Esofagitis: Penyebab, Ciri dan Gejala, Pengobatan

esofagitis-doktersehat

DokterSehat.Com – Kerongkongan atau esofagus adalah bagian tubuh berbentuk pipa yang fungsinya menghantarkan makanan menuju lambung. Esofagus rentan terhadap pelbagai gangguan kesehatan. Salah satu jenis gangguan kesehatan yang menghantui esofagus adalah esofagitis. Apa itu esofagitis? Apa penyebab esofagitis? Apa saja ciri dan gejala esofagitis? Apakah esofagitis berbahaya? Bagaimana cara mengobati esofagitis?

Apa Itu Esofagitis?

Esofagitis adalah istilah medis untuk mendefinisikan penyakit radang yang menyerang kerongkongan (esofagus), tepatnya lapisan esofagus. Esofagitis atau radang kerongkongan kerap dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan lainnya, salah satu yang paling umum adalah gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung.

Rasa tidak nyaman yang disertai dengan rasa nyeri dan luka menjadi ciri khas dari esofagitis. Penyakit esofagitis ini tentu saja tidak boleh disepelekan. Penanganan medis yang terlambat atau tidak tepat akan menyebabkan komplikasi yang berbahaya bagi esofagus.

Penyebab Esofagitis

Penyebab esofagitis ada bermacam-macam. Dilihat dari penyebabnya tersebut, penyakit esofagitis lantas terbagi ke dalam beberapa jenis esofagitis.

Berikut ini adalah jenis esofagitis berdasarkan penyebabnya yang perlu Anda ketahui dan waspadai.

1. Refluks Esofagitis

Penyebab esofagitis yang pertama dan paling umum adalah penyakit refluks asam lambung atau GERD.

GERD sendiri adalah penyakit di mana asam lambung naik ke kerongkongan akibat katup pemisah antara kerongkongan dan lambung (sfingter) tidak menutup dengan sempurna. Naiknya asam lambung ke esofagus tersebut lantas menyebabkan lapisan esofagus mengalami iritasi yang berujung pada peradangan.

2. Esofagitis Eosinofilik

Esofagitis  yang Anda alami juga bisa disebabkan oleh jumlah eosinofil (salah satu tipe sel darah putih) di dalam esofagus yang terlalu banyak. Jenis esofagitis yang satu ini dikenal sebagai eosinophilic esophagitis.

Mengapa jumlah eosinofil menjadi terlalu banyak? Jawabannya tak lain karena sistem kekebalan tubuh menjadi sangat sensitif terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Benda asing tersebut dideteksi oleh sistem imun sebagai sesuatu yang berbahaya sehingga tubuh perlu untuk melakukan perlawanan.

Sayangnya, respons ini malah menciptakan reaksi alergi yang berujung pada terjadinya peradangan pada kerongkongan atau esofagitis.

Eosinophilic esophagitis umum dialami oleh anak-anak. Data dari Boston  Children’s Hospital menunjukkan bahwa 1 dari 1000 anak dilaporkan mengalami jenis penyakit esofagitis yang satu ini.

Sejumlah makanan ditengarai menjadi penyebab esofagitis eosinofil, yaitu:

  • Kacang kedelai
  • Susu
  • Gandum
  • Telur
  • Kerang

3. Esofagitis Akibat Obat-Obatan (Drug-Induced Esophagitis)

Penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa menjadi penyebab esofagitis atau radang kerongkongan. Hal ini bisa terjadi apabila konsumsi obat tidak disertai dengan minum air putih yang cukup. Akibatnya, ada sisa obat yang tertahan di dinding esofagus. Jika terus dibiarkan, ini akan menyebabkan esofagus teriritasi dan meradang.

Obat-obatan yang dimaksud seperti:

  • Obat anti-nyeri
  • Obat antibiotik
  • Bisphosphonates
  • Potasium klorida

4. Esofagitis Infeksi (Infectious Esophagitis)

Infeksi sebagai penyebab esofagitis memang jarang terjadi, namun bukan berarti jenis esofagitis ini tidak akan menyerang Anda.

Esofagitis infeksi adalah peradangan pada kerongkongan yang disebabkan oleh mikroorganisme “jahat” seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur. Anda yang menderita penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh adalah yang paling rentan mengalami esofagitis jenis ini, seperti:

  • Lupus
  • HIV/AIDS
  • Diabetes
  • Kanker

Sejumlah faktor risiko juga turut ditengarai menjadi pencetus esofagitis, yaitu:

  • Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama
  • Pasien terapi kanker (kemoterapi, radioterapi)
  • Pernah melakukan operasi di area dada
  • Obesitas
  • Konsumsi rokok dan minuman beralkohol

Faktor risiko yang disebutkan di atas akan tetapi tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan. Apabila Anda memiliki salah satu faktor risiko di atas, tanyakan pada dokter guna memastikan korelasinya.

Ciri dan Gejala Esofagitis

Esofagitis memiliki sejumlah ciri dan gejala khas. Anda kemungkinan mengalami esofagitis apabila merasakan ciri dan gejala esofagitis berikut ini:

  • Tenggorokan terasa sakit
  • Batuk
  • Suara serak
  • Susah menelan makanan (dysphagia)
  • Sakit saat menelan makanan (odynophagia)
  • Perut terasa panas dan nyeri
  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan hilang

Guna memastikan gejala-gejala di atas apakah terkait dengan penyakit esofagitis atau tidak, baiknya periksakan diri ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Diagnosis Esofagitis

Dalam mendiagnosis penyakit esofagitis mulai dari penyebab hingga tingkat keparahannya, dokter akan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan yang seperti pada umumnya terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Berikut adalah prosedur pemeriksaan untuk diagnosis esofagitis.

1. Anamnesis

Anamnesis adalah tahapan pertama dalam pemeriksaan pasien dengan keluhan esofagitis. Pada tahap ini, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan terkait dengan keluhan yang dialami pasien tersebut.

  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah punya riwayat penyakit lain seperti penyakit lambung misalnya?
  • Makanan apa saja yang dikonsumsi sehari-hari?
  • Apakah sedang mengonsumsi obat? Jika ya, obat apa?

2. Pemeriksaan Fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Umumnya, metode pemeriksaan fisik yang digunakan adalah endoskopi, yaitu memasukkan selang dengan kamera ke dalam mulut pasien hingga ke kerongkongan.

Endoskopi ini juga disertai dengan prosedur biopsi atau pengambilan sampel jaringan esofagus untuk selanjutnya jaringan tersebut diperiksa di laboratorium.

3. Pemeriksaan Penunjang

Apabila dibutuhkan, dokter akan melaksanakan prosedur pemeriksaan penunjang. Tujuannya, untuk mendapat gambaran lebih jelas dari esofagus pasien. Metode pemeriksaan penunjang yang dimaksud seperti X-Ray.

Tes reaksi alergi juga dilakukan apabila ada indikasi penyakit esofagitis yang diderita pasien disebabkan oleh alergi.

Pengobatan Esofagitis

Pengobatan esofagitis disesuaikan dengan penyebab dari penyakit ini.

1. Pengobatan Refluks Esofagitis

Apabila esofagus disebabkan oleh penyakit GERD, maka cara mengobati esofagitis adalah dengan mengonsumsi sejumlah jenis obat-obat seperti:

  • Antacids
  • H-2 Receptor Blockers (cimetidine, ranitidine)
  • Proton Pump Inhibitors (lansoprazole, omeprazole)

Tindakan operasi juga mungkin dilakukan pada kasus esofagitis akibat GERD, yakni dengan memperbaiki katup (sfingter ) pemisah kerongkongan dan lambung.

2. Pengobatan Esofagitis Eosinofilik

Oleh karena jenis esofagitis ini berkaitan dengan reaksi alergi, maka cara mengobatinya adalah dengan menangkal faktor pencetus reaksi alergi (alergen) melalui sejumlah obat-obatan di antaranya:

  • Steroid
  • Proton Pump Inhibitors (pantoprazole, esomeprazole, omeprazole, lansoprazole)
  • Menghindari makanan-makanan pemicu alergi

3. Pengobatan Esofagitis Akibat Infeksi

Pada kasus penyakit esofagitis yang disebabkan oleh infeksi, maka metode pengobatan yang lazimnya dilakukan oleh dokter adalah dengan memberikan obat-obatan yang bersifat antibiotik, antibakteri, antivirus, dan sebagainya.

Pencegahan Esofagitis

Melihat penyebab esofagitis di atas, maka cara mencegah esofagitis yang bisa dilakukan adalah:

  • Menghindari makanan-makanan yang bisa memicu refluks asam lambung (contoh: makanan pedas, bersantan, atau berlemak)
  • Menghindari makanan-makanan yang dapat memicu reaksi alergi
  • Mengonsumsi obat dengan diiringi asupan air putih yang cukup
  • Menghindari konsumsi obat-obatan tertentu (konsultasikan dengan dokter)
  • Tidak berbaring sesaat setelah makan
  • Menjaga berat badan tetap ideal
  • Hentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

 

Sumber:

  1. Grossi, L dan Antonio Francesco C et al. (2017). Esophagitis and its causes: Who is “guilty” when acid is found “not guilty”? https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5423037/ (Diakses pada 2 September 2019)
  2. Nordqvist, C (2017). Everything You Need to Know About Esophagitis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/9274.php (Diakses pada 2 September 2019)
  3. Pietrangelo, A (2017). Esophagitis. https://www.healthline.com/health/esophagitis (Diakses pada 2 September 2019)
  4. Esophagitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/esophagitis/diagnosis-treatment/drc-20361264 (Diakses pada 2 September 2019)
  5. Esophagitis. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/esophagitis-a-to-z (Diakses pada 2 September 2019)
  6. Eosinophilic Esophagitis. http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/e/eosinophilic-esophagitis (Diakses pada 2 September 2019)