Terbit: 2 September 2020 | Diperbarui: 3 September 2020
Ditulis oleh: dr. Monica Djaja Saputera | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Emboli air ketuban adalah kondisi air ketuban yang masuk dan bercampur ke peredaran darah ibu hamil. Ketahui penjelasan lengkap mulai dari gejala, penyebab, siapa saja yang berisiko, hingga cara mengatasinya!

Emboli Air Ketuban: Penyebab, Gejala, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Emboli Air Ketuban?

Emboli air ketuban adalah suatu komplikasi dari kehamilan yang ditemukan pertama kali oleh Ricardo Meyer pada tahun 1926. Pada keadaan normal, air ketuban diproduksi dan ditampung dalam sebuah kantung yang disebut kantung ketuban. Fungsi dari air ketuban adalah untuk melindungi janin selama masa kehamilan.

Pada kondisi emboli air ketuban, air ketuban akan masuk ke dalam sirkulasi ibu. Hal ini umumnya terjadi saat proses persalinan atau sesaat setelah proses persalinan selesai.

Gejala Emboli Air Ketuban

Trias dari emboli air ketuban adalah hipoksia (kekurangan oksigen) dan hipotensi (menurunnya tekanan darah) mendadak yang diikuti dengan adanya koagulopati (gangguan pembekuan darah, seperti DIC (Disseminated Intravascular Coagulation).

Berdasarkan tahapan kejadiannya, gejala emboli air ketuban adalah:

  • Fase 1: distres pernafasan yang ditandai dengan sesak nafas berat, sianosis, kolaps.
  • Fase 2: gangguan koagulopati, syok, perdarahan, gagal jantung kiri.
  • Fase 3: tanda cedera pada otak, paru-paru, dan ginjal yang dapat menyebabkan kematian.

Gejala lain yang juga dapat muncul adalah perubahan kesadaran, kejang, demam, nyeri kepala, mual, muntah. Sedangkan pada janin, emboli air ketuban dapat menyebabkan terjadinya gawat janin.

Penyebab Emboli Air Ketuban

Hingga saat ini penyebab pasti kondisi ini masih belum jelas dan simpang siur. Beberapa teori yang diduga dapat menjadi penyebabnya, yaitu:

  1. Adanya sumbatan mekanik sekunder pada sirkulasi ibu
  2. Rusaknya lapisan penghalang antara air ketuban dengan sirkulasi ibu
  3. Terbukanya pembuluh darah pada plasenta atau mulut rahim

Siapa Saja yang Berisiko Mengalami Emboli Air Ketuban?

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan emboli air ketuban berdasarkan kondisi ibu dan janin adalah:

1. Kondisi ibu

  • Usia Ibu Hamil >35 Tahun

Berdasarkan beberapa studi sebelumnya, dilaporkan bahwa ibu hamil yang berusia lebih dari 35 tahun dapat meningkatkan risiko dari kondisi ini.

  • Abnormalitas Plasenta: Plasenta Previs dan Abrupsio Plasenta

Plasenta previa adalah posisi plasenta yang menutupi sebagian atau seluruh mulut rahim. Sedangkan abrupsio plasenta adalah lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum proses persalinan. Kedua kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan pelindung air ketuban dengan ibu hamil, yang akan meningkatkan risiko.

  • Robekan pada Rahim atau Serviks

Kondisi ini berisiko menyebabkan terjadinya kerusakan lapisan pelindung air ketuban dengan ibu hamil yang akan meningkatkan risiko.

  • Induksi Persalinan

Beberapa studi melaporkan bahwa induksi persalinan dapat meningkatkan risiko. Namun, kondisi ini masih menjadi perdebatan dan masih terus diteliti untuk memastikan apakah benar induksi persalinan dapat meningkatkan risiko atau tidak.

  • Polihidramnion

Polihidramnion adalah kondisi dimana produksi air ketuban berlebih. Kondisi ini dianggap dapat meningkatkan risiko.

  • Persalinan dengan Alat Bantu

Persalinan caesar atau normal dengan alat bantu seperti vakum berisiko untuk merusak lapisan pelindung air ketuban dengan ibu hamil yang akan meningkatkan risiko.

  • Preeklampsia

Preeklampsia adalah hipertensi yang terjadi pada saat kondisi hamil (usia kehamilan >20 minggu) yang disertai dengan adanya gangguan organ. Kriteria diagnosis preeklampsia adalah tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg atau diastolik lebih dari 90 mmHg disertai dengan adanya protein urin positif pada tes urin dipstik. Kondisi preeklampsia pada ibu hamil dianggap dapat meningkatan risiko.

2. Kondisi Janin

Beberapa kondisi dari janin yang berisiko adalah kematian janin pada saat di kandungan, gawat janin, dan meconium dari janin. Adanya material atau cairan yang berasal dari janin (seperti meconium, lanugo, dll) yang terkandung di air ketuban dilaporkan dapat meningkatkan risiko.

Diagnosis Emboli Air Ketuban

Diagnosis kondisi ini umumnya berdasarkan gejala klinis yang ditemukan. Kemudian untuk pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang menyertai, seperti

Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah:

  1. Laboratorium, dilakukan untuk melihat adanya bukti gangguan pembekuan darah seperti DIC
  2. EKG, dilakukan untuk melihat adanya gambaran gagal jantung kanan, atau penyakit jantung lainnya
  3. Foto rontgen dada, dilakukan untuk menyingkirkan adanya tanda spesifik dari paru-paru atau jantung
  4. Ekokardiografi transtorasik atau transesofagus, dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya emboli atau thrombus intrakardiak

Menurut Stafford, et al., diagnosis emboli air ketuban ditegakkan bila keluhan muncul saat persalinan normal atau SC, atau 30 menit setelah proses persalinan. Beberapa keluhan tersebut adalah:

  • Hipotensi akut dan atau henti jantung
  • Hipoksia akut yang ditandai dengan adanya sesak nafas, sianosis, dana tau henti nafas
  • Koagulopati atau perdarahan berat tanpa penyebab

Cara Mengatasi Emboli Air Ketuban

1. Mempertahankan Oksigenasi Tubuh

Tujuan dari pemberian oksigen adalah untuk mempertahankan oksigenasi organ yang adekuat pada ibu, seperti otak, jantung, paru-paru, dll. Sedangkan pada janin, oksigenasi yang adekuat diperlukan untuk menjaga kestabilan janin, terutama pada kondisi gawat janin. Oksigen dapat diberikan melalui masker oksigen, selang endotrakeal atau alat bantu nafas jika memang diperlukan.

2. Melakukan Proses Persalinan

Persalinan yang direkomendasikan adalah persalinan normal karena dianggap lebih aman dibandingkan persalinan SC. Tetapi pada kondisi tertentu yang tidak memungkinkan persalinan normal, persalinan SC tetap dapat dilakukan.

3. Memperbaiki Sistem Sirkulasi

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem sirkulasi ibu adalah dengan melakukan pemberian cairan dan obat-obatan inotropik dan vasopresor, tindakan bedah, atau pijat jantung bila terjadi henti jantung.

4. Kontrol Perdarahan

Mengontrol kontraksi dan tonus uterus dengan penggunaan obat-obatan seperti oksitosin, pemijatan rahim bimanual dapat mengurangi hilangnya darah pada perdarahan. Selain itu, pengangkatan rahim mungkin diperlukan bila perdarahan tidak berhasil dihentikan.

5. Koreksi Gangguan Koagulopati

Gangguan koagulopati DIC umumnya terjadi setelah satu jam sejak keluhan muncul. Pada DIC yang tidak disertai dengan adanya perdarahan, penanganan dilakukan dengan memberikan obat Heparin. Tetapi pada kasus dengan adanya perdarahan, transfusi darah lebih direkomendasikan.

Bagaimana Prognosisnya?

Meskipun tergolong langka, tetapi ibu hamil dengan emboli air ketuban umumnya memiliki prognosis yang buruk. Hal ini disebabkan oleh karena emboli air ketuban terjadi tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi sebelumnya. Kemudian pada janin, emboli air ketuban yang terjadi sebelum atau selama proses persalinan dapat mengancam nyawa hingga menyebabkan kematian.

Pencegahan Emboli Air Ketuban

Meskipun sulit diprediksi dan dicegah, beberapa cara yang dianggap mungkin dapat mencegah kejadian emboli air ketuban adalah:

  1. Melakukan penilaian gejala klinis sedini mungkin, disertai penanganan awal yang cepat dan tepat
  2. Menghindari sayatan pada plasenta selama proses melahirkan secara SC
  3. Mempertimbangkan dan menyesuaikan dosis yang sesuai pada penggunaan obat oksitosin yang merangsang kontraksi rahim
  4. Mengontrol kontraksi rahim yang berlebih dengan obat-obatan intravena seperti b-adrenergik atau magnesium sulfat

 

  1. Metodiev, Y., Ramasamy, P., Tuffnell, D. (2018) Amniotic Fluid Embolism. British Journal of Anaesthesia, 18(8), 234-8.
  2. Pacheco, L. D., Saade, G., Hankins, G. D. V., Clark, S. L. (2016) Amniotic Fluid Embolism: diagnosis and management. Society for Maternal Fetal Medicine Clinical Guideline, 9, B16-24.
  3. Rudra, A., Chatterjee, S., Sengupta, S., Nandi, B., Mitra, J. (2009) Amniotic Fluid Embolism. Indian Journal of Critical Medicine, 13(3), 129-35.
  4. Tan, A., McDonnel, N. (2010) Amniotic Fluid Embolism. Anaesthesia Tutorial of the week, 197, 1-7.
  5. Toy, H. (2009) Amniotic Fluid Embolism. European Journal of General Medicine, 6(2), 108-15.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi