Difteri – Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

difteri-doktersehat

DokterSehat.Com – Difteri adalah infeksi bakteri serius yang memengaruhi membran mukosa di tenggorokan dan hidung. Penyakit difteri adalah penyakit yang sangat menular pada hidung dan tenggorokan dan dapat dicegah dengan vaksinasi. Ketahui lebih lanjut mengenai ciri difteri, penyebab difteri, hingga obat difeteri yang paling ampuh!

Apa Itu Difteri?

Penyakit difteri adalah penyakit masa lalu di sebagian besar belahan dunia dalam kurun 10 tahun, seperti melansir Medikal News Today. Di negara-negara di mana ada serapan vaksin pendorong yang lebih rendah, bagaimanapun, seperti di India, masih tersisa ribuan kasus setiap tahunnya. Pada 2014, ada 7.321 kasus yang dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global.

Jika seseorang tidak divaksinasi terhadap bakteri yang menyebabkan difteri, infeksi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti ganguan saraf, gagal jantung, dan bahkan kematian.

Secara keseluruhan, 5 hingga 10 persen orang yang terinfeksi akan meninggal. Beberapa orang lebih rentan daripada yang lain, dengan tingkat kematian hingga 20 persen pada orang yang terinfeksi di bawah 5 tahun atau lebih dari 40 tahun.

Penyebab Difteri

Tipe bakteri penyebab difteri adalah Corynebacterium diphteria. Kondisi penyakit akan menyebar melalui kontak langsung pada obyek yang mengandung bakteri, seperti berbagi cangkir minuman, atau penggunaan tisu dan sapu tangan yang sama.

Anda juga dapat terkena jika terdapat pasien penyakit difteri di sekitar Anda yang bersin, batuk, atau keluar ingus dari hidung. Meskipun orang yang terinfeksi belum tentu menunjukkan tanda dan gejala, orang tersebut tetap mampu menularkan sampai dengan 6 minggu setelah infeksi awal.

Bakteri penyebab difteri seringkali menginfeksi hidung dan tenggorokan. Sekali Anda terinfeksi, bakteri akan melepaskan zat berbahaya yang disebut toksin. Toksin akan meluas ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan seringkali menyebabkan lapisan abu-abu tebal di mukosa hidung, tenggorokan, lidah, dan saluran napas.

Pada beberapa kasus, toksin ini juga dapat menuju ke organ lain dan merusak organ tubuh lain seperti jantung, otak, dan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti miokarditis (radang selaput jantung), paralisis (kelemahan otot), dan gagal ginjal.

Faktor Risiko Difteri

Anak-anak seharusnya secara rutin mendapatkan vaksinasi untuk melawan penyakit ini, sehingga risiko terkena lebih sedikit. Di Amerika Serikat dan Eropa, vaksin difteri ini sudah rutin dilakukan ,sehingga penyakit difteri jarang sekali terjadi.

Sayangnya, di negara berkembang seperti Indonesia, penyakit difteri masih dapat ditemukan terutama pada anak di bawah usia 5 tahun dan orangtua di atas usia 60 tahun. Orang-orang yang memiliki peningkatan risiko di antaranya:

  • Tidak mendapatkan vaksinasi yang terbaru
  • Mengunjungi negara yang tidak menyediakan imunisasi terhadap difteri
  • Memiliki gangguan imunitas seperti AIDS
  • Gaya hidup yang tidak sehat atau sanitasi yang buruk

Gejala dan Tanda-Tanda Difteri

Tanda gejala difteri tampak dalam 2-5 hari setelah terpapar bakteri. Beberapa orang tidak menunjukkan gejala, namun beberapa orang memiliki gejala ringan yang seringkali sama dengan flu biasa. Terdapat ciri difteri yang khas dan dapat dilihat, seperti terdapat lapisan tebal abu-abu di tenggorokan dan tonsil.

Tanda-tanda digteri lainnya yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Demam
  • Menggigil
  • Pembesaran kelenjar di leher
  • Suara yang keras seperti menggonggong
  • Radang tenggorokan
  • Kulit yang membiru
  • Mengeluarkan air liur terus menerus
  • Rasa tidak nyaman pada tubuh

Gejala difteri tambahan:

  • Sulit bernapas dan sulit menelan
  • Perubahan pandangan
  • Bicara cadel
  • Tanda syok seperti pucat dan kulit yang dingin, berkeringat dingin, dan denyut jantung yang cepat.

Anda juga dapat mengalami difteri kutaneus atau difteri kulit jika memiliki higinitas yang buruk dan hidup di area tropis. Difteri kulit seringkali menyebabkan ulkus (luka) dan kemerahan di kulit yang terkena.

Diagnosis Penyakit Difteri

Sekilas kita sudah tahu apa saja ciri difteri dan gejala difteri, namun sangat disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui diagnosis yang lebih pasti. Dokter Anda akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa pembesaran kelenjar getah bening.

Dokter juga akan menanyakan riwayat medis dan gejala yang Anda rasakan. Dokter juga akan yakin bahwa pasiennya mengalami penyakit difteri adalah jika melihat lapisan abu-abu di tonsil atau di tenggorokan. Cara untuk mengonfirmasi diagnosis, dokter akan mengambil sampel jaringan yang terkena dan akan mengirimkannya ke laboratorium.

Pengobatan Difteri

Jika mengalami penyakit difteri, segera hubungi dokter. Difteri adalah penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada ginjal, sistem saraf, dan jantung, jika tidak diobati. Penyakit ini menyebabkan hal yang fatal dari 3 persen kasusnya.

Penyakit difteri adalah kondisi yang serius, maka dokter akan memberikan terapi dengan cepat dan agresif. Langkah pertama terapi pengobatan difteri adalah injeksi antitoksin. Injeksi antitoksin ini akan melawan toksin yang dihasilkan bakteri di dalam tubuh. Pastikan beritahu dokter jika Anda memiliki alergi terhadap obat tertentu.

Jika memang ada suatu alergi, maka dokter akan berhati-hati dalam pemberian antitoksin atau obat difteri, dimulai dari dosis yang sedikit lalu meningkat sedikit demi sedikit. Dokter juga dapat meresepkan antibiotik seperti penisilin dan eritromisin untuk membantu memberantas infeksi dalam tubuh.

Selama pengobatan difteri, dokter juga dapat menyarankan untuk pasien opname di rumah sakit di ruang isolasi sehingga pasien tidak akan berpotensi menularkan infeksi ke orang lain.