Terbit: 15 Juni 2020 | Diperbarui: 29 Juni 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Fungsi kelenjar timus adalah untuk memproduksi hormon penting untuk sistem kekebalan tubuh dan endokrin. Ketahui apa itu kelenjar timus dan secara lengkap

Fungsi Kelenjar Timus, Penting bagi Sistem Imun!

Apa Itu Kelenjar Timus?

Kelenjar timus adalah jaringan kelenjar yang bertugas untuk memproduksi hormon terkait sistem kekebalan tubuh dan sistem endokrin. Kelenjar timus bertugas untuk mengembangkan sel T-limfosit atau sel T, yaitu sel darah putih untuk melindungi tubuh Anda dari bahaya infeksi bakteri, virus, jamur, atau patogen berbahaya lainnya.

Letak kelenjar timus ada di belakang tulang dada berupa organ lunak dengan bentuk segitiga. Kelenjar timus akan mengalami pembusukan ketika seseorang masuk ke masa pubertas namun fungsinya untuk melatih limfosit T dalam melawan infeksi hingga sel-sel kanker akan bekerja seumur hidup.

Jenis Sel Kelenjar Timus

Kelenjar timus ada dalam beberapa jenis sel berbeda, termasuk:

  • Sel Epitel: Sel pelapis permukaan dan rongga tubuh untuk melindungi tubuh.
  • Sel Kulchitsky: Sel yang memproduksi sel neuroendokrin (hormon timus).
  • Thymocytes: Sel limfosit T matang.

Setiap tipe kelenjar timus mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh.

Fungsi Kelenjar Timus

Kelenjar timus sudah aktif sebelum lahir hingga masa pubertas. Kelenjar ini bertugas untuk mendukung imunitas (organ limfatik dan organ endokrin). Ketahui fungsinya berikut ini:

1. Pembentukan Sel T

Sel limfosit T (sel T) atau disebut juga sistem getah bening adalah sel yang memiliki peran penting untuk sistem imunitas. Sistem imunitas adalah sistem pertahanan alami tubuh untuk melawan infeksi bakteri, virus, atau jamur yang ingin menyerang tubuh.

Fungsi kelenjar timus adalah untuk melatih sel T yang belum matang dari sumsum tulang merah agar menjadi sel T matang dan fungsional untuk melindungi tubuh dari patogen berbahaya. Awalnya, sel T yang belum matang bertemu dengan sel-sel epitel yang membawa berbagai epitel.

Sel T tersebut akan merespon antigen yang sesuai untuk bertahan hidup dan migrasi ke medula. Sementara sel T yang tidak matang akan mati melalui proses apoptosis (pembusukan) lalu dibuang oleh makrofag. Proses ini dinamakan seleksi positif.

Sel T yang masih hidup dan matang akan menjadi antigen bagi tubuh. Sel T akan menguji kemampuannya dengan menyerang tubuh sendiri. Proses ini dinamakan seleksi negatif, di mana sel T autoimun akan dibersihkan melalui proses apoptosis.

Sel T yang matang dilepaskan ke aliran darah dan beredar ke seluruh tubuh untuk melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit serta menyimpan riwayat infeksi Anda. Kelenjar timus ini akan menyusut setelah masa pubertas namun fungsinya akan tetap ada.

2. Pengaktifan Sel B

Fungsi kelenjar timus juga untuk mengaktifkan sel B di dalam tubuh. Limfosit-B (Sel B) adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sel B aktif bersamaan dengan pembentukan Sel T. Kedua sel terkait sistem imun ini bekerjasama untuk melawan infeksi yang menyerang tubuh.

Bila sel T berfungsi untuk menyerang patogen (virus, bakteri, jamur, dan zat asing berbahaya lainnya) secara langsung, maka tugas sel B adalah untuk membersihkan sisa-sisa patogen hasil serangan sel T. Selain itu, sel B juga membuat antibodi atau perlindungan tubuh alami agar patogen yang sama tidak menyerang tubuh lagi.

Itulah fungsi kelenjar timus yang paling utama, yaitu untuk pembentukan sel-sel penting terkait sistem kekebalan tubuh. Selain itu, kelenjar timus juga memproduksi hormon melatonin dan insulin dalam jumlah kecil.

Baca Juga: Sistem Imun: Fungsi, Penyakit, Cara Meningkatkan

Gangguan Kesehatan Terkait Kelenjar Timus

Ada beberapa gangguan kesehatan terkait kelenjar timus termasuk kelainan genetik, masalah imunitas, dan kanker. Berikut ini penjelasannya:

1. Hipoplasia (Aplasia Timus)

Hipoplasia adalah mutasi gen yang menyebabkan gangguan perkembangan secara signifikan akibat berkurangnya atau tidak berfungsinya kelenjar timus. Kondisi ini disebabkan oleh defisiensi imun yang serius. Hipoplasia (aplasia timus) juga disebut dengan sindrom DiGeorge.

2. Hiperplasia Folikular Thymus

Hiperplasia folikular thymus adalah gangguan kelenjar timus yang terdapat pada penyakit autoimun seperti lupus, hipertiroidisme, penyakit Graves, penyakit Addison, dan miastenia gravis. Hiperplasia timus umumnya terjadi pada pasien pascakemoterapi dalam pengobatan limfoma atau neoplasma sel germinal.

3. Tumor Kelenjar Timus

Ada beberapa jenis tumor kelenjar timus, salah satunya dengan timoma, yaitu tumor pada sel epitel timus dari kelenjar timus. Tumor ini dapat bersifat jinak atau mungkin ganas.

Tumor timoma ini mungkin berkembang di tubuh di mana kelenjar timus berkembang, seperti paru-paru, leher, atau kelenjar tiroid. Tumor kelenjar timus lainnya yang dapat terjadi adalah limfoma timus, tumor sel germinal, dan karsinoid.

Kelenjar timus juga dapat menyebabkan autoimunitas multiorgan, yaitu penolakan organ pada transplantasi organ. Tumor kelenjar timus terkait kasus autoimun berarti sel T yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi malah menyerah tubuh sendiri.

Baca Juga: 9 Penyebab Imun Lemah dan Cara Mengatasinya

Cara Menjaga Sistem Imun

Sistem kekebalan tubuh yang kuat bergantung pada kelenjar timus. Fungsi kelenjar timus untuk memproduksi limfosit T (sel T) dewasa yang membunuh virus dan bakteri penyebab infeksi atau penyakit. Selain itu, sel T memegang peran sebagai sistem imun adaptif, mencegah perkembangan gangguan autoimun, dan mencegah penuaan dini.

Berikut ini beberapa cara menjaga sistem imun:

  • Konsumsi buah, sayur, biji-bijian, dan makanan sehat lainnya secara teratur.
  • Minum air putih yang cukup (2 liter sehari).
  • Olahraga teratur, setidaknya 30 menit per minggu.
  • Istirahat yang cukup.
  • Cuci tangan secara teratur untuk mencegah paparan virus dan bakteri.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Kelola stres.
  • Jangan merokok dan minum alkohol.

Itulah penjelasan lengkap tentang apa itu kelenjar timus. Kelenjar timus adalah kunci sistem kekebalan tubuh yang sehat. Kelenjar ini akan menyusut saat dewasa, namun fungsi kelenjar timus tetap bekerja seumur hidup.

 

  1. ASU. 2020. B-Cell. https://askabiologist.asu.edu/b-cell. (Diakses pada 15 Juni 2020).
  2. Barclay, Tim PhD. 2019. Thymus Gland. https://www.innerbody.com/image_endoov/lymp04-new.html#continued. (Diakses pada 15 Juni 2020).
  3. Bradford, Alina. 2018. Thymus: Facts, Function & Diseases. https://www.livescience.com/62527-thymus.html#:~:text=Function,the%20immune%20system%20grow%20properly. (Diakses pada 15 Juni 2020).
  4. Eldridge, Lynne MD. 2019. An Overview of the Thymus Gland. https://www.verywellhealth.com/thymus-gland-overview-4582270. (Diakses pada 15 Juni 2020).
  5. NutritionReview.org. 2013. Restoring Thymus Function for Enhanced Immune Response. https://nutritionreview.org/2013/09/restoring-thymus-function-enhanced-immune-response/. (Diakses pada 15 Juni 2020).
  6. WebMD. 2018. Keep Your Immune System Healthy. https://symptoms.webmd.com/cold-flu-map/keep-immune-system-healthy. (Diakses pada 15 Juni 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi