Emfisema: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan dan Pencegahan

emfisema-doktersehat

DokterSehat.Com– Emfisema adalah penyakit paru-paru yang menyebabkan sesak napas. Baik emfisema dan bronkitis kronis termasuk ke dalam kategori penyakit paru-paru yang dikenal sebagai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Setelah berkembang, emfisema tidak dapat kembali ke keadaan semula atau kembali sehat. Penyakit ini dapat berkembang pada orang yang sudah bertahun-tahun merokok. Itulah sebabnya berhenti merokok atau tidak merokok adalah langkah yang sangat penting.

Emfisema adalah suatu kondisi yang mengakibatkan kerusakan pada dinding kantung udara (alveoli) paru-paru. Alveoli adalah kantung udara kecil, berdinding tipis, dan sangat rapuh yang terletak dalam kumpulan pada ujung tabung bronkial dalam paru-paru. Terdapat sekitar 300 juta alveoli di paru-paru normal.

Ketika menghirup udara, alveoli meregang, menarik oksigen ke dalam dan membawanya ke darah. Saat bernapas, alveoli menyusut, memaksa karbon dioksida keluar dari tubuh.

Saat penyakit emfisema berkembang, jaringan alveoli dan paru secara perlahan rusak. Kerusakan ini menyebabkan alveoli tidak dapat membantu saluran bronkial. Kemudian tubuh akan kolaps dan menyebabkan obstruksi (penyumbatan), yang menjebak udara di dalam paru-paru.

Terlalu banyak udara yang terperangkap di paru-paru dapat membuat seseorang sakit dada. Kondisi ini juga dapat terjadi karena alveoli lebih sedikit, oksigen lebih sedikit akan beralih ke aliran darah.

Penyebab Emfisema

Terdapat dua penyebab utama penyakit emfisema yang diketahui, di antaranya:

1. Merokok

Penggunaan tembakau menjadi penyebab emfisema yang utama. Hingga saat ini Dokter belum tahu persis mengapa merokok dapat merusak lapisan kantung udara, tetapi penelitian menunjukkan bahwa perokok enam kali lebih mungkin mengembangkan emfisema daripada perokok pasif.

Dokter juga tidak mengetahui  mengapa beberapa perokok terkena emfisema dan perokok yang lain tidak.

Saat ini tidak ada obat untuk penyakit emfisema, tetapi jika Anda perokok menderita penyakit ini, segeralah berhenti untuk membantu memperlambat kerusakan pada paru-paru Anda.

2. Kekurangan AAT

Alpha-1 antitrypsin (AAT) adalah protein alami yang bersirkulasi dalam darah manusia. Fungsi utama AAT adalah menjaga sel darah putih agar tidak merusak jaringan normal. Tubuh membutuhkan sel-sel ini untuk melawan infeksi.

Jika mengalami kekurangan AAT, sel darah putih normal akan merusak paru-paru, bahkan kondisinya akan memburuk jika tidak berhenti merokok. Kondisi ini menjadi penyebab emfisema.

Kebanyakan orang yang mengalami kekurangan AAT parah mengalami emfisema. Jika mengalami penyakit ini, Anda juga mungkin mengalami masalah hati.

Faktor Risiko Emfisema

Selain kedua penyebab emfisema di atas, berikut ini  beberapa faktor yang meningkatkan risiko mengalami emfisema:

1. Usia

Meskipun kerusakan paru-paru pada emfisema berkembang secara bertahap, kebanyakan penderita emfisema terkait penggunaan tembakau mulai mengalami gejala emfisema antara usia 40 hingga 60 tahun.

2. Perokok Pasif

Orang yang terpapar asap rokok (perokok pasif), asap rokok orang lain yang secara tidak sengaja terhirup. Kondisi lingkungan seperti ini dapat meningkatkan risiko emfisema.

Dokter telah lama mengamati bahwa berada di lingkungan yang banyak asap rokok dapat menyebabkan kerusakan paru-paru secara perlahan.

Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang terpapar asap rokok dalam jumlah banyak mungkin berisiko lebih tinggi terkena penyakit emfisema.

3. Terpapar Asap atau Debu

Jika menghirup asap dari bahan kimia tertentu atau debu dari kapas, kayu atau produk pertambangan, Anda lebih mungkin mengalami emfisema. Risikonya bahkan lebih tinggi jika Anda merokok.

Gejala Emfisema

Gejala utama dari emfisema adalah sesak napas dan batuk kronis. Gejala ini muncul di tahap awal penyakit. Biasanya, penderitanya mengalami sesak napas (dyspnea) atau tidak mampu bernapas.

Gejala emfisema ini mungkin terjadi hanya saat aktivitas fisik, tetapi ketika penyakit berkembang, emfisema juga dapat terjadi selama istirahat. Emfisema dan PPOK dapat berkembang selama beberapa tahun.

Pada tahap selanjutnya, penderita penyakit emfisema mungkin mengalami gejala berikut:

  1. Sering infeksi paru-paru
  2. Produksi banyak lendir
  3. Mengi
  4. Nafsu makan berkurang
  5. Penurunan berat badan
  6. Kelelahan
  7. Bibir atau lapisan kuku berwarna biru atau sianosis, karena kekurangan oksigen
  8. Kecemasan dan depresi
  9. Gangguan tidur
  10. Sakit kepala di pagi hari karena kekurangan oksigen, dan sulit bernapas di malam hari

Kondisi lainnya menimbulkan banyak gejala emfisema dan PPOK, jadi sangat penting untuk mendapatkan penanganan medis.

Tahapan Emfisema

Mengklasifikasikan tingkat keparahan emfisema menurut tahapannya dapat membantu penderita PPOK memahami penyakitnya dengan lebih baik dan membantu dokter membuat rekomendasi pengobatan yang lebih baik untuk pasien.

Berikut ini tahapan emfisema yang dapat menentukan pengobatan yang tepat:

1. Emfisema Ringan

Penderita emfisema ringan biasanya tidak menyadari bahwa fungsi paru-parunya mulai menurun. Sementara jika gejala emfisema belum tampak, biasanya tidak dikaitkan dengan penurunan fungsi paru-paru atau perkembangan penyakit.

2. Emfisema Sedang

Pada tahap ini, terjadi penyumbatan aliran udara ringan dan gejala-gejalanya mulai terlihat, terutama sesak napas bersamaan dengan batuk dan produksi lendir.

3. Emfisema Parah

Ketika penyakit berkembang ke tahap ini, penyumbatan aliran udara memburuk secara signifikan, sesak napas menjadi lebih kentara dan PPOK lebih sering terjadi. Mungkin juga karena terjadi penurunan toleransi aktivitas dan peningkatan kelelahan.

4. Emfisema Sangat Parah

Begitu penyakit mencapai tahap ini, kualitas hidup penderita emfisema mungkin sangat terganggu dan keparahan PPOK mungkin dapat mengancam jiwa. Penyumbatan aliran udara sangat parah dan sesak napas dapat terjadi bahkan saat istirahat.

Diagnosis Emfisema

Diagnosis emfisema tidak dapat dibuat hanya berdasarkan gejalanya. Beberapa tes digunakan untuk membuat diagnosis. Salah satu tes sederhana adalah dengan mengetuk dada dan mendengarkan menggunakan stetoskop untuk suara hampa pada dada. Jika ya, ini berarti udara terperangkap di paru-paru. Tes lain untuk mendiagnosis emfisema termasuk:

1. Sinar-X

Sinar-X biasanya tidak mampu mendeteksi tahap awal emfisema. Namun, sinar-X dapat membantu mendiagnosis kasus sedang atau berat. Baik hasil rontgen dada biasa atau CAT (computer-aided tomography) dapat digunakan. Setelah tes selesai, keterangannya dibandingkan dengan sinar-X paru-paru yang sehat atau normal.

2. Pulse Oximetry

Tes ini juga dikenal sebagai tes saturasi oksigen. Pulse oximetry atau oksimetri nadi digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah. Tes ini dilakukan dengan menempelkan monitor ke jari, dahi, atau daun telinga.

3. Spirometri dan Tes Fungsi Paru

Ini adalah salah satu tes yang paling berguna untuk memeriksa penyumbatan saluran napas. Spirometri atau tes fungsi paru mengetes volume paru-paru dengan mengukur aliran udara saat pasien menghirup dan mengembuskan napas.

Tes ini dilakukan dengan mengambil napas dalam-dalam dan meniupkan ke dalam tabung yang terhubung ke mesin khusus. Tes ini dibandingkan dengan hasil normal antar-orang dari jenis kelamin yang sama, usia, tinggi, berat badan dan latar belakang etnis.

4. Arterial Blood Gas (ABG)

Arterial blood gas (ABG) atau analisa gas darah ini mengukur jumlah oksigen dan karbon dioksida dalam darah dari arteri. Tes ini sering digunakan karena emfisema memburuk, dan cara ini ini sangat membantu dalam menentukan apakah pasien membutuhkan oksigen tambahan.

5. Elektrokardiogram (EKG)

EKG dapat memeriksa fungsi jantung dan digunakan untuk mengobati penyakit jantung sebagai penyebab sesak napas.

Baca juga: Beberapa Mitos Tentang Penyebab Paru-Paru Basah

Prognosis Emfisema

Belum ada obat untuk emfisema, tetapi kondisinya dapat dikendalikan. Penderita emfisema ringan yang berhenti merokok memiliki harapan hidup dengan normal.

Penderita emfisema yang menjalani kebiasaan hidup sehat dengan baik dapat menikmati gaya hidup normal untuk waktu yang lama. Bahkan penderita emfisema parah memiliki peluang untuk bertahan hidup selama lima tahun atau lebih.

Jika orang dengan emfisema terus merokok, secara perlahan akan meningkatkan keparahan penyakitnya. Kebiasaan buruk ini dapat mengurangi rentang hidup 10 tahun atau lebih.

Komplikasi Emfisema

Orang yang menderita emfisema juga lebih mungkin dapat mengalami beberapa kondisi berikut:

1. Paru-Paru Kolaps (Pneumotoraks)

Paru-paru yang kolaps dapat mengancam jiwa pada penderita emfisema berat, karena fungsi paru-parunya sudah sangat terganggu. Kondisi ini tidak biasa tetapi serius ketika terjadi.

2. Masalah Jantung

Emfisema dapat meningkatkan tekanan di arteri yang menghubungkan jantung dan paru-paru. Ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut cor pulmonale – gagal jantung sisi kanan karena terjadi dalam ventrikel kanan jantung.

3. Lubang Besar di Paru-Paru (Bula)

Beberapa penderita emfisema mengembangkan ruang kosong di paru-paru yang disebut bula. Paru-paru berlubang bisa sebesar setengah paru-paru. Selain mengurangi jumlah ruang yang tersedia bagi paru untuk mengembang, bula besar dapat meningkatkan risiko pneumotoraks.

Perawatan Emfisema di Rumah

Jika menderita emfisema, berikut sejumlah langkah yang bisa dilakukan di rumah untuk menghentikan perkembangannya dan mencegah komplikasi:

1. Berhenti Merokok

Ini adalah langkah paling penting yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan dan satu-satunya yang mungkin menghentikan perkembangan emfisema.

Dapatkanlah bantuan konseling tentang bagaimana cara berhenti merokok. Anda juga bisa meminta bantuan keluarga atau teman agar terhindar dari kecanduan merokok.

2. Hindari Polusi Udara

Paparan polusi seperti asap dari knalpot kendaraan, asap dari masakan, parfum tertentu, bahkan lilin dan dupa yang terbakar dapat mengiritasi pernapasan. Solusinya adalah menggunakan filter pendingin udara secara teratur untuk membatasi polutan.

3. Berolahraga Secara Teratur

Meski pernapasan bermasalah, usahakan berolahraga secara teratur karena secara signifikan dapat meningkatkan kapasitas paru-paru Anda.

4. Hindari Udara Dingin

Udara dingin menyebabkan kejang pada saluran bronkial, mengakibatkan lebih sulit untuk bernapas. Selama cuaca dingin, gunakan syal lembut atau masker udara dingin (tersedia di apotek) sebelum pergi ke luar, untuk menghangatkan udara yang memasuki paru-paru.

5. Dapatkan Vaksinasi yang Dianjurkan

Pastikan untuk mendapatkan vaksinasi flu dan vaksinasi pneumonia tahunan seperti yang disarankan oleh dokter Anda.

6. Cegah Infeksi Saluran Pernapasan

Cara yang terbaik adalah menghindari kontak langsung dengan penderita pilek atau flu. Jika mengharuskan Anda berinteraksi dengan banyak orang selama musim dingin dan flu, pakai masker wajah, cuci tangan sesering mungkin dan bawa pembersih tangan berbahan dasar alkohol untuk digunakan ketika dibutuhkan.

Baca juga: 11 Cara Membersihkan Paru-Paru Perokok yang Alami

Pengobatan Emfisema

Emfisema bersifat irreversibel (tidak dapat kembali seperti semula) dan progresif seiring waktu, dan penanganan emfisema hanya dapat memperlambat perkembangan penyakit dan memperbaiki gejalanya. Beberapa pengobatan emfisema di antaranya:

1. Obat-Obatan

Tidak ada obat yang terbukti berhasil memperlambat penurunan fungsi paru-paru pada penderita emfisema. Tetapi, obat-obatan digunakan hanya untuk membantu meningkatkan toleransi olahraga, mengurangi kondisi PPOK yang memburuk, dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Obat yang digunakan untuk menstabilkan PPOK seperti bronkodilator, glukokortikoid, dan antibiotik untuk infeksi.

2. Terapi Oksigen

Pengobatan emfisema ini dapat diberikan secara terus menerus, selama aktivitas, atau untuk meredakan sesak napas mendadak. Terapi oksigen jangka panjang lebih dari 15 jam per hari dapat dilakukan ketika penderita emfisema memiliki tingkat saturasi oksigen rendah selama PPOK lanjut (stadium IV).

Dokter akan meresepkan berapa banyak oksigen yang Anda butuhkan dan kapan harus mendapatkannya. Anda dapat mengambil oksigen tambahan dengan salah satu dari tiga cara berikut:

  • Konsentrator Oksigen

Perangkat ini menghilangkan gas-gas lain dari udara dan memberi Anda oksigen yang nyaris murni. (Udara biasanya mengandung 21% oksigen).

  • Liquid System

Ini sangat dingin, oksigen murni disimpan dalam tabung yang terlihat seperti termos.

  • Tabung Oksigen

Tabung ini mengandung 100% oksigen, disimpan di bawah tekanan tinggi dalam wadah seperti tangki berukuran kecil.

4. Rehabilitasi Paru

Ada banyak manfaat rehabilitasi paru, program interdisipliner yang harus berlangsung setidaknya enam minggu. Beberapa manfaat bagi penderita emfisema adalah dapat meningkatkan toleransi olahraga, mengurangi gejala, dan mengurangi waktu rawat inap.

5. Imunisasi

Anda harus mengikuti perkembangan imunisasi, terutama vaksin flu dan vaksin pneumonia, dapat membantu mencegah infeksi yang dapat memperburuk penyakit.

7. Operasi Paru

Operasi pengurangan volume paru-paru untuk mengangkat jaringan yang rusak parah mungkin bermanfaat bagi beberapa orang penderita emfisema berat, terutama bagi yang memiliki penyakit yang sebagian besar melibatkan lobus atas.

Bullectomy dapat dilakukan pada pasien yang memiliki lubang atau bula besar pada paru-paru. Pertimbangan lainnya adalah transplantasi paru-paru.

8. Operasi

Ada sejumlah jenis operasi yang berbeda untuk kasus emfisema yang lebih serius, di antaranya:

  • Lung Volume Reduction Surgery (LVRS)

Dalam prosedur ini, ahli bedah akan mengangkat jaringan paru-paru. Tujuannya adalah mengeluarkan kantung udara yang tidak berfungsi untuk memudahkan bernapas.

Pengobatan emfisema ini adalah operasi besar, jadi jantung Anda harus kuat dan sisa paru-paru harus sehat. Anda juga harus berhenti merokok dan menyelesaikan program rehabilitasi paru sebelum operasi.

  • Bullectomy

Dalam kasus yang jarang terjadi, kantung udara yang besar (bula) di paru-paru akibat emfisema tumbuh lebih besar dapat menekan bagian paru-paru yang sehat. Bullectomy adalah prosedur operasi untuk mengangkatnya.

  • Transplantasi Paru

Pengobatan emfisema berikutnya dimungkinkan untuk kasus yang paling parah. Transplantasi paru adalah operasi yang dilakukan selama 6 hingga 10 jam, setelah itu Anda akan istirahat di rumah sakit selama 8 hingga 21 hari – jika tidak ada komplikasi.

Dua risiko terbesar dari operasi ini adalah infeksi dan penolakan organ yang ditransplantasikan.

Pencegahan Emfisema

Menghindari atau berhenti merokok adalah cara terbaik untuk mencegah emfisema atau meredakan, di antaranya:

1. Vaksin

Vaksin dapat membantu mencegah PPOK dan emfisema memburuk. Imunisasi influenza tahunan diperlukan, dan imunisasi pneumonia lima tahunan dapat dianjurkan.

2. Nutrisi

Berkurangnya kapasitas paru-paru menyebabkan permintaan energi lebih tinggi pada aktivitas sehari-hari, sehingga penderita emfisema berisiko mengalami penurunan berat badan dan kekurangan gizi.

Orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas akan mengalami menurunkan berat badan akibat emfisema, kondisi ini juga dapat menyebabkan kesehatan yang buruk.

Jadi, menerapkan pola makan sehat dengan banyak makan buah-buahan segar, sayuran, dan biji-bijian serta asupan rendah lemak dan gula adalah langkah yang sangat penting.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

 

Sumber:

  1. Emphysema. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9370-emphysema. (Diakses 21 Oktober 2019)
  2. What Are the Treatments for Emphysema?. https://www.webmd.com/lung/copd/emphysema-stages-and-prognosis#1. (Diakses 21 Oktober 2019)
  3. Emphysema Stages. https://www.inogen.com/blog/emphysema-stages/. (Diakses 21 Oktober 2019)
  4. Emphysema. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/emphysema/symptoms-causes/syc-20355555. (Diakses 21 Oktober 2019)
  5. Eldridge, Lynne. 2019. An Overview of Emphysema. https://www.verywellhealth.com/what-is-emphysema-2249091#treatment. (Diakses 21 Oktober 2019)
  6. Emphysema. https://www.drugs.com/health-guide/emphysema.html. (Diakses 21 Oktober 2019)
  7. Tidy, Colin. 2018. Emphysema. https://patient.info/chest-lungs/chronic-obstructive-pulmonary-disease-leaflet/emphysema#nav-7. (Diakses 21 Oktober 2019)