Terbit: 17 November 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kemoterapi adalah pengobatan kanker namun ada efek kemoterapi yang harus diwaspadai seperti rambut rontok, masalah memori, gangguan kulit, dll. Ketahui apa saja efek samping kemoterapi dan cara mengatasinya. 

13 Efek Kemoterapi yang Harus Diwaspadai

Efek Kemoterapi dan Cara Mengatasinya

Kemoterapi adalah salah satu opsi pengobatan kanker yang menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker yang berbahaya. Pengobatan kemoterapi dapat membantu penderita kanker untuk merasa lebih baik, namun ada efek samping yang mungkin terjadi. 

Berikut ini beberapa efek kemoterapi yang harus diwaspadai: 

1. Rambut Rontok

Salah satu efek pengobatan kemoterapi yang paling umum adalah kerontokan rambut, namun sebenarnya tidak sebuah obat kemoterapi menyebabkan kerontokan rambut (alopecia). Kerontokan rambut mungkin terjadi ketika pasien melakukan perawatan kemoterapi pertama dan mungkin semakin meningkat dalam 1 hingga 2 bulan pertama kemoterapi.

Rambut yang rontok bukan hanya rambut kepala, namun bisa juga rambut alis, bulu mata, atau bulu kulit. Sebaiknya, konsultasikan ke dokter untuk meminimalisir efek samping ini. Dokter mungkin menyarankan Anda menggunakan topi atau helm dingin khusus untuk mengurangi aliran darah ke kepala yang menyebabkan kerontokan pasca kemoterapi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

2. Ruam atau Memar Kulit 

Perawatan kemoterapi menyebabkan penurunan jumlah sel darah trombosit yang berfungsi sebagai pembekuan darah saat tubuh mengalami luka berdarah. Kekurangan trombosit dapat membuat darah lebih sulit beku dan mungkin menyebabkan kulit memar, berdarah, gusi berdarah, dan mimisan yang sulit dihentikan. 

Baca Juga: 8 Pengobatan Kanker yang Paling Ampuh dan Efektif

3. Tidak Napsu Makan 

Sebagian pasien yang menjalani perawatan kemoterapi juga kehilangan napsu makan. Mereka sering merasa tidak lapar atau lebih cepat kenyang padahal baru makan sedikit. Efeknya, mereka juga mengalami penurunan berat badan dan kehilangan massa otot yang malah akan menyulitkan pengobatan kemoterapi. 

Salah satu cara meningkatkan napsu makan adalah dengan menyediakan makanan enak yang tetap sehat. Pasien juga disarankan untuk makan dalam porsi kecil dengan jadwal yang lebih sering, misalnya 6 kali sehari dan konsumsi camilan sehat juga.

4. Masalah Tidur

Sebagian pasien kemoterapi juga mengeluhkan gejala insomnia atau tidak bisa tidur. Mereka mungkin bisa tidur namun terbangun tengah malam dan sulit untuk kembali tidur lagi. Kekurangan jam istirahat tentu akan semakin memperburuk kesehatan pasien. 

Berikut ini beberapa tips agar bisa tidur nyenyak: 

  • Mandi air hangat sebelum tidur. 
  • Jangan menggunakan ponsel atau komputer pada jam tidur. 
  • Pastikan Anda sudah kenyang atau mungkin minum susu atau air hangat sebelum tidur. 
  • Rapikan tempat tidur dan buat suasana senyaman mungkin. 
  • Nyalakan musik yang menenangkan. 

Anda harus istirahat yang cukup selama perawatan kemoterapi agar hasilnya maksimal. Konsultasi pada dokter bila gejala insomnia semakin tak terkendali. 

5. Gangguan Mulut dan Tenggorokan 

Kemoterapi juga dapat menyebabkan efek berupa masalah mulut dan tenggorokan yang biasanya terjadi pada 5 hingga 14 hari selama perawatan kemoterapi. Kondisi ini disebut mucositis dalam istilah medis. 

Masalah mulut dan tenggorokan yang mungkin terjadi selama perawatan kemoterapi, termasuk: 

  • Sariawan. 
  • Sakit tenggorokan. 
  • Mulut kering. 
  • Masalah pada indera perasa. 
  • Bau mulut.
  • Nyeri saat mengunyah atau menelan.
  • Infeksi mulut.

Anda dapat meminimalisirnya dengan tetap menjaga kesehatan mulut, gigi, dan tenggorokan. Gejala tersebut mungkin bisa hilang saat pengobatan kemoterapi selesai, bila tidak maka dokter akan merekomendasikan obat kumur khusus atau obat antinyeri.

6. Masalah Pencernaan 

Pasien kemoterapi mungkin mengalami masalah pencernaan beberapa hari pertama perawatan kemoterapi. Masalah pencernaan bisa berupa diare (feses berair atau encer) atau sembelit (sulit buang air besar karena feses keras). Dokter mungkin akan memberi saran untuk mengatur pola makan selama perawatan kemoterapi, seperti konsumsi serat yang cukup untuk melancarkan pencernaan.

7. Perubahan Kulit dan Kuku 

Efek samping kemoterapi lain yang mungkin terjadi berupa perubahan kulit dan kuku. Pasien mungkin mengalami iritasi kulit ringan seperti kulit ruam, kulit, kasar, gatal, perubahan warna kulit tidak merata, atau sensitivitas terhadap sinar matahari.

Anda mungkin juga mengalami perubahan kuku seperti kuku menjadi rapuh, retak, terkelupas, atau terdapat bintik dan garis putih pada kuku. Pasien harus menggunakan krim atau obat topikal khusus untuk melembapkan kulit dan kuku.

8. Anemia 

Selama perawatan dengan kemoterapi, jumlah sel darah merah kaya oksigen menurun dan menyebabkan gejala anemia seperti lemah, letih, lesu, kulit pucat, dan detak jantung tidak teratur. Pasien yang mengalami anemia harus meningkatkan asupan zat besi seperti daging merah, kacang-kacangan, sereal, dan sayuran berdaun hijau tua untuk mengembalikan sel darah merah dalam tubuh.

9. Infeksi

Efek kemoterapi dapat melemahkan sistem imun sehingga pasien rentan terkena infeksi. Untuk mencegah infeksi, sebaiknya tingkatkan asupan vitamin C, jauhi kontak dengan orang sakit sementara waktu, makan sayur dan buah, serta rajin cuci tangan.

10. Gangguan Memori dan Konsentrasi 

Kondisi ini dikenal dengan istilah “chemo fog” atau “chemo brain”. Pengobatan kemoterapi dapat mengganggu sistem saraf pusat yang bertugas untuk mengatur fungsi koordinasi, konsentrasi, kognitif, memori, pola pikir, dan emosi.

Pasien dapat meminta bantuan orang terdekat atau profesional untuk memastikan dirinya tetap bisa menjalani kehidupan dengan baik. Umumnya, efek chemo fog tersebut bisa sembuh saat pengobatan kemoterapi berakhir. 

11. Perubahan Emosional 

Pasien kanker akan merasa sedih, cemas, atau stres dengan kondisi yang dialami. Kumpulan perasaan sedih dan khawatir tersebut juga bisa berkepanjangan selama pengobatan kanker dimana mereka merasa cemas apakah pengobatan akan berhasil atau tidak. 

Kondisi mental bisa memengaruhi kondisi fisik juga. Pasien kanker harus mendapat dukungan dari orang-orang terdekat dan bantuan profesional untuk mengembalikan semangat dan kepercayaan diri. 

12. Masalah Seksual dan Kesuburan 

Pengobatan kemoterapi juga dapat memengaruhi keinginan sex dan menurunkan kesuburan. Bagi wanita, efek perubahan hormon akibat kemoterapi dapat menyebabkan menstruasi tidak lancar atau menopause secara tiba-tiba. Bagi pria, perawatan kemoterapi dapat memengaruhi jumlah dan kualitas sperma. 

13. Masalah Sistem Imun

Obat-obatan kemoterapi dapat menurunkan jumlah sel darah putih (neutropenia) yang berperan untuk sistem kekebalan tubuh. Anda mungkin merasa jadi cepat lelah dan mudah sakit dari biasanya karena sistem imun tidak bekerja maksimal.

Itulah beberapa efek kemoterapi yang harus diwaspadai. Bagaimanapun, manfaat kemoterapi lebih banyak dari efek sampingnya. Anda harus konsultasi ke dokter untuk meminimalisir efek tersebut dan perawatan kemoterapi tetap berhasil.

 

  1. Cancer Net. 2019. Side Effects of Chemotherapy. https://www.cancer.net/navigating-cancer-care/how-cancer-treated/chemotherapy/side-effects-chemotherapy. (Diakses pada 17 November 2020). 
  2. NHS. Side effects-Chemotherapy. 2020. https://www.nhs.uk/conditions/chemotherapy/side-effects/. (Diakses pada 17 November 2020). 
  3. Pietrangelo, Ann. 2019. The Effects of Chemotherapy on Your Body. https://www.healthline.com/health/cancer/effects-on-body. (Diakses pada 17 November 2020). 


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi