Donor Sperma: Syarat, Prosedur, dan Hak Penerima Donor

donor-sperma-doktersehat

DokterSehat.Com – Memiliki momongan adalah impian setiap pasangan. Namun, keinginan tersebut kadang terkendala oleh sejumlah faktor, seperti infertilitas yang dialami pihak pria. Dari sejumlah cara hamil, donor sperma menjadi salah satu solusi. Lantas, apa itu donor sperma? Bagaimana syarat dan prosedur donor sperma?

Apa Itu Donor Sperma?

Donor sperma adalah salah satu metode yang dilakukan guna membantu para pasangan yang mengalami masalah kesuburan, atau para individu agar dapat memiliki anak. Secara umum, donor sperma adalah tindakan mendonorkan sperma untuk selanjutnya digunakan dalam inseminasi buatan atau bayi tabung.

Donor sperma sudah jadi hal yang lumrah di luar negeri. Di Inggris, satu dari tujuh pasangan mengalami masalah infertilitas, dan donor sperma kerap ditempuh agar keinginan memiliki momongan tetap tercapai. Menariknya, seperti dilansir dari The Guardian, donor sperma menjadi salah satu sumber pendapatan ekstra yang menjanjikan. Tak heran, banyak orang yang berminat mendonorkan spermanya ke bank sperma.

Syarat Donor Sperma

Donor sperma tidak semudah yang dibayangkan. Bank sperma memiliki aturan ketat dan kualifikasi tinggi bagi para calon pendonor sperma. Berikut ini beberapa syarat donor sperma yang perlu Anda ketahui.

1. Penampilan Fisik

Syarat donor sperma pertama yang harus dipenuhi oleh pendonor sperma adalah penampilan fisik. Ini menjadi penting karena setiap pasangan atau individu calon penerima donor sperma tentunya ingin memiliki keturunan yang nyaris “sempurna” secara fisik.

Oleh karena itu, biasanya pihak bank sperma akan melihat secara subjektif apakah calon pendonor sperma layak atau tidak. Penampilan fisik yang dimaksud meliputi:

  • Rambut
  • Tinggi badan
  • Berat badan
  • Warna mata
  • Ras

Hanya pendonor dengan kondisi fisik yang baik seperti tinggi dan berat badan ideal, kulit bersih, dan rambut tebal yang bisa dikatakan memenuhi syarat untuk menjadi pendonor sperma.

2. Sehat

Syarat donor sperma yang kedua tentu saja pendonor harus sehat. Guna memastikan apakah calon pendonor benar-benar dalam kondisi sehat, pihak bank sperma akan melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari tes darah, hingga anamnesis riwayat penyakit dan perilaku hidup.

Mereka yang pernah punya riwayat penyakit serius, pun gaya hidup yang tidak seha seperti merokok dan minum alkohol, kecil kemungkinannya untuk lolos persyaratan.

3. Pintar

Tak bisa dipungkiri, setiap orang pasti ingin anaknya kelak tumbuh menjadi anak yang pintar dan memiliki banyak skill. Ini sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor genetik. Oleh karenanya, pihak bank sperma tidak luput dari pemeriksaan kecerdasan, minat, dan hobi terhadap si calon pendonor sperma.

Jika pendonor sperma memiliki pendidikan yang tinggi, ahli dalam berbagai hal, besar kemungkinan pihak bank sperma akan mengizinkannya untuk mendonorkan spermanya.

4. Usia

Lazimnya, pihak bank sperma hanya akan menerima donor sperma dari pria dengan rentang usia 18-39 tahun, bahkan sejumlah klinik hanya membatasi usia maksimal donor sperma 34 tahun. Kendati demikian, hal ini juga tidak serta merta efektif. Sebuah penelitian menunjukkan jika faktor utama keberhasilan sperma membuahi sel telur ada di kualitasnya dan tidak melulu bergantung usia.

5. Sperma Berkualitas

Tentu saja ini menjadi syarat donor sperma yang paling utama. Hanya pria dengan sperma berkualitas dan memiliki kuantitas tinggi yang bisa mendonorkan spermanya di bank sperma.

Jadi, sebelum seseorang mendonorkan spermanya, pihak bank sperma maupun klinik yang memiliki lisensi HFEA akan menseleksi secara ketat perihal kualitas sperma (konsentrasi sperma dan pergerakan sperma), hingga indikasi sperma terjangkit infeksi maupun kelainan genetik.

Prosedur Donor Sperma

Sebelum mendonorkan spermanya, seseorang harus melakukan serangkaian prosedur donor sperma yang telah ditetapkan oleh pihak bank sperma atau klinik berlisensi HFEA.

1. Anamnesis

Pertama-tama, bank sperma akan mewawancarai calon pendonor sperma untuk mengetahui latar belakangnya, seperti keluarga, riwayat kesehatan, hingga perilaku atau gaya hidup sehari-hari. Prosedur ini penting dilakukan sebagai hipotesis awal dalam menentukan layak atau tidaknya seseorang untuk mendonorkan spermanya.

2. Pemeriksaan Fisik

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, fisik menjadi poin penting yang dilihat oleh bank sperma saat menentukan pendonor sperma. Oleh sebab itu, prosedur donor sperma yang selanjutnya dilakukan adalah memeriksa kondisi fisik calon pendonor sperma dengan berpedoman pada indikator-indikator yang telah ditetapkan.

3. Pemeriksaan Kesehatan Tubuh dan Sperma

Prosedur donor sperma selanjutnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara langsung. Calon pendonor sperma akan diperiksa apakah ia memiliki penyakit tertentu. Menurut Federal Drug Administration (FDA) dan American Society for Reproductive Medicine, seseorang tidak bisa mendonorkan spermanya jika terdeteksi mengalami penyakit:

  • HIV/AIDS
  • Hepatitis
  • Herpes
  • Kelainan genetik, seperti fibrosis sistik

Prosedur ini juga tak kalah pentingnya guna menghindari risiko yang bisa membahayakan calon penerima donor sperma, pun bayi yang nanti dilahirkan.

Selain itu, pihak bank sperma juga harus memastikan jika calon pendonor sperma memiliki sperma yang sehat. Pemeriksaan sperma dilakukan untuk melihat apakah sperma mempunyai kualitas, kuantitas, dan pergerakan yang baik.

4. Pengambilan Sperma

Setelah sperma dikatakan memenuhi syarat, selanjutnya pendonor pria akan diminta untuk melakukan masturbasi guna mengeluarkan cairan mani. Prosedur ini dilakukan di sebuah ruangan khusus. Setelah itu, sperma akan dimasukkan ke sebuah wadah untuk selanjutnya dibekukan.

5. Pendonoran Sperma

Prosedur donor sperma yang terakhir adalah mendonorkan sperma tersebut ke wanita yang menjadi penerima donor sperma. Caranya, sperma yang sudah ditaruh di dalam wadah kecil akan dituangkan ke dalam vagina. Untuk hasil maksimal, prosedur ini dilakukan saat wanita sedang dalam masa subur. Ini yang dinamakan dengan proses inseminasi buatan.

Cara Mendapatkan Donor Sperma

Para pasangan maupun individu yang ingin mendapatkan donor sperma bisa melakukan tiga cara berikut ini:

  • Mengunjungi bank sperma untuk mendapatkan donor sperma anonim, yakni dari orang yang tidak dikenal
  • Menerima donor sperma dari orang yang sudah dikenal, ini lebih baik karena dengan begitu, asal-usul sperma jadi lebih jelas
  • Melakukan donor sperma di luar negeri, oleh karena di Indonesia metode donor sperma tidak diperbolehkan*

*Berdasarkan UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi

Hak-Hak Penerima Donor Sperma

Identitas pendonor sperma (kecuali dari orang yang sudah dikenal dan sepakat melakukan donor sperma) tidak akan diketahui oleh penerima donor sperma. Meskipun begitu, penerima sperma berhak mengetahui etnis, kepribadian, dan ciri-ciri fisik pendonor sperma. Selain itu, hak penerima donor sperma meliputi:

  • Status orang tua sah dari anak yang nanti dilahirkan
  • Memiliki kewajiban sebagai orang tua sebagaimana biasanya
  • Memberi nama keluarga kepada anak
  • Membesarkan dan mendidik anak sesuai preferensi pribadi

Donor Sperma Menurut Islam

Sebelum membahas lebih lanjut, ketahui dulu bahwa donor sperma dapat dilakukan dengan cara:

  • Menyuntikkan sperma suami ke sel telur istri, jika pembuahan secara normal tidak dapat terjadi
  • Menyuntikkan sperma pria ke wanita yang tidak memiliki hubungan suami-istri
  • Menyuntikkan sperma ke indung telur wanita yang tidak memiliki hubungan suami-istri, kemudian dicangkok ke Rahim istri sah
  • Sperma dan sel telur diambil dari sepasang suami-istri, kemudian dicangkok ke Rahim wanita lain
  • Sperma dan sel telur diambil dari pasangan suami-istri, lalu dicangkok ke Rahim istri lain dari suami tersebut

Dikutip dari Republika, Islam memiliki pandangannya sendiri terhadap metode donor sperma. Ini setelah para ulama dari seluruh dunia menggelar forum bertajuk Majma’ul Fiqhil Islamy di Yordania pada tahun 1986.

Hasilnya, para ulama sepakat jika donor sperma menurut Islam diperbolehkan untuk keperluan inseminasi buatan sebagai bagian dari ikhtiar guna mendapatkan keturunan, dengan catatan sperma tersebut berasal dari suami dan diberikan kepada sel telur istri sah, sebagaimana terdapat pada poin pertama.

Pemberlakuan donor sperma pada poin 2 hingga poin 6 tidak dibenarkan dalam Islam. Alasannya ada bermacam-macam, mulai dari bentuk tak langsung darti zina, hingga potensi masalah warisan di masa mendatang.

Donor Sperma, Solusi Pamungkas Dapatkan Keturunan

Itu dia beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang donor sperma. Donor sperma memang bisa jadi solusi pamungkas bagi pasangan yang telah mencoba berbagai macam cara untuk mendapatkan keturunan tapi belum membuahkan hasil. Kendati demikian, menjalankan prosedur ini masih dilarang di Indonesia. Semoga bermanfaat!