Terbit: 28 Agustus 2019
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Ensefalopati adalah salah satu penyakit otak yang harus Anda ketahui dan waspadai. Apa itu ensefalopati? Simak lebih lanjut mengenai masalah kesehatan otak yang satu ini mulai dari penyebab, gejala, pengobatan, hingga pencegahannya!

Ensefalopati: Penyebab, Gejala, Pengobatan, Pencegahan, dll

Apa Itu Ensefalopati?

Ensefalopati adalah kondisi di mana terjadi kelainan atau kerusakan pada struktur dan fungsi otak. Nama tersebut merupakan gabungan dari kata “ensefalo”  yang memiliki makna jaringan otak, dan “pati” yang bermakna penyakit. Sesuai dengan namanya, penyakit ini menyerang jaringan di dalam otak. Penderita akan mengalami sejumlah komplikasi seperti perubahan perilaku dan penurunan daya ingat.

Kondisi ini sendiri sebenarnya merupakan dampak dari suatu penyakit tertentu.  Hal ini jugalah yang lantas menjadi penentu apakah gangguan bersifat temporer atau permanen.  Penanganan medis sedini mungkin wajib dilakukan guna mencegah kondisi penderita bertambah buruk.

Penyebab Ensefalopati

Kondisi ini disebabkan oleh sejumlah faktor yang kemudian membagi kondisi ini ke dalam beberapa jenis. Berikut adalah jenis-jenis ensefalopati berdasarkan penyebabnya yang perlu Anda ketahui.

1. Ensefalopati Hashimoto

Ensefalopati Hashimoto adalah disebabkan oleh penyakit Hashimoto. Hashimoto adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh justru menyerang tiroid hingga menyebabkan gangguan pada otak.

Penyakit ini menyebabkan timbulnya gejala berupa:

  • Demensia
  • Halusinasi
  • Kebingungan
  • Penurunan fungsi kognitif otak

2. Ensefalopati Hepatik

Ensefalopati hepatik ditandai dengan perubahan perilaku dan gangguan pada sistem saraf. Penyebab kondisi ini tak lain karena adanya masalah kesehatan pada organ hati (liver).

Akibat liver tidak berfungsi sebagaimana mestinya, zat beracun amonia yang dihasilkan oleh bakteri pada usus tidak dapat diproses sehingga masuk ke dalam darah dan menuju otak. Inilah awal mula terjadinya kondisi tersebut.

3. Ensefalopati Hipertensif

Penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) juga menjadi penyebab munculnya masalah ini, tepatnya ensefalopati hipertensif.

Kondisi ini rentan dialami oleh mereka yang memiliki penyakit hipertensi kronis namun tidak segera ditangani. Akibatnya, terjadi peningkatan tekanan pada arteri yang kemudian memengaruhi otak menjadi bengkak yang dalam istilah medis disebut sebagai edema. Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami sejumlah kondisi seperti mual, muntah, penurunan penglihatan dan kesadaran, atau gagal ginjal.

4. Ensefalopati Infeksius

Ensefalopati infeksius atau disebut juga sebagai penyakit prion adalah salah satu jenis yang paling berbahaya. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan mutasi protein bernama prion. Aktivitas ini menyebabkan kerusakan pada otak yang terjadi secara progresif.

Mutasi prion disebabkan oleh sejumlah penyakit, seperti:

  • Gangguan tidur (insomnia) kronis
  • Penyakit Creutzfeldt-Jakob

Sayangnya, penderita masalah ini memiliki risiko kematian yang besar. Menurut laporan, rata-rata penderita penyakit prion hanya mampu bertahan hidup  3 bulan hingga beberapa tahun setelah ia didiagnosis menderita penyakit ini.

5. Ensefalopati Iskemik Hipoksik

Penyebab iskemik hipoksik adalah otak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup sehingga menyebabkan organ satu ini mengalami kerusakan yang umumnya bersifat permanen alias tidak bisa disembuhkan.

Janin yang terpapar alkohol menjadi objek potensial dari masalah ini. Oleh sebab itu, ibu hamil agar sebisa mungkin menghindari konsumsi alkohol selama masa kehamilan.

6. Ensefalopati Glisin

Kadar asam amino berupa glisin yang terlalu tinggi di dalam otak menjadi penyebab ensefalopati glisin. Akibat berlebihnya kadar glisin tersebut, otak akan mengalami kerusakan pada struktur dan juga fungsinya.

Faktor keturunan (genetik) disinyalir memiliki peran penting dalam menyebabkan seorang bayi mengalami kondisi yang satu ini.

7. Ensefalopati Toksik Metabolik

Adanya senyawa beracun akibat infeksi yang terjadi pada otak menjadi penyebab gangguan ini. Tak hanya itu, kegagalan yang terjadi pada suatu organ juga bisa berujung pada kondisi ensefalopati toksik metabolik.

Jenis ini sifatnya temporer. Kondisi ini akan hilang seiring dengan sembuhnya penyakit infeksi yang menjadi pemicunya.

8. Ensefalopati Traumatik Kronis

Benturan yang terjadi di kepala mungkin saja sampai menyebabkan saraf pada otak mengalami kerusakan. Jika sudah begitu, maka seseorang mungkin saja akan mengalami ensefalopati traumatik kronis.

Jenis yang satu ini terjadi karena pada otak terjadi kerusakan multipel dan trauma berat. Berhati-hatilah dalam beraktivitas agar risiko kecelakaan yang melibatkan kepala dapat diminimalisir.

9. Ensefalopati Uremikum

Anda yang menderita penyakit gagal ginjal berpotensi untuk mengalami penyakit uremikum. Akibat ginjal yang tidak dapat berfungsi baik, terjadi penumpukan racun bernama uremikum di dalam darah.

Uremikum ini kemudian terbawa oleh darah menuju otak sehingga menyebabkan kerusakan pada otak itu sendiri.

10. Ensefalopati Wernicke

Kekurangan vitamin B1 juga menjadi penyebab gangguan otak ini, tepatnya jenis Wernicke. Beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang mengalami defisiensi vitamin B1 hingga berujung pada kondisi ini adalah:

  • Malanutrisi
  • Konsumsi alkohol
  • Sistem pencernaan tidak berfungsi dengan baik

Ciri dan Gejala Ensefalopati

Masalah pada otak iniditandai oleh sejumlah ciri dan gejala. Ciri-cirinya meliputi:

  • Tingkat kesadaran menurun
  • Tidak dapat berpikir logis
  • Konsentrasi mudah buyar
  • Perubahan perilaku
  • Kedutan pada beberapa bagian tubuh
  • Otot melemah
  • Kesulitan menelan atau berbicara
  • Kejang

Selain gejala-gejala di atas, mungkin masih ada ciri dan gejala lainnya. Segera periksakan diri ke dokter apabila merasakan satu atau beberapa dari gejala di atas agar bisa segera ditangani sebelum kondisi bertambah buruk.

Diagnosis Ensefalopati

Dalam mendiagnosis ensefalopati, dokter akan melakukan serangkaian prosedur pemeriksaan. Berikut adalah prosedur pemeriksaan ensefalopati.

1. Anamnesis

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan pada pasien terkait keluhan yang ia alami.

  • Apa saja yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah sedang menderita penyakit lain?
  • Apakah punya riwayat penyakit tertentu?
  • Apakah punya riwayat kecelakaan?
  • Apakah mengonsumsi alkohol?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melanjutkan ke tahap pemeriksaan fisik yang meliputi:

  • Pemeriksaan tekanan darah
  • Pemeriksaan denyut jantung
  • Pemeriksaan suhu tubuh
  • Pemeriksaan berat dan tinggi badan

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna menguatkan diagnosis, sejumlah prosedur pemeriksaan penunjang tak luput untuk dilakukan, yaitu:

  • Tes volume darah
  • Tes oksigen di dalam darah
  • Tes kadar racun
  • Tes zat kimia
  • Pemeriksaan hati (liver) dan ginjal

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik otak untuk menganalisis apakah ada potensi terhadap masalah ini. Metode pencitraan (imaging) adalah medium yang digunakan untuk menganalisis kondisi otak, terdiri dari:

  • X-Ray
  • Ultrasonography (USG)
  • CT Scan
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pengobatan Ensefalopati

Hasil diagnosis akan menentukan metode pengobatan seperti apa yang paling tepat diterapkan pada pasien. Secara umum, pengobatan kondisi ini meliputi:

  • Pemberian obat antibiotik
  • Pemberian obat laktulosa
  • Pemberian obat penurun tekanan darah
  • Pemberian oksigen eksternal
  • Cuci darah (khusus ensefalopati uremikum)
  • Infus cairan nutrisi atau elektrolit

Pencegahan Ensefalopati

Dari penjelasan yang telah dijabarkan, kondisi inidisebabkan oleh sejumlah penyakit seperti penyakit liver, ginjal, hingga kekurangan vitamin B1.

Oleh karena itu, cara mencegah ensefalopati adalah dengan menghindari penyakit-penyakit tersebut. Caranya? Tentu saja dengan menerapkan pola hidup sehat, mulai dari:

  • Makan makanan sehat dan bergizi, terutama yang mengandung vitamin B1
  • Banyak minum air putih
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol
  • Olahraga teratur sesuai dengan kemampuan
  • Berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang memiliki risiko kecelakaan

 

  1. Burgess, L. (2018). What to know about encephalopathy.
    https://www.medicalnewstoday.com/articles/324008.php (Diakses pada 28 Agustus 2019)
  2. Kivi, R. (2017). Encephalopathy. https://www.healthline.com/health/hepatic-encephalopathy (Diakses pada 28 Agustus 2019)
  3. Kusuma Putra, Ida Bagus. Hypertensive Encephalopathy in Diagnosis and Treatment. https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/25dc80a629c8580d9a356b1ca7dcf34a.pdf (Diakses pada 28 Agustus 2019)
  4. Mochellin, R. et al. (2007). Hashimoto’s encephalopathy : epidemiology, pathogenesis and management. CNS Drugs; 21(10):799-811. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17850170 (Diakses pada 28 Agustus 2019)
  5. Encephalopathy. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/All-Disorders/Encephalopathy-Information-Page (Diakses pada 28 Agustus 2019)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi