Turunkan Berat Badan dengan Diet Tinggi Protein

Doktersehat-diet-tinggi-protein
Photo Credit: Flickr.com/Yildrim Abdullah Donmez

DokterSehat.com – Diet untuk menurunkan berat badan identik dengan menahan rasa lapar. Namun, berbeda halnya dengan diet protein. Diet ini justru merekomendasikan Anda untuk mengonsumsi menu diet yang nikmat dan memberi rasa kenyang lebih lama. Bila dilakukan dengan benar diet ini dapat menurunkan berat badan Anda secara optimal.

Diet tinggi protein dilakukan dengan mengonsumsi protein harian minimal 1,5 gram per kilo dari berat badan atau 30-40 persen dari total kalori zat gizi makro yang dianjurkan. Jika dalam sehari seseorang membutuhkan 1800 kalori maka selama diet dianjurkan untuk mengonsumsi protein sekitar 45 sampai 218 gram per hari.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Skotlandia diketahui bahwa diet tingggi protein yang dilakukan selama 8-12 minggu mampu menurunkan berat badan sebanyak 6,5 kg sampai 10 kg.

baca juga: Inilah Ciri-Ciri Tubuh Tidak Cocok dengan Diet yang Anda Pilih

Lemak menurun dari 36,7 persen menjadi 34 persen. Lingkar pinggang pun menyusut mulai dari 6 cm hingga 9,4 cm. Hasilnya akan lebih baik bila diet tinggi protein dibarengi dengan diet tinggi serat dan aktivitas fisik secara rutin.

Selama menjalankan diet tinggi protein seseorang akan memperbanyak konsumsi protein, terutama hewani serta mengurangi konsumsi karbohidrat. Dengan begitu, tubuh akan dipaksa membakar timbunan lemak lalu diubah menjadi energi sehingga berat badan pun dapat menurun dengan cepat. Anda juga akan merasa kenyang kbih lama karena gula darah stabil sepanajng hari.

Namun sayangnya, konsumsi tinggi protein namun rendah kadar karbohidrat dan serat dapat mengganggu kerja dan fungsi organ tubuh lainnya. Kerja ginjal akan lebih berat akibat meningkatnya sisa metabolisme protein sehingga dapat berisiko menyebabkan batu ginjal.

Selain itu, kurangnya serat bisa menyebabkan usus menimbun banyak lemak, tulang kehilangan kalsium dan tubuh mengalami dehidrasi karena tingginya kadar protein dalam tubuh. Tak heran bila, seseorang yang menjalani diet ini memiliki tubuh ideal tapi ginjalnya  bisa rusak sehingga membuatnya rutin melakukan cuci darah.

Diet tinggi protein sebenarnya tidak dapat dilakukan oleh semua orang dengan berbagai usia. Hanya orang dewasa dengan kondisi tubuh yang sehat dan fungsi ginjal normal saja bisa menerapkan diet ini.

Perlu diketahui bahwa diet tinggi protein bukan berarti mengganti karbohidrat dengan protein. Diet ini meningkatkan konsumsi protein yang normalnya berkisar 10-20 persen menjadi 30-40 persen.

Bila dilakukan dengan benar maka diet ini akan berdampak positif pada tubuh, seperti normalnya kadar gula dalam darah, lemak darah, hormon insulin, status zat besi dan vitamin B12.

Diet protein tinggi yang benar adalah dengan memasukan gizi lengkap dan seimbang dengan jumlah proporsi yang tepat antara 50 persen karbohidrat, 20 persen lemak, dan 30-40 persen protein.

Makanan Protein untuk Diet

Setelah Anda mengetahui manfaat yang bisa didapatkan dari diet tinggi protein, penting mengetahui jenis-jenis makanan yang mengandung protein tinggi. Makanan-makanan yang mengandung protein itu di antaranya:

  • Produk olahan susu

Susu, keju, dan yoghurt merupakan produk olahan susu yang kaya asupan protein, sekaligus kalsium dan vitamin D. Guna memaksimalkan asupan protein bagi tubuh Anda, pilihlah yang rendah lemak.

  • Telur

Telur merupakan makanan kaya protein dengan harga yang relatif terjangkau. Sebagai gambaran, telur berukuran kecil (35-40 gram) mengandung 4-5 gram protein, sedangkan telur berukuran besar (60g) mengandung 8g protein.

baca juga: Efek Negatif Susu Berprotein Tinggi pada Pria

  • Daging

Dada ayam tanpa kulit merupakan makanan berprotein tinggi dengan kandungan 284 kalori dan 53 gram protein. Sedangkan setiap 85 gram daging sapi tanpa lemak mengandung 22 gram protein dan 184 kalori. Selain itu daging sapi merupakan makanan kaya zat besi dan vitamin B12.

  • Seafood

Salah satu makanan laut yang kaya protein adalah ikan tuna. Tuna kaleng (150 g) mengandung sekitar 40 g protein. Selain itu, beberapa seafood lain juga banyak mengandung omega-3 yang sangat diperlukan oleh tubuh.

Diet tinggi protein sendiri umumnya tidak berbahaya jika dilakukan jangka pendek. Akan tetapi bukan berarti diet protein tinggi tidak bebas risiko. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan diet ini.

Dokter juga dapat membantu membuat rencana diet yang tetap mengandung nutrisi yang diperlukan tubuh. Bagi penderita penyakit ginjal, diet tinggi protein sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu fungsi ginjal.