Terbit: 6 September 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Setiap orang memiliki kelenjar seks atau sering disebut dengan gonad. Pada pria, kelenjar ini berada di testis sementara pada wanita berada di ovarium. Dua organ ini menghasilkan hormon seks yang bermanfaat untuk pertumbuhan organ dan kematangan seksual dari pria dan wanita sejak masa pubertas.

Efek Hipogonadisme pada Tubuh dan Kemampuan Seksual

Gonad menghasilkan hormon dalam jumlah yang sesuai. Kalau hormon yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, kondisi hipogonadisme akan muncul dan menyebabkan beberapa masalah baik untuk tubuh secara umum atau kemampuan seksual dari pasangan.

Jenis hipogonadisme

Ada dua jenis hipogonadisme yang bisa dialami oleh pria atau wanita.

  1. Hipogonadisme primer

Hipogonadisme primer ini terjadi saat gonad tidak bisa menghasilkan hormon seks sesuai dengan kebutuhan. Otak sebenarnya sudah memberikan sinyal untuk melakukan produksi. Namun, organ tidak mampu melakukannya meski sinyal yang dikirim otak sudah diterima dengan baik.

  1. Hipogonadisme pusat

Kalau hipogonadisme jenis primer terjadi karena gonad tidak bisa menghasilkan hormon, jenis pusat ini justru sebaliknya. Otak tidak mampu mengirimkan sinyal pada organ untuk menghasilkan hormon. Padahal gonad tidak mengalami masalah dan bisa berjalan dengan baik.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Penyebab hipogonadisme

Hipogonadisme yang terjadi pada pria dan wanita bisa disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini:

  • Penyakit autoimun seperti penyakit Addison.
  • Penyakit yang menyerang hati dan ginjal.
  • Gangguan pertumbuhan pada testis.
  • Penyakit genetik seperti sindrom Turner dan sindrom Klinefelter.
  • Tubuh terlalu banyak menyerap zat besi dari makanan dan minuman sehingga kondisi hemochromatosis
  • Terkena radiasi secara tidak langsung dalam waktu lama.
  • Pernah mengalami pembedahan organ seksual.
  • Gangguan genetik seperti sindrom Kallmann.
  • Infeksi yang disebabkan oleh HIV.
  • Obesitas yang berlebihan dan tidak segera mendapatkan penanganan.
  • Nutrisi yang tidak tercukupi khususnya saat masih kecil.
  • Mengalami pembedahan otak.
  • Tumor di kelenjar pituitary.
  • Inflamasi akibat TBC.
  • Penggunaan obat berbahaya seperti steroid untuk membantu pertumbuhan otot.

Gejala hipogonadisme

Gejala hipogonadisme pada pria dan wanita memiliki perbedaan. Kalau pada pria, gejala yang sering muncul terdiri dari:

  • Rambut mengalami kerontokan yang tidak normal. Pria jadi mengalami kebotakan yang cukup parah.
  • Kehilangan masa otot.
  • Pertumbuhan payudara yang tidak normal atau mengalami gynecomastia.
  • Penis dan testis mengalami gangguan pertumbuhan khususnya saat sedang puber. Pertumbuhan yang tidak sempurna ini membuat pria memiliki testis dan penis dengan ukuran kecil.
  • Pria sering mengalami disfungsi ereksi karena hormon seks yang ada di dalam tubuhnya sangat rendah.
  • Osteoporosis.
  • Gairah seksual sering turun.
  • Kemandulan.
  • Mengalami gangguan konsentrasi.

Gejala hipogonadisme pada wanita terdiri dari:

  • Menstruasi sering mengalami gangguan. Wanita kerap tidak mengalami menstruasi selama beberapa bulan.
  • Pertumbuhan payudara cukup rendah.
  • Di beberapa bagian tubuh terasa panas dan membuat wanita jadi mudah berkeringat.
  • Hilangnya gairah seksual.
  • Hilangnya rambut secara perlahan-lahan.
  • Keluarnya cairan mirip susu dari payudara.

Efek hipogonadisme

Efek dari hipogonadisme cukup besar pada pria dan wanita. Secara umum efek ini menyerang pertumbuhan organ yang didukung oleh hormon seks. Tanda seksual primer dan sekunder dari pria dan wanita tidak akan terlihat dengan sempurna. Selain itu, ada kemungkinan kehidupan seksual pasangan mengalami penurunan.

Seperti terlihat dari gejala di atas, pria akan mengalami penurunan kemampuan ereksi. Penurunan ini membuat pria susah melakukan seks termasuk pembuahan. Pada wanita, kemungkinan pertumbuhan organ seks juga bisa terjadi sehingga peluang kehamilan akan turun.

Hipogonadisme bisa terjadi pada siapa saja dan penyembuhannya cukup sulit. Terapi hormon harus dilakukan untuk mengembalikan kemampuan seksual dan reproduksi dari pria dan juga wanita.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi