Terbit: 28 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Fluorosis adalah munculnya garis-garis putih tipis pada gigi akibat paparan fluorida yang berlebih. Kondisi ini sendiri tidak memengaruhi kesehatan dan fungsi gigi. Simak penjelasan selengkapnya mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Fluorosis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Fluorosis?

Ini adalah kondisi kosmetik yang memengaruhi gigi. Kondisi ini disebabkan oleh paparan fluorida yang berlebihan selama delapan tahun pertama kehidupan. Ini adalah waktu di mana sebagian besar gigi permanen sedang terbentuk.

Gejala Fluorosis

Gejala umumnya berkisar dari bercak putih hingga noda cokelat tua yang sulit dibersihkan. Sementara bagian gigi yang tidak terkena kondisi ini menunjukkan warna krem pucat. Berikut adalah cara yang bisa digunakan untuk menilai tingkat keparahan kondisi, di antaranya:

  • Questionable. Email gigi menunjukkan sedikit perubahan mulai dari beberapa bintik putih hingga bercak.
  • Sangat ringan. Area buram putih kecil tersebar kurang dari 25% permukaan gigi.
  • Ringan. Area buram putih di permukaan lebih luas tetapi masih memengaruhi kurang dari 50% permukaan email.
  • Sedang. Area buram putih memengaruhi lebih dari 50% permukaan email.
  • Berat. Semua permukaan email terpengaruh. Gigi juga memiliki lubang yang mungkin terpisah atau mungkin berjalan bersamaan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera konsultasi dengan dokter gigi jika Anda melihat bahwa gigi Anda atau anak memiliki garis-garis/bintik-bintik putih, serta jika terdapat satu atau lebih gigi yang berubah warna.

Penyebab Fluorosis

Penyebab utama kondisi ini adalah paparan fluorida secara tidak tepat dari pasta gigi dan obat kumur. Terkadang, anak-anak sangat menyukai rasa pasta gigi berfluoride sehingga mereka menelannya alih-alih memuntahkannya.

Selain dari pasta gigi dan obat kumur, mengonsumsi suplemen fluorida dalam jumlah yang lebih tinggi dari yang diresepkan selama masa anak-anak dapat menyebabkan hal ini.

Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi sebelum usia 8 tahun ketika gigi permanen tumbuh, atau sekitar usia 1-2 tahun saat gigi bayi tumbuh.

Faktor Risiko Fluorosis

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa meningkatkan seseorang memiliki kondisi ini, antara lain:

  • Mengunyah tembakau.
  • Asupan obat-obatan tertentu seperti antibiotik fluoroquinolone, beberapa antidepresan, beberapa obat antijamur, obat penurun kolesterol, steroid, obat antiradang, obat radang sendi, antasida, obat osteoporosis, dan otosklerosis.
  • Orang dengan kekurangan kalsium atau orang yang kekurangan gizi tampaknya lebih rentan untuk mengembangkan fluorosis gigi dan tulang.
  • Rutin konsumsi minuman berfluoride.
  • Sering makan makanan yang kaya fluorida seperti ikan laut, gelatin, kulit ayam, garam berfluoride, dan makanan yang terkontaminasi pestisida.
  • Paparan fluorida dari lingkungan termasuk asap rokok dan polusi industri.

Diagnosis Fluorosis

Perubahan warna yang diakibatkan kondisi ini biasanya sangat ringan, orang tua sering kali tidak menyadari keberadaannya sampai dokter gigi anak yang menemukannya. Oleh karena itu, pemeriksaan gigi secara teratur dapat membantu meningkatkan kesehatan gigi dan membantu mengidentifikasi kondisi lebih awal.

Pengobatan Fluorosis

Dalam banyak kasus, kondisi yang masuk kategori ringan umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus. Penampilan gigi yang terdampak dapat diperbaiki secara signifikan dengan berbagai teknik. Namun sebagian besar teknik yang digunakan untuk menutupi noda.

Beberapa teknik tersebut, di antaranya:

  • Pemutihan gigi dan prosedur lain untuk menghilangkan noda di permukaan. Prosedur ini dapat memperburuk tampilan gigi untuk sementara.
  • Bonding, yaitu melapisi gigi dengan resin keras yang mengikat email.
  • Penggunaan crown gigi.
  • Veneer, yaitu cangkang yang dibuat khusus yang menutupi bagian depan gigi untuk menyempurnakan penampilan. Teknik ini digunakan dalam kasus fluorosis gigi parah.
  • MI Paste, produk kalsium fosfat yang terkadang dikombinasikan dengan metode seperti mikroabrasi untuk meminimalkan perubahan warna gigi.

Sementara itu, begitu seorang anak mencapai usia 8 tahun, biasanya mereka tidak lagi berisiko terkena kondisi ini. Orang tua dan pengasuh dapat membantu mencegah kondisi ini dengan menggunakan sedikit pasta gigi pada anak.

Selain itu, mengawasi anak-anak saat menyikat gigi juga penting, hal itu untuk memastikan anak meludah dan tidak menelan pasta gigi yang mengandung fluorida.

Baca Juga: Panduan Menjaga Kesehatan Gigi Anak saat Pandemi COVID-19

Pencegahan Fluorosis

Menjaga paparan fluorida dalam jumlah yang tepat adalah pencegahan yang terbaik. Dokter gigi anak dapat membantu Anda menentukan jumlah yang tepat.  Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan orang tua berdasarkan usia, di antaranya:

Bayi sampai 3 tahun:

  • Beri ASI pada anak. American Academy of Pediatrics merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai anak berusia 6 bulan, kemudian menambahkan makanan padat dan terus menyusui sampai anak tersebut setidaknya berusia 12 bulan.
  • Jika anak diberi susu formula, konsultasikan dengan dokter tentang jenis susu formula terbaik untuk bayi
  • Saat gigi anak mulai tumbuh, sikatlah dengan seksama dua kali sehari (pagi dan malam) atau sesuai petunjuk dokter.
  • Awasi anak-anak saat menyikat gigi, hal itu bertujuan untuk memastikan bahwa penggunaan pasta gigi tidak lebih dari sebutir jagung.

Usia 3 sampai 8 tahun:

  • Lanjutkan menyikat gigi secara menyeluruh dua kali sehari atau sesuai petunjuk dokter
  • Pada anak-anak usia 3-6 tahun, gunakan pasta gigi berfluoride tidak lebih dari seukuran kacang polong
  • Banyak kasus dapat dicegah dengan mencegah anak-anak menelan produk fluorida seperti pasta gigi. Pengawasan pada anak dapat membantu meminimalkan jumlah pasta gigi yang tertelan.
  • Ajari juga anak untuk memuntahkan pasta gigi setelah menyikat gigi, bukan menelannya. Agar hal ini mudah dilakukan, hindari pasta gigi yang mengandung rasa yang kemungkinan besar akan ditelan anak-anak.
  • Jangan gunakan obat kumur berfluorida untuk anak dibawah enam tahun kecuali disarankan oleh dokter.

Jika kondisi memungkinkan, cek air yang biasa dikonsumsi di laboratorium untuk mengetahui berapa banyak fluoride di dalamnya. Setelah Anda mengetahui berapa banyak fluoride, Anda dapat bekerja sama dengan dokter gigi anak untuk memutuskan apakah anak harus mengonsumsi suplemen fluoride atau tidak.

 

  1. Anonim. Fluorosis Overview. https://www.webmd.com/children/fluorosis-symptoms-causes-treatments#1. (Diakses pada 28 September 2020).
  2. Anonim. Fluorosis. https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/f/fluorosis. (Diakses pada 28 September 2020).
  3. Norman, Abby. 2020. The Symptoms, Causes, Diagnosis, and Treatment of Fluorosis. https://www.verywellhealth.com/fluorosis-4174226#diagnosis. (Diakses pada 28 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi