Terbit: 29 April 2021 | Diperbarui: 30 April 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Diet tanpa nasi semakin diminati oleh banyak orang, terutama bagi mereka yang memiliki kelebihan berat badan. Hal ini karena mengurangi makan nasi dianggap dapat membantu menurunkan berat badan. Apakah diet ini efektif? Ketahui penjelasan selengkapnya di bawah ini! 

Diet Tanpa Nasi Ampuh Menurunkan Berat Badan? Cek Faktanya!

Apa Itu Diet Tanpa Nasi?

Diet tanpa nasi adalah metode penurunan berat badan yang mengurangi atau menghilangkan karbohidrat dari nasi dalam menu makan sehari-hari. Metode diet ini sudah dilakukan oleh banyak orang, terutama orang Indonesia yang mayoritas mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. 

Tidak Hanya menurunkan berat badan, mengurangi nasi juga memberikan manfaat bagi kesehatan, seperti menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi), meningkatkan fungsi ginjal, dan mengontrol diabetes. Meski begitu, ada risiko yang patut Anda waspadai ketika mengurangi karbohidrat dari nasi.

Diet Tanpa Nasi Efektif Menurunkan Berat Badan?

Ada banyak metode die menjanjikan penurunan berat badan, salah satu yang kian populer adalah diet dengan mengurangi atau bahkan menghindari makan nasi sama sekali. Dengan mengurangi nasi dianggap dapat mengurangi asupan kalori dan karbohidrat yang memicu kenaikan berat badan.      

Namun, menghilangkan karbohidrat dari makanan tidak menjamin menurunkan berat badan dan kesehatan lainnya. Agar benar-benar mempertahankan berat badan yang sehat, mungkin perlu mengontrol asupan makronutrien (karbohidrat, lemak, dan protein) dan asupan kalori secara keseluruhan. Ini bertujuan untuk membuang racun tanpa membuat Anda merasa lapar.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Profesor Tomoko Imai dari Doshisha Women’s College of Liberal Arts di Kyoto, Jepang, menunjukan fakta sebaliknya. Dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa salah satu cara yang dianjurkan untuk mengurangi angka obesitas adalah makan nasi. Alasannya, makan nasi akan membuat Anda merasa kenyang dan akan menekan keinginan untuk mengonsumsi makanan lain, sehingga dapat menghindari makan berlebihan yang menyebabkan peningkatan berat badan.

Menu diet tanpa nasi bukan berarti menghindari semua jenis karbohidrat, tetapi ada beberapa makanan pengganti nasi yang masih isa anda konsumsi. Makanan berkarbohidrat lainnya, termasuk kentang, sereal gandum, atau roti gandum.     

Baca Juga: 20 Makanan Rendah Karbohidrat untuk Diet Sehat

Manfaat Diet Tanpa Nasi untuk Kesehatan

Diet rendah karbohidrat tidak hanya dianggap dapat menurunkan berat badan, tetapi juga bisa membantu kesehatan secara keseluruhan. 

Berikut ini beberapa manfaat diet tanpa nasi:

1. Mengurangi Nafsu Makan

Makan rendah karbohidrat dapat menyebabkan penurunan nafsu makan secara otomatis. Menurut penelitian secara konsisten, menunjukkan bahwa ketika orang mengurangi karbohidrat dan makan lebih banyak protein dan lemak, mereka akhirnya makan makanan berkalori jauh lebih sedikit.

2. Menurunkan Berat Badan pada Awalnya

Mengurangi karbohidrat adalah salah satu cara paling sederhana dan efektif untuk membantu menurunkan berat badan. Berdasarkan penelitian, bahwa orang yang menjalani diet rendah karbohidrat mengalami penurunan berat badan lebih banyak dan lebih cepat, daripada mereka yang menjalani diet rendah lemak

Alasannya, diet rendah karbohidrat bertindak untuk menghilangkan kelebihan air dari tubuh, menurunkan kadar insulin, dan menyebabkan penurunan berat badan yang cepat dalam waktu satu atau dua minggu pertama.

Dalam satu penelitian lainnya pada orang dewasa yang mengalami obesitas, menemukan bahwa diet rendah karbohidrat sangat efektif hingga enam bulan, daripada dengan diet penurunan berat badan konvensional. 

3. Menghilangkan Lemak Perut Lebih Banyak

Tidak semua lemak pada tubuh sama. Di mana lemak yang menumpuk dapat menentukan bagaimana memengaruhi kesehatan dan risiko penyakit. Dua jenis utama adalah lemak subkutan yang berada di bawah kulit, dan lemak visceral yang menumpuk pada rongga perut.

Lemak visceral cenderung mengendap pada area organ tubuh. Kelebihan lemak visceral dapat menyebabkan peradangan, resistensi insulin, dan memicu disfungsi metabolik.

Diet rendah karbohidrat atau diet tanpa nasi sangat efektif untuk mengurangi lemak jahat pada perut. Faktanya, sebagian besar orang gemuk mengurangi berat badan lebih banyak dengan diet rendah karbohidrat, yang sepertinya berasal dari rongga perut. Seiring waktu, hal ini akan menurunkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2 secara drastis.

4. Menurunkan Trigliserida secara Drastis

Trigliserida adalah molekul lemak yang bersirkulasi dalam aliran darah. Perlu Anda ketahui bahwa trigliserida puasa yang tinggi -kadar dalam darah setelah puasa semalaman- merupakan faktor risiko penyakit jantung yang tinggi.

Salah satu pemicu utama peningkatan trigliserida pada orang yang tidak banyak bergerak adalah mengonsumsi karbohidrat. Ketika orang mengurangi karbohidrat, mereka cenderung mengalami penurunan trigliserida darah yang sangat drastis.

5. Meningkatkan Kadar Kolesterol Baik

Semakin tinggi kadar high density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik, makan semakin rendah risiko penyakit jantung.

Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kadar kolesterol baik adalah dengan makan lemak, dan diet rendah karbohidrat mengandung banyak lemak.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kadar HDL meningkat secara drastis pada kesehatan, diet rendah karbohidrat, sementara itu cenderung meningkat hanya sedikit atau bahkan menurun pada diet rendah lemak.

6. Meningkatkan Partikel Kolesterol Jahat

Orang yang memiliki kadar kolseterol jahat (LDL) yang tinggi lebih mungkin mengalami serangan jantung. Namun, ukuran partikel kolesterol dapat menentukan seberapa bahayanya kolesterol jahat. Partikel kolesterol yang lebih kecil dapat meningkatkan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi, sementara partikel yang lebih besar dapat mengurangi risiko penyakit jantung.

Diet rendah karbohidrat ternyata dapat meningkatkan ukuran partikel kolesterol jahat, sekaligus mengurangi jumlah total partikel LDL dalam aliran darah. Oleh karena itu, menurunkan asupan karbohidrat dapat meningkatkan kesehatan jantung.

7. Mengurangi Kadar Gula Darah dan Insulin

Diet tanpa nasi sangat membantu bagi penderita diabetes dan resistensi insulin. Penelitian membuktikan bahwa mengurangi karbohidrat bisa menurunkan kadar gula darah dan insulin secara drastis.

Dalam satu penelitian lainnya pada penderita diabetes tipe 2, sebanyak 95% telah mengurangi atau menghilangkan obat penurun glukosa dalam waktu enam bulan.

8. Menurunkan Tekanan Darah

Tekanan darah tinggi atau hipertensi, merupakan faktor risiko yang signifikan menyebabkan sejumlah penyakit, termasuk penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal.

Diet rendah karbohidrat adalah salah satu cara yang efektif untuk menurunkan tekanan darah, yang seharusnya mengurangi risiko penyakit ini.

Baca Juga: 11 Kesalahan dalam Diet yang Sering Dilakukan, Bisa Fatal!

9. Efektif Melawan Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah kondisi yang sangat terkait dengan risiko diabetes dan penyakit jantung. Faktanya, sindrom metabolik adalah kumpulan gejala, termasuk obesitas perut, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar gula darah puasa, Peningkatan trigliserida tinggi, dan kadar kolesterol baik rendah. Nah, diet rendah karbohidrat atau diet tanpa nasi sangat efektif dalam mengobati gejala ini.

10. Terapi untuk Beberapa Gangguan Otak

Otak membutuhkan glukosa, karena beberapa bagiannya hanya bisa membakar gula jenis ini. Itulah alasannya mengapa hati menghasilkan glukosa dari protein jika  tidak mengonsumsi karbohidrat. Namun, sebagian besar otak juga dapat membakar keton, yang terbentuk saat lapar atau saat asupan karbohidrat sangat rendah.

Hal tersebut adalah mekanisme di balik diet ketogenik, yang memberikan manfaat untuk mengobati epilepsi pada anak-anak yang tidak merespons pengobatan dengan obat.

Dalam kebanyakan kasus, diet ini dapat mengatasi epilepsi pada anak. Berdasarkan sebuah penelitian, lebih dari separuh anak-anak yang menjalani diet ketogenik mengalami penurunan lebih dari 50% jumlah kejang, sementara 16% menjadi bebas kejang.

 

  1. Collier, Jasmin. 2019. Rice and obesity: Is there a link?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325085 (Diakses pada 29 April 2021)
  2. Biswas, Charushila. 2019. The Rice Diet – How It Works, What To Eat, And Benefits. https://www.stylecraze.com/articles/rice-diet/ (Diakses pada 29 April 2021)
  3. Baptiste, Denise. 2018. 8 Benefits Of Not Eating White Rice. ttps://www.boldsky.com/health/wellness/2014/benefits-of-not-eating-white-rice-040466.html (Diakses pada 29 April 2021)
  4. Gunnars, Kris. 2018. 10 Health Benefits of Low-Carb and Ketogenic Diets. https://www.healthline.com/nutrition/10-benefits-of-low-carb-ketogenic-diets#TOC_TITLE_HDR_11 (Diakses pada 29 April 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi