Terbit: 25 Juni 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Adrian Setiaji

Difteri yaitu infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang membuat toksin (racun) di dalam tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang sulit bernapas, gagal jantung, kelumpuhan, bahkan kematian. Simak gejala penyakit difteri, penyebab, hingga cara mengatasinya selengkapnya di bawah ini.

Difteri: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Difteri?

Difteri adalah infeksi bakteri serius yang biasanya memengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit difteri biasanya sangat jarang terjadi terutama di negara maju karena vaksinasi luas terhadap penyakit ini.

Pada orang yang tidak divaksinasi terhadap bakteri penyebab difteri, infeksi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti masalah saraf, gagal jantung, bahkan kematian. Meski begitu, kondisi ini dapat diatasi dengan penggunaan obat-obatan.

Gejala Difteri

Kondisi ini dapat menginfeksi saluran pernapasan (atau bagian tubuh lain yang terlibat pernapasan) dan kulit. Ciri-ciri difteri tergantung pada bagian tubuh yang terkena. Berikut adalah gejala-gejala yang bisa Anda kenali:

Difteri Saluran Pernafasan

Bakteri paling sering menginfeksi sistem pernapasan dan bagian-bagian tubuh lain yang terlibat dalam pernapasan. Ketika bakteri masuk dan menempel pada lapisan sistem pernapasan, hal itu dapat menyebabkan:

  • Kelemahan
  • Sakit tenggorokan
  • Demam ringan
  • Kelenjar di leher membengkak

Bakteri membuat racun yang membunuh jaringan sehat dalam sistem pernapasan. Dalam dua hingga tiga hari, jaringan mati membentuk lapisan abu-abu tebal (gray coating) yang dapat menumpuk di tenggorokan atau hidung.

Dalam dunia medis, gray coating ini disebut sebagai pseudomembrane. Lapisan ini dapat menutupi jaringan di hidung, amandel, kotak suara, dan tenggorokan, sehingga membuat seseorang mengalami kesulitan bernapas serta menelan.

Sementara jika toksin masuk ke dalam aliran darah, hal tersebut bisa menyebabkan kerusakan jantung dan saraf.

Infeksi Kulit

Bakteri difteri juga dapat menginfeksi kulit, menyebabkan luka terbuka atau bisul. Namun, infeksi kulit jarang menyebabkan penyakit berat lainnya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Hubungi dokter jika Anda atau anak telah terpapar seseorang dengan difteri. Sementara jika anak Anda belum mendapatkan vaksin difteri, segera buat janji dengan dokter untuk mendapatkannya. Vaksin adalah cara terbaik untuk mencegah difteri.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini biasanya berkembang biak di permukaan tenggorokan atau sekitarnya. Perlu diketahui, bakteri ini juga dapat menyebar melalui:

  • Airborne droplets. Ketika bersin atau batuk, orang yang terinfeksi melepaskan titik air berisi bakteri dan bisa dihirup oleh orang yang ada di dekatnya. Difteri mudah menyebar dengan cara ini, terutama dalam kondisi ramai.
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi. Seseorang bisa terpapar bakteri difteri karena bersentuhan dengan barang-barang orang yang terinfeksi, seperti tisu bekas atau handuk. Anda juga dapat memindahkan bakteri dengan menyentuh luka yang terinfeksi.

Orang yang telah terinfeksi dan tidak mendapatkan perawatan khusus dapat menginfeksi orang yang belum mendapatkan vaksin difteri. Pada beberapa kasus, seseorang yang sudah terpapar bakteri ini tidak menunjukkan gejala apa pun.

Faktor Risiko

Setelah Anda mengetahui berbagai penyebab penyakit difteri seperti di atas, hal penting lain yang harus diketahui adalah terdapat beberapa kondisi yang membuat seseorang berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.

Berikut adalah orang-orang yang berisiko lebih tinggi tertular difteri adalah:

  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan vaksin DTaP.
  • Orang-orang yang bekerja di tempat keramaian dan memiliki gaya hidup tidak sehat.
  • Bepergian ke daerah di mana infeksi difteri sering terjadi.

Selain itu, infeksi juga lebih sering terjadi di negara-negara berkembang dengan tingkat vaksin yang masih rendah.

Diagnosis Difteri

Dokter bisa mencuriga anak yang sakit tenggorokan dengan gray membrane yang menutupi amandel dan tenggorokan. Selain itu, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan dari luka yang terinfeksi dan memeriksanya di laboratorium untuk memeriksa jenis difteri yang memengaruhi kulit.

Dokter juga mungkin mencurigai kondisi ini jika seseorang memiliki faringitis yang tidak dapat dijelaskan, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, dan demam ringan. Suara serak, kelumpuhan langit-langit mulut, atau stridor (suara bernapas dengan nada tinggi) juga merupakan petunjuk.

Pengobatan Difteri

Anak-anak dan orang dewasa yang menderita kondisi ini sering kali perlu dirawat di rumah sakit. Mereka dapat diisolasi di unit perawatan intensif karena infeksi dapat menyebar dengan mudah pada siapa pun yang tidak diimunisasi terhadap penyakit ini.

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Antibiotik

Antibiotik seperti penisilin atau erythromycin dapat membantu membunuh bakteri dalam tubuh dan melawan infeksi. Obat ini perlu dikonsumsi sesuai resep dokter untuk memastikan tubuh sudah bebas dari penyakit ini.

  • Antitoksin

Jika dokter mencurigai adanya infeksi, ia akan menyarankan obat yang menetralkan racun difteri dalam tubuh yaitu antitoksin. Obat ini disuntikkan ke pembuluh darah atau otot.

Sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi kulit. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa orang yang terinfeksi tidak memiliki alergi terhadap antitoksin.

Komplikasi Difteri

Jika seseorang melakukan perawatan terhadap kondisi ini, komplikasi adalah sesuatu yang jarang terjadi. Sementara jika kondisi ini tidak diobati, infeksi dapat menyebabkan:

  • Masalah Pernapasan

Bakteri penyebab kondisi ini dapat menghasilkan racun. Racun ini merusak jaringan di area infeksi, biasanya hidung dan tenggorokan. Di area tersebut, infeksi menghasilkan membran keras berwarna kelabu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat-zat lainnya. Membran ini bisa menghambat pernapasan.

  • Kerusakan Jantung

Racun yang ditimbulkan dari kondisi ini dapat menyebar melalui aliran darah kemudian merusak jaringan lain di tubuh seperti otot jantung dan menyebabkan komplikasi seperti peradangan otot jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis mungkin ringan atau berat. Kondisi terburuk, miokarditis dapat menyebabkan gagal jantung kongestif dan kematian mendadak.

  • Kerusakan Saraf

Komplikasi berikutnya yang bisa terjadi adalah kerusakan saraf di daerah tenggorokan, di mana konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Selain itu, saraf pada lengan dan tungkai juga bisa meradang, kondisi yang bisa menyebabkan kelemahan otot.

Jika racun yang disebabkan oleh kondisi ini merusak saraf yang membantu mengendalikan otot dalam bernapas, otot-otot ini dapat menjadi lumpuh. Pada kondisi ini, Anda mungkin perlu bantuan mekanis untuk bernapas.

Pencegahan Difteri

Pada dasarnya, difteri adalah kondisi yang dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin untuk mencegah infeksi ini disebut DTaP. Biasanya diberikan dalam satu suntikan bersama dengan vaksin untuk pertusis dan tetanus. Vaksin DTaP diberikan dalam serangkaian lima suntikan.

  • Usia 2 bulan
  • Usia 4 bulan
  • Usia 6 bulan
  • Usia 18 bulan
  • Usia 6 tahun

Perlu diketahui, vaksin hanya bertahan selama 10 tahun, sehingga anak perlu divaksinasi lagi sekitar usia 12 tahun. Pada orang dewasa, Anda disarankan untuk mendapatkan suntikan gabungan diphtheria-tetanus-pertussis booster satu kali. Setiap 10 tahun sesudahnya, Anda akan menerima vaksin tetanus-diphtheria (Td). Mengambil langkah-langkah ini dapat membantu mencegah Anda atau anak terkena difteri di kemudian hari.

 

  1. Anonim. Diphtheria. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897. (Diakses pada 25 Juni 2020).
  2. Anonim. Diphtheria. https://www.cdc.gov/diphtheria/index.html#:~:text=Diphtheria%20is%20a%20serious%20infection,search%20icon. (Diakses pada 25 Juni 2020).
  3. MacGill, Markus. 2018. Everything you need to know about diphtheria. https://www.medicalnewstoday.com/articles/159534. (Diakses pada 25 Juni 2020).
  4. Wint, Carmella. 2018. Diphtheria. https://www.healthline.com/health/diphtheria. (Diakses pada 25 Juni 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi