Terbit: 24 Agustus 2020 | Diperbarui: 4 September 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Disfagia menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan untuk menelan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Simak penjelasan lengkap mengenai disfagia mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatan dan pencegahannya berikut ini.

Disfagia: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

Apa Itu Disfagia?

Disfagia adalah suatu kondisi di mana Anda mengalami kesulitan untuk menelan. Aktivitas menelan sendiri terbagi ke dalam 3 (tiga) tahapan, yaitu:

  • Tahap oral, yakni ketika makanan masuk ke mulut untuk kemudian terjadi proses kunyah.
  • Tahap faringeal, yakni ketika makanan didorong dari mulut menuju esofagus.
  • Tahap esophageal, yakni ketika makanan sudah berada di dalam esofagus. Selanjutnya, makanan akan didorong untuk masuk lebih jauh lagi yakni ke dalam organ lambung.

Akibat dari disfagia tersebut, perjalanan makanan maupun minuman dari mulut menuju lambung akan mengalami hambatan. Rasa nyeri hingga batuk adalah gejala yang umumnya menyertai pengidap disfagia saat sedang menelan makanan.

Jenis-Jenis Disfagia

Ada 3 (tiga) jenis utama dari kondisi ini, yaitu:

1. Disfagia Oral

Disfagia oral disebabkan oleh adanya masalah pada mulut. Biasanya, kondisi ini terjadi akibat melemahnya otot-otot lidah pasca mengalami stroke, kesulitan saat mengunyah makanan, hingga faktor-faktor terkait lainnya.

2. Disfagia Faringeal

Jenis ini terjadi dikarenakan adanya masalah pada tenggorokan. Masalah pada tenggorokan tersebut umumnya dipicu oleh gangguan saraf seperti pada kasus stroke, Parkinson, dan amyotrophic lateral sclerosis.

3. Disfagia Esophageal

Untuk jenis yang satu ini, pemicunya adalah gangguan pada kerongkongan yang umumnya disebabkan oleh adanya iritasi. Pada beberapa kasus, jenis ini membutuhkan operasi guna menyembuhkannya.

Ciri dan Gejala Disfagia

Disfagia ditandai oleh sulitnya menelan makanan dan minuman. Ini lantas juga diiringi oleh sejumlah gejala lainnya, yaitu:

  • Mudah tersedak ketika makan
  • Batuk ketika menelan
  • Nyeri ketika menelan (odinofagia)
  • Muncul sensasi seperti makanan mengganjal di tenggorokan atau dada, tepatnya di belakang tulang dada
  • Liur keluar secara tidak terkendali
  • Suara menjadi serak
  • Nyeri ulu hati
  • Makanan kembali naik ke kerongkongan
  • Asam lambung naik
  • Berat badan turun tanpa sebab

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami kesulitan menelan disertai gejala-gejala di atas dalam jangka waktu yang cukup lama, dan jika sudah sampai menyebabkan:

  • Infeksi paru-paru alias pneumonia
  • Dehidrasi
  • Infeksi saluran pernapasan atas
  • Penurunan berat badan secara drastis
  • Muntah-muntah

Penanganan medis diperlukan guna mengatasi gejala sebelum bertambah buruk dan bisa membahayakan diri.

Penyebab Disfagia

Penyebab disfagia ada beberapa macam, yaitu:

  • Gangguan otot mulut dan tenggorokan, seperti pada kasus akalasia dan skeloderma.
  • Kerongkongan mengalami penyumbatan, biasanya disebabkan oleh kondisi seperti refluks asam lambung, radang kerongkongan (esofagitis), efek samping radioterapi, kanker tenggorokan, dan kanker mulut.
  • Masalah pada sistem saraf, biasanya akibat penyakit Parkinson, stroke, tumor otak, multiple sclerosis, dan myasthenia gravis.
  • Abnormalitas kongenital, seperti bibir sumbing atau celebral palsy.

Faktor Risiko Disfagia

Beberapa kondisi juga membuat seseorang berisiko mengalami masalah kesehatan yang satu ini, yaitu:

  • Seiring bertambahnya usia, otot-otot tubuh akan mengalami penurunan kualitas, tidak terkecuali otot-otot mulut dan tenggorokan. Ditambah dengan penyakit-penyakit lainnya seperti stroke dan Parkinson, disfagia rentan dialami oleh mereka yang sudah berusia lanjut.
  • Menderita penyakit yang menyerang sistem saraf juga meningkatkan risiko seseorang mengalami kesulitan ketika menelan makanan maupun minuman.

Diagnosis Disfagia

Guna mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Umumnya, metode pemeriksaan meliputi:

  • Analisis kemampuan menelan. Pemeriksaan ini biasanya akan dilakukan oleh ahli terapi wicara. Mereka menguji konsistensi makanan dan cairan yang berbeda untuk melihat mana yang menyebabkan kesulitan. Dalam implementasinya, dokter biasanya menggunakan medium kamera kecil.
  • Tes Barium. Dokter akan meminta pasien menelan cairan yang mengandung barium. Barium muncul dalam sinar-X dan membantu dokter untuk mengidentifikasi apa yang terjadi di esofagus secara lebih rinci, terutama aktivitas otot.
  • Endoskopi. Apabila ditemukan adanya potensi kanker, dokter akan melakukan prosedur endoskopi, yakni memasukkan selang yang dilengkapi kamera kecil ke dalam kerongkongan. Setelah itu, dokter akan mengambil sampel jaringan yang ada pada kerongkongan untuk kemudian diteliti lebih lanjut di laboratorium.
  • Manometri. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengukur perubahan tekanan yang dihasilkan saat otot di kerongkongan bekerja. Pemeriksaan ini digunakan jika endoskopi tidak membuahkan hasil.

Pengobatan Disfagia

Pengobatan disfagia disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Berikut adalah beberapa metode pengobatan yang umum diterapkan:

  • Terapi menelan. Terapi ini akan dilakukan dengan terapis bicara dan bahasa. Penderita akan menjalani latihan menelan dengan benar. Latihan akan membantu mengoptimalkan kinerja dan respons otot.
  • Diet. Selama masa pengobatan, pasien akan diminta untuk mengonsumsi makanan yang mudah ditelan.
  • Pemberian makan melalui selang, Jika pasien berisiko mengalami pneumonia, malnutrisi, atau dehidrasi, mereka mungkin perlu diberi makan melalui selang hidung (selang nasogastrik) atau PEG (gastrostomi endoskopi perkutan). Tabung PEG ditanamkan melalui pembedahan langsung ke dalam perut dan melewati sayatan kecil di perut.
  • Obat-obatan. Disfagia merupakan akibat dari suatu kondisi medis, maka dokter akan memberikan obat-obatan sesuai dengan penyebabnya tersebut. Misalnya, obat asam lambung (untuk kasus GERD). Selain itu, dokter juga akan memberikan obat untuk merilekskan otot kerongkongan seperti amlodipine dan nifedipine
  • Operasi. Pada kasus yang disebabkan oleh abnormalitas kerongkongan, tindakan operasi mungkin akan dilakukan. Tindakan operasi biasanya bertujuan untuk melebarkan kerongkongan yang mengalami penyempitan (dilatasi).

Komplikasi Disfagia

Apabila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berujung pada sejumlah komplikasi seperti:

  • Infeksi paru-paru (pneumonia)
  • Infeksi saluran pernapasan atas
  • Dehidrasi
  • Malnutrisi
  • Berat badan mengalami penurunan

Pencegahan Disfagia

Meskipun dysphagia tidak dapat dicegah, Anda dapat mengurangi risikonya dengan makan perlahan dan mengunyah makanan dengan baik. Deteksi dini dan pengobatan refluks asam lambung yang efektif dapat menurunkan risiko berkembangnya disfagia yang terkait dengan masalah esofagus.

 

  1. Anonim. Dysphagia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dysphagia/symptoms-causes/syc-20372028 (diakses pada 24 Agustus 2020)
  2. Kahn, A. 2012. What Causes Difficulty in Swallowing? https://www.healthline.com/health/difficulty-in-swallowing#causes (diakses pada 24 Agustus 2020)
  3. Newman, T. 2017. What causes difficulty swallowing (dysphagia)? https://www.medicalnewstoday.com/articles/177473#treatment. (diakses pada 24 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi