Terbit: 7 Agustus 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Fotokeratitis atau dikenal juga sebagai ultraviolet keratitis adalah sindrom akut yang terjadi setelah mata terpapar radiasi sinar ultraviolet (UV). Pada awalnya, paparan mungkin tidak terlihat oleh penderita karena ada periode laten (6 sampai 12 jam) antara paparan dan timbulnya gejala. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Fotokeratitis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa itu Fotokeratitis?

Seperti penjelasan sebelumnya, fotokeratitis adalah kondisi mata yang menyakitkan yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet, sering kali berasal dari matahari. Paparan sinar UV untuk beberapa waktu dapat merusak kornea dan konjungtiva.

Gejala Fotokeratitis

Karena kondisi ini memiliki periode laten, yaitu periode penundaan antara paparan suatu zat berbahaya dengan manifestasi dari suatu penyakit—maka gejalanya tidak bisa langsung terlihat. Gejala dapat berlangsung dari 6 hingga 24 jam, tetapi biasanya hilang dalam waktu 48 jam.

Berikut adalah beberapa gejala yang mungkin terjadi jika Anda mendapatkan paparan sinar ultraviolet berlebih, antara lain :

  • Nyeri pada mata, terkadang bisa membuat seseorang sulit untuk bekerja, mengemudi, atau tidur.
  • Mata merah.
  • Keluar air mata.
  • Penglihatan kabur.
  • Pembengkakan.
  • Sensitivitas cahaya.
  • Kelopak mata berkedut.
  • Sensasi benda asing di mata (seperti ada pasir di mata).
  • Kehilangan penglihatan sementara.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Gejala fotokeratitis biasanya muncul 6 hingga 12 jam setelah kerusakan terjadi. Jika Anda mengalami beberapa gejala yang disebutkan di atas, Anda harus mendapatkan perawatan medis.

Penyebab Fotokeratitis

Sinar ultraviolet dari matahari atau sumber lain adalah penyebab utama dari kondisi ini. Sinar UVA dan UVB dari matahari dapat menyebabkan kerusakan jangka pendek dan jangka panjang pada mata dan memengaruhi penglihatan.

Selain dari matahari, radiasi sinar UV juga dapat dipancarkan oleh laser, lampu uap merkuri, lampu halogen, lampu fotografi, percikan api listrik, dan petir.

Snow Blindness, Bentuk Umum dari Fotokeratitis

Snow Blindness adalah salah satu bentuk fotokeratitis yang disebabkan oleh sinar UV yang terpantul dari es dan salju. Kerusakan mata akibat sinar UV sangat umum terjadi di daerah Kutub Utara, Kutub Selatan, di pegunungan tinggi yang kadar oksigen kurang, atau kurang memberikan perlindungan dari sinar ultraviolet. Kondisi ini juga dapat mengacu pada pembekuan permukaan karena udara yang sangat kering.

Gejala snow blindness biasanya hilang dalam waktu 48 jam. Jika sudah selama itu dan masih memiliki gejala, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk memastikan Anda tidak memiliki kondisi mata yang berbeda. Mengistirahatkan mata dan tetap berada di dalam ruangan adalah cara terbaik untuk mempercepat penyembuhan dari kondisi ini.

Faktor Risiko Fotokeratitis

Seseorang yang banyak menghabiskan waktu di luar rumah seperti pendaki gunung, pejalan kaki, perenang dan tukang las, lebih mungkin mengalami fotokeratitis. Perlu diketahui, pasir, air, dan salju dapat memantulkan cahaya matahari. Menyaksikan gerhana matahari secara langsung tanpa menggunakan alat khusus juga dapat menyebabkan hal ini.

Diagnosis Fotokeratitis

Diagnosis yang bisa dilakukan oleh dokter mata adalah menanyakan tentang aktivitas baru-baru ini yang Anda lakukan. Dokter dapat menentukan seberapa banyak kerusakan yang terjadi saat melakukan pemeriksaan.

Dokter akan melihat permukaan mata dengan menggunakan peralatan khusus seperti slit lamp yang dibuat khusus untuk memeriksa permukaan mata.

Selain itu, dokter mungkin meneteskan cairan pewarna yang disebut fluorescein ke dalam mata. Zat ini dapat mengungkapkan kondisi kerusakan permukaan kornea.

Pengobatan Fotokeratitis

Kondisi ini pada dasarnya dapat hilang dengan sendirinya, jadi perawatan difokuskan untuk mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan. Jika Anda memakai lensa kontak, segera lepaskan. Beberapa langkah lain yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Menempatkan waslap dingin di atas mata yang tertutup.
  • Menggunakan air mata buatan.
  • Minum obat pereda nyeri tertentu seperti yang direkomendasikan oleh dokter mata.
  • Menggunakan antibiotik tetes mata jika dokter merekomendasikan hal ini.

Tergantung pada situasi, kombinasi dari perawatan lain mungkin dibutuhkan. Beberapa langkah lainnya yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini adalah:

  • Insulin kerja singkat (short-acting) dapat digunakan untuk melumpuhkan otot siliaris mata serta menghasilkan pupil mata yang tetap dan melebar. Obat ini akan digunakan untuk mengistirahatkan otot mata, serta mengurangi rasa sakit akibat kejang otot mata.
  • Obat oral dapat digunakan untuk mengontrol rasa sakit. Obat pereda nyeri dapat berupa obat nyeri antiinflamasi seperti ibuprofen atau naproxen. Obat nyeri lainnya seperti acetaminophen juga dapat digunakan.

Hindari menggosok mata saat Anda sembuh. Gejala biasanya hilang secara bertahap dalam satu atau dua hari.

Komplikasi Fotokeratitis

Pada dasarnya, kondisi ini jarang menimbulkan masalah yang serius. Meski begitu, berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Superinfeksi.
  • Kehilangan penglihatan.
  • Pterygium atau pterigium, tumbuhnya selaput pada bagian putih bola mata yang bisa mencapai kornea.
  • Degenerasi kornea.

Selain itu, paparan radiasi UV jumlah kecil dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko katarak. Risiko terkena katarak atau degenerasi makula meningkat semakin lama seseorang terpapar sinar UV.

Pencegahan Fotokeratitis

Kondisi ini bisa dicegah dengan mengenakan kacamata hitam saat berada di luar ruangan. Pastikan kacamata mampu menghalangi sinar UVA dan UVB. Sementara jika Anda bekerja di sekitar sinar UV buatan seperti pengelasan, saluran listrik tinggi, atau jenis lampu tertentu, kenakan kacamata hitam khusus karena kacamata hitam yang biasa tidak mampu memberi perlindungan dari jenis cahaya ini.

Selain itu, pantulan sinar UV dari salju, pasir, atau air dapat menyebabkan fotokeratitis (meskipun kondisi saat itu sedang mendung). Kenakan topi atau pelindung kepala bertepi lebar saat pergi ke luar ruangan.

 

  1. Anonim. Patient education: Photokeratitis (arc eye) (The Basics). https://www.uptodate.com/contents/photokeratitis-arc-eye-the-basics?topicRef=6914&source=see_link. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  2. Anonim. Ultraviolet Keratitis. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15763-ultraviolet-keratitis. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  3. Anonim. Ultraviolet Keratitis. https://www.fairview.org/patient-education/85337. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  4. Anonim. Corneal Flash Burns. https://www.webmd.com/eye-health/corneal-flash-burns#2-8. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  5. Koyfman, Alex. 2019. Ultraviolet Keratitis Clinical Presentation. https://emedicine.medscape.com/article/799025-clinical#showall. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  6. Porter, Daniel. 2020. What is Photokeratitis — Including Snow Blindness?. https://www.aao.org/eye-health/diseases/photokeratitis-snow-blindness. (Diakses pada 7 Agustus 2020).
  7. Watson, Kathryn. 2018. Everything You Need to Know About Snow Blindness. https://www.healthline.com/health/snow-blindness. (Diakses pada 7 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi