Terbit: 26 Juni 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Flu burung adalah penyakit pernapasan yang ditularkan dari unggas ke manusia. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa! Ketahui informasi lengkapnya tentang gejala, penyebab, cara mengobati, dan pencegahan di bawah ini.

Flu Burung: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Flu Burung?

Flu burung adalah infeksi virus influenza A subtipe H5N1 yang ditularkan dari unggas ke manusia. Ada banyak jenis flu burung yang telah diketahui, termasuk dua jenis yang menginfeksi manusia yaitu H5N1 dan H7N9.

Menurut World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia, virus H5N1 pertama kali ditemukan pada manusia di tahun 1997 dan telah menghilangkan nyawa hampir 60 persen dari mereka yang terinfeksi. Sampai 2019, kasus H5N1 telah menjangkiti 861 orang dan menyebabkan kematian sebanyak 455 orang di seluruh dunia.

Sementara di Indonesia, wabah ini mulai menyebar sejak tahun 2005. Jumlah kasus yang terkonfirmasi sebanyak 199 orang dengan 167 kematian dari Juni 2005 sampai Desember 2016.

Ciri dan Gejala Flu Burung

Tanda dan gejalanya muncul dua sampai tujuh hari setelah terkena virus, tergantung pada jenisnya. Penyakit flu burung pada setiap orang berbeda dapat berkisar dari ringan hingga berat. Biasanya, gejala mirip dengan flu biasa.

Berikut gejala flu burung yang dapat dikenali:

  • Demam lebih dari 38°C
  • Pilek
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Sesak napas
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Nyeri otot
  • Sakit perut
  • Mual
  • Muntah
  • Infeksi mata ringan (konjungtivitis)
  • Nyeri dada
  • Pendarahan dari hidung dan gusi

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Jaka Anda atau orang terdekat mengalami demam, batuk, dan merasa sakit, dan baru-baru ini telah bepergian ke negara di mana terjadi wabah flu burung, segera periksakan ke rumah sakit. Beri tahu dokter jika pernah mengunjungi peternakan atau pasar yang menjual ayam untuk memudahkan diagnosis.

Penyebab Flu Burung

Flu burung disebabkan infeksi virus influenza A subtipe H5N1 yang muncul secara alami pada unggas dan menyebar ke unggas lainnya, seperti ayam, kalkun, bebek, dan angsa liar atau ternak. Dua jenis virus yang dapat menular dari burung ke manusia adalah H5N1 dan H7N9.

Infeksi virus dapat menular dari unggas ke manusia melalui kontak dengan kotoran, mata, hidung, atau mulut seseorang. Namun, beberapa orang bahkan terinfeksi tanpa terpapar burung yang membawa virus.

Baca Juga: Flu Babi (Swine Flu): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Faktor Risiko Flu Burung

Virus flu burung mampu bertahan dalam waktu yang lama. Unggas yang terinfeksi H5N1 dapat melepaskan virus melalui feses dan air liur selama 10 hari. Menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dapat tertular virus, misalnya permukaan meja, gagang pintu, atau tombol lift.

Berikut beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab flu burung:

  • Menyentuh unggas yang terinfeksi virus.
  • Menyentuh atau terkena kotoran, lendir, air liur unggas yang terinfeksi.
  • Menghirup percikan hidung atau mulut (droplet) yang terinfeksi.
  • Memotong unggas yang terinfeksi.
  • Proses jual beli ayam atau bebek yang terinfeksi.
  • Mengunjungi tempat atau negara yang terkena wabah.
  • Pergi ke pasar yang menjual ayam hidup.
  • Mengongumsi unggas atau telur yang kurang matang.
  • Petani unggas.
  • Petugas kesehatan merawat pasien yang terinfeksi.
  • Tinggal bersama anggota keluarga yang terinfeksi.

Diagnosis Flu Barung

Sebagai langkah awal untuk memastikan infeksi virus, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait hal berikut:

  • Gejala yang dialami.
  • Riwayat penyakit atau kesehatan.
  • Riwayat perjalanan terakhir.
  • Tentang kontak dengan unggas.

Jika diduga mengalami flu burung, dokter akan melakukan tes berikut:

  • Tes swab. Pengambilan sampel cairan dari saluran pernapasan atas, yaitu hidung atau tenggorokan. Kemudian sampel dikirim ke laboratorium untuk mencari keberadaan virus flu burung.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction). Setelah swab, sampel diuji dengan cara mendeteksi keberadaan bahan genetik spesifik di dalam virus.
  • Tes darah. Pengambilan darah untuk mengetahui jumlah sel darah putih yang berfungsi melawan virus.
  • Rontgen dada. Pemeriksaan yang menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik untuk menampilkan gambar bagian dalam dada.
  • Auskultasi. Tes ini untuk mendeteksi kelainan suara napas dengan mendengarkan bunyi dari dalam tubuh menggunakan stetoskop.

Pengobatan Flu Burung

Menurut WHO, penggunaan obat antivirus dapat memperlambat kecepatan virus memperbanyak dirinya sendiri. Obat antivirus juga dapat mencegah beberapa kasus yang menjadi fatal.

Dokter harus memberikan oseltamivir dalam waktu 48 jam setelah gejala flu burung berkembang. Namun, karena tingkat kematian yang tinggi, dokter dapat memberikan obat setelah 48 jam untuk meningkatkan meredakan gejala.

Oseltamivir memiliki dosis standar 75 miligram untuk usia 13 tahun atau lebih. Anak-anak di bawah usia ini membutuhkan dosis yang lebih sedikit, seperti penderita penyakit ginjal.

Pengobatan dengan oseltamivir adalah 5 hari, meskipun dokter dapat menyarankan waktu lebih lama untuk kondisi yang parah atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Penderita penyakit flu burung biasanya mengalami masalah pencernaan sehingga mungkin tidak dapat menyerap obat seefektif penderita sakit perut, diare, atau muntah.

Siapa pun yang telah mendiagnosis atau diduga mengalami flu burung harus mengisolasi diri di rumah atau di rumah sakit.

Selain menggunakan obat oseltamivir, dokter dapat menyarankan langkah berikut:

  • Beristirahat yang cukup.
  • Minum banyak cairan.
  • Makan makanan dengan gizi yang seimbang dan sehat.
  • Minum obat lain yang dapat membantu mengatasi rasa sakit dan demam.

Komplikasi Flu Burung

Penderita penyakit flu burung mungkin dapat mengalami komplikasi yang mengancam jiwa, di antaranya:

  • Radang paru-paru
  • Mata tampak merah muda (konjungtivitis)
  • Gagal napas
  • Gagal ginjal
  • Masalah jantung

Baca Juga: Flu Singapura: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

Pencegahan Flu Burung

WHO menyatakan, secara umum prinsip-prinsip aktivitas yang higienis dapat mencegah penularan virus flu burung, di antaranya:

  • Mencuci tangan. Cuci tangan secara teratur dengan air hangat dan sabun sebelum dan sesudah menggunakan kamar mandi, kontak dengan unggas, menangani makanan, atau batuk.
  • Hindari unggas. Hindari daerah pedesaan, peternakan, dan pasar terbuka yang menjual unggas.
  • Etika batuk: Cara yang terbaik adalah batuk mengarahkan mulur ke siku atau menggunakan tisu dan segera buang dengan hati-hati. Jangan menyentuh permukaan benda setelah batuk.
  • Isolasi diri: Orang yang memiliki gejala harus menjauhi tempat-tempat umum dan menghindari kontak dengan orang-orang, jika memungkinkan.
  • Memasak dengan benar. Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70°C atau 80°C selama sedikitnya satu menit. Kalau menggoreng atau merebus ayam, tentu lebih dari itu suhu dan lamanya memasak.
  • Pola hidup sehat. Secara umum pencegahan flu adalah menjaga daya tahan tubuh dengan makan seimbang dan bergizi, istirahat, dan olahraga teratur.

Khusus untuk pekerja peternakan dan pemotongan hewan ada beberapa anjuran WHO yang dapat dilakukan:

  • Semua orang yang kontak dengan binatang yang telah terinfeksi harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang langsung memegang dan membawa binatang yang sakit sebaiknya menggunakan desinfektan untuk membersihkan tangannya.
  • Mereka yang memegang, membunuh, dan membawa atau memindahkan unggas yang sakit dan atau mati karena penyakit flu burung sebaiknya melengkapi diri dengan baju pelindung, sarung tangan karet, masker, kacamata google, dan juga sepatu bot.
  • Ruangan kandang harus selalu dibersihkan dengan prosedur yang baku dan memerhatikan faktor keamanan petugas.
  • Pekerja peternakan, pemotongan, dan keluarganya perlu diberi tahu untuk melaporkan ke petugas kesehatan bila mengidap gejala-gejala pernapasan, infeksi mata, dan gejala flu lainnya.
  • Dianjurkan juga agar petugas yang dicurigai memiliki potensi tertular ada dalam pengawasan petugas kesehatan secara ketat.
  • Petugas dianjurkan mendapatkan vaksin influenza dan obat antivirus.

 

  1. Anonim. 2017. Avian Influenza A Virus Infections in Humans. https://www.cdc.gov/flu/avianflu/avian-in-humans.htm#:~:text=Avian%20influenza%20A%20virus%20infection%20is%20usually%20diagnosed%20by%20collecting,first%20few%20days%20of%20illness.). (Diakses pada 26 Juni 2020)
  2. Anonim. 2018. Influenza (Avian and other zoonotic). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(avian-and-other-zoonotic)Influenza (Avian and other zoonotic). (Diakses pada 26 Juni 2020)
  3. Anonim. 2017. Kemenkes Umumkan Kasus Flu Burung ke 200. https://www.kemkes.go.id/article/view/17110800005/kemenkes-umumkan-kasus-flu-burung-ke-200.html#:~:text=Kasus%20Flu%20Burung%20atau%20Avian,provinsi%20dan%2058%20Kabupaten%2FKota. (Diakses pada 26 Juni 2020)
  4. Anonim. 2018. Bird flu. https://www.nhs.uk/conditions/bird-flu/. (Diakses pada 26 Juni 2020)
  5. Brazier, Yvette. 2020. Should I worry about H5N1 bird flu?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/5556#prevention. (Diakses pada 26 Juni 2020)
  6. Mayo Clinic Staff. 2017. Bird flu (avian influenza). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bird-flu/symptoms-causes/syc-20368455.
  7. Normandin, Bree. 2018. Bird Flu. https://www.healthline.com/health/avian-influenza. (Diakses pada 26 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi