Endometriosis: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

endometriosis-doktersehat

DokterSehat.Com – Endometriosis adalah gangguan di mana jaringan yang mirip dengan jaringan yang membentuk lapisan rahim tumbuh di luar rongga rahim. Lapisan rahim ini disebut juga endometrium. Simak gejala endometriosis, penyebab endometriosis, diagnosis dan pengobatan endometriosis selengkapnya di bawah ini.

Penyebab Endometriosis

Hingga kini endometriosis adalah salah satu penyakit yang belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Terdapat beberapa teori tentang penyebabnya, meskipun tidak ada satu teori pun yang terbukti secara ilmiah membuktikan hal tersebut.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menyebabkan endometriosis adalah:

1. Retrograde Menstruation

Pada retrograde menstruation, darah menstruasi yang mengandung sel-sel endometrium mengalir kembali melalui saluran tuba dan masuk ke dalam rongga panggul alih-alih keluar dari tubuh.

Sel-sel endometrium menempel pada dinding pelvis dan permukaan organ panggul, tempat sel-sel tumbuh dan terus menebal serta berdarah setiap siklus menstruasi.

2. Transformation of Peritoneal Cells

Para pakar menemukan bahwa hormon atau faktor kekebalan tubuh mendorong transformation of peritoneal cells—sel yang melapisi sisi dalam perut—menjadi sel mirip endometrium.

3. Embryonic Cell Transformation

Hormon-hormon seperti estrogen dapat mengubah sel-sel embrionik, sel-sel dalam tahap-tahap perkembangan paling awal—menjadi implan sel mirip endometrium selama masa pubertas.

4. Surgical Scar Implantation

Setelah operasi seperti histerektomi atau operasi caesar, sel endometrium dapat menempel pada sayatan bedah.

5. Endometrial Cell Transport

Sistem pembuluh darah atau cairan jaringan (limfatik) dapat mengangkut sel endometrium ke bagian lain dari tubuh.

6. Immune System Disorder

Masalah dengan sistem kekebalan mungkin membuat tubuh tidak dapat mengenali dan menghancurkan jaringan seperti endometrium yang tumbuh di luar rahim.

Gejala Endometriosis

Wanita dapat mengalami endometriosis tanpa gejala atau mengalami berbagai jenis rasa sakit, termasuk kram menstruasi yang menyakitkan atau periode menstruasi yang berat, rasa sakit selama atau setelah hubungan seksual, rasa sakit saat buang air besar atau buang air kecil, dan sakit perut.

Endometrium yang terletak tidak normal dapat tumbuh dan luruh selama siklus menstruasi, sehingga menyebabkan perdarahan di antara periode-periode tersebut. Peradangan, kista, jaringan parut, dan adhesi dapat berkembang yang menyebabkan masalah usus, penyakit radang panggul kronis, atau infertilitas.

Berikut adalah penjelasan mengenai gejala endometriosis, di antaranya:

  • Kram

Nyeri panggul dan kram dapat dimulai sebelum atau beberapa hari setelah menstruasi. Kondisi ini juga bisa membuat Anda mengalami sakit punggung dan perut bagian bawah

  • Nyeri

Nyeri selama atau setelah berhubungan seks adalah gejala umum seseorang dengan endometriosis.

  • Nyeri saat BAB dan BAK

Anda kemungkinan besar akan mengalami gejala-gejala ini selama periode menstruasi.

  • Pendarahan Berlebihan

Anda mungkin mengalami periode menstruasi berat sesekali atau perdarahan di antara periode menstruasi (pendarahan intermenstrual).

  • Infertilitas

Kadang-kadang, endometriosis pertama kali didiagnosis pada mereka yang mencari pengobatan untuk infertilitas.

Nah, itulah gejala endometriosis yang bisa dikenali. Tanda dan gejala lainnya mungkin mengalami kelelahan, diare, sembelit, kembung atau mual, terutama selama periode menstruasi.

Tingkat keparahan rasa sakit bukanlah merupakan indikator yang dapat diandalkan tentang sejauh mana kondisi tersebut. Anda bisa menderita endometriosis ringan dengan nyeri hebat, atau bisa menderita endometriosis lanjut dengan sedikit atau tanpa rasa sakit.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Temui dokter jika Anda memiliki tanda dan gejala yang dapat mengindikasikan endometriosis. Diagnosis dini dapat menghasilkan pengelolaan gejala yang lebih baik.

Diagnosis Endometriosis

Diagnosis dapat menjadi tantangan karena tidak ada tes tunggal untuk evaluasi penyakit ini. Satu-satunya cara untuk benar-benar mengonfirmasi kondisi ini adalah dengan menjalani laparoskopi bedah.

Laparoskopi bedah adalah prosedur invasif minimal di mana selang tipis dan terang dengan kamera mini terpasang, dimasukkan melalui sayatan kecil di daerah panggul.

Strategi diagnosis lain termasuk pemeriksaan panggul, pencitraan radiologis dengan ultrasonografi atau pencitraan resonansi magnetik (MRI), dan penggunaan obat-obatan tertentu termasuk gonadotropin releasing hormone (GnRH) agonists.

Stadium Endometriosis

Endometriosis memiliki empat tahap atau tipe yaitu:

  • Minimal.
  • Ringan.
  • Moderat.
  • Parah.

Berbagai faktor menentukan tahap gangguan. Faktor-faktor ini dapat mencakup lokasi, jumlah, ukuran, dan kedalaman implan endometrium.

Stadium I: Minimal

Pada endometriosis minimal, terdapat lesi atau luka kecil dan implan endometrium yang dangkal pada ovarium. Mungkin juga ada peradangan di dalam atau di sekitar rongga panggul.

Stadium II: Ringan

Endometriosis ringan melibatkan lesi ringan dan implan dangkal pada ovarium dan pelvis.

Stadium III: Sedang

Endometriosis sedang melibatkan implan dalam pada lapisan ovarium dan pelvis. Selain itu, lesi bisa muncul lebih banyak.

Stadium IV: Parah

Tahap endometriosis yang paling parah adalah implan dalam pada lapisan pelvis dan ovarium. Mungkin juga ada lesi pada tuba falopi dan usus.

Pengobatan Endometriosis

Sebenarnya endometriosis adalah penyakit yang belum bisa disembuhkan dengan obat, namun Anda dapat mengelola gejalanya.

Mengelola Gejala Endometriosis

Pengobatan komplementer dan alternatif seperti akupunktur, chiropractic, dan obat herbal, bagi beberapa orang memiliki manfaat, namun cara ini tidak didukung oleh bukti ilmiah.

Menghindari kafein dapat membantu mengurangi rasa sakit, karena kafein dapat memperburuk gejala. Selain itu, cobalah untuk olahraga ringan seperti berjalan, cara ini mengurangi rasa sakit dan memperlambat perkembangan kondisi dengan mengurangi kadar estrogen.

Penting untuk memantau gejala, karena komplikasi jangka panjang dari endometriosis bisa saja terjadi. Nyeri yang tak tertahankan atau pendarahan yang tak terduga harus segera mendapatkan penanganan ke dokter .

Meskipun saat ini tidak ada obat untuk endometriosis, sebagian besar wanita dapat meringankan rasa sakit dari gejala dan masih dapat memiliki anak.

Pada akhirnya, pilihan medis dan bedah tersedia untuk membantu mengurangi gejala dan mengelola potensi komplikasi. Dokter mungkin terlebih dahulu mencoba perawatan konservatif, kemudian dapat merekomendasikan operasi jika kondisi tidak membaik.

Semua orang bereaksi berbeda terhadap opsi perawatan ini. Dokter dapat membantu Anda menemukan metode yang paling cocok. Pertimbangkan untuk menemukan kelompok pendukung atau mendidik diri sendiri lebih banyak tentang kondisi yang dialami.

Berikut ini adalah beberapa pengobatan endometriosis yang bisa dilakukan, di antaranya:

1. Obat Pereda Nyeri

Anda dapat mencoba obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas seperti ibuprofen, akan tetapi pengobatan endometriosis ini tidak efektif dalam semua kasus.

2. Terapi Hormon

Mengambil hormon tambahan kadang-kadang dapat menghilangkan rasa sakit dan menghentikan perkembangan endometriosis. Terapi hormon membantu tubuh mengatur perubahan hormonal bulanan dengan mendorong pertumbuhan jaringan yang terjadi ketika menderita endometriosis.

3. Kontrasepsi Hormonal

Kontrasepsi hormonal mengurangi kesuburan dengan mencegah menstruasi dan penumpukan jaringan endometrium. Pil KB, patches, dan cincin vagina dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa sakit pada endometriosis yang tidak terlalu parah.

Suntikan medroxyprogesterone (Depo-Provera) juga efektif dalam menghentikan menstruasi. Cara ini menghentikan pertumbuhan implan endometrium dan mengurangi rasa sakit serta gejala lainnya.

Namun, cara ini mungkin bukan pilihan pertama karena risiko penurunan produksi tulang, penambahan berat badan, dan peningkatan insiden depresi pada beberapa kasus.

4. Gonadotropin-releasing Hormone (GnRH) Agonists and Antagonists

Terapi GnRH digunakan untuk memblokir produksi estrogen yang merangsang ovarium.  Estrogen adalah hormon yang bertanggung jawab untuk pengembangan karakteristik seksual wanita. Menghalangi produksi estrogen mencegah menstruasi dan menciptakan menopause buatan.

Terapi ini memiliki efek samping seperti kekeringan pada vagina dan rasa panas. Mengambil dosis kecil estrogen dan progesteron pada saat yang sama dapat membantu membatasi atau mencegah gejala-gejala ini.

5. Danazol

Danazol adalah obat lain yang digunakan untuk menghentikan menstruasi dan mengurangi gejala. Saat menggunakan danazol, penyakit ini dapat terus berkembang. Danazol dapat memiliki efek samping, termasuk jerawat dan hirsutisme. Hirsutisme adalah pertumbuhan rambut abnormal pada wajah dan tubuh.

6. Operasi Konservatif

Cara ini dilakukan untuk wanita yang ingin hamil, mengalami rasa sakit yang parah, atau perawatan hormon tidak bekerja. Selain itu, tujuan dari operasi konservatif adalah untuk menghilangkan atau menghancurkan pertumbuhan endometrium tanpa merusak organ reproduksi.

Laparoskopi, pembedahan invasif minimal digunakan untuk memvisualisasikan dan mendiagnosis endometriosis. Cara ini juga digunakan untuk mengangkat jaringan endometrium.

7. Histerektomi

Dokter dapat merekomendasikan histerektomi total sebagai upaya terakhir jika kondisi Anda tidak membaik dengan perawatan lain. Selama histerektomi total, seorang ahli bedah akan mengangkat rahim dan leher rahim.

Prosedur ini juga mengeluarkan ovarium karena organ-organ ini menghasilkan estrogen dan estrogen yang menyebabkan pertumbuhan jaringan endometrium.

Histerektomi biasanya tidak dianggap sebagai pengobatan atau penyembuhan untuk endometriosis. Jika Anda melakukan prosedur ini, maka Anda tidak akan bisa hamil. Jangan terburu-buru mengambil keputusan, pertimbangan lebih matang diperlukan sebelum menyetujui operasi ini jika Anda berpikir untuk memiliki keturunan.

 

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. Abdul Wadood Mohamed, Valencia Higuera and Matthew Solan. 2019. Endometriosis. https://www.healthline.com/health/endometriosis. (Diakses pada 28 November 2019).
  2. Smith, Lori, BSN, MSN, CRNP. 2018. What to know about endometriosis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/149109.php. (Diakses pada 28 November 2019).
  3. Endometriosis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/149109.php. (Diakses pada 28 November 2019).