Terbit: 30 April 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Erosi serviks adalah salah satu kondisi gangguan kesehatan serviks yang paling umum. Kondisi ini tidak berbahaya dan sering kali tidak menunjukkan gejala apapun. Kebanyakan kasus penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan pengobatan. Ketahui selengkapnya tentang kondisi ini meliputi penyebab, gejala, diagnosis, dan pengobatannya berikut ini!

Erosi Serviks: Penyebab, Gejala, Pengobatan

Apa Itu Erosi Serviks?

Erosi serviks adalah kondisi di mana sel-sel pada serviks berkembang di luar serviks dan membentuk jaringan yang merah dan meradang. Pada dasarnya kondisi ini bukan merupakan kondisi serius dan merupakan kondisi yang cukup umum.

Bagian luar serviks (vagina) dan bagian dalam serviks (kanal serviks) memiliki kandungan sel yang berbeda. Bagian dalam mengandung sel kelenjar lunak yang disebut sel epitel kolumnar. Sedangkan sel-sel keras di bagian luar serviks disebut dengan epitel skuamosa.

Penyakit ini terjadi ketika sel-sel kelenjar lunak berkembang pada bagian luar serviks. Tempat di mana sel kelenjar bersentuhan dengan sel epitel skuamosa di luar serviks disebut sebagai zona transformasi.

Kondisi ini tidak berhubungan dengan kanker serviks dan tidak menimbulkan komplikasi apapun. Namun gejala yang ditimbulkan cenderung mirip dengan masalah reproduksi lainnya yang mungkin terhubung dengan kanker serviks.

Penyebab Erosi Serviks

Penyebab erosi serviks sering kali tidak diketahui, beberapa wanita memiliki kondisi ini sejak lahir. Penyebab kondisi ini yang umum lainnya adalah karena fluktuasi hormon yang disebabkan oleh berbagai kondisi.

Faktor Risiko Erosi Serviks

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena erosi serviks:

  • Faktor usia. Kondisi ini lebih umum menyerang wanita pada usia reproduktif karena masih besar kemungkinan terjadi fluktuasi hormon. Seseorang yang sudah menopause jarang mengalami kondisi ini.
  • Kehamilan. Ketika hamil, terjadi juga perubahan kadar hormon dalam tubuh yang kemudian dapat menjadi pemicu kondisi ini.
  • Konsumsi kontrasepsi oral. Penggunaan kontrasepsi oral seperti pil KB juga dapat meningkatkan risiko penyakit ini karena kerja obat ini memengaruhi kadar hormon dalam tubuh.

Gejala Erosi Serviks

Beberapa gejala erosi serviks yang umum meliputi:

  • Rasa sakit dan pendarahan selama atau setelah berhubungan seksual
  • Nyeri atau pendarahan setelah pemeriksaan panggul
  • Keputihan ringan
  • Pendarahan di antara menstruasi

Gejala erosi serviks pada setiap orang dapat berbeda-beda, gejala dapat ringan hingga parah. Namun kebanyakan wanita tidak merasakan gejala sama sekali ketika mengalami kondisi ini. Banyak orang baru diketahui mengalami kondisi ini setelah menjalani pemeriksaan panggul.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pada dasarnya erosi serviks bukan merupakan kondisi yang serius, namun gejala yang sama juga dapat menandakan beberapa kondisi lain seperti:

  • Infeksi
  • Fibroid atau polip
  • Endometriosis
  • Masalah pada IUD
  • Masalah pada kehamilan
  • Kanker pada serviks, rahim, atau jenis kanker lainnya

Diagnosis Erosi Serviks

Seperti yang disebutkan sebelumnya, erosi serviks terkadang tidak menimbulkan gejala atau gejalanya jarang disadari. Kebanyakan dokter mendiagnosis kondisi ini ketika melakukan pemeriksaan panggul rutin.

Apabila serviks terlihat lebih merah atau meradang, dokter harus memastikan bahwa kondisi ini bukan merupakan kanker serviks. Selain menanyakan tentang gejala dan riwayat kesehatan secara keseluruhan serta melakukan pemeriksaan fisik, dokter juga akan melakukan pemeriksaan lainnya.

Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang mungkin dilakukan:

  • Pap test atau pap smear. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengikis sampel sel dari serviks untuk menguji keberadaan HPV dan perubahan sel kanker atau prakanker. Setiap wanita di atas usia 21 tahun atau yang aktif secara seksual diharuskan melakukan tes ini secara rutin dalam jangka waktu tertentu.
  • Kolposkopi. pemeriksaan serviks lebih dekat dengan menggunakan bantuan pencahayaan dan instrumen pembesar.
  • Biopsi. Menggunakan sampel jaringan kecil dari serviks untuk diuji di laboratorium untuk memastikan keberadaan sel-sel kanker.

Pengobatan Erosi Serviks

Umumnya kondisi ini tidak berbahaya sehingga pengobatan erosi serviks ini tidak dibutuhkan. Namun apabila kondisi ini menyebabkan seseorang mengalami pendarahan dan nyeri yang persisten, maka dokter mungkin akan merekomendasikan pengobatan berupa kauterisasi

Kauterisasi

Kauterisasi adalah pengobatan erosi serviks yang paling umum. Prosedur ini dapat mengatasi gejala dan apabila penyakit ini kembali, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengulangi prosedur satu ini.

Kauterisasi untuk mengatasi erosi serviks terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Diathermy. Prosedur ini menggunakan panas untuk membakar bagian serviks yang terkena.
  • Cryotherapy. Prosedur ini menggunakan karbon dioksida yang sangat dingin untuk membekukan bagian serviks yang terkena. Penelitian menunjukkan prosedur satu ini termasuk yang paling aman dan efektif untuk pasien dengan kondisi ini yang mengalami gejala keputihan yang berat.
  • Silver nitrat. Prosedur ini juga bekerja dengan cara membakar sel-sel kelenjar.

Prosedur kauterisasi tidak menimbulkan rasa sakit. Namun dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk tidak melakukan aktivitas seksual atau menggunakan tampon lebih dulu selama kurang lebih 4 minggu.

Pada dasarnya tidak terdapat bahaya erosi serviks dan kondisi ini juga tidak menyebabkan komplikasi tertentu. Namun karena gejalanya mirip dengan kondisi serviks lainnya, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala yang disebutkan di atas.

Pemeriksaan kesehatan secara rutin penting untuk dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara keseluruhan. Kondisi serviks umumnya diketahui melalui pemeriksaan panggul. Tujuan pemeriksaan secara rutin adalah untuk mengetahui penyakit lebih dini, karena ada banyak kondisi kesehatan yang tidak menunjukkan gejala pada awalnya.

 

  1. Burgess, Lana. 2019. What to know about cervical ectropion. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320298.php. (Diakses 31 Desember 2019).
  2. Pietrangelo, Ann. 2019. What Is Cervical Ectropion (Cervical Erosion)?. https://www.healthline.com/health/womens-health/cervical-ectropion. (Diakses 31 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi