Kaki Gajah (Filariasis) – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Doktersehat-kaki-gajah
Photo Credit: Flickr.com/john_benwell

DokterSehat.Com – Kaki gajah atau filariasis adalah parasit yang ditularkan melalui darah dari vektor arthropoda terutama nyamuk. Penyakit kaki gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun kondisi yang diakibatkannya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan mungkin menjadi sesuatu yang dirasa memalukan bagi penderitanya.

Sebagian besar kasus filaria disebabkan oleh parasit yang dikenal sebagai Wuchereria bancrofti. Filariasis sendiri diklasifikasikan menjadi:

  • Memengaruhi sistem limfatik, termasuk kelenjar getah bening.
  • Memengaruhi lapisan subkutan kulit (Filariasis Subkutan).
  • Memengaruhi rongga serosa perut (Filariasis Rongga Serosas).

Filariasis bukanlah infeksi yang mengancam jiwa tetapi dapat menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik secara permanen. Penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Oleh karena itu, kebanyakan orang pada awalnya tidak menyadari bahwa mereka memiliki filariasis. Lymphedema (pembengkakan saluran kelenjar getah bening) dengan penebalan kulit dan jaringan di bawahnya adalah gejala klasik dari kaki gajah.

baca juga: mengenal penyakit kaki gajah

Penyebab Kaki Gajah

Filariasis disebabkan oleh cacing Filariodidea yang menginfeksi kelenjar getah bening. Cacing ini masuk ke tubuh manusia dengan perantara nyamuk. Larva cacing filaria kemudian akan tinggal di dalam pembuluh getah bening.

Saat nyamuk mengisap darah seseorang yang mengandung cacing filaria, maka cacing tersebut akan turut menginfeksi nyamuk. Selanjutnya, nyamuk yang telah terinfeksi ini akan menyebarkan cacing filaria ketika menggigit orang lain.

Penyakit kaki gajah ini bersifat kronis dan bisa berlangsung lama secara bertahap. Cacat menetap yang ditimbulkannya seperti pembesaran pada kaki, lengan, dan alat kelamin bila penderita telah lama tidak mendapatkan pengobatan.

Filariasis biasanya terjadi pada negara-negara tropis dan subtropis, seperti Afrika, Pasifik Barat, dan Asia. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dengan usia berapapun dan dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Perlu diketahui, terdapat delapan jenis nematoda (cacing berupa seperti benang) yang menyebabkan filariasis, di antaranya:

  • Limfatik filariasis (kaki gajah) disebabkan oleh Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.
  • Filariasis subkutan yang disebabkan oleh Loa loa (cacing mata), Mansonella streptocerca, dan Onchocerca volvulus.
  • Filariasis rongga serosa disebabkan oleh cacing Mansonella perstans dan Mansonella ozzardi.

Sebagian besar kasus filariasis disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan nama Wuchereria bancrofti. Nyamuk pembawanya yaitu nyamuk Culex, Aedes atau Anopheles yang menularkan penyakit ini. Parasit lain yang disebut Brugia malayi menyebabkan filariasis ditularkan oleh vektor nyamuk Mansonia dan Anopheles.

Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit orang sehat, larva yang disebut mikrofilaria pindah ke saluran limfatik dan kelenjar getah bening. Di sini, mereka berkembang menjadi cacing dewasa dan dapat bertahan selama bertahun-tahun. Setelah itu, mereka akan menyebarkan jutaan larva cacing ke dalam pembuluh darah sehingga ketika digigit, nyamuk bisa menularkannya kepada orang lain.

Gejala Kaki Gajah

Filariasis atau penyakit kaki gajah hampir tidak menyebabkan gejala pada tahap awal. Infeksi biasanya menyerang kaki, namun juga dapat menyerang bagian lainnya seperti lengan, dada, dan alat kelamin. Gejala dapat muncul dalam beberapa tahun hingga akhirnya disadari.

Berikut adalah beberapa gejala gejala kaki gajah yang bisa dikenali, antara lain:

Gejala filariasis limfatik (elephantiasis)

Edema (pembengkakan) dengan penebalan kulit dan jaringan di bawahnya adalah gejala klasik dari penyakit kaki gajah. Hal ini biasanya memengaruhi ekstremitas (anggota gerak) bawah.

Sementara itu, lengan, vulva, payudara dan skrotum juga dapat terpengaruh. Edema di payudara atau daerah genital dapat mengakibatkan organ-organ tersebut membesar beberapa kali dari ukuran normal karena penyumbatan pembuluh sistem limfatik.

Gejala filariasis subkutan

  • Ruam kulit.
  • Hiper atau hipopigmentasi macula.
  • Kebutaan (disebabkan oleh Onchocerca volvulus).

Gejala filariasis serosa

  • Sakit perut.
  • Ruam kulit.
  • Radang sendi.
  • Hiper atau hipopigmentasi macula.

Selain beberapa gejala di atas, beberapa kasus filariasis tidak bisa langsung dipastikan karena penyakit ini memiliki beberapa fase, di antaranya:

  • Fase kronis

Saat memasuki fase kronis, pembengkakan jaringan limfa dan penebalan kulit pada kaki dan zakar bisa terjadi. Pada wanita, dapat terjadi pembengkakan pada payudara dan organ kelamin. Selain itu, penumpukan cairan bisa berdampak pada rongga perut, testis pada penderita laki-laki dan payudara pada penderita wanita.

  • Fase akut

Fase ini ditandai dengan adanya peradangan pada kelenjar getah bening, kulit, dan pembuluh getah bening. Hal ini disebabkan oleh respons sistem kekebalan tubuh terhadap parasit. Gejala-gejala yang dapat muncul pada fase akut ini meliputi demam, pembengkakan kelenjar getah bening, dan pembengkakan pada tungkai kaki dan kantung zakar.

  • Fase tanpa gejala

Saat seseorang terinfeksi cacing filaria, tubuhnya tidak akan langsung menunjukkan gejala tertentu. Meski demikian, pada fase ini sebenarnya telah terjadi kerusakan sistem aliran getah bening dan limpa, seiring terjadinya perubahan pada sistem kekebalan tubuh.

Diagnosis Penyakit Kaki Gajah

Diagnosis dasar terhadap filariasis atau kaki gajah adalah pemeriksaan mikroskopik untuk mengidentifikasi mikrofilaria. Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada malam hari di beberapa negara, karena mikrofilaria hanya berpindah di dalam darah pada waktu malam. Tes darah ini bertujuan untuk mendeteksi adanya mikrofilaria.

Metode yang umum digunakan untuk mendiagnosa filariasis meliputi:

  • Demonstrasi langsung dari mikrofilaria dalam darah atau kulit spesimen. Sampel darah biasanya dikumpulkan di malam hari karena mikrofilaria (larva filaria) memiliki periodisitas nokturnal.
  • Deteksi antibodi dengan uji imunodiagnostik.
  • Deteksi antigen filarial (CFA) yang beredar.

Pengobatan Kaki Gajah

Cara mengobati kaki gajah yang bisa Anda coba adalah menggunakan Dietilkarbamazin (DEC). Dietilkarbamazin adalah obat yang direkomendasikan untuk mengobati filariasis. DEC mampu membunuh mikrofilaria namun tidak memiliki efek pada cacing dewasa. Dengan demikian, DEC hanya membantu untuk mengontrol penularan infeksi dari satu orang ke lainnya.

baca juga: obat ini bisa membuat darah kita mematikan bagi nyamuk?

Cara mengobati kaki gajah lainnya adalah dengan obat ivermectin atau albendazole, obat ini mungkin berguna pada beberapa pasien. Selain itu, obat krim anti-nyamuk, aerosol, dan mencegah perkembangbiakan nyamuk dengan menjaga kebersihan sanitasi adalah cara terbaik.

Sementara itu, apabila infeksi cacing filaria menyebabkan pembengkakan terjadi di bagian kantung zakar atau mengenai bagian mata, mungkin tindakan operasi harus segera dilakukan.

Kebersihan yang baik merupakan bagian penting untuk mencegah memburuknya limfedema dan infeksi kulit bakteri sekunder. Lingkungan yang kotor, seperti banyak barang bekas dan genangan air merupakan tempat yang disukai nyamuk untuk berkembang biak.

Karena nyamuk adalah hewan yang menjadi perantara cacing penyebab kaki gajah atau filariasis, maka tindakan utama yang harus dilakukan adalah menghindari gigitan (terutama pagi dan sore hari) sekaligus mencegah lingkungan menjadi tempat berkembang biak nyamuk,

Caranya, Anda bisa menerapkan gerakan 3 M yaitu menguras, menutup, dan mengubur untuk mencegah nyamuk bersarang, menggunakan obat oles penangkal nyamuk, menggunakan pakaian panjang saat menjalankan aktivitis di luar ruangan atau tidur menggunakan kelambu. Cara ini harus dilakukan untuk memutus mata rantai dan penularan penyakit filariasis.