Terbit: 12 Maret 2020 | Diperbarui: 17 Mei 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Flu babi adalah penyakit influenza yang merebak di tahun 1918 dan pada saat itu dinyatakan sebagai pandemi. Penyakit ini kembali mewabah di tahun 2009 dan merenggut 149 korban jiwa di Meksiko dan menyerang 1.600 orang lainnya. Sementara di Indonesia terdapat 86 orang positif terkena wabah tersebut pada saat itu. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkap tentang gejala, penyebab, pengobatan hingga pencegahannya di bawah ini.

flu-babi-doktersehat

Apa Itu Flu Babi?

Swine flu atau flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus H1N1. Virus ini ditularkan oleh babi kepada manusia, terutama kepada peternak babi dan dokter hewan. Meskipun jarang, orang yang terinfeksi penyakit ini juga dapat menularkannya kepada orang lain.

H1N1 adalah kombinasi virus dari babi, burung dan manusia. Selama musim flu 2009 sampai 2010 lalu, virus ini menyebabkan infeksi pernapasan pada manusia. Banyak penduduk di dunia sakit karena flu jenis ini, sehingga World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan flu babi sebagai pandemi global.

Gejala Flu babi

Tanda dan gejalanya sulit dibedakan karena mirip dengan virus flu musiman lainnya. Gejala flu babi secara umum berkembang antara satu sampai tiga hari setelah terinfeksi.

Gejala dari flu babi termasuk:

  • Demam
  • Flu, hidung meler atau mampet
  • Mata berair dan merah
  • Batuk
  • Sakit kepala
  • Pegal-pegal
  • Kelelahan atau keletihan, yang mungkin bisa ekstrem
  • Diare
  • Mual
  • Muntah

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda mengalami tanda dan gejala flu biasa, seperti demam, batuk, dan tubuh terasa sakit, tidak perlu ke dokter. Kondisi ini cukup diobati di rumah, tetapi segera hubungi dokter jika Anda memiliki gejala flu babi dan sedang hamil atau memiliki penyakit kronis, seperti asma, emfisema, diabetes, atau penyakit jantung karena berisiko mengalami komplikasi flu yang lebih tinggi.

Virus flu babi dapat menjadi penyakit yang mengancam jiwa bagi anak-anak, terutama anak berusia 5 tahun, lansia di atas 65 tahun, dan penderita penyakit kronis.

Jika si kecil terserang flu dan muncul gejala-gejala berikut, segera cari perawatan darurat:

  • Tidak bisa makan
  • Tidak mengeluarkan air mata saat menangis
  • Kesulitan bernapas
  • Popok basah lebih sedikit dari biasanya

Penyebab Flu Babi

Flu babi adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza H1N1. Virus tipe A ini dapat bercampur dengan jenis virus lain dan menciptakan jenis baru yang merupakan penyebab pandemi di tahun 2009 sampai 2010.

Virus H1N1 merupakan virus tipe A dengan gen babi, manusia, dan unggas yang bermetamorfosis pada babi selama beberapa tahun sebelum pandemic. Ini sebabnya dinamai flu babi karena dianggap mirip dengan virus yang menginfeksi babi.

Influenza dapat terjadi pada babi kapan saja, tetapi paling sering terjadi di negara yang memiliki musim gugur (akhir musim) dan musim dingin, yang mirip dengan musim flu manusia.

Berikut dua hal yang menjadi penyebab flu babi:

1. Melakukan Kontak dengan Babi

Terkadang babi dapat menularkan flu kepada manusia ketika melakukan kontak dengan hewan ini, seperti melalui percikan bersin, batuk, atau menghirup udara yang terkontaminasi virus flu babi. Virus ini dapat menyebar dengan cepat ketika manusia memiliki kekebalan tubuh yang lemah.

2. Kontak dengan Orang yang Terinfeksi

Ini adalah cara yang jauh lebih jarang untuk tertular flu babi, tetapi berisiko terutama bagi mereka yang kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Perlu diketahui, bahwa virus H1N1 tidak menular karena memakan daging babi. Meskipun begitu selalu pastikan daging ini dimasak dengan benar.

Faktor Risiko Flu Babi

Siapa pun bisa terkena flu babi, tetapi ada beberapa orang yang lebih mungkin terkena virus ini. Berikut orang yang lebih berisiko terkena virus H1N1:

  • Orang berusia di atas 65 tahun
  • Anak di bawah 5 tahun
  • Penderita penyakit kronis, seperti asma, penyakit jantung, penyakit neuromuskular, dan diabetes mellitus
  • Ibu hamil
  • Para peternak babi atau orang yang kontak dengan binatang babi
  • Tinggal atau berpergian ke tempat yang banyak menderita penyakit flu babi
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, termasuk karena penyakit seperti AIDS

Diagnosis Flu Babi

Dokter kemungkinan akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, bertanya untuk mencari tanda dan gejala influenza, dan mungkin melakukan tes untuk mendeteksi virus influenza. Ada beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis flu ini, tetapi tidak semua penderita flu perlu dites.

Dokter lebih cenderung menggunakan tes untuk mendiagnosis flu jika:

  • Anda sudah di rumah sakit
  • Berisiko tinggi terkena komplikasi flu
  • Tinggal dengan seseorang yang berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi flu

Dokter juga dapat menggunakan tes untuk menentukan apakah virus flu merupakan penyebab munculnya gejala atau jika Anda memiliki atau menunjukkan tanda-tanda masalah lain selain flu, seperti:

  • Masalah jantung, seperti gagal jantung atau infeksi otot jantung
  • Masalah paru-paru dan pernapasan, seperti asma atau pneumonia
  • Masalah otak dan gangguan sistem saraf, seperti ensefalopati atau ensefalitis
  • Syok septik atau kegagalan organ

Tes yang paling umum digunakan adalah tes diagnostik influenza, untuk mencari zat (antigen) dengan mengambil sampel dari hidung atau belakang tenggorokan. Tes-tes ini dapat memberikan hasil dalam waktu sekitar 15 menit. Namun, hasilnya sangat bervariasi dan tidak selalu akurat. Dokter dapat mendiagnosis influenza berdasarkan gejala, meskipun hasil tes negatif.

Diagnosis diperlukan tes laboratorium khusus dan juga dapat mendeteksi jenis yang menyebabkan kondisi tersebut. Tes laboratorium termasuk tes darah, rontgen, dada dan tes lainnya.

Pengobatan Flu Babi

Kebanyakan penderita flu, termasuk flu babi, dapat melakukan perawatan di rumah untuk meredakan gejala. Namun, jika memiliki penyakit pernapasan kronis, dokter mungkin akan meresepkan obat tambahan untuk membantu meringankan gejalanya.

1. Perawatan di Rumah

Meskipun tidak ada obat untuk flu babi, atau jenis influenza lainnya, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi keparahan gejala dan mungkin mempercepat penyembuhan. Berikut beberapa perubahan gaya hidup dan pengobatan yang bisa Anda lakukan di rumah:

  • Minum cairan yang banyak. Cairan ini termasuk air, jus, dan sup hangat untuk mencegah dehidrasi.
  • Perbanyaklah istirahat. Sempatkan lebih banyak tidur untuk membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi.
  • Penghilang rasa sakit. Menggunakan penghilang rasa sakit yang bisa didapatkan di apotek, seperti paracetamol atau ibuprofen.

Perlu diingat, penghilang rasa sakit memang dapat membuat Anda lebih nyaman, tetapi obat ini tidak dapat menghilangkan gejala lebih cepat dan memiliki efek samping. Ibuprofen dapat menimbulkan efek samping, termasuk sakit perut, pendarahan, dan maag. Sementara paracetamol dapat menjadi racun pada hati, jika diminum dalam jangka waktu lama atau dalam dosis yang lebih tinggi dari yang disarankan.

2. Obat-Obatan

Ada beberapa obat antivirus yang telah disetujui Food and Drug Administration (FDA) yang dapat diresepkan dalam satu atau dua hari munculnya gejala awal. Obat ini untuk mengurangi keparahan gejala dan risiko komplikasi. Obat-obatan ini termasuk:

  • Baloxavir
  • Oseltamivir
  • Peramivir
  • Zanamivir

Virus flu babi kemungkinan dapat menjadi virus yang resistensi terhadap obat-obatan ini. Guna mengurangi kemungkinan resistensi obat, dokter menyiapkan antivirus untuk mereka yang berisiko tinggi atau lebih tinggi terhadap komplikasi.

Komplikasi Flu Babi

Kebanyakan orang yang terserang flu babi sembuh dalam beberapa hari sampai dua minggu setelah pertama kali mengalami gejala, tetapi beberapa orang mungkin mengalami komplikasi. Orang yang berisiko tinggi mengalami komplikasi, di antaranya:

  • Orang yang berada di rumah sakit, panti jompo, atau fasilitas perawatan jangka panjang lainnya.
  • Anak di bawah usia 5 tahun, terutama anak-anak di bawah usia 2 tahun.
  • Lansia berusia 65 tahun ke atas.
  • Ibu hamil atau dua minggu sebelum melahirkan, termasuk wanita yang pernah mengalami keguguran.
  • Orang yang sangat kelebihan berat badan (obesitas) dan memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas 40.
  • Memiliki kondisi medis kronis tertentu, termasuk asma, diabetes, emfisema, penyakit jantung, penyakit neuromuskuler, atau penyakit ginjal, hati atau darah.
  • Orang yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh atau menderita HIV.

Baca Juga: Vaksin Influenza: Manfaat, Jenis, Jadwal, Harga, dll

Pencegahan Flu Babi

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan vaksinasi flu tahunan untuk semua orang yang berusia 6 bulan atau lebih. Vaksin flu untuk 2018 sampai 2019 melindungi dari virus yang menyebabkan flu babi dan satu atau dua virus lain yang diperkirakan paling umum selama musim flu.

Vaksin ini tersedia sebagai suntikan atau semprotan hidung. Semprotan hidung disetujui untuk digunakan pada orang sehat berusia 2 hingga 49 tahun. Semprotan hidung tidak dianjurkan untuk beberapa orang, seperti wanita hamil, anak-anak berusia 2 dan 4 tahun yang memiliki asma atau mengi, dan orang-orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh.

Langkah-langkah berikut juga dapat membantu mencegah flu dan membatasi penyebarannya:

  • Tetap di rumah bila sakit. Jika terserang flu, Anda bisa menularkannya kepada orang lain. Jadi, tetap di rumah setidaknya 24 jam setelah demam hilang.
  • Rajin mencuci tangan. Gunakan sabun dan air atau jika tidak tersedia, gunakan hand sanitizer.
  • Tutupi mulut dan hidung. Pakai masker jika berada di sekitar orang batuk dan bersin, atau mengalami kedua kondisi tersebut. Ini bertujuan untuk menghindari penularan penyakit.
  • Hindari kontak dengan penderita flu atau batuk. Jika Anda berisiko tinggi terkena komplikasi flu, misalnya Anda berusia di bawah usia 5 tahun atau 65 tahun ke atas, ibu hamil, atau memiliki kondisi medis kronis seperti asma, hindarilah kontak dengan babi.

 

 

  1. Mayo Clinic Staff. 2029. Swine flu (H1N1 flu). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/swine-flu/symptoms-causes/syc-20378103. (Diakses 20 Januari 2020)
  2. Newman, Tim. 2017. Everything you need to know about swine flu. https://www.medicalnewstoday.com/articles/147720.php#causes. (Diakses 20 Januari 2020)
  3. Duda, Kristina. 2019. An Overview of Swine Flu (H1N1 Flu). https://www.verywellhealth.com/what-is-h1n1-swine-flu-770496. (Diakses 20 Januari 2020)
  4. Anonim. 2009. Perlu Waspadai Virus Flu Babi. https://www.kemkes.go.id/article/view/225/perlu-waspadai-virus-flu-babi.html. (Diakses 12 Maret 2020)
  5. Anonim. 2009. Kena Gejala Flu, Warga Diimbau Pakai Masker & Segera ke Dokter. https://news.detik.com/berita/d-1164343/kena-gejala-flu-warga-diimbau-pakai-masker–segera-ke-dokter. (Diakses 12 Maret 2020)
  6. The history of swine flu. https://www.nhs.uk/news/genetics-and-stem-cells/the-history-of-swine-flu/. (Diakses 12 Maret 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi