Fenomena Selfie di Lokasi Bencana Tsunami, Tanda Gangguan Mental?

selfie-bencana-doktersehat
Photo Source: The Guardian/Jamie Fullerton

DokterSehat.Com– Jurnalis The Guardian Jamie Fullerton menulis sebuah berita yang menunjukkan hal yang tidak biasa. Ia menemukan beberapa orang yang datang ke lokasi bencana tsunami yang menerjang kawasan pesisir Selat Sunda. Orang-orang ini menyalurkan bantuan kepada korban bencana, namun mereka juga melakukan selfie di lokasi bencana. Meskipun hal ini seperti wajar untuk dilakukan, banyak orang yang menyebut hal ini sebagai tanda dari rendahnya empati di lokasi bencana.

Selfie dianggap sebagai bukti dan eksistensi

Berdasarkan laporan yang ditulis Jamie, para wanita ini menyebut tindakan selfie yang dilakukannya sebagai bukti bahwa mereka telah berada di lokasi bencana dan memberikan bantuan. Selain itu, foto di lokasi bencana juga bisa mengundang like atau komentar di media sosial dan grup WhatsApp. Hanya saja, selfie yang mereka ambil justru dilakukan dengan raut muka yang bahagia atau terlihat pamer.

Selain para wanita ini, Jamie juga menemukan beberapa orang lain yang bahkan sengaja jauh-jauh berkunjung ke lokasi bencana hanya untuk melihat-lihat dan mendapatkan selfie di tempat tersebut.

Bukan hal yang baru di Indonesia

Sebenarnya, melakukan selfie atau wefie di lokasi bencana bukanlah hal yang baru di Indonesia. Telah banyak kasus yang mirip dilakukan di tanah air. Tak hanya dilakukan oleh masyarakat biasa, beberapa orang petugas juga melakukannya. Satu hal yang pasti, mereka yang mengunggah foto selfie di lokasi bencana atau duka sering kali mendapatkan hujatan dari warganet.

Mencari eksistensi?

Prof. Drs. Koentjoro, MBSc, Phd, yang merupakan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut kebiasaan selfie ternyata telah memberikan dampak besar bagi perilaku manusia. Sayangnya, perubahan ini tidak melulu positif.

Dalam banyak kasus, selfie seringkali dilakukan tanpa memperhatikan kondisi sekitarnya. Karena yang diutamakan adalah momen yang belum tentu akan terjadi atau ditemui di waktu dan tempat lain, maka kita lebih mementingkan selfie meskipun hal ini bisa memberikan rasa kecewa atau marah bagi orang lain yang sedang berduka akibat terkena musibah.

Hobi selfie menandakan gangguan jiwa?

Dalam dunia medis, pelaku selfie yang sudah berlebihan disebut sebagai selfitis. Kondisi ini membuat pengidapnya seperti memiliki kebutuhan besar untuk memotret dirinya sendiri dan mengunggahnya di media sosial. Istilah ini diciptakan oleh para ahli dari American Psychiatric Association pada 2014 silam untuk menggambarkan obsesi berlebihan untuk melakukan selfie.

Penelitian lain yang dilakukan oleh dr. Mark Griffiths dari Nottingham Trent University dan rekan-rekannya dari Thiagarajar School of Management, India juga menghasilkan fakta yang serupa. Dalam penelitian yang melibatkan 400 partisipan ini, peneliti mencoba untuk memahami tingkat keparahan perilaku selfitis para peserta yang berasal dari India, negara pengguna media sosial Facebook terbesar di dunia.

Hasil penelitian yang kemudian dipublikasikan diĀ International Journal of Mental Health and Addition ini menghasilkan fakta bahwa ada tiga tingkatan selfitis yang dialami oleh para partisipan.

Tingkatan selfitis pertama adalah borderline atau wajar. Mereka yang termasuk dalam golongan ini bisa mengambil selfie tiga kali dalam sehari namun tidak mengunggahnya ke media sosial. Tingkatan kedua adalah tingkat akut yang membuat mereka mengunggah fotonya ke media sosial, dan yang terakhir adalah tingkat kronis.

Kondisi terakhir ini membuat seseorang memiliki dorongan yang sangat besar untuk melakukan selfie sepanjang waktu dan mengunggahnya ke media sosial hingga enam kali atau lebih dalam sehari.

Menurut para peneliti, para pengidap selfitis ini termasuk dalam orang yang kurang percaya diri, suka mencari perhatian, dan memiliki harapan besar bisa membuat status sosial mereka meningkat. Dengan sering mengunggah selfie, mereka merasa bisa menjadi bagian dari kelompok atau lingkungan sosial. Sayangnya, tindakan ini memang cenderung bisa menyebabkan adiksi atau ketagihan.

Meskipun kita memang suka eksis di media sosial, sebaiknya kita juga memperhatikan lokasi atau kondisi di sekitar kita sehingga tindakan selfie yang dilakukan tidak sampai melukai perasaan orang lain, khususnya yang baru mengalami musibah.