Terbit: 29 Februari 2020
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Seseorang yang terlahir sebagai laki-laki, belum tentu memiliki gender laki-laki, begitu juga sebaliknya. Kondisi di mana seseorang memiliki identitas gender yang berbeda dengan jenis kelamin lahirnya disebut dengan disforia gender. Bagaimana gejala dan penanganannya?

Disforia Gender: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Disforia Gender?

Gender dysphoria atau disforia gender – sebelumnya dikenal dengan kelainan identitas gender – adalah perasaan yang kuat dan persisten bahwa identitas gendernya berbeda dengan jenis kelamin dan karakteristik fisik yang dimiliki.

Kondisi ini dapat dikatakan sebagai disforia gender ketika perasaan tidak nyaman ini menyebabkan tekanan dan gangguan yang signifikan. Orang yang memiliki kondisi ini cenderung memiliki hasrat untuk hidup sesuai dengan identitas gendernya. Mereka akan berpakaian dan berperilaku seperti identitas gender terkait.

Namun tidak semua orang memanifestasikan disforia gender dengan cara ini. Ada juga orang yang terlahir sebagai pria dan mengidentifikasi identitas gendernya sebagai wanita, tapi tetap berpenampilan sebagai pria pada umumnya.

Sebagian orang juga melakukan terapi hormon dan operasi untuk sepenuhnya dapat hidup sesuai dengan gender yang mereka identifikasi. Individu yang melakukan perawatan ini disebut sebagai transgender.

Kemunculan gejala dapat muncul pada usia berapa saja mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa.

Gejala Disforia Gender

Gejala yang muncul dapat berbeda pada dewasa dan anak-anak. Berikut adalah gejala disforia gender yang dapat membantu diagnosis kondisi ini menurut DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders).

Gejala pada anak-anak:

  • Ketidaksesuaian antara gender yang diekspresikan anak dan jenis kelamin lahirnya terjadi selama 6 bulan atau lebih
  • Keinginan yang kuat untuk menjadi gender lain
  • Anak yang terlahir laki-laki memiliki preferensi yang kuat untuk menggunakan pakaian perempuan dan/atau menolak menggunakan pakaian laki-laki
  • Anak yang terlahir perempuan memiliki preferensi yang kuat untuk mengenakan pakaian laki-laki atau yang terkesan maskulin dan menolak menggunakan pakaian perempuan atau yang terkesan feminism
  • Preferensi kuat untuk memainkan peran lintas gender dalam permainan peran
  • Preferensi yang kuat untuk melakukan permainan atau aktivitas yang sering kali dianggap identik dengan jenis kelamin lain
  • Tidak menyukai anatomi seksualnya sendiri

Sedangkan pada remaja dan dewasa, gejalanya meliputi:

  • Ketidaksesuaian antara identitas gender dengan karakteristik gender lahir primer (organ seksual) dan sekunder (payudara atau kumis dan jenggot) terjadi selama paling tidak 6 bulan
  • Keinginan kuat untuk menyingkirkan karakteristik seks primer dan/atau sekunder yang ada pada dirinya
  • Keinginan kuat untuk menjadi jenis kelamin lain
  • Keinginan kuat untuk diperlakukan sebagai jenis kelamin lain
  • Keyakinan yang kuat memiliki perasaan dan reaksi khas gender yang diinginkan

Perilaku yang mengacu pada kondisi ini dapat dimulai pada usia 2 tahun, di mana individu mulai dapat mengekspresikan perilaku dan minat gender.

Jika gejala muncul pada masa anak-anak, biasanya gejala akan berlanjut hingga remaja hingga dewasa. Namun terdapat juga kasus di mana kelainan ini berkembang lambat dan gejalanya baru muncul setelah masa pubertas.

Penyebab Disforia Gender

Penyebab kondisi ini belum diketahui secara jelas, namun faktor gen, hormon dalam rahim, dan faktor lingkungan diduga berpengaruh. Di antara faktor tersebut, faktor hormon adalah yang paling umum.

Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat memicu disforia gender:

  • Hormon yang memicu perkembangan jenis kelamin biologis tidak berfungsi dengan baik.
  • Adanya hormon tambahan dari sistem ibu, dapat diakibatkan konsumsi obat selama kehamilan.
  • Ketidakpekaan janin terhadap hormon atau dikenal juga dengan androgen insensitivity syndrome (AIS). Kondisi ini dapat menyebabkan hormon tidak bekerja dengan baik di dalam rahim.
  • Congenital adrenal hyperplasia (CAH), kondisi di mana tingkat hormon pria yang tinggi pada janin wanita yang menyebabkan alat kelamin menjadi terlihat lebih jantan dalam penampilan.
  • Kondisi interseks yang menyebabkan bayi terlahir dengan alat kelamin dari kedua jenis kelamin atau disebut juga genital ambigu. Operasi disarankan dilakukan setelah anak cukup besar untuk menentukan gendernya sendiri.

Diagnosis Disforia Gender

Berikut adalah cara mendiagnosis perilaku disforia gender:

1. Evaluasi Kesehatan Perilaku

Evaluasi ini dilakukan untuk mengonfirmasi adanya ketidaksesuaian antara identitas gender dan jenis kelamin saat lahir. Evaluasi dapat meliputi:

  • Sejarah dan perkembangan perasaan disforia gender yang dirasakan.
  • Efek stigma yang melekat tentang gender disforia pada kesehatan mental Anda.
  • Dukungan yang didapatkan dari orang sekitar seperti keluarga, kerabat, dan teman.

2. DSM-5

Sebelumnya sudah disebutkan gejala disforia gender berdasarkan DSM-5. Pada anak-anak, kondisi ini dapat didiagnosis apabila terdapat paling tidak 6 gejala yang muncul. Gejala yang muncul harus termasuk tekanan atau gangguan signifikan terhadap hubungan sosial, sekolah, atau kehidupan rumah.

Sedangkan pada orang dewasa atau remaja, kondisi ini sudah dapat didiagnosis apabila dua gejala muncul, termasuk tekanan atau gangguan signifikan pada hubungan sosial, sekolah, atau kehidupan di rumah.

Pengobatan Disforia Gender

Pengobatan disforia gender dapat meliputi perubahan ekspresi dan peran gender, terapi hormon, pembedahan, dan terapi perilaku.

1. Perubahan dalam Ekspresi dan Peran Gender

Individu akan hidup atau berperan sesuai dengan identitas gender baik itu secara penuh waktu atau paruh waktu.

2. Perawatan Medis

Perawatan medis dapat meliputi:

  • Terapi hormon yang dapat mencakup terapi hormon feminisasi atau terapi hormon maskulinisasi.
  • Pembedahan dilakukan untuk mengubah payudara atau dada, genitalia luar, genitalia dalam, gambaran wajah, hingga bentuk tubuh.

3. Perawatan Kesehatan Perilaku

Perawatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup. Tujuan terapi ini bukan untuk mengubah identitas gender, tetapi untuk mengeksplorasi masalah gender dan menemukan cara untuk mengurangi disforia gender.

Terapi ini membantu individu transgender atau dengan gender yang tidak sesuai agar dapat mengekspresikan identitas gendernya dengan lebih nyaman dan hidup dengan normal di masyarakat.

Konseling individu dan keluarga biasanya direkomendasikan untuk anak-anak, sedangkan untuk dewasa direkomendasikan untuk melakukan konseling individu dan/atau konseling pasangan.

 

  1. Anonim. 2019. Gender Dysphoria. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/gender-dysphoria. (Diakses 26 Februari 2020).
  2. Anonim. 2019. Gender Dysphoria. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/gender-dysphoria/symptoms-causes/syc-20475255. (Diakses 26 Februari 2020).
  3. Gender Dysphoria. 2016. Gender Dysphoria. https://www.nhs.uk/conditions/gender-dysphoria/treatment/. (Diakses 26 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi