Terbit: 11 Februari 2020 | Diperbarui: 18 Mei 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Sebagai obat nyeri umum, paracetamol tentunya memiliki efek samping pemakaian. Ketahui apa saja efek samping dari paracetamol agar Anda dapat menggunakan obat ini dengan bijak.

efek-samping-paracetamol-doktersehat

Apa Itu Paracetamol?

Paracetamol (acetaminophen) adalah obat analgesik, yakni obat yang diformulasikan untuk meredakan rasa nyeri dalam tingkatan ringan hingga sedang. Tak hanya itu, obat paracetamol ini juga bersifat antipiretik yakni menurunkan demam.  Obat ini bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin, yakni senyawa yang berperan dalam menimbulkan rasa nyeri pada tubuh.

Obat paracetamol pun menjadi salah satu obat nyeri yang umum digunakan. Pasalnya, obat ini terbilang aman untuk dikonsumsi semua kalangan mulai dari anak bayi hingga orang dewasa. Bahkan, wanita hamil dan menyusui juga masih bisa mengonsumsi obat ini. Penggunaan obat pun umumnya tidak memerlukan resep dokter, melainkan hanya mengikuti dosis yang tertera pada kemasan.

Efek Samping Paracetamol

Kendati paracetamol tergolong aman untuk digunakan semua kalangan, bukan berarti obat ini tidak lepas dari yang namanya gejala efek samping. Pada beberapa orang, paracetamol bisa saja mengalami sejumlah efek samping, kendati kasusnya sangat jarang terjadi.

Berikut ini adalah gejala efek samping yang perlu Anda ketahui.

1. Efek Samping Umum

Kalaupun terjadi efek samping, maka efek samping paracetamol yang akan dialami adalah sebagai berikut:

  • Feses berwarna gelap
  • Urine berbusa (kadang juga disertai darah)
  • Penurunan volume urine
  • Demam
  • Kepala pusing
  • Sesak napas
  • Nyeri punggung bagian bawah/samping
  • Ruam pada kulit
  • Kulit gatal
  • Nyeri tenggorokan
  • Bintik putih pada bibir dan lidah
  • Perdarahan abnormal
  • Tubuh terasa lemah
  • Mata dan kulit berubah warna menjadi kekuningan

2. Efek Samping Overdosis

Apabila paracetamol dikonsumsi secara tidak tepat—dalam hal ini melebihi dosis yang telah ditetapkan alias overdosis—ada beberapa gejala yang mungkin timbul. Gejala efek samping paracetamol untuk kasus overdosis adalah sebagai berikut:

  • Mual
  • Muntah
  • Gangguan pencernaan (diare)
  • Peningkatan produksi keringat
  • Penurunan nafsu makan
  • Sakit perut/perut kram
  • Pembengkakan (disertai rasa nyeri) pada area abdomen bagian atas

Segera periksakan diri Anda ke dokter apabila mengalami satu atau beberapa dari gejala efek samping di atas guna dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut sebelum kondisi bertambah buruk yang mana hal ini bisa membahayakan tubuh.

Efek Samping Paracetamol dalam Jangka Panjang

Oleh karena obat ini dapat ditemukan dan digunakan dengan mudah, banyak orang—mungkin termasuk Anda salah satunya—yang lantas menjadi bergantung pada obat ini setiap kali rasa nyeri menyerang tubuh.

Sayangnya, para peneliti mulai menemukan potensi efek samping paracetamol dalam jangka panjang. Sebuah penelitian yang dirilis oleh British Journal of Clinical Pharmacol pada tahun 2018 silam menyebutkan bahwa penggunaan paracetamol mungkin akan menyebabkan gejala efek samping yang terbilang serius.

Menurut para peneliti yang terlibat dalam studi tersebut, obat ini berpotensi menimbulkan efek samping seperti:

  • Perdarahan lambung
  • Peningkatan tekanan darah
  • Penyakit jantung
  • Penyakit stroke
  • Gangguan pernapasan (asma)
  • Luka pada organ ginjal

Akan tetapi, potensi terjadinya efek samping tersebut sejatinya belum bisa dikatakan kuat dan masih hanya sebatas dugaan. Kalaupun di kemudian hari terbukti, kemungkinannya juga sangat kecil.

Kendati demikian, sebaiknya Anda juga harus tetap waspada akan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Alangkah baiknya jika Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker perihal bagaimana cara menggunakan obat ini secara tepat, terutama jika Anda memiliki potensi-potensi tidak dapat mengonsumsi obat tersebut.

Petunjuk Penggunaan Paracetamol yang Benar

Paracetamol memang obat yang terbilang aman untuk dikonsumsi. Bahkan, tingkat keamanan obat ini lebih baik daripada obat antiinflamasi non steroid (NSAID) yang juga kerap digunakan untuk mengatasi rasa nyeri pada tubuh. Walaupun demikian, penggunaan obat ini haruslah benar-benar tepat. Jika obat digunakan tidak pada porsinya, dampaknya bagi tubuh juga tidak baik.

Berikut ini adalah beberapa hal yang harus Anda perhatikan ketika hendak menggunakan obat paracetamol untuk meredakan nyeri.

1. Siapa Saja yang Boleh dan Tidak Boleh Mengonsumsi Paracetamol?

Obat ini dapat dikonsumsi oleh siapa saja mulai dari anak bayi, orang, dewasa, hingga wanita hamil dan menyusui sekalipun (tentunya dengan dosis yang berbeda-beda).

Sebaliknya, penggunaan obat Paracetamol pada beberapa orang dengan kondisi tertentu perlu mendapat perhatian khusus. Kondisi-kondisi yang dimaksud seperti:

  • Hipersensitivitas terhadap obat paracetamol atau obat golongan acetaminophen lainnya
  • Riwayat penyakit hati (liver)
  • Riwayat diabetes
  • Riwayat phenylketonuria (PKU)
  • Mengonsumsi minuman beralkohol

Perlu diperhatikan juga, obat ini dapat mengalir bersama air susu ibu (ASI). Anda yang sedang dalam periode menyusui sebaiknya bicarakan hal ini terlebih dahulu dengan dokter.

2. Dosis Paracetamol

Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk, namun yang paling umum digunakan adalah yang berupa tablet atau sirup oral. Penggunaan obat biasanya tidak memerlukan dosis dari dokter dan cukup mengikuti dosis yang tertera pada kemasan.

Berikut ini adalah dosis ideal paracetamol (oral):

Untuk mengatasi nyeri

  • Dewasa: 325 mg – 1 g, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (maksimal dosis tunggal 1000 mg, maksimal dosis per hari 4 g)
  • Anak-anak: 10-15 mg/kg berat badan, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (dosis tidak boleh lebih dari 5 kali sehari)
  • Anakanak usia 12 tahun ke atas: 325 mg – 1 g, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (maksimal dosis tunggal 1000 mg, maksimal dosis per hari 4 g)

Untuk menurunkan demam

  • Dewasa: 325 mg – 1 g, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (maksimal dosis tunggal 1000 mg, maksimal dosis per hari 4 g).
  • Anak-anak: 10-15 mg/kg berat badan, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (dosis tidak boleh lebih dari 5 kali sehari).
  • Anakanak usia 12 tahun ke atas: 325 mg – 1 g, diminum setiap 4 sampai 6 jam sekali (maksimal dosis tunggal 1000 mg, maksimal dosis per hari 4 g).

 

  1. Anonim. Paracetamol. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-57595/paracetamol-oral/details (Diakses pada 11 Februari 2020)
  2. Anonim. Paracetamol: Dosage. https://www.drugs.com/dosage/acetaminophen.html (Diakses pada 11 Februari 2020)
  3. Anonim. Paracetamol: Side Effects. https://www.drugs.com/sfx/paracetamol-side-effects.html (Diakses pada 11 Februari 2020)
  4. Anonim. Long-term risks of taking paracetamol may have been underestimated by clinicians. https://www.leeds.ac.uk/news/article/3669/long-term_risks_of_taking_paracetamol_may_have_been_underestimated_by_clinicians (Diakses pada 11 Februari 2020)
  5. McCrae, JC et al. 2018. Long-term adverse effects of paracetamol – a review. British Journal of Clinical Pharmacon. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29863746 (Diakses pada 11 Februari 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi