Apakah Suplemen Testosteron Efektif Digunakan oleh Pria?

suplemen-testosteron-doktersehat

DokterSehat.Com – Testosteron adalah hormon seks pria yang memengaruhi tanda seks primer dan juga sekunder. Kalau kadar testosteron di dalam tubuh pria normal, gangguan fungsi seksual, reproduksi, dan fungsi organ lain yang ada di dalam tubuh bisa berjalan dengan lancar. Sebaliknya kalau testosteron anjlok, gangguan akan muncul dan menurunkan kualitas hidup pria.

Penurunan testosteron pada pria

Sejak pria menginjak usia remaja dan mengalami pubertas, jumlah testosteron di dalam tubuhnya meningkat dengan tajam. Peningkatan ini akan memengaruhi banyak aspek pada kehidupan pria khususnya yang berhubungan dengan tanda kelamin primer dan juga sekunder.

Setelah jumlah testosteron di dalam tubuhnya meningkat, pria akan mengalami beberapa perubahan pada tubuhnya. Perubahan paling terlihat jelas adalah mulai muncul kumis di wajah dan jenggot. Di area rambut kemaluan juga mulai muncul rambut tipis yang perlahan-lahan akan menebal dengan sendirinya.

Testis akan mengalami pembesaran ukuran dan mulai memproduksi sperma dalam jumlah banyak. Penis juga perlahan-lahan memanjang dan juga membesar dengan sendirinya. Sekali di kemaluan, perubahan juga akan terlihat di tubuh seperti kenaikan tinggi, perubahan suara, dan mulai tertarik dengan lawan jenis.

Meningkatnya level testosteron akan terus berjalan dengan cepat. Sayangnya peningkatan ini ada batasnya juga. Seorang pria tidak bisa memiliki kadar testosteron tinggi setelah mereka berusia 30 tahun. Kadar hormon seks akan menurun dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.

Penyebab penurunan testosteron pada pria

Selain masalah usia yang sudah berada di atas 30 tahun, ternyata ada beberapa hal lain yang menyebabkan penurunan hormon testosteron pada pria, berikut selengkapnya.

  1. Luka di testis

Testis adalah pusat produksi testosteron di tubuh pria sekaligus menghasilkan sperma. Kalau testis mengalami luka seperti saat jatuh terbentur tanah atau benda yang keras, kemungkinan besar akan menyebabkan masalah pada produksi hormon.

Kalau Anda pernah jatuh atau area selangkangan pernah tertendang dan ada perubahan pada libido, segera periksa ke dokter. Apalagi rasa nyerinya tidak kunjung reda dan semakin parah.

  1. Menjalani pengobatan kanker

Kanker atau tumor yang muncul di testis akan menyebabkan rasa nyeri yang sangat kuat. Biasanya testis akan membengkak dan mengganggu aktivitas seks pasangan. Pria yang mengalami gangguan ini biasanya sering sekali mengalami masalah saat ejakulasi.

Air mani yang keluar terdapat biasanya mengandung darah. Selain itu, fungsi dari testis juga akan anjlok perlahan-lahan. Akibatnya sperma yang dihasilkan tidak berkualitas dan testosteron yang dihasilkan juga rendah.

  1. Mengalami penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual ada banyak dan kalau sampai tidak ditangani dengan baik, virus, bakteri, atau patogen penyebabnya bisa mengalir hingga ke testis melalui pembuluh darah. Akhirnya organ ini akan mengalami infeksi dan fungsinya untuk menghasilkan testosteron akan anjlok.

Penyakit yang kemungkinan besar bisa menyebabkan masalah ini adalah HIV hingga gonore. Kalau testis sudah terkena serangan, efeknya akan sangat besar pada tubuh.

  1. Ada gangguan medis lain di testis

Gangguan medis lain di luar penyakit seksual adalah hidrokel dan varikokel. Dua kondisi ini menyebabkan masalah pada tubuh karena bisa membuat testis terganggu hingga kehilangan suplai aliran darahnya.

  1. Gaya hidup buruk dan kegemukan

Testosteron tidak hanya dipengaruhi oleh gangguan atau masalah kesehatan yang telah disebutkan di atas. Namun, dipengaruhi juga oleh kondisi tubuh. Pria yang memiliki gaya hidup buruk seperti sering merokok, mengonsumsi alkohol, hingga melakukan diet yang sembarangan.

Akibat gaya hidup yang buruk termasuk jarang berolahraga, akhirnya tubuh mengalami masalah berupa obesitas. Kondisi obesitas ini menyebabkan banyak masalah pada tubuh. Tidak hanya mampu menurunkan kesuburan pria, libidonya juga ikut anjlok lantaran testosteron yang terjun bebas.

Suplemen testosteron untuk pria dan efek samping

Pria yang mengalami penurunan jumlah testosteron di dalam tubuhnya masih bisa menggunakan suplemen. Sayangnya suplemen yang dianggap mampu menaikkan testosteron ini belum diketahui mampu mengatasi masalah seksual pria khususnya untuk jangka panjang.

Selain itu, menggunakan suplemen untuk meningkatkan jumlah testosteron juga memiliki banyak sekali efek samping. Nah, efek samping inilah yang membuat pria sangat was-was kalau ingin menggunakannya. Berikut beberapa efek samping yang bisa didapatkan oleh pria.

  • Gangguan tidur atau sleep apnea. Kondisi ini menyebabkan seorang pria tidak bisa mendapatkan istirahat yang nyaman dan berkualitas setiap malam.
  • Muncul banyak sekali jerawat di wajah.
  • Pembesaran payudara atau ginekomastia.
  • Pengerutan testis.

Cara mengatasi masalah testosteron secara alami

Penurun testosteron mungkin agak susah diwaspadai. Apalagi kalau berhubungan dengan masalah kesehatan. Namun, kita bisa meningkatkan hormon ini dengan alami memakai cara di bawah ini.

  • Tubuh membutuhkan banyak seng untuk menjaga jumlah dan kualitas dari testosteron. Anda bisa mendapatkan testosteron dadi suplemen atau hewan bercangkang seperti tiram.
  • Mendapatkan cukup asupan potasium. Mineral ini bisa didapatkan langsung dari pisang dan bayam.
  • Berusaha melakukan olahraga secara rutin sesuai dengan kemampuan dari tubuh.
  • Berusaha makan sesuatu yang sehat dan menghindari makanan yang berbahaya seperti terlalu banyak gula dan lemak.
  • Menjaga berat badan agar tidak mengalami obesitas. Seseorang yang mengalami obesitas sering sekali mengalami penurunan testosteron.
  • Lakukan istirahat dengan cukup setiap malamnya. Normalnya kita istirahat selama 7-9 jam.
  • Coba turunkan level stres yang dimiliki oleh tubuh. Lakukan relaksasi atau pelesir kalau merasa jenuh atau stres.

Inilah sedikit ulasan tentang testosteron dan pengaruh suplemen untuk mengembalikan level dari hormon tersebut. Nah, menurut Anda apa yang harus dilakukan oleh pria agar mereka bisa memiliki kadar testosteron yang normal dan tidak mengalami masalah dengan seks?