Terbit: 22 September 2019 | Diperbarui: 23 September 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Rambut yang muncul di ketiak tidak sama dengan rambut kepala. Rambut ini cenderung lebih ikal dan kadang kotor. Keringat yang banyak muncul di area ketiak membuat rambut jadi bercampur dengan kotoran dan akhirnya agak kusut dengan bau yang cukup khas. Biasanya pria yang keringatnya berlebihan berbau sangat asam.

Manfaat dan Efek Samping Mencukur Rambut Ketiak pada Pria

Alasan Pria Mencukur Rambut Ketiak

Beberapa pria yang sadar dengan bau pada tubuhnya biasanya membersihkan area ketiak dengan rutin tanpa menggunakan deodoran. Selanjutnya ada pria yang rajin menggunakan deodoran khususnya setelah mandi atau saat akan pergi keluar rumah. Terakhir, ada pria yang lebih memilih untuk mencukur rambut ketiak untuk alasan kebersihan dan estetika.

Apa yang dilakukan pria ini ada yang benar dan ada juga yang salah. Mencukur rambut di ketiak tidaklah salah. Namun, kalau mencukurnya dengan cara yang salah bisa saja memicu gangguan pada kulit. Oleh karena itu mencukurlah dengan cara yang benar agar tubuh menjadi lebih bersih dan tidak kena efek sampingnya.

Kalau Anda merasa ada masalah yang muncul setelah mencukur ketiak secara rutin, kemungkinan besar metodenya salah. Lakukan evaluasi agar jangan sampai terjadi luka atau masalah lain yang akan kita bahas di bawah ini.

Beberapa Manfaat Mencukur Ketiak pada Pria

Mencukur rambut ketiak memiliki banyak kelebihan, meski nanti akan dijelaskan kekurangannya. Dari membandingkan dua hal tersebut, Anda akan tahu mana saja yang sesuai dengan kondisi tubuh. Baiklah, mari kita uraikan dulu manfaat dari mencukur rambut ketiak di bawah ini.

  1. Suhu di Sekitar Ketiak Turun

Suhu di sekitar ketiak sering sekali naik saat rambut ketiak tumbuh dengan subur. Suhu ini akan membuat area ketiak jadi lembab dan akhirnya ketiak banyak sekali muncul. Kalau pria hanya berada di dalam ruangan mungkin tidak masalah. Namun, kalau pria bekerja di luar ruangan, ketiak akan mudah sekali basah.

Kalau Anda tidak mengalami masalah dengan suhu karena tidak sedang mengalami obesitas atau sejenisnya, pencukuran tidak perlu dilakukan. Cukup cuci dengan bersih setiap hari, terlebih saat hari sedang sangat berkeringat.

  1. Mencegah Aroma Tidak Sedap Muncul

Aroma tidak sedap sering sekali muncul pada beberapa pria yang mudah sekali berkeringat. Aroma ini tentu akan mengganggu orang lain yang ada di sekitar Anda sehingga Anda wajib memakai deodoran.

Sayangnya tidak semua orang suka menggunakan deodoran. Bahkan, ada beberapa orang yang malas atau tidak pernah melakukannya karena alergi. Itulah kenapa ada yang memilih untuk mencukur rambut di ketidaknya daripada aroma tubuh yang dimiliki jadi semakin parah.

  1. Memberikan Efek Estetika

Pria yang bekerja sebagai model dan memperlihatkan bentuk tubuhnya untuk alasan keindahan pasti sering mencukur rambut ketiak. Selain itu ada wanita yang mengharuskan pasangannya mencukur rambut ini saat bercinta.

Masalah estetika ini memang relatif pada beberapa orang. Kalau Anda dan pasangan merasa tidak perlu mencukurnya, tidak usah dicukur. Cukup dirawat dengan baik agar aromanya tidak parah.

  1. Sering Terasa Gatal

Keringat yang muncul dan bercampur menjadi satu dengan rambut membuat bakteri mudah sekali tumbuh. Dampaknya, rasa gatal dan iritasi bisa saja muncul kalau pria sering menggaruknya. Kalau pria terus menggaruknya, kemungkinan besar bisa mengalami luka lalu memicu terjadinya infeksi.

Efek Samping Mencukur Rambut Ketiak

Selain memiliki manfaat, mencukur rambut ketiak secara berlebihan bisa memberikan efek samping. Berikut efek samping dari mencukur rambut ketiak kalau dilakukan dengan salah.

  1. Kulit Ketiak Menghitam

Sering mencukur rambut ketiak khususnya dengan pisau cukur hingga habis akan menyebabkan iritasi dan infeksi di sana. Dua hal tersebut mungkin akan segera sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Namun, bekas infeksi itu menyebabkan kulit jadi menghitam.

Mencukur rambut ketiak boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu berlebihan. Pun saat mencukur harus memperhatikan kondisi kulit dan dengan teknik yang benar. Kalau memakai pisau cukur, pakailah krim cukur agar tidak melukai kulit dan akhirnya memicu perdarahan.

  1. Bisa Muncul Bisul

Kalau pria mencukur rambut ketiak lebih sering khususnya saat sedang berkeringat, kemungkinan infeksi tetap ada. Dampaknya, bisul akan muncul meski hanya beberapa buah saja. Bisul ini akan berisi nanah dan membentuk benjolan merah yang sakit.

Berhati-hatilah saat mencukur rambut di ketiak. Kalau Anda tidak bisa melakukannya sendiri bisa meminta bantuan pasangan. Setelah melakukan pencukuran, beri krim untuk memberikan efek dingin dan mencegah infeksi.

  1. Kulit Ikut Mengelupas

Beberapa pria lebih suka merapikan rambut ketiak dengan memotongnya dengan gunting dan tanpa mengeroknya. Sementara itu, ada juga yang langsung mengeroknya dengan pisau cukur sampai habis dan menyebabkan kulit bagian luar yang sensitif ikut terkelupas.

  1. Nyeri pada Ketiak

Secara umum, ketiak akan mengalami rasa sakit yang sangat hebat. Rasa sakit ini bisa kombinasi antara infeksi, kulit mengelupas, hingga bisul yang muncul. Jadi, sebelum mencukur pikirkan baik-baik dan lakukan dengan benar serta tidak berlebihan.

Nyeri pada ketiak biasanya tidak selalu muncul setelah mencukur. Kadang beberapa hari kemudian disertai dengan rasa gatal yang intens.

Demikianlah manfaat dan efek samping dari mencukur rambut ketiak pada pria. Intinya Anda boleh mencukur rambut ketiak, tapi harus dilakukan dengan benar untuk menghindari infeksi dan sejenisnya.

 

 

Sumber:

  1. Weaver, Erin dan Adam Mansuroglu. 2019. Why Men Should Shave Their Armpits. https://www.menshealth.com/style/a19547599/why-men-should-shave-armpits/. (Diakses pada 22 September 2019).
  2. Moore, Kristeen. 2019. Armpit Lump. https://www.healthline.com/health/armpit-lump. (Diakses pada 22 September 2019).
  3. Huizen, Jennifer. 2018. What causes an underarm rash?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321907.php. (Diakses pada 22 September 2019).

 


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi