Inilah Siklus Fase Menstruasi yang Perlu Anda Ketahui

fase-fase-menstruasi-doktersehat

DokterSehat.Com – Kaum hawa normalnya mengalami menstruasi atau haid yang terjadi setiap bulan. Menstruasi mulai terjadi sejak memasuki masa pubertas hingga menopause pada seorang perempuan. Selama masa itu, perempuan mengalami fase menstruasi yang berulang apabila tidak terjadi kehamilan. Seperti apakah fase menstruasi itu?

Baca terus untuk mengetahui lebih jauh tahap demi tahap dari fase menstruasi pada wanita. Informasi ini bermanfaat bagi kaum hawa. Para perempuan akan mengetahui dan memahami tahapan fase menstruasi dan mendapatkan jawaban mengapa menstruasi bisa terjadi sebulan sekali.

Tahapan Fase Menstruasi pada Setiap Wanita

Apakah Anda mengetahui fase menstruasi yang Anda alami setiap bulan? Mungkin masih banyak perempuan yang tidak mengetahui fase menstruasi pada tubuh mereka sendiri. Padahal, para wanita perlu mengetahui informasi ini sehingga memiliki pengetahuan dan memahami alasan dibalik terjadinya haid dan bila tidak terjadi haid.

Berikut ini adalah tahapan fase menstruasi pada setiap perempuan:

  1. Fase Menstruasi  (Dari hari 1 hingga 5)
  2. Fase Folikular (Dari hari 1 hingga 13)
  3. Fase Ovulasi (Hari 14)
  4. Fase Luteal (Dari hari ke 15 sampai 28)

Ada empat fase menstruasi yang telah disebutkan satu persatu. Umumnya, panjang fase menstruasi adalah selama 28 hari. Akan tetapi, fase menstruasi bisa jadi berbeda-beda di antara perempuan. Simaklah penjelasan mengenai tiap fase menstruasi tersebut di bawah ini agar Anda lebih memahami karakteristik dari setiap fase.

1. Fase menstruasi

Tahapan fase menstruasi yang pertama terjadi adalah fase menstruasi atau fase pendarahan. Fase ini merupakan fase di mana para wanita sedang mengalami haid atau menstruasi. Umumnya, fase ini terjadi dari ke-1 hingga hari ke-5. Namun, ada juga wanita yang hanya mengalami 3 hari dan aja juga yang 7 hari bahkan lebih lama lagi.

Fase menstruasi atau masa haid terjadi karena sel telur yang sudah matang dan berovulasi tidak dibuahi oleh sel sperma. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang belum menikah sehingga tidak berhubungan badan dan sel telurnya tidak dibuahi oleh sel sperma lalu terjadi haid.

Pada pasangan suami istri yang telah melakukan hubungan badan tetapi memiliki kendala untuk terjadinya pembuahan juga bisa membuat perempuan tersebut mengalami fase menstruasi ini karena kegagalan pembuahan. Akibat dari tidak terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma maka kadar hormon estrogen dan progesteron pun menurun.

Penurunan kadar hormon kehamilan tersebut akan meluruhkan lapisan rahim yang telah menebal untuk mempersiapkan kehamilan tetapi tidak terjadi. Pada fase menstruasi ini rahim meluruhkan lapisan tebal dalam jaringan lunak dan pembuluh darah.

Lapisan dalam pada jaringan lunak dan pembuluh darah di rahim akan keluar melalui vagina berupa darah haid. Selama mengalami fase menstruasi, darah haid akan terus mengalir keluar vagina hingga habis dan terhentilah fase menstruasi atau pendarahan. Darah haid tersebut merupakan kombinasi dari darah, lendir, dan jaringan dari rahim.

Selama fase menstruasi ini, beberapa wanita merasakan kram perut atau nyeri haid (dismenor). Nyeri haid ini terjadi karena rahim mengalami kontraksi dan otot-otot perut bekerja untuk mengeluarkan darah haid.

Selain itu, beberapa gejala menstruasi lainnya juga biasa dialami. Gejala-gejala haid yang lain adalah perubahan pada payudara, perubahan mood, perubahan aroma tubuh, perut kembung, sakit kepala, otot melemah, nyeri punggung bagian bawah, dan biasanya cepat marah.

2. Fase folikular

Setelah fase menstruasi terjadi, fase selanjutnya adalah fase folikular. Fase folikuler merupakan tahap ke-2 dari fase menstruasi. Fase folikular umumnya terjadi dari hari pertama haid yaitu hari ke-1 sampai hari ke-13. Anda bisa lihat sendiri bahwa ada hari-hari di mana fase menstruasi dan fase folikular terjadi bersamaan.

Pada saat fase folikular terjadi, kelenjar pituitari akan melepaskan hormon yang bernama hormon perangsang folikel atau follicle stimulating hormone (FSH). Hormon perangsang folikel ini akan merangsang sel telur di dalam ovarium untuk tumbuh dan matang.

Hormon perangsang folikel mampu menghasilkan sekitar 5 hingga 20 kantung kecil yang disebut folikel. Di dalam setiap folikel mengandung sel-sel telur yang masih belum matang. Setiap fase folikular biasanya akan menghasilkan satu sel telur matang yang merupakan sel telur yang sehat.

Pada beberapa kasus, sel telur matang yang dihasilkan bisa lebih dari satu sehingga membuat terjadi hamil kembar. Selanjutnya, folikel yang berisi sel telur yang gagal matang akan kembali diserap oleh tubuh. Umumnya, dibutuhkan waktu selama 13 hari untuk menunggu sel telur menjadi matang.

Selama menunggu sel telur berkembang mencapai kematangannya, hormon FSH akan merangsang rahim untuk mengembangkan lapisan tebal yang terdiri dari jaringan lunak dan pembuluh darah. Lapisan tebal pada rahim yang terbentuk selama fase folikel disebut juga endometrium.

Di saat ada folikel yang matang maka akan terjadi peningkatan kadar hormon estrogen yang membantu untuk penebalan lapisan rahim dan mengondisikan rahim untuk menjadi lingkungan yang kaya akan nutrisi bagi embrio selama di dalam rahim.

Sudah disebutkan bahwa fase folikular umumnya terjadi dari hari ke-1 hingga hari ke-13 yaitu memakan waktu selama 13 hari. Akan tetapi, ada juga wanita yang mengalami fase folikular melebihi 13 hari dan tidak dimulai pada hari ke-1 melainkan hari ke-10 atau ke-11 hingga belasan hari ke depan. Fase folikular akan berakhir saat terjadi ovulasi.

3. Fase ovulasi

Tahap ketiga dari fase menstruasi adalah fase ovulasi yang merupakan kelanjutan dari fase folikular. Fase ovulasi normalnya terjadi pada hari ke-14 yang mengakhiri fase folikular. Pada hari ke-14 yaitu di mana sudah ada sel telur yang matang dan terjadi peningkatan kadar hormon estrogen maka kelenjar pituitari akan melepaskan hormon luteinizing.

Hormon luteinizing ini akan membuat ovarium melepaskan sel telur matang ke tuba fallopi. Peristiwa pelepasan sel telur yang matang ke tuba fallopi dinamakan ovulasi. Sel telur yang sudah berada di tuba fallopi akan terus berjalan menurun hingga mencapai rahim.

Saat sel telur yang matang ada sudah sampai di rahim maka sel telur akan menunggu untuk dibuahi sel sperma. Pada fase ovulasi inilah kesempatan di mana para wanita bisa hamil apabila terjadi pembuahan oleh sel sperma.

Ada gejala-gejala tertentu pada tubuh yang akan terjadi pada saat ovulasi. Anda akan mengalami sedikit peningkatan suhu tubuh basal dan keputihan yang cukup tebal menyerupai tekstur seperti putih telur. Anda juga bisa menggunakan kalkulator ovulasi untuk mengetahui fase ovulasi ini.

Fase ovulasi terjadi hanya selama 1 hari atau 24 jam. Selama 24 jam, sel telur akan menunggu pembuahan oleh sel sperma. Apabila tidak terjadi pembuahan pada fase ovulasi atau hari ovulasi maka sel telur yang matang tersebut akan mati dan hancur. Namun, apabila terjadi pembuahan maka sel telur bersama sel sperma akan membentuk zigot.

4. Fase luteal

Fase menstruasi yang terakhir setelah fase ovulasi adalah fase luteal. Fase luteal umumnya terjadi pada hari ke-15 hingga hari ke-28. Fase luteal memakan waktu setengah dari keseluruhan fase menstruasi.

Sel telur matang yang tidak dibuahi pada saat terjadi ovulasi maka akan mati dan hancur. Hal ini akan mengakibatkan hormon kehamilan tidak bisa mempertahankan lapisan tebal pada rahim atau endometrium. Peristiwa ini akan memicu terjadinya fase menstruasi pertama yaitu fase pendarahan (fase menstruasi) yang selanjutnya.

Fase luteal ini apabila tidak terjadi pembuahan atau kehamilan biasa juga disebut fase pra menstruasi. Ada beberapa gejala fase pra menstruasi ini yang kerap kali dialami perempuan, yaitu seperti nyeri payudara, sulit tidur, ingin makan makanan tertentu, perubahan modd, perut kembung, dan penambahan berat badan.

Akan tetapi, bila sel telur mengalami pembuahan maka tubuh akan memproduksi hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon hCG inilah yang dimanfaatkan untuk tes kehamilan yang menjadi tanda bahwa Anda telah hamil.