Terbit: 9 Maret 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Ejakulasi dini menjadi momok bagi kaum pria dalam berhubungan seksual. Kondisi ini mungkin menyebabkan rasa tidak percaya diri dalam memuaskan pasangan. Lantas apa penyebab dan bagaimana cara mengatasinya? Selengkapnya simak penjelasannya di bawah ini.

Ejakulasi Dini: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa Itu Ejakulasi Dini?

Ejakulasi dini adalah ketika pria mencapai orgasme (mengeluarkan sperma) dan berejakulasi terlalu cepat tanpa kontrol. Dengan kata lain, ejakulasi terjadi sebelum pria menginginkannya. Kondisi ini kemungkinan terjadi sebelum atau setelah memulai foreplay atau hubungan seksual. Beberapa pria mengalami banyak kesulitan pribadi karena kondisi ini.

Sebanyak satu dari lima pria mengalami kesulitan dengan ejakulasi dini atau tidak terkontrol. Ketika pria sering tidak mampu mempertahankan ereksi, ini akan mengganggu kenikmatan seksual bersama pasangannya. Beberapa faktor dapat menjadi penyebabnya seperti stres, depresi, dan faktor-faktor lainnya yang memengaruhi kesehatan mental dan emosional.

Gejala Ejakulasi Dini

Bentuk ejakulasi dini yang lebih persisten, primer atau seumur hidup, ditentukan oleh tiga ciri-ciri berikut ini:

  • Tidak dapat mempertahankan ereksi hampir selalu terjadi sebelum mendapatkan penetrasi seksual, atau sekitar satu menit penetrasi.
  • Ketidakmampuan pria untuk menunda ejakulasi.
  • Konsekuensi pribadi negatif muncul, seperti masalah dan frustrasi, atau menghindari keintiman seksual.

Sementara gejala psikologis yang dapat menyertai ejakulasi dini adalah:

  • Kepercayaan diri menurun dalam berhubungan seks
  • Kesulitan interpersonal (komunikasi antar-pasangan)
  • Tekanan mental
  • Gelisah
  • Merasa malu
  • Depresi

Pria yang mengalami ejakulasi terlalu dini dapat mengalami tekanan psikologis, tetapi berdasarkan satu penelitian terhadap 152 pria dan pasangannya, menunjukkan bahwa pasangannya cenderung kurang khawatir tentang ejakulasi dini daripada pria yang mengalami masalah ejakulasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Konsultasikan dengan dokter tentang ejakulasi lebih cepat dari yang diinginkan ketika berhubungan seksual. Meski ada rasa malu, tetapi penting untuk mendiskusikan masalah kesehatan seksual dengan dokter. Jangan khawatir, ejakulasi dini adalah masalah umum dan dapat diobati.

Berkonsultasi dengan dokter mungkin dapat membantu mengurangi kekhawatiran tentang kondisi ini. Misalnya, dokter meyakinkan bahwa ketidakmampuan menunda ejakulasi sesekali adalah kondisi normal dan bahwa waktu rata-rata dari awal hubungan seksual hingga ejakulasi adalah sekitar lima menit.

Penyebab Ejakulasi Dini

Beberapa faktor psikologis dan fisik dapat menyebabkan pria mengalami masalah seksual yang satu ini, berikut di antaranya:

1. Penyakit

Masalah seksual pada pria ini dapat disebabkan oleh kondisi medis yang lebih serius dalam beberapa kasus. Penyakit ini termasuk tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, dan multiple sclerosis.

Penyakit prostat dan hipotiroidisme (memiliki kelenjar tiroid yang kurang aktif) juga dapat mengurangi durasi ereksi pria.

2. Kepekaan atau Sensitivitas Penis yang Berlebihan

Penyebab ejakulasi dini dapat diakibatkan oleh sensitivitas penis yang berlebihan pada sebagian pria. Demi membantu memecahkan masalah ini gunakan krim anestesi atau kondom yang lebih tebal dapat membantu memperpanjang hubungan intim karena mengurangi tingkat stimulasi.

Jika telah mengalaminya sejak awal memasuki dunia seks, kemungkinan kepekaan yang berlebihan. Sementara jika mulai mengalaminya setelah sering melakukan hubungan seks, ini lebih cenderung karena stres atau masalah medis.

3.  Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis seperti stres, depresi, dan kecemasan adalah penyebab yang sangat umum terjadi pada pria. Terutama pada pria muda, kurang pengalaman dan kecemasan dalam kemampuan seksual dapat menentukan berapa lama ereksi bertahan. Trauma sebelumnya atau pengalaman seksual negatif juga dapat menjadi penyebab.

4. Narkoba dan Alkohol

Alkohol dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang tidak hanya dapat menyebabkan disfungsi ereksi tetapi juga diketahui menyebabkan ejakulasi dini.

Anda harus menghindari terlalu banyak minum alkohol atau obat-obatan terlarang, dan menghindari zat ilegal jika mengalami masalah dengan ereksi.

5. Disfungsi Ereksi

Pria yang merasa cemas tentang mempertahankan ereksi selama berhubungan seksual mungkin dapat membentuk kebiasaan segera untuk ejakulasi.

Diagnosis Ejakulasi Dini

Ejakulasi dini adalah masalah seksual yang dapat didiagnosis berdasarkan gejala pada masing-masing pria. Untuk memahami masalahnya, dokter perlu mendiskusikan riwayat seksual pasien dengan pasangan. Keluhannya diungkapkan dengan jujur dan terbuka. Semakin banyak dokter tahu tentang kondisi pasien, semakin mudahkan dokter dapat membantu.

Selain itu dokter mungkin akan memeriksa kondisi fisik pasien, seperti memeriksa prostat atau melakukan tes neurologis (tes sistem saraf) untuk menentukan apakah ada masalah fisik yang dapat menyebabkan ketidakmampuan menunda ejakulasi.

Cara Mengatasi Ejakulasi Dini

Masalah ejakulasi dapat terjadi pada semua pria, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan pria untuk mengatasinya:

  • Melakukan senam kegel secara rutin. Senam kegel bermanfaat untuk meningkatkan otot pelvis bawah. Jika otot ini kuat, kemungkinan dapat mengurangi risiko masalah ejakulasi.
  • Menghindari stres dan kelelahan yang berlebihan.
  • Menjaga kesehatan penis setiap hari dan rutin memeriksakannya ke dokter. Jika rutin dilakukan, peluang mengalami gangguan seperti ejakulasi akan rendah.
  • Rutin melakukan olahraga setiap hari.
  • Menjaga pola makan sehat.

Selain kiat-kiat di atas, berikut ini cara mengatasi ejakulasi dini yang bisa Anda laukan secara mandiri di rumah:

1. Metode Start dan Stop

Metode ini bertujuan untuk mengendalikan ejakulasi. Baik pria maupun pasangannya, berhentilah (stop) stimulasi seksual pada titik ketika Anda akan mengalami orgasme, dan lanjutkanlah (start) begitu sensasi orgasme telah mereda.

2. Metode Jelqing

Cara mengatasi ejakulasi dini ini mirip seperti masturbasi, Anda hanya memeras ujung penis dengan lembut atau bisa dilakukan oleh pasangan selama 30 detik sebelum memulai kembali stimulasi.

Anda dapat melakukan cara ini sebanyak tiga kali atau empat kali sebelum membiarkan penis ejakulasi. Ingat, lakukan ketika penis dalam keadaan setengah ereksi.

Mengatasi Ejakulasi Dini dengan Obat Topikal

Beberapa terapi topikal dapat digunakan pada penis sebelum melakukan hubungan seks, dengan atau tanpa kondom. Krim anestesi lokal ini dapat mengurangi stimulasi.

Contoh obat ejakulasi dini termasuk lidokain atau prilokain, yang dapat meningkatkan waktu ereksi sebelum ejakulasi.

Namun, sering menggunakan anestesi dapat menyebabkan efek samping tertentu, maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakannya.

Komplikasi Ejakulasi Dini

Ketidakmampuan menunda ejakulasi dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan pribadi pada pria, termasuk:

  • Stres dan masalah dalam hubungan
  • Masalah kesuburan

Cara Mencegah Ejakulasi Dini

Sebenarnya belum ada cara yang bisa dilakukan untuk pencegahan. Namun, Anda harus mempertimbangkan anjuran berikut:

  • Mempertahankan praktik seks yang sehat. Jika Anda mengalami perasaan cemas, merasa bersalah atau frustrasi terhadap kehidupan seks Anda, pertimbangkan untuk mencari bantuan psikoterapi atau terapi seksual.
  • Perlu diingat bahwa siapa pun dapat mengalami masalah seksual. Jika Anda tidak mampu menunda ejakulasi ketika berhubungan seks, cobalah untuk tidak menyalahkan diri Anda. Ini akan mencegah stres atau depresi.

 

  1. Mayo Clinic Staff. 2018. Premature ejaculation. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premature-ejaculation/symptoms-causes/syc-20354900. (Diakses 9 Maret 2020)
  2. What Is Premature Ejaculation?. https://www.webmd.com/men/what-is-premature-ejaculation#1. (Diakses 9 Maret 2020)
  3. MacGill, Markus. 2017. How to treat premature ejaculation. https://www.medicalnewstoday.com/articles/188527. (Diakses 9 Maret 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi