Dermatitis Atopik: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

eksim-atopik-doktersehat

DokterSehat.Com – Di antara jenis-jenis penyakit kulit yang kerap menyerang, eksim atopik adalah salah satu jenis penyakit kulit kronis dan membutuhkan penanganan khusus untuk mengobatinya. Penyakit dermatitis atopik bisa terjadi mulai dari usia anak-anak, dan terus mengikuti hingga usia dewasa. Ketahui apa penyebab dan cara mengatasinya!

Apa Itu Dermatitis Atopik?

Eksim atopik adalah penyakit peradangan (inflamasi) kulit kronis yang ditandai dengan kulit kering, gatal, dan disertai ruam. Eksim atopik atau dermatitis atopik sering terjadi berbarengan rhinitis alergi dan asma, dan ketiga penyakit ini sering disebut dengan istilah ´trias atopik´.

Eksim atopik adalah penyakit kronis jangka panjang, di mana gejalanya bisa hilang, lalu kambuh kembali di kemudian hari. Faktor genetik memiliki peranan penting dalam penyebab eksim atopik.

Lebih dari 50% anak yang menderita eksim atopik, juga memiliki riwayat keluarga yang menderita salah satu dari trias atopik (eksim atopik, rhinitis alergi, dan asma).

Penyebab Dermatitis Atopik

Terjadinya mutasi gen Fillagrin yang utamanya berfungsi menjaga kelembaban kulit menjadi penyebab eksim atopik. Akibat fillagrin yang bermutasi, kulit menjadi kering dan menyebabkan rasa gatal yang sangat mengganggu.

Oleh karena rasa gatal yang berlebihan, orang dengan dermatitis atopik seringkali mempunyai kebiasaan menggaruk, yang menyebabkan kulit menjadi semakin tebal, gelap dan disertai dengan luka-luka lecet bekas garukan.

Lebih jauh, penyebab eksim atopik ini melibatkan interaksi antara faktor genetik dan lingkungan, di mana fillagrin yang rusak membuat immunoglobulin (IgE) meningkat dan berakibat pada respons berlebihan dari sistem imun tubuh terhadap sejumlah faktor pencetus (alergen).

Khusus eksim atopik pada bayi atau anak-anak, umumnya alergen berupa makanan,debu, atau bulu kucing. Sedangkan eksim atopik pada dewasa, selain makanan dan benda yang dapat dihirup, stres bisa jadi faktor pencetus terjadinya dermatitis atopik.

Faktor Risiko Eksim Atopik

Eksim atopik juga bisa disebabkan oleh sejumlah faktor risiko. Secara garis besar, faktor risiki eksim atopik (eksema) meliputi:

  • Riwayat keluarga yang memiliki trias atopik (Bisa ayah, ibu, atau keduanya)
  • Sosio-ekonomi, yakni eksim atopik justru lebih berisiko terjadi pada orang dari golongan ekonomi menengah ke atas dan tinggal di kota-kota besar
  • Tinggal di wilayah yang memiliki suhu rendah atau dingin (Bisa juga sering terpapar pendingin udara)

Ciri dan Gejala Eksim atau Dermatitis Atopik

Tanda dan gejala eksim atopik berbeda tergantung dari akut atau kronisnya penyakit tersebut. Eksim atopik disebut akut apabila penyakit ini baru terjadi, dan kronis apabila penyakit ini sudah berlangsung lama atau sering kambuh kembali.

Gejala dermatitis atopik berdasarkan dari lamanya penyakit ini berlangsung meliputi:

1. Dermatitis Atopik Akut

Eksim atopik akut adalah gejala awal dari eksim atopik. Jenis eksim atopik ini biasanya terjadi pada anak-anak, dengan persentase 15-20%. Namun bisa saja eksim atopik akut baru terjadi pada usia dewasa, dengan kemungkinan 1-3%.

Gejala dermatitis atopik akut berupa:

  • Ruam berwarna kemerahan
  • Timbul luka lecet
  • Luka pada kulit terlihat basah

2. Dermatitis Atopik Kronis

Eksim atopik yang tidak kunjung sembuh atau sering kambuh kembali, disebut juga eksim atopik kronis. Eksim atopik kronis umumnya merupakan eksim atopik pada dewasa, walaupun tak menutup kemungkinan usia anak-anak dapat mengalaminya.

Gejala dermatitis atopik kronis berupa:

  • Kulit kering dan seringkali bersisik
  • Kulit jadi lebih tebal dan gelap akibat garukan yang berulang
  • Disertai dengan krusta atau koreng dan luka-luka lecet bekas garukan

Perlu diketahui juga, titik munculnya eksim atopik juga sedikit banyak bergantung pada rentang usia dari penderitanya. Eksim atopik pada bayi umumnya terjadi di kedua pipi dan lengan atau kaki bagian luar, sedangkan eksim atopik pada dewasa terjadi pada area lipatan kulit, seperti leher dan lipatan siku dan lipatan paha.

Selain itu, eksim atopik adalah penyakit kulit bilateral, artinya gejala yang muncul seringkali terjadi di dua sisi tubuh yang berpasangan, seperti kedua lipat siku secara bersamaan.

Kulit yang terkena eksim atopik sangat rentan terhadap infeksi bakteri sekunder, yang dapat ditandai dengan luka yang bernanah.

Baca Juga: Lichen Planus: Penyebab, Ciri, Diagnosis, Pengobatan

Diagnosis Eksim atau Dermatitis Atopik

Apabila Anda mengalami gejala eksim atopik sebagaimana telah disebutkan di atas, segera kunjungi dokter spesialis kulit agar bisa dilakukan prosedur diagnosis eksim atopik guna menentukan metode pengobatan yang tepat untuk mengobati eksim atopik yang diderita.

Prosedur diagnosis eksim atopik meliputi:

1. Anamnesis

Dokter akan mengajukan serangkaian pertanyaan (anamnesis) kepada pasien terkait keluhan yang dirasakan:

  • Sudah berapa lama menderita eksim atopik?
  • Apakah eksim atopik berulang?
  • Apakah ada riwayat keluarga yang mengidap trias atopik?
  • Apakah sering terpapar debu dan sebagainya?
  • Makanan apa saja yang sering dikonsumsi?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah melakukan wawancara, selanjutnya dokter akan menegakkan prosedur pemeriksaan fisik, dalam hal ini memeriksa kondisi kulit pasien secara keseluruhan dengan berlandaskan pada gejala umum eksim atopik.

3. Pemeriksaan Penunjang

Dokter juga mungkin saja akan menegakkan prosedur pemeriksaan penunjang berupa tes tempel (patch test) untuk mengetahui faktor pemicu (alergen) reaksi eksim atopik. Hal ini penting guna mencegah gejala eksim atopik timbul lagi di kemudian hari.

Namun, prosedur ini dilakukan 1-2 minggu setelah pemeriksaan pertama, atau saat gejala eksim atopik sudah hilang pasca pemberian obat-obatan.

Pengobatan Eksim Atopik

Pengobatan dermatitis atopik harus disesuaikan dengan gejala eksim atopik yang menyertai. Ada beberapa jenis obat eksim atopik yang akan diberikan oleh dokter guna meredakan gejala yang timbul.

Pada gejala eksim atopik berupa kulit kering, dokter akan menyarankan pasien untuk menggunakan pelembab (moisturizer) hipoalergenik non-fragrance untuk menjaga agar kulit tetap lembab.

Setelah itu, pasien diminta untuk mengonsumsi obat antihistamin untuk meredakan gejala gatal. Ada 2 (dua) golongan obat antihistamin, yaitu:

  • Antihistamin generasi pertama (Clemastine, Chlorphenamine, Alimemazine, Hidroxyzine)
  • Antihistamin generasi kedua (Loratadine, Cetirizine, Fexofenadine)

Selain antihistamin, penderita eksim atopik juga akan diberikan obat antiinflamasi berupa steroid. Steroid sendiri tersedia dalam 2 (dua) varian, yakni oles (topical) dan minum (oral).

Obat eksim atopik topikal terdiri dari:

  • Potensi rendah (Hidrokortison), biasanya khusus untuk eksim atopik pada bayi dan anak-anak, atau jika eksim terjadi pada bagian kulit tipis
  • Potensi tinggi (Klobetasol, Bethametasone dipropionate), biasanya dikhususkan untuk eksim atopik pada dewasa dan titik eksim berada di bagian kulit yang tebal

Terakhir, untuk penderita eksim atopik yang sudah terinfeksi bakteri sehingga timbul ruam bernanah pada kulitnya, pemberian antibiotik mutlak dilakukan untuk mengobati infeksi yang terjadi. Kompres kasa yang telah dibasahi air hangat dilakukan apabila ruam dalam kondisi basah (eksim atopik akut).

Pencegahan Eksim Atopik

Dermatitis atopik adalah penyakit keturunan (genetik) yang tidak bisa benar-benar disembuhkan. Pemberian obat-obatan hanya akan meredakan gejala yang timbul. Namun, ada sejumlah langkah pencegahan eksim atopik guna menecegah gejala yang lebih parah timbul kembali di kemudian hari.

Beberapa cara mencegah eksim atopik atau dermatitis atopik adalah:

  • Menghindari konsumsi makanan pemicu alergi (alergen)
  • Menghindari paparan debu maupun bulu binatang
  • Menghindari paparan pendingin udara (AC)
  • Menggunakan sabun khusus bayi
  • Menggunakan pakaian berbahan katun yang lebih cepat menyerap keringat

Itu dia informasi mengenai eksim atopik yang perlu diketahui. Sebagai penutup, harus dipahami bahwa eksim atopik bukanlah penyakit menular. Jadi, jangan sungkan untuk berdekatan dengan penderita penyakit ini. Alih-alih demikian, berilah dukungan pada mereka agar tidak minder dengan kondisi yang dialami, terutama jika ini terjadi pada anak Anda. Semoga bermanfaat!

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Patricia Aulia