Terbit: 17 Januari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Penelitian telah menunjukkan bahwa berbagai jenis trauma menciptakan tingkat PTSD yang berbeda dan dapat mengubah zat biokimia otak. Kombinasi trauma berat, bersamaan dengan paparan trauma sebelumnya, menciptakan risiko tertinggi untuk PTSD. Semakin parah trauma, semakin besar kemungkinan Anda mengembangkan PTSD.

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) – Faktor Risiko

Jika Anda pernah mengalami trauma dan Anda memiliki kortisol rendah, otak Anda mungkin peka terhadap trauma dan bereaksi lebih sedikit untuk melindungi Anda dari PTSD. Kadar kortisol yang lebih rendah selama trauma dapat menyebabkan Anda mengingat peristiwa menakutkan bahkan lebih dari rata-rata orang normal. Kortisol rendah bisa menjadi penanda bagi mereka yang mungkin mengalami PTSD setelah mengalami trauma.

Trauma pribadi seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual juga membawa risiko yang lebih besar bagi PTSD. Ini mungkin karena rasa pengkhianatan pribadi yang menyertai jenis trauma ini. PTSD pada wanita lebih tinggi, dan pemerkosaan dianggap sebagai trauma yang paling mungkin yang menyebabkan seorang wanita mengembangkan PTSD. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketidakberdayaan yang intens dari seorang wanita kecil yang kurang kuat yang diserang oleh laki-laki.

Orang yang rentan terhadap PTSD bereaksi berlebihan terhadap isyarat yang menyerupai isyarat bahaya. Mereka juga masih mengaktifkan respon bahaya meski isyarat bahaya menurun. Penelitian  bahkan mempelajari bahwa kerentanan PTSD dapat diteruskan ke generasi berikutnya dalam kandungan.

Depresi mayor dan juga stres kronis sehari-hari dapat menyebabkan peningkatan kadar kortisol secara kronis. Kortisol terus diproduksi dalam upaya mengurangi keadaan hipereaktif terhadap masalah. Orang dengan PTSD tidak dapat mencapai respon kortisol tinggi dan inilah yang menimbulkan beberapa gejala PTSD.

Berikut adalah faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami PTSD, antara lain:

  • Seberapa berat dan dekatnya trauma yang dialaminya. Semakin berat trauma yang dialami dan semakin posisi seseorang dengan suatu kejadian, maka semakin meningkatkan risiko seseorang tersebut mengalami PTSD.
  • Durasi trauma dan banyaknya trauma yang dialaminya. Semakin lama/kronik seseorang mengalami kejadian trauma semakin berisiko berkembang menjadi PTSD. Trauma yang multipel lebih berisiko menjadi PTSD
  • Pelaku kejadian trauma. Semakin dekat hubungan antara pelaku dan korban semakin berisiko menjadi PTSD. Selain itu, kejadian trauma yang sangat interpersonal seperti kasus pemerkosaan juga salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya PTSD.
  • Jenis kelamin. Sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa perempuan dua kali lipat lebih memungkinkan untuk mengalami PTSD. Hal ini disebabkan oleh rendahnya sintesa serotonin pada perempuan.
  • Status pekerjaan. Status pekerjaan dapat memengaruhi timbulnya stres dan lebih lanjut akan mencetuskan terjadinya perasaan tidak nyaman, sehingga lebih berisiko untuk menderita PTSD.
  • PTSD dapat terjadi pada semua golongan usia tetapi anak-anak dan usia tua (>60 tahun) merupakan kelompok usia yang lebih rentan mengalami PTSD. Anak-anak memiliki kebutuhan dan kerentanan khusus jika dibandingkan dengan orang dewasa, karena masih adanya rasa ketergantungan dengan orang lain, kemampuan fisik dan intelektual yang sedang berkembang, serta kurangnya pengalaman hidup dalam memecahkan berbagai persoalan sehingga dapat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.
  • Tingkat pendidikan. Minimnya tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi tingginya angka kejadian PTSD.
  • Seseorang yang memiliki gangguan psikiatri lainnya seperti: depresi, fobia sosial, atau gangguan kecemasan. Selain itu, seseorang yang hidup di tempat pengungsian (misalnya sedang berada di lokasi peperangan/konflik di daerahnya) dan kurangnya dukungan sosial baik dari keluarga maupun lingkungan juga dapat mempengaruhi terjadinya PTSD.
PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) – Halaman Selanjutnya: 1 2 3 4 5 6 7 8

DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi