Terbit: 29 April 2020 | Diperbarui: 9 Juni 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Flu Spanyol adalah penyakit mematikan yang telah menimbulkan korban jiwa hingga puluhan juta orang di seluruh dunia pada tahun 1918 sehingga pandemi ini dijuluki “The Mother of All Pandemics“. Penyakit ini bahkan telah sampai ke Indonesia dan mewabah di tahun yang sama dengan korban jiwa diperkirakan ratusan orang. Sebenarnya apa penyakit ini? Selengkapnya simak informasi tentang sejarah, gejala, penyebab, hingga pengobatannya di bawah ini! 

Flu Spanyol: Sejarah, Gejala, Penyebab, Pengobatan, & Pencegahan

Apa Itu Flu Spanyol?

Flu Spanyol adalah pandemi influenza kategori 5 yang disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H1N1. Virus tersebut dapat menular dengan cepat melalui udara sehingga jangkauannya luas dan menyebabkan banyak orang tertular.

Gejala flu Spanyol 1918 awalnya ditandai dengan pilek berat, bersin-bersin, batuk kering, dan sakit kepala. Setelah beberapa hari gejala disusul dengan sakit pada otot dan demam tinggi. Gejala tersebut bahkan dapat berkembang menjadi pneumonia setelah hari keempat atau kelima virus menyebar sampai ke paru-paru, yang menyebabkan pasien kecil kemungkinan dapat bertahan. 

Fakta dan Sejarah Flu Spanyol

Flu Spanyol adalah pandemi paling parah dalam sejarah di dunia. Meskipun tidak ada kesepakatan secara global tentang dari mana virus itu berasal, virus ini telah menyebar ke seluruh dunia pada tahun 1918 sampai 1919.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang fakta dan sejarah flu Spanyol:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Tempo Scan Baby Fair - Advertisement

1. Asal Nama Penyakit

Seperti dilansir dari laman Historia, bahwa tidak ada satu teori yang menyebutkan Spanyol sebagai tempat asal virus penyebab flu spanyol. Menurut Gina Kolata dalam bukunya, Flu: The Story of the Great Influenza Pandemic of 1918 and the Search for the Virus that Caused It, penamaan penyakit ini berasal dari pemberitaan media-media Spanyol yang ketika itu cukup terbuka akibat netralitas negara tersebut dalam Perang Dunia I.

Hasilnya, pemberitaan tersebut akhirnya menyebar ke luar Spanyol sehingga membuat wabah tersebut dikenal dengan nama “Flu Spanyol” meski orang-orang Spanyol menyebut pandemi ini dengan “Flu Prancis”. Penyakit ini juga dikenal dengan nama pandemi flu 1918.

Lain halnya di Indonesia, harian Sin Po dan Pewarta Soerabaia sempat menyebut pandemi ini dengan beberapa nama, yakni “Penjakit Aneh”, “Penjakit Rahasia”, dan “Pilek Spanje”.

3. Virus Menyebar ke Indonesia

Sejarah flu Spanyol 1918 tercatat bahwa penyebaran virus diduga melalui jalur darat. Menurut catatan Hindia Belanda yang kini menjadi Indonesia, virus ini pertama kali dibawa oleh penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura yang kemudian menyebar lewat Sumatera Utara.

Virus ini bahkan menyebar di Pulau Jawa pada Juli 1918. Setelah beberapa minggu, akhirnya virus menyebar secara masif ke Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Purworejo dan Kudus), dan Jawa Timur (Kertosono, Surabaya, dan Jatiroto). Luar pulau Jawa pun tak luput dari virus ini, seperti Kalimantan, Bali, Sulawesi (Makassar), Maluku, dan Papua.

2. Korban Terbanyak

Penularan virus yang begitu cepat, keterbatasan fasilitas medis, dan belum adanya vaksin untuk penyakit ini membuat jumlah korban jiwa sangat tinggi. Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 21 juta hingga 100 juta jiwa di dunia dalam kurun waktu dari Maret 1918 sampai September 1919. 

Sementara di Indonesia, menurut data mortalitas dalam Handelingen van den Volksraad pada November 1918, sebanyak 402.163 orang meninggal akibat penyakit ini. 

4. Gejalanya Mirip Flu Biasa

Menurut Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BDG) atau Dinas Kesehatan Sipil Hindia Belanda kala itu, gejala flu Spanyol 1918 mirip flu biasa. Gejala awal penyakit ini ditandai pilek berat, batuk kering, bersin-bersin, dan sakit kepala akut. Selang beberapa hari, otot terasa sakit dan demam tinggi.

Gejala umum lainnya, termasuk mimisan, muntah-muntah, menggigil, diare, dan herpes. Setelah empat hari atau kelima, virus ini menyebar hingga ke paru-paru dan pada akhirnya berkembang menjadi pneumonia. 

5. Keterbatasan Fasilitas Medis

Tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Akibat keterbatasan medis ini membuat seluruh rumah sakit kewalahan dan bahkan banyak pasien ditolak karena keterbatasan kamar.

Kebanyakan dokter belum pernah melihat gejala penyakit seperti itu sehingga tidak mampu berbuat banyak. Dokter ketika itu hanya bisa menyarankan penggunaan kina dan aspirin sebagai penurun panas.

Sementara para pasien yang tidak tertampung akhirnya hanya mengandalkan pengobatan tradisional yang kebanyakan tidak manjur.

Gejala Flu Spanyol

Telah dijelaskan sebelumnya, penyakit mematikan ini memiliki gejala serupa dengan flu biasa yang mungkin menyebabkan kesulitan dalam mendiagnosis flu Spanyol 1918. Gejala awal penyakit ini biasanya ringan dan akan sembuh jika cepat ditangani, namun setelah empat sampai lima hari kondisinya dapat memburuk bahkan berujung kematian.

Secara umum, berikut sejumlah gejala yang ditimbulkan flu Spanyol:

  • Demam
  • Kelelahan
  • Pilek berat
  • Batuk kering
  • Kehilangan nafsu makan
  • Bersin-bersin
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Berkeringat berlebihan
  • Mimisan
  • Muntah
  • Diare
  • Herpes
  • Kulit membiru
  • Edema paru (paru-paru dipenuhi cairan)
  • Pneumonia

Baca Juga: Flu Singapura: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Penyebab Flu Spanyol

Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H1N1 dengan gen asal burung. Virus dapat menular melalui udara sehingga penyebarannya sangat cepat.

Mengenai asalnya, tidak diketahui secara pasti dari mana jenis influenza tertentu yang menyebabkan pandemi ini. Namun, penyebaran virus ini pertama kali diamati di Eropa, Amerika, dan wilayah Asia sebelum menyebar ke hampir seluruh dunia dalam hitungan bulan.

Salah satu aspek yang tidak biasa dari flu Spanyol 1918 adalah wabah ini menyerang banyak orang muda yang sebelumnya sehat, sebuah kelompok umur yang biasanya kebal terhadap jenis penyakit menular.

Beberapa percaya bahwa penyebab flu spanyol menyebar karena tentara yang terinfeksi ikut menularkan penyakit ke kamp militer lain di seluruh negeri, kemudian membawanya ke luar negeri. Di bulan Maret 1918, sebanyak 84.000 tentara Amerika menuju Atlantik dan diikuti oleh 118.000 lainnya pada bulan berikutnya. Penyebaran virus ini diketahui melalui kapal dan kereta yang dipadati pasukan di seluruh dunia. 

Ketika pasukan cuti untuk pulang di musim panas, virus menyebar ke seluruh kota dan desa di negara asal para prajurit. Banyak dari mereka yang terinfeksi, baik prajurit maupun warga sipil. 

Faktor Risiko Flu Spanyol

Virus flu spanyol dapat menyerang siapa saja dan dari usia berapa pun. Kematian tinggi pada orang yang lebih muda dari 5 tahun, 20 sampai 40 tahun, dan 65 tahun ke atas. Kematian yang tinggi pada orang sehat, termasuk mereka yang berada dalam kelompok usia 20-40 tahun.

Baca Juga: Flu Babi (Swine Flu): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Pengobatan Flu Spanyol

Tidak ada obat atau vaksin yang efektif untuk mengobati jenis flu yang mematikan ini. Ketika itu, warga diperintahkan untuk mengenakan masker dan mengurangi aktivitas.

Sementara virus 19N H1N1 telah disintesis dan dievaluasi, sifat-sifat yang membuatnya sangat merusak tidak dipahami dengan baik. Tanpa vaksin untuk melindungi dari infeksi influenza dan tidak ada antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri sekunder yang dapat dikaitkan dengan infeksi influenza.

Upaya pengendalian di seluruh dunia terbatas pada pengobatan nonfarmasi seperti isolasi, karantina, menjaga kebersihan pribadi yang baik, penggunaan desinfektan, dan batasan pertemuan publik yang diterapkan tidak merata.

Penggunaan Aspirin Bisa Mengobati Flu Spanyol?

Tanpa obat flu, kebanyakan dokter di Amerika Serikat meresepkan obat yang mereka rasa akan meringankan gejala, termasuk aspirin. Ini karena akibat lonjakan kematian yang dikaitkan dengan wabah di tahun 1918.

Para profesional medis menyarankan pasien mengonsumsi hingga 30 gram per hari, dosis yang sekarang diketahui beracun (sebagai perbandingan, saran medis saat ini adalah dosis di atas empat gram tidak aman).

Gejala keracunan aspirin termasuk hiperventilasi dan edema paru. Sekarang diyakini bahwa banyak kematian pandemi ini sebenarnya disebabkan atau dipercepat oleh keracunan aspirin.

Komplikasi Flu Spanyol

Penyakit mematikan ini dapat memengaruhi organ pernapasan dan dapat mengembangkan pneumonia. Pneumonia atau komplikasi pernapasan lainnya yang disebabkan oleh flu, biasanya menjadi penyebab utama kematian.

Pencegahan Flu Spanyol 1918

Mewabahnya virus yang dimulai tahun 1918 membuat penduduk dunia harus melakukan berbagai tindakan pencegahan untuk mengendalikan penyebaran virus.

Berikut ini sejumlah langkah demi mencegah flu Spanyol:

  • Menggunakan masker
  • Menjaga kebersihan pribadi
  • Menggunakan desinfektan
  • Pembatasan pertemuan publik
  • Mengurangi aktivitas (sekolah hingga kegiatan bisnis ditutup)
  • Karantina
  • Isolasi

Pencegahannya kurang lebih sama dengan langkah yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus Corona atau COVID-19 yang mewabah di seluruh dunia di tahun 2020.

 

  1. Anonim. 2019. 1918 Pandemic (H1N1 virus). https://www.cdc.gov/flu/pandemic-resources/1918-pandemic-h1n1.html. (Diakses pada April 29 April 2020)
  2. Anonim. 2010. Spanish Flu. https://www.history.com/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic. (Diakses pada April 29 April 2020)
  3. Lie, Ravando. Tanpa Tahun. Seabad Flu Spanyol. https://historia.id/sains/articles/seabad-flu-spanyol-DBKbm. (Diakses pada April 29 April 2020)
  4. Anonim. 2020. Spanish flu: The deadliest pandemic in history. https://www.livescience.com/spanish-flu.html. (Diakses pada April 29 April 2020)
  5. Anonim. Tanpa Tahun. The Influenza Pandemic of 1918. https://virus.stanford.edu/uda/. (Diakses pada April 29 April 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi