Terbit: 11 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Duodenitis adalah peradangan atau iritasi pada duodenum, bagian pertama dari usus kecil yang berada tepat di bawah perut. Kondisi ini sering kali dapat disembuhkan dan umumnya tidak menyebabkan komplikasi jangka panjang. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Duodenitis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Duodenitis?

Seperti penjelasan sebelumnya, duodenitis adalah peradangan pada duodenum, yaitu bagian pertama dari usus kecil yang terletak tepat di bawah perut. Penyakit yang umumnya disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori ini bisa terjadi pada pria dan wanita dari segala usia.

Gejala Duodenitis

Pada beberapa kasus, kondisi ini tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi jika penyakit ini menimbulkan gejala, setiap orang memiliki tanda yang berbeda-beda. Gejala khas bisa dikenali, antara lain:

  • Sensasi terbakar dan nyeri di perut
  • Mual atau muntah
  • Gangguan pencernaan
  • Merasa kenyang saat perut kosong atau setelah makan sedikit
  • Dada terasa sakit
  • Pusing
  • Perut kembung

Pada beberapa orang, nyeri di perut akan menjalar ke punggung atau perut bagian bawah. Jika kondisi ini termasuk jenis akut gangguan biasanya datang dengan cepat dan berlangsung sebentar. Sementara jika kondisi termasuk jenis kronis, penyakit ini cenderung berkembang lebih lambat dan berlangsung lebih lama, bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Gejala yang lebih parah terkadang bisa terjadi seperti perdarahan internal. Hal ini dapat menyebabkan feses menjadi lengket dan berwarna cokelat tua atau hitam. Muntahan yang terjadi mungkin menyerupai bubuk kopi basah. Siapa pun yang mengalami gejala perdarahan internal harus segera mencari perawatan medis.

Selain itu, konsultasi dengan dokter juga diperlukan jika kondisi berlangsung lebih dari dua kali dalam seminggu dan mengalami demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celcius.

Penyebab Duodenitis

Penyebab paling umum dari kondisi ini adalah bakteri Helicobacter pylori. Jika bakteri dalam jumlah besar menyerang perut dan usus kecil, hal itu dapat menyebabkan peradangan. H. pylori dapat ditularkan dari orang ke orang, akan tetapi bagaimana tepatnya tidak diketahui dengan pasti. Penyebaran diyakini melalui makanan dan air yang terkontaminasi.

Faktor Risiko Duodenitis

Selain bakteri H. pylori, terdapat beberapa kondisi lain yang juga bisa menyebabkan seseorang berisiko tinggi memiliki kondisi ini, antara lain:

  • Penyakit Crohn
  • Kondisi autoimun yang menyebabkan gastritis atrofik
  • Penyakit celiac
  • Refluks empedu
  • Kombinasi infeksi virus tertentu seperti herpes simpleks dengan sistem kekebalan yang lemah
  • Cedera traumatis pada perut atau usus kecil
  • Stres ekstrem yang disebabkan oleh operasi besar, trauma tubuh yang parah, atau syok
  • Menelan zat kaustik atau racun
  • Merokok
  • Terapi radiasi
  • Kemoterapi

Diagnosis Duodenitis

Diagnosis awal yang bisa dilakukan dokter adalah menanyakan tentang gejala dan melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes yang mungkin diperlukan untuk memastikan keberadaan bakteri H. pylori, antara lain:

  • Endoskopi digunakan untuk mencari masalah di perut atau duodenum. Dokter akan menggunakan endoskop (selang dengan lampu dan kamera di ujungnya) selama prosedur. Kemudian dokter mengambil sampel dari duodenum untuk diperiksa.
  • Tes darah dapat digunakan untuk menunjukkan infeksi.
  • Tes napas mungkin menunjukkan apakah H pylori menyebabkan duodenitis. Tes ini akan mengukur jumlah karbon dioksida dalam napas. Jumlah yang berlebih mungkin menandakan Anda mengalami infeksi.
  • Sampel feses mungkin diuji untuk bakteri yang mungkin menyebabkan kondisi ini.

Pengobatan Duodenitis

Jenis perawatan yang direkomendasikan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, antara lain:

  • Perubahan Gaya Hidup

Memiliki kebiasaan merokok dan sering mengonsumsi minuman beralkohol ternyata dapat meningkatkan peradangan pada saluran pencernaan dan meningkatkan risiko kanker perut.

Menghentikan penggunaan pereda nyeri seperti aspirin, naproxen, dan ibuprofen juga mungkin diperlukan jika obat-obatan tersebut adalah penyebabnya.

Jika Anda didiagnosis memiliki penyakit celiac, Anda harus menghilangkan gluten dari asupan sehari-hari.

  • Antibiotik

Jika H. pylori adalah penyebabnya, infeksi dapat diobati dengan antibiotik. Dokter mungkin merekomendasikan kombinasi obat untuk membunuh infeksi. Kemungkinan besar Anda perlu minum antibiotik selama dua minggu atau lebih.

  • Obat untuk Mengurangi Asam Lambung

Mengurangi produksi asam di perut merupakan langkah penting dalam pengobatan. Beberapa obat yang bekerja untuk mengurangi asam ke saluran pencernaan seperti cimetidine atau famotidine mungkin direkomendasikan.

Proton pump inhibitors yang memblokir sel-sel penghasil asam paling sering dibutuhkan untuk mengatasi kondisi ini. Obat ini biasanya perlu dikonsumsi dalam jangka panjang. Beberapa obat tersebut adalah esomeprazole, lansoprazole, atau omeprazole.

  • Antasida (Antacid)

Obat ini mungkin disarankan dokter untuk meredakan gejala hanya sementara. Obat yang dijual bebas ini berfungsi untuk menetralkan asam lambung dan menghilangkan rasa sakit. Beberapa pilihan antasida adalah calcium carbonate (Tums), magnesium hydroxide (milk of magnesia), atau calcium carbonate and magnesium hydroxide (Rolaids)

Antasida dapat mencegah tubuh menyerap obat lain, jadi disarankan untuk minum obat ini setidaknya satu jam sebelum pengobatan lain. Obat ini direkomendasikan hanya untuk penggunaan sesekali. Konsultasi dengan dokter diperlukan jika kondisi tidak kunjung membaik lebih dari dua minggu.

Baca Juga: 15 Gejala Radang Usus dan Cara Mengatasinya

Komplikasi Duodenitis

Pada dasarnya, komplikasi dari kondisi bisa diturunkan jika Anda mengikuti semua rencana pengobatan yang disarankan oleh dokter. Namun jika Anda tidak mengikuti anjuran tersebut, beberapa masalah kesehatan lain yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Peradangan dinding perut
  • Pendarahan internal
  • Obstruksi usus
  • Tukak lambung
  • Ulkus duodenum berulang
  • Pankreatitis akut

Pencegahan Duodenitis

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kondisi ini, antara lain:

  • Jangan merokok. Nikotin dan bahan kimia lain dalam rokok dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan paru-paru.
  • Jangan mengonsumsi minuman beralkohol. Alkohol dapat memperburuk kondisi ini.
  • Jangan minum obat antiinflamasi atau aspirin kecuali diarahkan oleh dokter. Obat-obatan ini dan sejenisnya dapat menyebabkan iritasi pada duodenum.
  • Jangan makan dan minum yang menyebabkan iritasi. Makanlah buah-buahan (bukan jeruk), sayuran, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, roti gandum, daging dan ikan tanpa lemak. Selain itu, makanlah dalam porsi kecil dan jangan makanan setidaknya 3 jam sebelum tidur.

 

  1. Anonim. Duodenitis. https://www.drugs.com/cg/duodenitis.html. (Diakses pada 11 September 2020).
  2. Anonim. Duodenitis. https://www.healthgrades.com/right-care/digestive-health/duodenitis. (Diakses pada 11 September 2020).
  3. Johnson, Jon. 2018. What are gastritis and duodenitis?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322889. (Diakses pada 11 September 2020).
  4. Kivi, Rose. 2020. Gastritis/Duodenitis. https://www.healthline.com/health/gastritis-duodenitis#treatments. (Diakses pada 11 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi