakit ginjal polikistik adalah salah satu dari beberapa penyakit warisan yang menyebabkan gagal ginjal kronik.

Gejala Gagal Ginjal Kronik

Berikut ini adalah beberapa gejala gagal ginjal kronik yang bisa dikenali, di antaranya:

  • Mual.
  • Muntah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Kelelahan.
  • Gangguan tidur.
  • Mengganggu intensitas buang air kecil.
  • Menurunnya konsentrasi.
  • Kedutan dan kram otot.
  • Pembengkakan kaki dan pergelangan kaki.
  • Gatal terus-menerus.
  • Nyeri dada, jika cairan menumpuk di sekitar selubung jantung.
  • Napas tersengal, jika cairan menumpuk di paru-paru.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) yang sulit dikendalikan.

Tanda dan gejala penyakit ginjal sering tidak spesifik, yang berarti kondisi ini juga dapat disebabkan oleh penyakit lain. Karena ginjal adalah organ yang sangat mudah beradaptasi dan mampu mengimbangi kehilangan fungsi, tanda dan gejala mungkin tidak muncul sampai terjadi kerusakan permanen.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda memiliki gejala ginjal kronik seperti yang dijelaskan di atas, segera konsultasi dengan dokter.

Diagnosis Gagal Ginjal Kronik

Dokter akan mengambil sampel darah serta tes urine untuk menentukan apakah terdapat kerusakan pada ginjal atau tidak. Selain itu, dokter juga bisa menggunakan sinar-X untuk memeriksa ukuran ginjal yang mungkin menjadi penyebab ginjal rusak, selain adanya gangguan lain, gangguan pada saluran urine, batu ginjal atau tumor ginjal.

Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan untuk membantu mencari tahu:

  • Apakah penyakit ginjal terjadi secara tiba-tiba atau telah terjadi selama waktu yang lama.
  • Apa yang menyebabkan kerusakan ginjal.
  • Pengobatan mana yang terbaik untuk membantu memperlambat kerusakan ginjal.
  • Seberapa baik pengobatan bekerja.
  • Kapan waktu yang tepat untuk memulai dialisis atau kapan waktu yang tepat untuk dilakukan transplantasi ginjal.

Tes untuk Memeriksa Fungsi Ginjal

Ketika fungsi ginjal menurun, zat-zat seperti ureum, kreatinin, dan elektrolit tertentu mulai meningkat kadarnya di dalam darah. Pemeriksaan ureum, kreatinin, dan elektrolit penting dilakukan untuk menjadi suatu ukuran seberapa baik ginjal bekerja.

  • Tes kreatinin darah membantu untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (GFR) dengan mengukur tingkat kreatinin dalam darah. Dokter dapat menggunakan GFR secara teratur untuk memeriksa seberapa baik ginjal bekerja dan untuk tahap penyakit ginjal Anda.
  • Perhitungan nitrogen urea darah (BUN) untuk mengukur seberapa banyak nitrogen dari produksi limbah urea dalam darah. Tingkat BUN naik bila ginjal tidak bekerja cukup baik untuk menghilangkan urea dari darah.
  • Tes gula darah puasa dilakukan untuk mengukur gula darah. Kadar gula yang tinggi akan merusak pembuluh darah di ginjal.
  • Elektrolit dalam darah akan meningkat jika ginjal tidak menjalankan fungsinya untuk membuang sejumlah elektrolit tubuh.
  • Tes darah untuk hormon paratiroid (PTH) memeriksa tingkat PTH, yang membantu mengontrol kadar kalsium dan fosfor.
  • Urinalisis (UA) dan tes urine untuk mikroalbumin, atau tes urine lainnya, dapat mengukur protein dalam urine. Urine normal seharusnya tidak mengandung protein.

Tes darah, terutama hemoglobin untuk mengetahui kondisi anemia. Jika ginjal tidak menghasilkan cukup hormon eritropoetin untuk membuat sel darah merah, maka anemia dapat terjadi. Selain pemeriksaan hemoglobin, pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mengetahui:

  • Jumlah retikulosit menunjukkan berapa banyak sel darah merah sedang diproduksi oleh sumsum tulang. Retikulosit yang banyak menunjukkan bahwa tubuh kekurangan sel darah merah.
  • Pemeriksaan tingkat zat besi, hal ini dibutuhkan untuk eritropoetin agar dapat bekerja dengan cara yang seharusnya.
  • Tes serum ferritin mengukur protein yang mengikat zat besi dalam tubuh.

Pemeriksaan Gagal Ginjal Kronik Lainnya

Tes lain yang mungkin dilakukan dokter untuk memantau fungsi ginjal atau untuk mengetahui adakah penyakit ginjal lain serta kondisi tertentu yang mengakibatkan menurunnya fungsi ginjal, diantaranya:

  • USG ginjal membantu memperkirakan berapa lama seseorang memiliki penyakit ginjal kronis. USG dapat memastikan apakah aliran urine terhambat di ginjal. USG dapat membantu menemukan penyebab penyakit ginjal, seperti penyakit ginjal obstruksi atau polycystic.
  • Pemeriksaan doppler duplex atau angiogram ginjal mungkin dilakukan untuk memeriksa masalah yang disebabkan oleh aliran darah yang terbatas (stenosis arteri renalis).
  • Biopsi ginjal dapat membantu mengetahui penyebab dari penyakit ginjal kronis. Setelah transplantasi ginjal, dokter dapat menggunakan pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah ginjal baru tersebut cocok untuk pasien.

Sementara itu, para ahli merekomendasikan tes skrining untuk penderita penyakit ginjal kronis, terutama orang-orang  yang masuk  ke dalam kelompok berisiko tinggi, seperti penderita diabetes atau tekanan darah tinggi, atau adanya penyakit ginjal yang turun temurun dalam keluarga.

Pemeriksaan ginjal pada kelompok orang yang berisiko tinggi sebelum penyakit ginjal didiagnosis dapat memberi kesempatan terbaik untuk mengendalikan penyakit ini.

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik

Ketika Anda mengalami gagal ginjal kronik, maka Anda dapat memiliki masalah dengan bagaimana bagian tubuh bekerja. Beberapa komplikasi umum yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Asam Urat

Asam urat adalah komplikasi yang bisa terjadi dari penyakit ginjal. Karena asam urat disaring melalui ginjal, kedua penyakit tersebut memiliki kaitan.

  • Anemia

Ginjal membantu tubuh membuat sel darah merah. Ketika ginjal Anda tidak berfungsi dengan baik, tubuh Anda mungkin tidak memiliki cukup sel darah merah. Kondisi inilah yang disebut anemia.

  • Penyakit Tulang dan Fosfor Tinggi (hyperphosphatemia)

Anda membutuhkan kalsium dan vitamin D untuk memiliki tulang yang sehat. Ginjal yang sehat membantu menjaga kesehatan tulang. Jika Anda menderita gagal ginjal kronik, ginjal mungkin tidak dapat melakukan pekerjaan penting ini.

  • Penyakit Jantung

Penyakit jantung dapat menyebabkan penyakit ginjal, tetapi penyakit ginjal juga dapat menyebabkan penyakit jantung. Penyakit jantung adalah penyebab kematian paling umum di antara orang-orang yang menjalani dialisis.

Ketika ginjal Anda tidak berfungsi dengan baik, maka hal itu tidak dapat mendukung fungsi dari bagian tubuh lainnya, sehingga dapat menyebabkan masalah dengan organ hati.

  • Kalium Tinggi (Hiperkalemia)

Ginjal yang sehat menyaring kalium ekstra (mineral yang ditemukan dalam banyak makanan) dari darah. Jika Anda menderita gagal ginjal kronik, Anda perlu membatasi kalium karena ginjal mungkin tidak dapat menyaringnya.

  • Penumpukan Cairan

Ginjal yang sehat mengeluarkan cairan berlebih dari darah. Ketika ginjal tidak berfungsi sebagaimana mestinya, organ tersebut tidak bisa mengeluarkan cukup cairan. Kondisi ini dapat menyebabkan cairan berlebih menumpuk di dalam tubuh.

Terlalu banyak cairan dalam tubuh dapat menyebabkan masalah dengan jantung dan paru-paru. Kondisi ini juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, di mana hal ini merupakan penyebab paling umum dari gagal ginjal kronik.

Pengobatan Gagal Ginjal Kronik

Cara mengobati gagal ginjal kronik adalah tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Beberapa jenis penyakit ginjal dapat diobati, namun sering kali penyakit ginjal kronis tidak bisa disembuhkan.

Perawatan biasanya terdiri dari langkah-langkah untuk membantu mengendalikan tanda dan gejala, mengurangi komplikasi, dan memperlambat perkembangan penyakit. Jika ginjal Anda menjadi sangat rusak, Anda mungkin perlu perawatan untuk penyakit ginjal tahap akhir.

Meskipun gagal ginjal kronik adalah sesuatu yang tidak bisa disembuhkan, Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk menjaga ginjal tetap sehat selama mungkin dan menghentikan kerusakan agar tidak semakin parah, antara lain:

  • Kontrol gula darah jika menderita diabetes.
  • Pertahankan tekanan darah yang sehat.
  • Ikuti diet rendah garam dan rendah lemak.
  • Berolahraga setidaknya 30 menit dalam seminggu.
  • Jaga berat badan yang sehat.
  • Jangan merokok.
  • Batasi konsumsi alkohol.
  • Bicaralah dengan dokter tentang obat-obatan yang dapat membantu melindungi ginjal.

Jika Anda terserang penyakit ginjal sejak dini, Anda mungkin dapat mencegah gagal ginjal. Namun jika gagal ginjal terjadi, Anda perlu melakukan tindakan cuci darah atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.

Pencegahan Gagal Ginjal Kronik

Diabetes dan tekanan darah tinggi adalah penyebab paling umum dari gagal ginjal kronik. Jika Anda menderita diabetes atau tekanan darah tinggi, Anda harus menjaga gula darah dan tekanan darah tetap terkendali.

Berikut ini adalah tips yang bisa dilakukan untuk mencegah gagal ginjal kronik, antara lain:

  • Ikuti diet rendah garam dan rendah lemak.
  • Berolahraga rutin.
  • Lakukan pemeriksaan rutin.
  • Tidak merokok.
  • Membatasi konsumsi alkohol.

 

  1. Chronic kidney disease (CKD). https://www.kidneyfund.org/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd/. (Diakses pada 19 Desember 2019).
  2. Chronic kidney disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-kidney-disease/symptoms-causes/syc-20354521. (Diakses pada 19 Desember 2019).
  3. Chronic Kidney Disease (CKD). https://www.niddk.nih.gov/health-information/kidney-disease/chronic-kidney-disease-ckd. (Diakses pada 19 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi